JAKARTA, DKI JAKARTA — Berdasarkan laporan yang diterbitkan pada 9 Oktober 2026, Liga Sepak Bola Putri musim 2026/2027 akan kembali digelar dengan melibatkan 110 tim dari kelompok usia U-15 dan U-18. Penyelenggaraan ini menjadi musim kedua kompetisi sepak bola putri tersebut, sekaligus memperluas ruang bagi pemain muda untuk memperoleh pengalaman bertanding dalam format liga yang lebih terarah. Jumlah peserta yang besar menunjukkan meningkatnya minat terhadap pembinaan sepak bola putri di tingkat usia dini dan remaja.
Kompetisi dijadwalkan berlangsung secara bergelombang mulai pertengahan Oktober 2026. Lima kota ditetapkan sebagai lokasi penyelenggaraan, yakni Jakarta, Bandung, Surabaya, Kudus, dan Surakarta. Pembagian pelaksanaan ke sejumlah wilayah tersebut diharapkan dapat memudahkan mobilitas tim serta memberikan kesempatan kepada lebih banyak daerah untuk terlibat dalam pengembangan talenta sepak bola putri. Setiap kelompok usia akan menjalani rangkaian pertandingan sesuai jadwal dan mekanisme kompetisi yang telah disiapkan penyelenggara.
Informasi mengenai penyelenggaraan liga itu disampaikan Program Director Hydroplus Soccer League (HSL) Teddy Tjahjono di Kudus pada Jumat. Ia menjelaskan bahwa kompetisi musim ini dirancang untuk menjaga kesinambungan pembinaan pemain putri sekaligus memperluas jangkauan kompetisi. Kehadiran 110 tim U-15 dan U-18 akan membuat persaingan berlangsung lebih kompetitif, dengan klub maupun sekolah memiliki kesempatan menguji kemampuan para pemainnya secara berkala. Pelaksanaan di lima kota juga diharapkan memperkuat ekosistem sepak bola putri melalui keterlibatan pelatih, ofisial, komunitas, dan pendukung lokal.
Musim kedua liga sepak bola putri digelar karena penyelenggaraan perdana menunjukkan hasil yang positif dan memberikan dampak nyata bagi perkembangan talenta muda. Kompetisi musim pertama tidak hanya menjadi ajang pertandingan, tetapi juga membuka ruang pembinaan yang lebih luas bagi pesepak bola putri di berbagai daerah. Sebanyak 1.723 peserta tercatat ambil bagian, sebuah angka yang memperlihatkan besarnya minat sekaligus potensi sepak bola putri di Indonesia.
Jumlah peserta tersebut menjadi salah satu dasar penting bagi penyelenggara untuk melanjutkan kompetisi ke musim berikutnya. Partisipasi yang tinggi menunjukkan bahwa kebutuhan terhadap turnamen berjenjang, kompetitif, dan berkelanjutan masih sangat besar. Melalui liga ini, para pemain memperoleh pengalaman bertanding, kesempatan mengembangkan kemampuan teknis, serta paparan terhadap atmosfer kompetisi yang dapat mendukung perjalanan mereka menuju level yang lebih tinggi.
Dampak musim perdana juga terlihat dari keterlibatan 53 pesepak bola putri lulusannya dalam tim nasional U-16. Mereka mendapat kesempatan membela Indonesia pada ajang Srikandi Merdeka Cup, sehingga kompetisi tersebut berfungsi sebagai salah satu jalur identifikasi dan pengembangan bakat nasional. Keterwakilan puluhan pemain di level tim nasional memperkuat bukti bahwa pembinaan melalui kompetisi usia muda dapat menghasilkan pemain yang siap menghadapi tantangan internasional.
Kontribusi lulusan liga tidak berhenti pada proses pemanggilan ke tim nasional. Sebanyak 21 jebolan HSL yang tergabung dalam skuad Garuda Pertiwi berhasil mengantarkan Indonesia menjadi runner-up Srikandi Merdeka Cup. Turnamen itu diikuti delapan tim dari tujuh negara Asia, sehingga pencapaian tersebut memiliki arti penting bagi perkembangan sepak bola putri nasional. Prestasi di tengah persaingan regional ini memperlihatkan kualitas pemain yang terbentuk melalui kompetisi domestik sekaligus mendorong penyelenggaraan musim kedua agar pembinaan dapat berlangsung secara konsisten dan menjangkau lebih banyak talenta.
Kelanjutan liga sepak bola putri dinilai menjadi langkah penting untuk memperkuat komitmen dalam membangun ekosistem yang berkesinambungan. Teddy memandang kompetisi tidak hanya berfungsi sebagai ajang pertandingan, tetapi juga sebagai fondasi pembinaan yang memberi kesempatan kepada pemain untuk berkembang secara terukur. Keberadaan liga yang digelar secara rutin menunjukkan bahwa sepak bola putri memiliki arah pengembangan yang jelas dan perlu didukung secara konsisten oleh berbagai pihak.
Ia berharap pertandingan yang berlangsung setiap pekan dapat menjadi ruang bagi para pemain untuk meningkatkan kemampuan teknis, pemahaman taktik, kebugaran, serta mental bertanding. Ritme kompetisi yang teratur juga memungkinkan pemain memperoleh pengalaman menghadapi lawan dengan karakter berbeda. Pengalaman tersebut penting bagi mereka yang ingin menapaki karier profesional, sekaligus membantu pelatih memantau perkembangan atlet secara lebih objektif.
Dalam piramida pembinaan, HSL menempati jenjang lanjutan setelah MilkLife Soccer Challenge yang diperuntukkan bagi kelompok usia U-8, U-10, dan U-12. Jika kompetisi usia dini berfokus pada pengenalan, kecintaan, dan pembentukan dasar bermain, HSL menyediakan tahap pengembangan yang lebih kompetitif bagi pemain menuju level yang lebih tinggi. Jalur ini kemudian dapat berlanjut ke Indonesia Women's League dan membuka peluang bagi pemain terbaik untuk memperkuat tim nasional putri Indonesia.
Surakarta ditetapkan sebagai kota penyelenggara tambahan dalam Liga Sepak Bola Putri 2026/2027 setelah tingginya antusiasme peserta dari Jawa Tengah. Penambahan ini menunjukkan meningkatnya minat terhadap kompetisi sepak bola putri sekaligus memberikan ruang yang lebih luas bagi tim untuk berpartisipasi. Dengan hadirnya Surakarta, penyelenggara dapat menampung lebih banyak calon peserta tanpa mengurangi kualitas pengelolaan pertandingan dan pembinaan pemain.
Wilayah Jawa Tengah kini dibagi menjadi dua lokasi kompetisi, yaitu Kudus dan Surakarta. Pembagian tersebut dirancang agar jangkauan liga semakin merata, terutama untuk menjangkau tim dari kawasan selatan Pulau Jawa. Surakarta dinilai memiliki posisi strategis untuk mengakomodasi tim dari Yogyakarta dan daerah sekitarnya. Sementara itu, Kudus tetap menjadi lokasi penting bagi peserta dari wilayah pantura serta kawasan Jawa Tengah bagian timur. Skema ini diharapkan mengurangi beban perjalanan dan membuka kesempatan bagi lebih banyak tim putri untuk tampil dalam kompetisi nasional.
Selain memperluas lokasi pertandingan, regulasi kompetisi juga diperbarui melalui kesepakatan tim dan orang tua pemain. Kesepakatan tersebut mengatur proses rekrutmen secara lebih terbuka, termasuk persetujuan keikutsertaan, tanggung jawab masing-masing pihak, serta mekanisme komunikasi selama musim berlangsung. Dokumen itu juga perlu menjelaskan manfaat yang diterima pemain ketika membela tim, seperti pengalaman bertanding, pendampingan, pengembangan kemampuan, dan dukungan terhadap perjalanan karier mereka. Kejelasan aturan diharapkan mencegah kesalahpahaman sekaligus memperkuat perlindungan bagi pemain.
Kompetisi turut menerapkan jendela transfer pada awal dan pertengahan musim. Ketentuan ini memberi kesempatan kepada tim untuk menyesuaikan komposisi pemain secara teratur, dengan tetap mengikuti prosedur dan batas waktu yang ditetapkan penyelenggara. Penyelenggara berharap para pemain tidak hanya memiliki keterampilan teknis di lapangan, tetapi juga memahami regulasi, hak, kewajiban, serta tata kelola dalam industri sepak bola. Pemahaman tersebut menjadi bekal penting untuk membangun karier yang profesional dan berkelanjutan.







