Mutu Menu MBG Berkaitan dengan Semangat Belajar dan Kehadiran Siswa

oleh -94 Dilihat
oleh
Mutu Menu MBG Berkaitan dengan Semangat Belajar dan Kehadiran Siswa

Jakarta | Presiden Prabowo Subianto menerima rekomendasi Dewan Ekonomi Nasional (DEN) agar mutu menu Makan Bergizi Gratis (MBG) mendapat perhatian lebih besar. Rekomendasi ini menempatkan kualitas makanan sebagai salah satu aspek penting dalam pelaksanaan program, bukan sekadar jumlah penerima atau kelancaran distribusi. Makanan yang disajikan perlu memenuhi standar gizi sekaligus memiliki mutu yang baik agar manfaat program dapat dirasakan siswa dalam kegiatan belajar sehari-hari.

Dasar rekomendasi tersebut berasal dari studi DEN bersama Badan Pusat Statistik (BPS) dan sejumlah lembaga lain. Pengumpulan data dilakukan melalui Survei Sosial Ekonomi Nasional (Susenas) sejak September 2025 dan mencakup seluruh wilayah Indonesia. Cakupan nasional ini memberi gambaran mengenai pengalaman penerima MBG di berbagai daerah, sekaligus membantu menelaah hubungan pelaksanaan program dengan kondisi dan aktivitas siswa.

Anggota DEN Firman Hidayat menjelaskan bahwa survei tersebut mengkaji sejumlah hal, termasuk kaitan program dengan absensi siswa, semangat belajar, dan rasa lapar. Dengan melihat beberapa aspek itu, kajian berupaya memahami lebih jauh bagaimana pengalaman memperoleh makanan bergizi berkaitan dengan keseharian di sekolah. Temuan mengenai mutu menu menjadi perhatian karena kualitas makanan dapat berhubungan dengan tanggapan siswa terhadap program dan kesiapan mereka mengikuti pelajaran.

Salah satu hasil yang disampaikan menunjukkan bahwa 95 persen siswa penerima MBG menyatakan semangat belajar mereka lebih tinggi ketika memperoleh menu dengan kualitas sangat baik. Sebaliknya, semangat tersebut dilaporkan menurun saat makanan yang diterima berkualitas buruk. Angka ini menegaskan pentingnya menjaga konsistensi mutu menu di samping memastikan makanan tersedia bagi siswa. Pengalaman penerima dapat berbeda menurut kondisi dan jenis makanan yang disajikan, sehingga hasil survei perlu dibaca sebagai temuan dari kajian tersebut, bukan jaminan bahwa dampaknya sama pada setiap siswa.

Rekomendasi DEN dengan demikian menggarisbawahi perlunya perhatian berkelanjutan terhadap bahan, pengolahan, dan penyajian menu MBG. Pemantauan kualitas secara teratur dapat membantu pelaksana mengenali masalah dan memperbaiki layanan. Dengan menu yang lebih baik dan tetap memenuhi kebutuhan gizi, program diharapkan semakin mendukung kenyamanan siswa di sekolah serta mendorong pengalaman belajar yang lebih positif.

Firman menyampaikan temuan lain terkait pelaksanaan program Makan Bergizi Gratis (MBG), yaitu siswa penerima program cenderung lebih jarang absen dibandingkan siswa yang tidak menerima MBG. Perbedaan ini memberi gambaran bahwa kehadiran di sekolah merupakan salah satu aspek yang patut diperhatikan ketika menilai kondisi siswa penerima dan nonpenerima. Namun, temuan tersebut perlu dibaca sebagai perbedaan kecenderungan yang dilaporkan, bukan sebagai bukti bahwa MBG secara langsung menyebabkan perubahan kehadiran. Dengan demikian, uraian mengenai absensi dapat melengkapi pembahasan tentang mutu menu dan semangat belajar, tanpa melampaui kesimpulan yang disampaikan.

Perbedaan tingkat absensi itu tampak cukup besar pada kelompok masyarakat termiskin, khususnya siswa yang berada di desil 1. Dalam kelompok ini, siswa yang tidak menerima MBG lebih sering tercatat absen, sedangkan siswa penerima relatif tidak absen. Kontras tersebut menonjol karena menggambarkan keadaan yang berbeda dua kelompok pada lapisan masyarakat paling rentan. Temuan ini tidak berarti bahwa setiap siswa nonpenerima selalu absen atau setiap penerima selalu hadir. Istilah “lebih sering” dan “relatif tidak absen” menunjukkan pola umum, sehingga pengalaman setiap siswa tetap dapat berbeda. Penekanan pada desil 1 juga membantu menjelaskan bahwa perbedaan kehadiran terlihat lebih nyata pada kelompok tersebut, bukan semata-mata pada keseluruhan siswa tanpa membedakan kondisi sosial ekonomi.

Firman juga menyebut bahwa pengurangan absensi terlihat semakin besar seiring meningkatnya intensitas penerimaan MBG di sekolah. Artinya, sekolah dengan penerimaan program yang lebih intensif memperlihatkan penurunan absensi yang lebih besar dalam temuan yang disampaikan. Pola ini dapat menjadi bahan pertimbangan dalam memantau pelaksanaan MBG, termasuk ketika menilai kaitannya dengan keteraturan siswa mengikuti kegiatan belajar. DEN menilai temuan mengenai kehadiran tersebut sebagai dampak positif program. Penilaian itu menunjukkan bahwa absensi merupakan salah satu indikator yang dinilai relevan, berdampingan dengan aspek gizi dan proses belajar. Meski demikian, hubungan yang dilaporkan sebaiknya tetap disampaikan secara cermat: siswa penerima cenderung lebih jarang absen, perbedaan paling jelas terlihat pada desil 1, dan pengurangan absensi tampak lebih besar saat intensitas penerimaan di sekolah meningkat. Rincian tersebut menjelaskan temuan tanpa menyatakan hubungan sebab-akibat yang tidak disebutkan sumber.

Catatan Dewan Ekonomi Nasional (DEN) menunjukkan bahwa distribusi penerima manfaat Makan Bergizi Gratis (MBG) belum sepenuhnya merata. Sebaran penerima di kawasan perkotaan masih lebih tinggi dibandingkan di wilayah perdesaan. Pada saat yang sama, siswa dari kelompok ekonomi mampu disebut lebih banyak menerima manfaat daripada siswa miskin, padahal kelompok terakhir menghadapi kebutuhan yang lebih mendesak. Ketimpangan ini penting diperhatikan agar program menjangkau anak yang paling memerlukan dukungan gizi.

DEN merekomendasikan agar penyaluran MBG lebih memprioritaskan masyarakat miskin, wilayah perdesaan, serta daerah tertinggal, terdepan, dan terluar (3T). Penentuan sasaran yang mempertimbangkan kondisi ekonomi dan keterjangkauan wilayah dapat membantu mengarahkan sumber daya kepada penerima yang selama ini berisiko tertinggal. Perbaikan pendataan, koordinasi pelaksana, serta pemantauan distribusi juga dapat mendukung penerapan prioritas tersebut. Dengan begitu, pemerataan tidak hanya diukur dari jumlah penerima, tetapi juga dari kesesuaian sasaran dan keteraturan layanan.

Perhatian terhadap pemerataan berkaitan dengan dampak program di sekolah. Sejumlah temuan studi mengenai pemberian makanan di lingkungan pendidikan mengaitkan akses terhadap makanan dengan absensi, semangat belajar, dan rasa lapar siswa. Ketika anak memperoleh makanan yang memadai, rasa lapar selama kegiatan belajar berpotensi berkurang dan konsentrasi dapat lebih terjaga. Dukungan ini dapat membantu siswa mengikuti pelajaran serta hadir di sekolah, meskipun hasilnya dipengaruhi pula oleh faktor keluarga, kesehatan, jarak, dan mutu pembelajaran.

Jika manfaat lebih banyak diterima siswa yang relatif mampu atau tinggal di kota, peluang untuk mendukung kehadiran dan kesiapan belajar anak miskin di perdesaan dapat terlewatkan. Karena itu, pemerataan sasaran merupakan bagian penting dari upaya menghubungkan layanan gizi dengan kebutuhan pendidikan. Penyaluran yang menjangkau daerah 3T dan kelompok rentan dapat memperluas akses, sekaligus memberi dasar yang lebih adil untuk menilai pengaruh MBG terhadap pengalaman belajar siswa. Evaluasi berkala perlu mengamati siapa yang menerima makanan, konsistensi layanan, perubahan absensi, semangat belajar, dan laporan siswa tentang rasa lapar, sehingga penyesuaian kebijakan bertumpu pada kondisi lapangan.

Dewan Ekonomi Nasional (DEN) meminta pemerintah memberi perhatian lebih besar pada mutu menu dalam program Makan Bergizi Gratis (MBG). Rekomendasi ini berangkat dari pandangan bahwa manfaat program tidak hanya ditentukan oleh tersedianya makanan, tetapi juga oleh kualitas hidangan yang diterima siswa. Menu yang bermutu dinilai penting karena makanan menjadi bagian dari pengalaman belajar sehari-hari dan dapat berkaitan dengan kesiapan anak mengikuti kegiatan di sekolah.

Menurut Firman, kualitas makanan berkaitan dengan semangat belajar siswa. Ketika menu yang disajikan memenuhi kebutuhan penerima dan layak dikonsumsi, siswa diharapkan dapat menjalani kegiatan belajar dengan lebih baik. Karena itu, evaluasi terhadap MBG perlu memberi perhatian pada mutu makanan, bukan semata pada pelaksanaan program atau jumlah porsi yang diberikan. Penekanan tersebut menunjukkan bahwa kualitas menu merupakan salah satu unsur yang menentukan apakah program benar-benar mendukung kebutuhan siswa di lingkungan pendidikan.

Program MBG juga dinilai berkaitan dengan berkurangnya rasa lapar dan absensi siswa.

Baca juga: DEN Soroti Kehadiran dan Semangat Belajar Siswa Penerima MBG | Warna Baru, Semangat Baru : Satgas TMMD ke-130 Percantik Rumah Warga Oransbari