Mayangsari Menanggapi Hujatan Warganet dengan Santai Saat Kembali Bernyanyi

oleh -578 Dilihat
oleh
Mayangsari Menanggapi Hujatan Warganet dengan Santai Saat Kembali Bernyanyi

Jakarta | Mayangsari kembali bernyanyi dan mengaku tidak ambil pusing terhadap cibiran warganet di media sosial. Sikap santai itu ia sampaikan saat ditemui di sela-sela showcase Mayangsari Bernyanyi sekaligus peluncuran singel terbarunya, “Selama Kita Bersama”, di Gandaria, Jakarta Selatan, Rabu (14/10/2026). Kembalinya Mayangsari ke dunia bernyanyi menjadi perhatian, terlebih karena kesempatan tersebut juga menandai hadirnya karya musik terbaru darinya.

Di tengah komentar negatif yang muncul di media sosial, Mayangsari memilih untuk tidak menjadikan cibiran sebagai hal yang merisaukan. Ia menyatakan sikap tersebut ketika berbicara dalam rangkaian acara yang menggabungkan penampilan showcase dengan peluncuran singel. Dengan demikian, perhatian dalam kesempatan itu tertuju pada dua hal: aktivitasnya kembali bernyanyi dan perilisan “Selama Kita Bersama”. Mayangsari tidak menunjukkan bahwa komentar warganet mengubah sikapnya terhadap kegiatan bermusik yang sedang dijalani.

Mayangsari dikenal sebagai penyanyi senior sekaligus istri Bambang Trihatmodjo. Pada acara di Gandaria tersebut, ia kembali hadir dalam kapasitasnya sebagai penyanyi, sementara singel terbaru menjadi bagian dari momen yang menandai langkahnya kembali bernyanyi. Pernyataannya mengenai hujatan warganet disampaikan secara santai, tanpa memperlihatkan kekhawatiran terhadap cibiran di media sosial. Sikap itu menjadi inti kabar dari pertemuan dengan awak media di sela acara. Kehadiran showcase dan peluncuran singel tersebut memberi ruang bagi Mayangsari untuk kembali menyapa publik melalui musik. Sementara itu, pesannya tentang komentar negatif menunjukkan bahwa ia memilih untuk tidak terlalu memikirkan respons warganet. Ia tetap menjalani momentum bermusik itu dan memperkenalkan “Selama Kita Bersama” kepada publik dalam acara yang digelar pada Rabu tersebut. Kembalinya penyanyi senior ini pun berjalan beriringan dengan sikapnya yang tenang menghadapi cibiran daring, sebagaimana ia sampaikan ketika ditemui di Jakarta Selatan.

Mayangsari memandang komentar negatif sebagai bagian yang lazim dari kehidupan figur publik, terutama ketika aktivitas dan karya mereka mudah dibicarakan di ruang digital. Perhatian warganet tidak selalu hadir dalam bentuk dukungan; kritik, sindiran, hingga hujatan juga dapat muncul dan menyebar dengan cepat. Karena itu, ia tidak melihat keberadaan haters sebagai sesuatu yang sepenuhnya mengejutkan. Bagi seorang penyanyi maupun orang yang dikenal luas, reaksi beragam dari masyarakat merupakan konsekuensi dari keterbukaan dan tingginya perhatian publik.

Dalam menanggapi hal tersebut, Mayangsari melontarkan kalimat, “haters itu adalah sebagian dari iman.” Ungkapan itu disampaikan sebagai kelakar, bukan sebagai pernyataan harfiah atau penjelasan keagamaan. Pilihan kata yang sengaja terdengar jenaka tersebut menunjukkan sikap santainya ketika membicarakan orang-orang yang tidak menyukai atau mengkritiknya. Dengan humor, ia meredakan kesan bahwa setiap komentar pedas harus ditanggapi secara serius, sekaligus memperlihatkan bahwa kehadiran haters bukan hal baru bagi seseorang yang berada di bawah sorotan.

Mayangsari juga menilai akan terasa janggal apabila ada orang di industri hiburan yang sama sekali tidak memiliki pengkritik. Menurut pandangan itu, popularitas dan penilaian publik berjalan beriringan: ketika seseorang tampil, berkarya, atau kembali bernyanyi, respons masyarakat dapat berbeda-beda. Ada yang memberikan apresiasi, sementara yang lain menyampaikan keberatan atau komentar kurang menyenangkan. Perbedaan respons tersebut tidak otomatis menentukan nilai sebuah karya, tetapi menjadi bagian dari dinamika profesi di dunia hiburan. Sikap santai yang ia tunjukkan menggambarkan cara menghadapi dinamika itu tanpa menganggap setiap hujatan sebagai gambaran utuh tentang dirinya. Di era digital, komentar negatif memang sulit sepenuhnya dihindari, tetapi figur publik dapat memilih bagaimana menyikapinya. Bagi Mayangsari, memandangnya sebagai sesuatu yang lumrah dan sesekali menanggapinya dengan humor menjadi salah satu cara untuk menjaga jarak dari kritik yang berlebihan, sembari tetap menjalani kegiatan dan pekerjaannya di hadapan publik.

Mayangsari memilih menanggapi cibiran warganet dengan sikap santai. Alih-alih membiarkan komentar negatif menguasai pikiran atau memancingnya masuk ke dalam perdebatan, ia merasa tidak perlu terlalu memedulikan perkataan orang lain. Sikap tersebut menjadi caranya menjaga suasana hati, terutama ketika kembali bernyanyi dan menjadi perhatian publik. Baginya, komentar pedas tidak harus selalu dibalas dengan kemarahan; terkadang, membiarkannya berlalu justru merupakan pilihan yang lebih menenangkan.

Dalam menjelaskan pandangannya, Mayangsari menggambarkan pilihan yang menurutnya tersedia ketika seseorang berhadapan dengan para pengkritik. “Kita cuma punya dua pilihan: menjadi bagian dari para haters, atau menjadi orang yang dijadikan sasaran dan dibuat baper oleh mereka,” demikian inti ucapannya. Pernyataan itu menunjukkan bahwa ia tidak ingin larut sebagai pelontar hujatan maupun sebagai sasaran yang terus-menerus memikirkan setiap komentar. Ia memilih mengambil jarak, tanpa menjadikan cibiran sebagai pusat perhatian.

Cara Mayangsari membicarakan para pengkritik juga disampaikan dengan nada humoris. Ia membayangkan bahwa orang yang menulis komentar negatif mungkin sedang mencari kebahagiaan dengan melontarkan kata-kata saat bersantai, bahkan ketika sedang rebahan. Dengan sudut pandang tersebut, komentar mereka tampak lebih mudah dihadapi: bukan sesuatu yang harus selalu dibawa ke hati, melainkan mungkin sekadar kegiatan yang dilakukan untuk mengisi waktu. Pandangan ini membuat responsnya terdengar ringan, bukan sebagai ajakan untuk membalas atau memperuncing perselisihan.

Sikap tidak mudah terpancing itu bukan berarti ia tidak mengetahui adanya kritik, tetapi menunjukkan bahwa ia dapat menentukan seberapa jauh komentar tersebut memengaruhi dirinya. Daripada menghabiskan energi untuk menanggapi setiap ucapan, Mayangsari memilih tetap menjalani kegiatannya dan kembali bernyanyi. Pendekatan yang santai ini memperlihatkan cara menghadapi hujatan tanpa memperbesar persoalan: memahami bahwa komentar warganet akan terus muncul, lalu memilih untuk tidak menjadikannya beban emosional. Dengan begitu, perhatian dapat tetap tertuju pada hal yang ingin ia lakukan, sementara cibiran tidak menentukan suasana hati maupun langkahnya.

Mayangsari menegaskan bahwa komentar negatif yang beredar di media sosial tidak mengubah kehidupan pribadinya maupun kesejahteraan keluarganya. Ia tidak memandang hujatan warganet sebagai sesuatu yang menentukan keadaan rumah tangga atau kesehariannya. Dalam menanggapi kritik, ia menyampaikan bahwa dirinya tetap menjalani hidup seperti biasa dan tidak merasa perlu membiarkan komentar tersebut mengatur pilihan pribadinya. Sikap itu ia jelaskan dengan nada santai, tanpa menunjukkan bahwa perkataan para pengkritik menjadi beban bagi dirinya atau keluarga.

Salah satu ungkapan yang ia lontarkan untuk menggambarkan pandangannya adalah bahwa meladeni orang-orang yang mengkritiknya pun tidak akan mengurangi beras di rumahnya. Perumpamaan sederhana tersebut menekankan bahwa perdebatan dengan haters tidak memberi perubahan pada kebutuhan keluarganya. Ia tidak menyebut bahwa komentar itu membuat kondisi rumah tangganya terganggu; sebaliknya, ia menegaskan bahwa kehidupan di rumah tetap berjalan sebagaimana mestinya. Bagi Mayangsari, menanggapi semua kritik bukan hal yang harus dilakukan, terlebih jika hal itu tidak membawa perubahan nyata dalam urusan keluarga.

Mayangsari menyampaikan pernyataan tersebut sambil tertawa, sehingga responsnya terdengar ringan. Tawa itu menyertai jawabannya ketika ia membicarakan komentar negatif dan orang-orang yang memilih mengkritiknya. Ia juga dikenal sebagai ibu dari Khirani Siti Hartina Trihatmodjo. Dalam konteks tersebut, penegasan mengenai keluarga menjadi bagian penting dari jawabannya: hujatan di media sosial, menurut pernyataannya, tidak memengaruhi kehidupan pribadi ataupun kesejahteraan keluarganya. Ia mengungkapkan bahwa meladeni para pengkritik tidak akan mengurangi beras di rumah, lalu menyampaikan hal itu dengan santai sambil tertawa. Pernyataan tersebut menutup responsnya terhadap komentar warganet dengan menegaskan batas yang ia tetapkan kritik daring dan kehidupan keluarganya, tanpa menyatakan bahwa ia perlu membalas setiap komentar yang ditujukan kepadanya.

Baca juga: IHSG Tertekan hingga 11,15 Persen Setelah Perdagangan Kembali Dibuka | Koops TNI Habema Berhasil Amankan Kembali Senjata Caracal yang Dirampas Kelompok OPM di Maybrat | Mubes XI Pemuda Pancasila Kukuhkan Kembali Japto Soerjosoemarno Sebagai Ketua Umum 2025-2030 dan Tegaskan Sikap Kawal Asta Cita Presiden Prabowo Subianto