Jakarta | Perahu bertema unta yang dirakit dari bahan bekas menjadi salah satu penampilan unik dalam Festival Cinta Lingkungan (Cilung) 2026 di Danau Sunter, Jakarta Utara. Karya tersebut dibuat oleh Unit Penanganan Sampah (UPS) Badan Air Cengkareng, Jakarta Barat, lalu ditampilkan bersama puluhan perahu lain dalam pawai yang menghadirkan 43 perahu. Kehadirannya memperlihatkan bagaimana barang yang telah digunakan dapat diolah menjadi bagian dari karya kreatif sekaligus atraksi publik.
Bentuk unta memberi perahu itu identitas visual yang mudah dikenali di peserta pawai. Gagasan tersebut mengubah bahan yang biasanya dipandang sebagai sisa menjadi unsur dalam rancangan yang menarik perhatian pengunjung. Di tengah suasana festival, perahu itu tidak hanya berfungsi sebagai kendaraan untuk mengikuti arak-arakan, tetapi juga membawa pesan tentang pemanfaatan kembali material dan pentingnya mengurangi sampah. Pilihan tema yang tidak biasa turut membuat karya tersebut menonjol tanpa memisahkannya dari tujuan utama kegiatan, yaitu mengajak masyarakat lebih peduli terhadap lingkungan.
Partisipasi UPS Badan Air Cengkareng menunjukkan keterlibatan unit penanganan sampah dari Jakarta Barat dalam kegiatan yang berlangsung di Danau Sunter, Jakarta Utara. Pembedaan lokasi dan asal pembuat penting untuk memahami konteks peristiwa: festival serta pawai diselenggarakan di Danau Sunter, sedangkan perahu unta dirakit oleh tim dari Cengkareng. Dengan menghadirkan karya tersebut, para pembuat menyampaikan bahwa kreativitas dapat menjadi cara untuk membuka percakapan mengenai sampah dan pengelolaannya. Pawai 43 perahu menyediakan ruang bagi beragam gagasan untuk tampil berdampingan, sementara perahu berbahan bekas ini menjadi contoh nyata bahwa upaya menjaga lingkungan dapat disampaikan melalui karya yang menarik dan mudah diingat.
Menurut Donal, petugas UPS Badan Air Cengkareng, perahu unta tersebut dibuat dengan memanfaatkan berbagai bahan bekas. Bahan utamanya terdiri atas 3.380 botol air mineral dan 500 galon bekas. Jumlah itu menunjukkan skala material yang dihimpun untuk mewujudkan perahu, sekaligus menempatkan barang-barang yang sudah tidak terpakai sebagai bagian dari karya festival. Botol plastik dan galon menjadi bahan yang paling banyak disebut dalam keterangan Donal, sementara sejumlah material lain turut digunakan untuk melengkapi pembuatan perahu.
Selain botol dan galon, pembuat menggunakan busa kulkas bekas yang ditemukan di kali atau di kawasan setempat. Mereka juga memanfaatkan triplek dan aluminium. Dengan demikian, bahan perahu tidak hanya berasal dari satu jenis sampah atau barang bekas. Keterangan mengenai material tersebut memberi gambaran tentang sumber bahan yang digunakan, tetapi tidak merinci cara setiap bahan dipasang ataupun fungsi khusus masing-masing bagian. Karena itu, yang dapat dipastikan adalah bahwa botol, galon, busa kulkas, triplek, dan aluminium termasuk dalam bahan yang dimanfaatkan untuk membuat perahu.
Proses pengerjaannya berlangsung selama tiga bulan, yakni dari Juli hingga September. Rentang waktu tersebut menjadi bagian penting dari kisah pembuatan perahu, yang memerlukan penghimpunan dan pemanfaatan beragam bahan bekas dalam skala besar. Donal menyampaikan durasi itu bersama keterangan tentang jumlah botol dan galon yang digunakan. Tidak ada rincian tahapan perakitan yang disebutkan, sehingga prosesnya dapat dijelaskan sebatas waktu pengerjaan serta bahan-bahan yang terlibat. Informasi tersebut memperlihatkan bagaimana barang yang ditemukan di lingkungan sekitar diolah menjadi bagian dari karya untuk Festival Cinta Lingkungan.
Menurut Donal, pemilihan unta sebagai tema perahu bukan sekadar upaya menghadirkan bentuk yang berbeda di festival. Baginya, unta menggambarkan perjalanan kehidupan: perjalanan yang menuntut ketekunan, kesabaran, dan kemampuan untuk terus melangkah menghadapi berbagai keadaan. Makna tersebut memberi tema ini pesan yang lebih luas daripada tampilan visualnya. Perahu unta menjadi pengingat bahwa setiap perjalanan memiliki tantangan, sementara usaha untuk mencapai tujuan perlu dijalani dengan sikap yang teguh.
Donal juga memaknai unta sebagai simbol dorongan agar seseorang bekerja secara istikamah dan amanah. Istikamah menekankan konsistensi dalam menjalankan tugas, sedangkan amanah berkaitan dengan tanggung jawab untuk menjaga kepercayaan. Nilai-nilai itu selaras dengan semangat kegiatan yang mengajak peserta mengolah sampah menjadi karya. Bahan yang semula dianggap tidak lagi berguna dapat ditata dan diberi makna melalui kerja bersama. Dengan demikian, pilihan tema unta menyampaikan pesan tentang proses, tanggung jawab, dan ketekunan, sekaligus memperlihatkan bagaimana kreativitas dapat bertolak dari bahan sederhana.
Beragam gagasan turut hadir pada perahu peserta lain. UPS Badan Air Tambora membuat perahu bertema ikan koi emas, sementara peserta lainnya mengangkat tema naga, harimau, garuda, merak, macan kumbang, dan kapal perang. Perbedaan tema itu menghadirkan pilihan bentuk dan simbol yang beragam dalam festival, tanpa mengurangi perhatian pada kreativitas mengolah sampah. Masing-masing karya menunjukkan cara peserta menerjemahkan ide menjadi rancangan perahu. Suasana acara juga diperkuat oleh para peserta yang mengenakan kostum tradisional yang unik. Kostum-kostum tersebut menambah warna pada penampilan mereka, tanpa perlu mengaitkannya dengan bentuk atau asal tertentu. Bersama-sama, karya dan penampilan peserta memperlihatkan ragam ekspresi dalam festival cinta lingkungan, sementara tema unta menonjolkan pesan tentang perjalanan hidup serta sikap istikamah dan amanah dalam bekerja.
Sekretaris Daerah Provinsi DKI Jakarta, Uus Kuswanto, berharap Festival Cinta Lingkungan dapat menjadi sarana edukasi bagi masyarakat, terutama anak-anak, tentang pentingnya memilah dan memilih sampah sejak dini. Harapan ini menempatkan festival bukan semata sebagai ruang untuk menampilkan karya, tetapi juga sebagai kesempatan mengenalkan kebiasaan yang dapat dimulai dalam kehidupan sehari-hari. Melalui kegiatan yang dekat dengan kreativitas, pesan mengenai sampah diharapkan lebih mudah dipahami dan menjadi bahan perhatian bersama.
Pemahaman tentang memilah dan memilih sampah sejak usia dini penting dikenalkan sebagai bagian dari kebiasaan sehari-hari. Anak-anak dapat diajak mengenali bahwa sampah perlu diperhatikan dan dipilah, bukan sekadar dibuang tanpa pertimbangan. Edukasi tersebut dapat disampaikan melalui contoh dan pengalaman yang dijumpai di sekitar mereka. Dalam konteks festival, karya berupa perahu yang dibuat dengan memanfaatkan bahan bekas menghadirkan contoh kreativitas dalam mengolah sampah. Karya itu memperlihatkan bahwa bahan yang biasanya dianggap tidak terpakai dapat digunakan sebagai bagian dari sebuah kreasi, sekaligus membuka ruang percakapan tentang kebiasaan mengelola sampah.
Uus juga berharap kreativitas para pembuat perahu dapat menginspirasi masyarakat untuk menerapkan kebiasaan serupa dalam kehidupan sehari-hari. Inspirasi tersebut berkaitan dengan kemauan melihat sampah secara lebih cermat, memilahnya, dan mempertimbangkan kemungkinan pemanfaatannya. Harapan ini tidak hanya ditujukan kepada anak-anak, tetapi juga kepada masyarakat yang menyaksikan karya-karya dalam festival. Dengan demikian, pesan edukasi yang dibawa kegiatan ini berangkat dari contoh konkret para pembuat perahu dan dapat menjadi pengingat bagi siapa pun untuk memperhatikan pilihan sehari-hari terkait sampah. Harapan agar festival menjadi sarana edukasi itu menegaskan pentingnya membangun pemahaman sejak dini, sambil memberi ruang bagi kreativitas untuk mendorong kebiasaan yang lebih bertanggung jawab dalam kehidupan sehari-hari.



































