Jakarta | Parameter Politik Indonesia (PPI) memetakan elektabilitas calon presiden melalui tiga simulasi dengan susunan nama yang berbeda. Pendekatan ini memberi gambaran tentang pilihan responden dalam beberapa format pertanyaan, mulai dari jawaban terbuka hingga daftar kandidat yang lebih terbatas. Dalam setiap skenario, pertanyaan yang diajukan berfokus pada pilihan responden apabila pemilihan presiden dilaksanakan saat ini.
Simulasi pertama menggunakan pertanyaan terbuka dengan 20 nama. Responden diminta menyebutkan tokoh yang akan dipilih tanpa terlebih dahulu diarahkan pada daftar kandidat tertentu. Hasil simulasi terbuka ini dikaitkan secara khusus dengan 1.200 responden. Karena formatnya tidak membatasi pilihan pada daftar pendek, jawaban dapat mencerminkan tokoh yang muncul secara spontan dalam ingatan pemilih, termasuk nama yang belum tentu berada dalam susunan simulasi berikutnya.
Simulasi kedua menyajikan 17 kandidat. Daftar tersebut terdiri atas para ketua umum partai politik serta sejumlah tokoh yang berpeluang diusung oleh partai nonparlemen maupun partai baru. Dengan cakupan itu, pengujian tidak hanya berpusat pada figur dari partai yang telah memiliki kursi di parlemen, tetapi juga memperhitungkan kemungkinan munculnya dukungan politik dari kekuatan lain. Format ini memungkinkan PPI melihat pilihan publik ketika responden dihadapkan pada kelompok kandidat yang telah ditentukan.
Simulasi ketiga mempersempit pilihan menjadi lima kandidat. Perbedaan jumlah nama pada setiap skenario penting diperhatikan saat membaca hasil, sebab format pertanyaan dan pilihan yang tersedia dapat memengaruhi cara responden menentukan pilihan. Ketiga pengujian tersebut disampaikan sebagai bagian dari pemetaan elektabilitas, bukan sebagai satu daftar hasil yang dapat dibaca tanpa melihat konteks simulasinya.
Direktur Eksekutif PPI Adi Prayitno memaparkan hasil survei nasional bertajuk “Evaluasi 2 Tahun Pemerintahan Prabowo-Gibran” di Jakarta pada Minggu, 18 Oktober 2026. Dalam pemaparan tersebut, tiga skenario pilihan presiden menjadi dasar untuk menyajikan gambaran elektabilitas melalui format pertanyaan dan komposisi kandidat yang berbeda. Dengan demikian, pembacaan atas angka dalam survei perlu mempertimbangkan skenario yang melandasinya, termasuk apakah responden menjawab secara terbuka atau memilih dari daftar kandidat yang telah disediakan.
Dalam simulasi terbuka yang menguji 20 nama, Prabowo Subianto menempati urutan pertama dengan elektabilitas 31,6 persen. Angka ini menempatkannya jauh di atas para kandidat lain dalam daftar yang diuji. Karena responden mendapat pilihan nama secara terbuka, hasil tersebut menunjukkan pilihan yang muncul dalam skenario pertanyaan itu, bukan peringkat dari seluruh simulasi atau ukuran dukungan yang dapat dilepaskan dari konteks survei. Posisi teratas Prabowo menjadi gambaran utama dari pengujian ini, sementara jarak persentase dengan nama berikutnya tergolong lebar. Dalam membaca hasil, perlu dibedakan angka elektabilitas di skenario terbuka dan kemungkinan hasil pemilihan pada masa mendatang.
Di posisi kedua, Dedi Mulyadi, yang juga dikenal sebagai KDM, memperoleh 11,4 persen. Anies Baswedan menyusul dengan 10,1 persen, sehingga selisih keduanya tercatat 1,3 poin persentase. Gibran Rakabuming Raka berada pada peringkat berikutnya dengan 6,9 persen, sedangkan Ganjar Pranowo mencatat 4,4 persen. Urutan lima besar ini memperlihatkan bahwa dukungan dalam simulasi terbuka terkonsentrasi pada beberapa nama teratas, meskipun angka masing-masing kandidat berbeda. Dedi dan Anies menjadi dua nama yang berada paling dekat dengan Prabowo dalam daftar, tetapi keduanya masih terpaut lebih dari 20 poin dari perolehan pemimpin simulasi. Peringkat ini mencerminkan hasil ketika nama kandidat tidak dibatasi pada sejumlah pilihan tertentu.
Di bawah lima besar, Agus Harimurti Yudhoyono memperoleh 2,3 persen, diikuti Mahfud MD dengan 1,7 persen. Sherly Tjoanda meraih 1,1 persen. Sementara itu, Purbaya Yudhi Sadewa dan Basuki Tjahaja Purnama, atau Ahok, masing-masing mencatat elektabilitas 0,8 persen. Angka-angka tersebut melengkapi sepuluh nama dengan perolehan tertinggi dalam skenario ini. Susunan sepuluh besar menunjukkan rentang dukungan yang cukup beragam: setelah lima kandidat teratas, persentase nama-nama berikutnya berada di bawah 3 persen. Namun, hasil itu tetap perlu dibaca sesuai batas pengujiannya, yakni simulasi terbuka yang melibatkan 20 nama. Dengan demikian, daftar ini menyajikan pemeringkatan untuk skenario tersebut, bukan gabungan hasil dari tiga simulasi dalam survei PPI.
Dalam hasil simulasi terbuka, beberapa nama di luar sepuluh besar tercatat memperoleh persentase pilihan responden yang lebih kecil. Pramono Anung memperoleh 0,6 persen. Angka tersebut merupakan hasil yang dicatat untuk namanya dalam simulasi terbuka. Penyajian ini merangkum angka dan nama sebagaimana tercantum, tanpa menambahkan keterangan mengenai penyebab hasil tersebut.
Muhaimin Iskandar dan Sugiono masing-masing memperoleh 0,2 persen. Dengan demikian, angka untuk kedua tokoh itu sama dalam hasil simulasi terbuka yang dirangkum. Keduanya dicatat dengan persentase tersebut, sementara Pramono Anung tercatat memperoleh 0,6 persen. Rincian ini menempatkan nama dan persentase secara berdampingan agar hasil tiap tokoh dapat dibaca dengan jelas.
Sejumlah nama lain masing-masing memperoleh 0,1 persen. Mereka adalah Rocky Gerung, Abdul Somad, Kaesang Pangarep, Erick Thohir, Bahlil Lahadalia, dan Yusril Ihza Mahendra. Setiap nama dalam kelompok tersebut memiliki angka yang sama, yaitu 0,1 persen. Tidak ada perbedaan angka di keenam nama itu pada hasil yang disampaikan dalam simulasi terbuka.
Jika dirangkum berdasarkan angka, Pramono Anung tercatat dengan 0,6 persen; Muhaimin Iskandar dan Sugiono masing-masing dengan 0,2 persen; serta Rocky Gerung, Abdul Somad, Kaesang Pangarep, Erick Thohir, Bahlil Lahadalia, dan Yusril Ihza Mahendra masing-masing dengan 0,1 persen. Seluruh persentase tersebut merujuk pada hasil simulasi terbuka dan disajikan sesuai angka yang tersedia.
Rangkuman ini hanya memuat nama tokoh dan persentase yang tercatat untuk mereka. Hasil tersebut tidak disertai penjelasan mengenai faktor yang memengaruhi pilihan responden. Karena itu, angka-angka ini tidak digunakan untuk menyimpulkan alasan di balik perolehan masing-masing tokoh. Dengan penyajian terbatas pada data yang tersedia, pembaca dapat melihat rincian hasil untuk nama-nama di luar sepuluh besar tanpa tambahan penilaian atau dugaan mengenai pilihan responden.
Simulasi kedua dalam survei PPI menguji skenario dengan 17 nama ketua umum partai politik serta tokoh yang berpeluang diusung partai nonparlemen atau partai baru. Dalam skenario ini, Prabowo Subianto kembali menempati posisi teratas dengan perolehan 34 persen. Anies Baswedan berada di urutan berikutnya dengan 19,4 persen, terpaut 14,6 poin persentase dari Prabowo. Hasil tersebut menggambarkan pilihan responden ketika mereka diminta mempertimbangkan daftar kandidat yang telah ditentukan, bukan jawaban tanpa pilihan.
Di bawah dua nama teratas, Agus Harimurti Yudhoyono memperoleh 11,1 persen, disusul Gibran Rakabuming Raka dengan 10,9 persen. Selisih keduanya tercatat 0,2 poin persentase. Muhaimin Iskandar meraih 3 persen. Kandidat lainnya memperoleh angka lebih rendah: Yusril Ihza Mahendra 1,7 persen; Pramono Anung 1,6 persen; Puan Maharani 1,4 persen; dan Kaesang Pangarep 1,3 persen. Berikutnya, Surya Paloh mendapatkan 1,1 persen, Zulkifli Hasan 0,8 persen, Bahlil Lahadalia 0,6 persen, serta Muhammad Mardiono 0,5 persen.
Dalam kelompok perolehan di bawah setengah persen, Al Muzzammil Yusuf tercatat 0,4 persen, Anis Matta 0,3 persen, dan Angela Tanoesoedibjo 0,2 persen. Seluruh angka tersebut merujuk secara khusus pada simulasi dengan 17 nama.
Baca juga: Prabowo Memimpin Simulasi Elektabilitas Capres, KDM dan Anies Menyusul | Survei PPI: Dedi Mulyadi Unggul dalam Simulasi Cawapres 2029



































