Pertasindo Tekankan Keterpaduan 5M untuk Memperkuat Ketahanan Kesehatan Nasional

oleh -61 Dilihat
oleh
Pertasindo Tekankan Keterpaduan 5M untuk Memperkuat Ketahanan Kesehatan Nasional

Jakarta | Perkumpulan Ketahanan Kesehatan Indonesia (Pertasindo) akan menggelar The 3rd Symposium of Indonesian Health Resilience Association (SIERA) pada 21–23 Oktober 2026 di Jakarta. Forum yang berlangsung selama tiga hari ini ditujukan untuk mendorong penguatan ketahanan kesehatan nasional. Penyelenggaraannya menjadi ruang bagi para pemangku kepentingan untuk membahas tantangan dan kebutuhan sistem kesehatan, sekaligus menegaskan pentingnya kesiapan menghadapi berbagai risiko yang dapat mengganggu layanan dan kesehatan masyarakat.

Ketahanan kesehatan tidak hanya berkaitan dengan kemampuan merespons keadaan darurat setelah krisis terjadi. Upaya tersebut juga mencakup kesiapan untuk mengantisipasi risiko, menjaga keberlanjutan layanan, serta memulihkan fungsi sistem ketika menghadapi tekanan. Karena tantangannya dapat melibatkan banyak sektor, pembahasannya memerlukan kerja sama pemerintah, tenaga kesehatan, akademisi, dunia usaha, dan masyarakat. Pertukaran pandangan dalam forum seperti SIERA diharapkan membantu membangun pemahaman bersama mengenai prioritas penguatan yang relevan bagi Indonesia.

SIERA ke-3 juga menjadi kesempatan untuk mengangkat perlunya pendekatan yang terpadu dalam membangun sistem kesehatan yang tangguh. Pembahasan lintas pihak dapat membantu menghubungkan kebijakan, kapasitas sumber daya, kesiapan fasilitas, serta koordinasi antarlembaga. Keterpaduan tersebut penting agar langkah penguatan tidak berjalan sendiri-sendiri dan dapat mendukung kebutuhan masyarakat secara lebih konsisten. Dengan mempertemukan beragam perspektif, simposium ini diharapkan mendorong dialog yang berorientasi pada solusi dan memperluas kolaborasi untuk menghadapi ancaman kesehatan yang terus berkembang.

Menjelang pelaksanaan pada Oktober 2026, penyelenggaraan forum ini menempatkan ketahanan kesehatan sebagai agenda yang memerlukan perhatian berkelanjutan. Hasil diskusi dan pertukaran pengalaman dapat menjadi masukan bagi berbagai pihak dalam menilai kesiapan, mengenali kesenjangan, serta merumuskan langkah berikutnya. Penguatan sistem kesehatan pada akhirnya membutuhkan komitmen jangka panjang, koordinasi yang jelas, dan kemampuan untuk menyesuaikan respons terhadap perubahan situasi. Melalui SIERA, Pertasindo mendorong agar upaya tersebut dibicarakan secara luas dan dijalankan dengan kerja sama yang lebih erat.

Kerangka 5M menjadi fokus pembahasan dalam simposium Pertasindo sebagai cara melihat unsur-unsur yang diperlukan untuk memperkuat ketahanan kesehatan nasional. Lima unsur tersebut meliputi sumber daya manusia atau man, pembiayaan atau money, material, teknologi dan peralatan atau machine, serta metode kerja atau methods. Kerangka ini menempatkan seluruh unsur dalam satu kesatuan, bukan sebagai komponen yang berdiri sendiri. Dengan demikian, pembahasan ketahanan kesehatan mencakup orang yang menjalankan layanan, dukungan pembiayaan, ketersediaan material, pemanfaatan teknologi dan peralatan, serta metode kerja yang digunakan. Kelima aspek itu menjadi perhatian bersama dalam melihat kebutuhan sistem kesehatan.

Unsur man merujuk pada sumber daya manusia, sementara money mencakup pembiayaan. Material, machine, dan methods masing-masing menunjuk pada material, teknologi dan peralatan, serta metode kerja. Penyebutan kelima elemen tersebut membantu menegaskan cakupan kerangka 5M yang dibahas. Setiap elemen memiliki tempat dalam sistem dan keterkaitan dengan elemen lainnya. Karena itu, upaya memperkuat ketahanan kesehatan nasional tidak cukup dipahami hanya melalui satu aspek. Perhatian terhadap seluruh unsur diperlukan agar kerangka ini dipandang secara utuh. Keterpaduan tersebut menjadi pokok pesan dalam simposium, tanpa memisahkan satu kebutuhan dari kebutuhan lain yang tercakup dalam 5M.

Ketua Pertasindo, Mayjen (Purn) dr. dr. Dian Andriani Ratna Dewi, menegaskan bahwa kelima unsur itu saling terkait dan tidak dapat dipisahkan. Pernyataan tersebut menekankan pentingnya memandang sumber daya manusia, pembiayaan, material, teknologi dan peralatan, serta metode kerja sebagai bagian yang berhubungan dalam satu kerangka. Ia juga menyampaikan makna bahwa mengabaikan satu elemen dapat menggagalkan upaya membangun sistem ketahanan kesehatan nasional yang memadai bagi masyarakat luas. Dengan demikian, pesan utamanya adalah menjaga keterpaduan kelima unsur tersebut dalam pembahasan ketahanan kesehatan. Tidak satu pun elemen dapat dikesampingkan ketika tujuan yang dibicarakan adalah membangun sistem yang memadai bagi masyarakat luas.

Dian berpandangan bahwa memperkuat ketahanan kesehatan nasional tidak dapat dilakukan hanya dengan menambah jumlah fasilitas atau menghadirkan inovasi teknologi. Infrastruktur dan perangkat modern memang penting, tetapi dampaknya akan terbatas apabila tidak didukung oleh sistem yang mampu menghubungkan berbagai kebutuhan layanan. Ketahanan kesehatan memerlukan ekosistem yang bekerja secara terpadu, mulai dari kesiapan tenaga kesehatan hingga cara organisasi merencanakan dan menjalankan pelayanan. Dengan demikian, pembahasan tidak berhenti pada apa yang tersedia, melainkan juga mencakup bagaimana sumber daya tersebut dikelola dan dimanfaatkan secara konsisten.

Salah satu unsur utama dalam ekosistem itu adalah sumber daya manusia yang berkualitas. Tenaga kesehatan dan pengelola layanan perlu memiliki kompetensi, kapasitas, serta kesiapan untuk merespons tantangan yang berubah. Pada saat yang sama, skema pembiayaan harus berkelanjutan agar layanan dapat dipertahankan dan dikembangkan, bukan sekadar dibangun tanpa dukungan operasional jangka panjang. Ketersediaan material dan peralatan juga perlu direncanakan secara tepat, sementara teknologi atau mesin harus dipilih berdasarkan kebutuhan serta dapat diintegrasikan ke dalam proses kerja. Metode yang terstruktur kemudian membantu memastikan setiap unsur berfungsi selaras, dengan pembagian peran dan alur pelaksanaan yang jelas.

Kerangka tersebut menjadi konteks simposium bertema “Advancing Health Resilience Through the 5M Framework: Man, Money, Material, Machine, and Methods”. Melalui pendekatan 5M, Dian mendorong para pemangku kepentingan untuk tidak memandang setiap fondasi secara terpisah. Pemerintah, penyedia layanan, tenaga kesehatan, pelaku industri, dan pihak terkait lainnya perlu menyelaraskan perencanaan serta kontribusi mereka. Keselarasan ini dapat membantu mengurangi kesenjangan investasi, kebutuhan lapangan, dan kemampuan sistem dalam memberikan layanan. Artinya, penguatan fasilitas maupun penerapan teknologi sebaiknya berjalan bersama peningkatan kompetensi, pembiayaan yang stabil, pengelolaan material, dan metode kerja yang terukur. Ketika kelima fondasi dipertimbangkan secara seimbang, upaya membangun ketahanan kesehatan memiliki dasar yang lebih menyeluruh dan berpeluang memberi manfaat berkelanjutan bagi masyarakat.

Ketua Panitia SIERA, Kolonel (Purn) dr. dr. Agus Sutarman, menyampaikan bahwa kolaborasi menjadi salah satu tujuan utama simposium tahunan ketiga ini. Forum tersebut dirancang untuk memperluas jejaring antarpemangku kepentingan, membuka ruang pertukaran pengetahuan, serta mendorong lahirnya gagasan dan inovasi yang dapat mendukung kemajuan kesehatan Indonesia. Dengan mempertemukan beragam perspektif, diskusi diharapkan tidak berhenti pada pemaparan tantangan, tetapi juga menghasilkan pemahaman bersama mengenai langkah yang dapat dikembangkan.

Peserta yang akan terlibat mencakup regulator, praktisi kesehatan, akademisi, peneliti, dan komunitas medis militer. Keragaman latar belakang ini memberi kesempatan bagi setiap pihak untuk berbagi pengalaman, kebutuhan, dan temuan yang relevan dengan penguatan layanan kesehatan. Regulator dapat menyampaikan arah kebijakan dan kerangka pengawasan, sementara tenaga kesehatan serta komunitas medis militer membawa pengalaman praktis dari lapangan. Akademisi dan peneliti dapat melengkapi pembahasan dengan bukti ilmiah, analisis, serta pendekatan baru yang berpotensi diterapkan.

Pertemuan lintas sektor seperti ini juga penting untuk membangun pemahaman mengenai hubungan kebijakan, kesiapan layanan, penelitian, dan kebutuhan masyarakat. Pertukaran pengetahuan memungkinkan peserta mengenali peluang kerja sama, mengidentifikasi persoalan yang memerlukan perhatian bersama, serta membandingkan pendekatan yang telah digunakan di berbagai lingkungan. Gagasan yang muncul dari diskusi dapat menjadi bahan pertimbangan bagi pengembangan program maupun inovasi kesehatan. Dengan demikian, jejaring yang terbentuk diharapkan berlanjut setelah simposium, melalui komunikasi dan kerja sama yang lebih terarah.

Sejumlah tokoh nasional dijadwalkan hadir dalam kegiatan ini, yaitu Menteri Pertahanan Jenderal (Purn) Sjafrie Sjamsoeddin, Menteri Kesehatan Ir. Budi Gunawan Sadikin, Kepala BPOM Prof. dr. Taruna Ikrar, serta Direktur Utama BPJS Kesehatan Mayjen (Purn) dr. dr. Prihati Pujowaskito.

Baca juga: Pemadaman Nasional Sri Lanka Diselidiki, Kelebihan Pasokan Surya Diduga Jadi Pemicu | Hasto Kristiyanto Tanam Mangrove di Malang dan Tekankan Perlindungan Pesisir | Tata Kelola Haji Disorot: Transparansi Pengadaan, Ketahanan Dana, dan Layanan Digital