Bogor | Bupati Bogor Rudy Susmanto menyampaikan bahwa indikasi kejadian yang diduga berkaitan dengan keracunan dalam program Makan Bergizi Gratis (MBG) terjadi pada Senin, 26 Oktober 2026. Namun, keluhan tidak langsung muncul secara bersamaan setelah kegiatan berlangsung. Gejala pada sejumlah siswa mulai terlihat pada Senin malam, kemudian berlanjut dan diketahui pada Selasa pagi. Perbedaan waktu munculnya keluhan tersebut menjadi bagian dari keterangan awal yang disampaikan pemerintah daerah dalam merespons laporan dari sekolah.
Siswa yang terdampak berasal dari dua sekolah di Kecamatan Dramaga, yaitu SMPN 1 Dramaga dan SMPN 2 Dramaga. Informasi mengenai siswa dari kedua sekolah itu menjadi dasar penanganan dan pendataan lebih lanjut oleh pihak terkait. Penyebutan sekolah asal membantu memperjelas cakupan laporan, tetapi belum dengan sendirinya menjelaskan bagaimana atau dari mana keluhan bermula. Pemerintah daerah masih perlu mencocokkan keterangan sekolah, siswa, dan pihak lain untuk memperoleh gambaran kejadian yang utuh.
Rudy menyatakan bahwa penyebab kejadian masih berupa dugaan dan belum dapat dipastikan. Karena itu, belum tepat untuk menyimpulkan makanan tertentu, minuman, atau unsur lain sebagai penyebab keluhan para siswa. Kepastian memerlukan pemeriksaan dan penelusuran lebih lanjut, termasuk mencermati urutan waktu serta informasi yang tersedia dari sekolah dan pihak berwenang. Sampai hasil pemeriksaan diperoleh, pemberitaan mengenai kasus ini sebaiknya tetap menggunakan istilah dugaan keracunan, bukan menetapkan sumber penyebab. Sikap tersebut penting agar informasi yang beredar tetap akurat, tidak menimbulkan spekulasi, dan memberi ruang bagi proses klarifikasi. Waktu munculnya gejala setelah indikasi kejadian pada Senin dapat dicatat sebagai kronologi awal, tetapi tidak cukup untuk membuktikan hubungan sebab-akibat. Masyarakat dan orang tua dapat merujuk pada keterangan resmi pemerintah serta perkembangan pemeriksaan sebelum menarik kesimpulan mengenai MBG di Dramaga.
Pemerintah Kabupaten Bogor membuka layanan pengobatan bagi para siswa dari dua sekolah yang terdampak dugaan keracunan makanan dalam program MBG di Dramaga. Layanan kesehatan tersebut disediakan agar siswa yang mengalami keluhan dapat segera memperoleh pemeriksaan dan pertolongan sesuai kondisi masing-masing. Sejak layanan dibuka, tercatat sebanyak 481 siswa datang untuk meminta bantuan. Jumlah itu menggambarkan banyaknya siswa yang membutuhkan penilaian medis setelah kejadian, meskipun kebutuhan penanganan setiap siswa tidak sama. Petugas kesehatan memeriksa kondisi mereka dan menentukan tindak lanjut berdasarkan hasil pemeriksaan serta kebutuhan perawatan.
Dalam kunjungannya ke Puskesmas Cangkurawok, Dramaga, Rudy mengecek sejumlah siswa yang menjadi korban dan tengah mendapatkan penanganan. Pemeriksaan langsung tersebut menjadi bagian dari pemantauan terhadap pelayanan kesehatan yang diberikan kepada para siswa. Puskesmas Cangkurawok menjadi salah satu tempat penanganan bagi mereka yang datang meminta bantuan. Siswa yang kondisinya memerlukan pemeriksaan lebih lanjut tidak hanya ditangani di puskesmas, tetapi dapat dirujuk ke rumah sakit. Langkah rujukan memungkinkan siswa memperoleh penanganan lanjutan sesuai kebutuhan klinis, sementara petugas tetap memantau mereka yang masih dirawat di fasilitas kesehatan setempat.
Dari siswa yang diperiksa, sebanyak 22 orang dirujuk ke rumah sakit untuk menjalani penanganan lanjutan. Rujukan dilakukan bagi siswa yang membutuhkan layanan lebih jauh dari yang tersedia di Puskesmas Cangkurawok. Sementara itu, sembilan siswa masih menjalani pengobatan dan perawatan di puskesmas tersebut. Dengan demikian, penanganan berlangsung melalui beberapa jalur, yakni pemeriksaan bagi siswa yang datang, perawatan di puskesmas, serta rujukan ke rumah sakit bila diperlukan. Pemerintah Kabupaten Bogor menyediakan layanan bagi siswa dari kedua sekolah, sedangkan petugas kesehatan memberikan tindak lanjut berdasarkan kondisi masing-masing. Data jumlah kedatangan, rujukan, dan pasien yang masih dirawat menunjukkan perkembangan layanan pada saat penanganan berlangsung. Pemantauan terhadap siswa yang menjalani perawatan tetap diperlukan hingga mereka dinilai dapat melanjutkan pemulihan di luar fasilitas kesehatan.
Rudy menyampaikan perkembangan mengenai sejumlah siswa yang dirujuk untuk mendapatkan penanganan di rumah sakit setelah muncul dugaan keracunan MBG di Dramaga. Berdasarkan keterangan tersebut, sebanyak 19 siswa dirawat di RS KBP. Dalam perkembangan yang sama, tiga siswa telah diperbolehkan pulang. Informasi ini memberikan gambaran bahwa penanganan terhadap para siswa terus berlangsung, sementara sebagian di antaranya sudah dapat kembali ke rumah.
Keterangan mengenai siswa di RS KBP perlu dipahami sesuai rincian yang disampaikan Rudy. Ia menyebut 19 siswa dirawat dan tiga siswa telah diperbolehkan pulang, tetapi informasi tersebut tidak menjelaskan lebih lanjut hubungan angka-angka itu secara rinci. Karena itu, jumlah pasien yang masih dirawat maupun jumlah keseluruhan siswa yang pernah mendapatkan penanganan di rumah sakit tersebut tidak dapat dipastikan hanya dari keterangan ini. Penyebutan angka secara terpisah juga tidak seharusnya digunakan untuk menghitung total pasien gabungan.
Selain RS KBP, Rudy menyampaikan perkembangan siswa yang berada di RSM. Dari 14 siswa yang disebut berada di RSM, satu siswa masih menjalani penanganan. Keterangan ini menunjukkan bahwa proses perawatan di rumah sakit tersebut belum sepenuhnya selesai. Namun, tidak ada rincian tambahan yang disampaikan mengenai kondisi siswa yang masih ditangani ataupun status perawatan siswa lainnya. Oleh sebab itu, perkembangan yang dapat dipastikan terbatas pada angka dan status yang disebutkan Rudy.
Data dari kedua rumah sakit tersebut memperlihatkan adanya siswa yang telah diperbolehkan pulang dan siswa yang masih memperoleh perawatan. Perkembangan ini menjadi bagian dari penanganan kasus dugaan keracunan yang melibatkan siswa di Dramaga, tetapi tidak cukup untuk menarik kesimpulan mengenai kondisi setiap pasien atau jumlah keseluruhan pasien rumah sakit. Informasi lanjutan dari pihak terkait diperlukan untuk memperjelas perubahan status perawatan, termasuk bila ada siswa lain yang telah pulang atau masih menjalani pemeriksaan. Untuk saat ini, laporan Rudy menyebut 19 siswa dirawat di RS KBP, tiga telah diperbolehkan pulang, serta satu dari 14 siswa di RSM masih menjalani penanganan.
Pemerintah Kabupaten Bogor bersama Polres Bogor mengambil sampel makanan dan minuman yang dikonsumsi para siswa untuk diperiksa di Laboratorium Kesehatan Kabupaten Bogor. Pemeriksaan tersebut menjadi bagian dari upaya menelusuri penyebab dugaan keracunan yang dilaporkan di Dramaga. Sampel akan dianalisis oleh laboratorium, sehingga penjelasan mengenai kemungkinan penyebab kejadian perlu menunggu hasil pemeriksaan. Pemerintah daerah dan kepolisian melakukan langkah ini untuk memperoleh informasi berdasarkan pengujian, bukan dugaan. Pengumpulan sampel juga membantu mendukung penanganan kasus dengan data yang dapat dipertanggungjawabkan. Di tengah proses tersebut, perhatian pemerintah diarahkan pada siswa yang mengalami keluhan dan kebutuhan penanganan medisnya.
Bupati Bogor Rudy Susmanto menegaskan bahwa pelayanan kesehatan bagi siswa menjadi fokus pemerintah daerah. Penanganan mereka didahulukan, termasuk memastikan siswa yang membutuhkan memperoleh pemeriksaan dan perawatan. Pemerintah memantau situasi serta berkoordinasi dengan pihak terkait, sementara hasil uji laboratorium akan menjadi dasar penting untuk memahami apa yang terjadi. Langkah pemeriksaan sampel berlangsung bersamaan dengan upaya memberikan layanan kepada para siswa. Dengan demikian, penanganan tidak hanya mencakup pencarian informasi mengenai makanan dan minuman yang dikonsumsi, tetapi juga memastikan kondisi para siswa mendapat perhatian. Rudy menempatkan aspek kesehatan dan keselamatan mereka sebagai prioritas dalam respons pemerintah kabupaten.
Mengenai rincian menu yang disajikan, Rudy mengarahkan pertanyaan kepada koordinator wilayah atau dapur Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG) yang menangani penyediaan makanan. Ia menjelaskan bahwa kewenangan teknis terkait pemberian makanan dalam program Makan Bergizi Gratis berada pada Badan Gizi Nasional.
Baca juga: Ratusan Pelajar Dramaga Mendapat Penanganan Usai Diduga Keracunan Menu MBG | SMPN 2 Depok Disiapkan dari Banjir, Disdik Targetkan Penanganan Rampung Akhir 2026



































