Medan | Gubernur Jawa Barat Dedi Mulyadi memantau langsung penanganan kebakaran hutan dan lahan di kawasan Taman Nasional Gunung Ciremai, Kabupaten Kuningan, pada Jumat (23/10). Pemantauan dilakukan dari udara untuk memperoleh gambaran kondisi kawasan terdampak sekaligus melihat perkembangan upaya pemadaman. Langkah ini memberi kesempatan bagi gubernur untuk meninjau area yang sulit dijangkau melalui jalur darat dan memastikan perhatian petugas tertuju pada titik-titik yang masih membutuhkan penanganan.
Dalam pemantauan tersebut, helikopter digunakan untuk mendukung operasi water bombing, yakni menjatuhkan air dari udara guna membantu memadamkan api. Upaya ini melengkapi penanganan di lapangan, terutama pada lokasi yang aksesnya terbatas atau ketika api perlu segera dikendalikan. Dedi menyampaikan bahwa ia berkeliling menggunakan helikopter untuk memeriksa titik-titik prioritas. Dari pengamatan itu, ia melihat kondisi kebakaran telah menurun dibandingkan sebelumnya. Pemantauan langsung juga membantu memberikan gambaran situasi terkini kepada pemerintah daerah dan pihak yang terlibat dalam penanganan.
Setelah berlangsung selama dua hari, kebakaran dinyatakan relatif selesai ditangani. Pernyataan tersebut menggambarkan bahwa upaya pemadaman telah menunjukkan hasil, meskipun pengawasan tetap penting untuk memastikan tidak ada titik api yang kembali menyala. Pemeriksaan lanjutan di area terdampak dapat membantu petugas mengenali potensi bara tersisa dan menentukan langkah berikutnya. Kondisi lapangan, termasuk perubahan cuaca dan akses menuju lokasi, juga menjadi pertimbangan dalam menjaga situasi tetap terkendali.
Pemantauan dari udara dan dukungan water bombing menjadi bagian dari respons terhadap kebakaran di kawasan konservasi yang memiliki medan menantang. Keterangan Dedi mengenai penurunan kondisi kebakaran memberikan indikasi bahwa situasi mulai terkendali setelah penanganan intensif selama dua hari. Namun, status relatif selesai tidak menghilangkan kebutuhan untuk tetap . Pemantauan berkala serta koordinasi petugas taman nasional, pemerintah daerah, dan unsur terkait diperlukan agar perkembangan di lapangan dapat direspons dengan cepat. Dengan demikian, upaya pemadaman tidak hanya berfokus pada meredakan api, tetapi juga pada memastikan kawasan tetap aman setelah operasi utama berakhir.
Pemantauan udara memberikan gambaran lebih terukur mengenai luasan kebakaran di kawasan Gunung Ciremai. Berdasarkan hasil pemantauan tersebut, area yang terbakar diperkirakan sekitar 30 hektare. Angka ini berbeda dari isu yang beredar dan menyebut luasan hingga 60 hektare. Perbedaan informasi itu penting diluruskan agar masyarakat memperoleh keterangan yang sesuai dengan hasil pengamatan, bukan perkiraan yang dibesar-besarkan. Data dari udara membantu petugas menilai sebaran dampak secara lebih menyeluruh, sekaligus menjadi rujukan dalam menyampaikan perkembangan penanganan kebakaran kepada publik. Penyampaian angka secara cermat juga membantu menjaga pemahaman bersama mengenai kondisi di lapangan.
Dalam perkembangan penanganan sebelumnya, sekitar 20 persen masih tersisa. Sisa tersebut berupa titik-titik api, bukan gambaran bahwa seluruh area yang terdampak masih terbakar. Titik-titik itu dinilai tidak terlalu rawan, berdasarkan keterangan yang disampaikan mengenai pemantauan dan kondisi penanganan. Informasi ini memberi konteks bahwa upaya pemadaman telah mengurangi sebagian besar api, sementara perhatian tetap diarahkan pada lokasi yang masih menunjukkan titik pembakaran. Pemantauan berlanjut diperlukan untuk memastikan petugas mengetahui keadaan di titik tersebut dan dapat menyesuaikan tindak lanjut berdasarkan kondisi aktual, tanpa menyimpulkan adanya tingkat ancaman yang tidak disebutkan.
Karena itu, pembacaan situasi perlu membedakan luasan lahan yang telah terbakar dan titik api yang masih tersisa. Keduanya menjelaskan hal berbeda: yang pertama menunjukkan cakupan dampak, sedangkan yang kedua menggambarkan bagian penanganan yang belum sepenuhnya selesai. Dengan merujuk pada hasil pemantauan udara serta keterangan tentang sisa titik api, informasi yang beredar dapat dipahami secara proporsional. Masyarakat sebaiknya mengikuti pembaruan dari pihak berwenang dan tidak menyamakan keberadaan titik api dengan perluasan area terbakar. Pendekatan tersebut menjaga informasi tetap akurat, membantu menghindari kesimpulan berlebihan, dan memberi ruang bagi petugas untuk melanjutkan pemantauan sesuai kebutuhan lapangan. Keterangan yang tersedia juga tidak perlu ditafsirkan melampaui cakupan yang telah disampaikan.
Pemerintah Provinsi Jawa Barat mengerahkan helikopter bantuan dari Kementerian Pertahanan, Mabes TNI, Angkatan Udara, dan BNPB untuk mendukung pemadaman kebakaran hutan dan lahan di Gunung Ciremai. Pesawat digunakan untuk melakukan water bombing, yakni menjatuhkan air dari udara ke titik-titik api yang sulit dijangkau petugas melalui jalur darat. Dukungan ini penting karena medan hutan yang terjal dan akses terbatas dapat menghambat upaya pemadaman langsung. Penyiraman udara diarahkan untuk membantu menekan kobaran, terutama pada area yang berisiko menjadi titik penyebaran baru. Sasaran utamanya adalah mencegah api meluas ke kawasan lain, sembari memberi ruang bagi petugas di lapangan untuk memperkuat penanganan dari darat. Pengerahan helikopter juga melengkapi langkah pengendalian, bukan menggantikan pemantauan dan kerja tim yang berada di lokasi.
Dedi menjelaskan bahwa pola penjalaran api di Ciremai berbeda dengan kebakaran yang terjadi di Kalimantan. Di Ciremai, api merambat ke atas mengikuti kondisi lereng, sedangkan di Kalimantan penjalarannya disebut lebih banyak bergerak ke samping. Perbedaan karakter tersebut memengaruhi cara petugas membaca ancaman dan menentukan langkah pencegahan. Selain pola rambatan, ketersediaan air menjadi tantangan tersendiri. Sumber air di sekitar lokasi kebakaran Ciremai terbatas, sehingga kebutuhan untuk mengatur penggunaan air dan menemukan cara agar alirannya tetap tersedia semakin penting. Kondisi tersebut turut menjelaskan alasan pemadaman tidak hanya mengandalkan penyiraman dari udara. Penanganan perlu disesuaikan dengan kontur kawasan, arah gerak api, serta kemampuan memperoleh air di sekitar hutan agar upaya pengendalian dapat menjangkau titik yang membutuhkan.
Salah satu strategi yang dilakukan adalah menyekat jalur rambatan api dengan memfungsikan kembali kanal alami di dalam hutan. Kanal yang tersumbat sampah tidak dapat mengalirkan air secara optimal, sehingga perlu dibersihkan agar kembali berfungsi. Sebanyak 500 orang dikerahkan untuk mengangkat sampah dari kanal tersebut. Setelah aliran air terbuka, kanal diharapkan dapat menjadi penghalang alami yang membantu menutup jalur rambatan dan menghambat api menyeberang ke bagian hutan lain. Upaya ini sekaligus mendukung ketersediaan air di tengah sumber yang terbatas. Pembersihan kanal bukan tindakan yang berdiri sendiri, melainkan bagian dari rangkaian pemadaman yang mencakup pengerahan helikopter, penanganan darat, dan pengawasan titik rawan. Dengan menggabungkan langkah-langkah itu, petugas berupaya mengurangi peluang api meluas serta mengendalikan kebakaran sesuai kondisi medan Ciremai.
Menjelang musim tanam pada November, Dedi menyampaikan imbauan kepada masyarakat agar tidak membuka lahan dengan menggunakan api. Pesan tersebut berkaitan dengan kebiasaan membakar ilalang yang masih dilakukan sebagian petani sebelum masa tanam dimulai. Dalam persiapan lahan, pembakaran ilalang lazim dilakukan oleh sebagian petani menjelang masa tanam. Namun, gubernur meminta agar kebiasaan tersebut dihentikan. Imbauan Dedi secara khusus menyoroti penggunaan api sebagai cara membuka lahan menjelang musim tanam November. Pesan yang disampaikan kepada masyarakat jelas: tidak membuka lahan dengan membakar ilalang pada masa persiapan tanam.
Kebiasaan membakar ilalang menjelang masa tanam menjadi konteks penting dari imbauan tersebut. Praktik itu dikenal dilakukan oleh sebagian petani sebelum memasuki waktu tanam, tetapi Dedi meminta masyarakat untuk tidak meneruskannya. Dengan demikian, pesan gubernur tidak mengabaikan bahwa pembakaran ilalang lazim dilakukan sebagian petani; imbauan itu justru secara langsung meminta agar kebiasaan tersebut dihentikan. Waktu penyampaiannya juga berkaitan dengan musim tanam yang akan berlangsung pada November.
Baca juga: Pemadaman Karhutla Gunung Ciremai Diperkuat, Warga Diajak Membuat Sekat Api | Karhutla Menjangkau Pegunungan di Jawa, BNPB Catat Empat Gunung Terbakar di Jatim | BNPB Tambah Dukungan Udara untuk Tangani Karhutla di Lima Gunung Jawa Timur



































