Menag Dorong Santri Mengabdi lewat Ilmu, Teknologi, dan Akhlak

oleh -53 Dilihat
oleh
Menag Dorong Santri Mengabdi lewat Ilmu, Teknologi, dan Akhlak

Jakarta | Menteri Agama Nasaruddin Umar mendorong para santri untuk terus mengabdi kepada bangsa Indonesia melalui kontribusi yang nyata. Pesan tersebut disampaikan dalam upacara peringatan Hari Santri Nasional 2026 pada Kamis, 22 Oktober 2026. Amanat itu menegaskan bahwa pengabdian santri tidak berhenti setelah menempuh pendidikan di pesantren, tetapi berlanjut dalam kehidupan bermasyarakat dan dalam upaya menjawab kebutuhan bangsa. Santri diharapkan membawa ilmu, ketekunan, serta nilai-nilai yang dipelajari untuk memberi manfaat bagi lingkungan sekitarnya.

Seruan tersebut menempatkan pengabdian sebagai wujud tanggung jawab yang dapat dilakukan dalam beragam bidang. Para santri dapat berkontribusi melalui pendidikan, kegiatan sosial, pelayanan kepada masyarakat, maupun pekerjaan yang sesuai dengan kemampuan dan keahlian masing-masing. Dalam setiap peran, pengetahuan perlu diterapkan untuk menyelesaikan persoalan dan memperluas manfaat bagi sesama. Pengabdian tidak semata-mata diukur dari besarnya tindakan, tetapi juga dari kesungguhan, konsistensi, dan dampak positif yang dihasilkan dalam kehidupan sehari-hari.

Peringatan Hari Santri menjadi kesempatan untuk mengingat kembali peran santri dalam perjalanan dan kehidupan bangsa, sekaligus mendorong generasi muda agar siap menghadapi tantangan masa kini. Ilmu dan teknologi dapat menjadi bekal untuk berkarya, sementara akhlak membimbing cara menggunakannya secara bertanggung jawab. Dengan perpaduan tersebut, kontribusi santri dapat berkembang tanpa meninggalkan nilai-nilai yang menjadi landasan pendidikan pesantren. Dorongan Menteri Agama itu mengajak para santri untuk terus belajar, beradaptasi, dan mengambil bagian dalam kemajuan Indonesia. Pengabdian yang berkelanjutan lahir dari kesediaan menerapkan ilmu secara bermanfaat, menjaga sikap, serta hadir ketika masyarakat membutuhkan. Dengan demikian, semangat Hari Santri dapat tercermin melalui tindakan nyata yang dilakukan secara terus-menerus, bukan hanya dalam peringatan tahunan.

Nasaruddin menegaskan bahwa santri memiliki jejak penting dalam perjuangan mempertahankan kemerdekaan Indonesia. Peran mereka tidak terbatas pada kehidupan pesantren atau penguatan pendidikan agama, tetapi juga hadir ketika bangsa menghadapi ancaman terhadap kedaulatan. Dengan bekal ilmu, kedisiplinan, keberanian, dan keyakinan, para santri turut mengambil bagian dalam membela tanah air. Keterlibatan tersebut menunjukkan bahwa pengabdian kepada agama dan kepedulian terhadap bangsa dapat berjalan seiring, terutama ketika kemerdekaan yang telah diproklamasikan perlu dijaga bersama.

Salah satu tonggak yang mencerminkan keterlibatan itu ialah Resolusi Jihad yang dimaklumatkan Hadratussyekh Kiai Haji Hasyim Asy’ari pada 22 Oktober 1945. Seruan tersebut mendorong umat Islam, termasuk kalangan santri, untuk mempertahankan kemerdekaan dari upaya kembalinya penjajahan. Resolusi Jihad memberi landasan moral dan keagamaan bagi perjuangan, sekaligus menguatkan kesadaran bahwa mempertahankan Indonesia merupakan tanggung jawab bersama. Pesantren dan para kiai berperan menyebarkan seruan itu, sementara para santri ikut menggerakkan dukungan dan perlawanan di berbagai daerah.

Rangkaian peristiwa tersebut berhubungan erat dengan perlawanan rakyat pada 10 November 1945 di Surabaya. Pertempuran itu menjadi salah satu penanda kuat keberanian rakyat dalam menghadapi kekuatan yang ingin menguasai kembali Indonesia. Nasaruddin memandang hubungan Resolusi Jihad dan perlawanan 10 November sebagai bukti nyata kontribusi santri bagi bangsa. Santri tidak hanya menyumbangkan tenaga dalam perjuangan, tetapi juga membawa nilai pengorbanan, persatuan, dan tanggung jawab yang memperkuat semangat rakyat. Jejak sejarah ini menegaskan bahwa kemerdekaan Indonesia turut dipertahankan melalui keterlibatan berbagai kelompok, termasuk para santri dan ulama. Warisan tersebut juga memberi konteks bagi pengabdian santri pada masa kini: ilmu dan akhlak yang dibangun di pesantren dapat menjadi bekal untuk berkontribusi bagi masyarakat serta menjaga kehidupan berbangsa.

Nasaruddin mengajak para santri untuk meneruskan pengabdian kepada negeri dengan cara yang sesuai dengan perkembangan zaman. Pengabdian, dalam pandangan tersebut, tidak berhenti pada bentuk perjuangan yang pernah dilakukan generasi sebelumnya. Santri tetap memiliki peran untuk menguatkan negeri, tetapi bentuk kontribusinya dapat menyesuaikan kebutuhan masa kini. Ajakan ini menempatkan ilmu, teknologi, inovasi, dan akhlak mulia sebagai bekal penting dalam menjalankan peran itu. Dengan demikian, semangat mengabdi tetap berlanjut, sementara cara mewujudkannya bergerak seiring perubahan zaman. Santri diharapkan memahami bahwa kesempatan berkontribusi terbuka melalui berbagai bidang yang berkembang, dengan tetap menjaga nilai-nilai yang menjadi landasan pengabdian mereka.

Nasaruddin menyampaikan perbedaan bentuk perjuangan masa dahulu dan masa sekarang. Jika dahulu para santri menguatkan negeri melalui perjuangan mempertahankan kemerdekaan, kini mereka perlu mengambil bagian dengan mengembangkan ilmu pengetahuan, teknologi, dan inovasi. Pernyataan itu menegaskan kesinambungan tujuan: menguatkan negeri. Yang berubah adalah medan dan cara pengabdiannya. Perjuangan pada masa lalu menjadi bagian dari sejarah pengabdian santri, sedangkan tantangan masa kini meminta kontribusi yang relevan dengan perkembangan ilmu dan teknologi. Ajakan tersebut tidak menghapus semangat perjuangan terdahulu, melainkan mengarahkannya agar tetap hadir dalam bentuk yang sesuai dengan zaman. Santri dapat meneruskan semangat itu melalui penguasaan ilmu serta kontribusi dalam kemajuan teknologi dan inovasi.

Dalam ajakan tersebut, kemajuan ilmu pengetahuan, teknologi, dan inovasi tidak dipisahkan dari akhlak mulia. Santri didorong untuk mengabdi dengan kemampuan yang relevan, sekaligus mempertahankan akhlak sebagai bagian dari kontribusi mereka. Pesan Nasaruddin menghubungkan bekal pengetahuan dan keterampilan dengan nilai moral, tanpa mengubah tujuan utama, yaitu menguatkan negeri. Dengan pendekatan itu, pengabdian santri dapat berlanjut dari generasi ke generasi: dahulu melalui perjuangan mempertahankan kemerdekaan, kini melalui ilmu, teknologi, inovasi, serta akhlak mulia. Ajakan ini memberi penekanan bahwa perkembangan zaman menuntut bentuk kontribusi yang berbeda, sementara semangat mengabdi kepada negeri tetap menjadi benang merahnya. Santri diharapkan membawa semangat tersebut ke dalam pengabdian yang sesuai dengan masa kini.

Nasaruddin memandang perubahan zaman sebagai kenyataan yang perlu dihadapi santri, bukan alasan untuk mengurangi semangat pengabdian kepada bangsa. Perkembangan kehidupan masyarakat dapat mengubah kebutuhan dan tantangan yang dihadapi, tetapi nilai dasar pengabdian tetap relevan. Santri, dalam pandangan tersebut, perlu menjaga kemauan untuk berkontribusi sekaligus memahami bahwa cara memberikan manfaat dapat menyesuaikan keadaan. Perubahan bukan berarti meninggalkan jati diri atau mengabaikan tanggung jawab sosial. Sebaliknya, semangat belajar dan kesiapan menghadapi perkembangan dapat berjalan beriringan dengan nilai-nilai yang telah menjadi bekal santri.

Pengabdian melalui ilmu menuntut santri untuk terus mengembangkan pengetahuan dan keahlian. Bekal keilmuan tidak hanya dipahami sebagai sesuatu yang diperoleh selama belajar, tetapi juga sebagai kapasitas yang perlu diperbarui seiring perubahan kebutuhan. Dengan pengetahuan yang berkembang, santri dapat mengenali persoalan di tengah masyarakat dan memahami bentuk kemampuan yang diperlukan untuk meresponsnya. Teknologi juga menjadi bagian dari perubahan yang perlu dicermati, sementara akhlak memberi landasan dalam menggunakan ilmu dan keterampilan. Ketiganya berkaitan dalam upaya menyiapkan diri agar pengabdian tetap bermakna di tengah keadaan yang terus bergerak.

Pandangan ini menempatkan santri sebagai bagian dari masyarakat yang dapat mengambil peran melalui kompetensi dan sikap yang bertanggung jawab. Semangat berkontribusi tidak semestinya berhenti pada kebanggaan terhadap tradisi, tetapi perlu disertai kesediaan untuk belajar dan meningkatkan kemampuan. Pada saat yang sama, kemajuan pengetahuan dan teknologi tidak menghapus pentingnya akhlak dalam menjalankan peran tersebut. Pesan Nasaruddin menekankan bahwa perubahan zaman seharusnya mendorong santri untuk tetap hadir dan mengabdi, dengan tetap menjaga nilai serta kesiapan menghadapi perkembangan. Santri diharapkan mampu menjawab kebutuhan masyarakat melalui keahlian dan pengetahuan yang terus berkembang.

Baca juga: Modernisasi 4.582 Kapal Perikanan: Skema Gratis, Teknologi, dan Target hingga 2029