Program Makan Bergizi Gratis di Metro Diarahkan untuk Membentuk Karakter Siswa

oleh -60 Dilihat
oleh
Program Makan Bergizi Gratis di Metro Diarahkan untuk Membentuk Karakter Siswa

Kota Metro Ada | Pendidikan karakter menjadi salah satu perhatian penting dalam pelaksanaan program makan bergizi gratis bagi siswa sekolah dasar dan sekolah menengah pertama di Kota Metro. Program tersebut tidak hanya diarahkan untuk memenuhi kebutuhan gizi peserta didik, tetapi juga diharapkan menjadi bagian dari upaya membentuk kebiasaan, sikap, dan nilai positif dalam kehidupan sehari-hari. Pembahasan mengenai arah tersebut muncul dalam perbincangan Kepala Dinas Pendidikan dan Kebudayaan Kota Metro, Dr. Agus Muhammad Septiana, S.IP., M.H., dan Menteri Pendidikan Dasar dan Menengah Prof. Abdul Mu’ti.

Perbincangan itu berlangsung saat kunjungan pelaksanaan revitalisasi sekolah di SD Negeri 5 Metro Timur dan SMP Negeri 9 Metro pada 8 Oktober 2026. Dalam kunjungan tersebut, perhatian tidak hanya tertuju pada peningkatan kualitas sarana dan prasarana pendidikan, tetapi juga pada pentingnya memastikan setiap kebijakan sekolah memberikan dampak yang lebih luas bagi perkembangan siswa. Program makan bergizi gratis dipandang memiliki peluang untuk mendukung pembelajaran karakter apabila pelaksanaannya disertai pembiasaan mengenai disiplin, tanggung jawab, kepedulian, serta perilaku hidup sehat.

Kebutuhan terhadap pendidikan karakter semakin kuat seiring perubahan zaman yang berlangsung cepat. Siswa menghadapi arus informasi global yang dapat diakses tanpa batas, sementara tidak seluruh informasi tersebut memiliki nilai edukatif atau telah melalui proses penyaringan. Kondisi ini menuntut sekolah, keluarga, dan pemerintah untuk memberikan pendampingan yang memadai agar peserta didik mampu membedakan informasi, mengambil keputusan secara bijak, serta menjaga etika dalam pergaulan langsung maupun ruang digital. Dengan demikian, pemenuhan gizi dan pembentukan karakter dapat berjalan beriringan sebagai bekal siswa menghadapi tantangan masa depan. Pendidikan diharapkan tidak berhenti pada pencapaian akademik, melainkan turut membangun generasi yang sehat, berintegritas, mandiri, dan mampu berkontribusi secara positif bagi masyarakat.

Program Makan Bergizi Gratis (MBG), yang merupakan salah satu program unggulan Presiden Prabowo, tidak semata-mata diarahkan untuk memenuhi kebutuhan gizi dan meningkatkan kesehatan peserta didik. Pelaksanaan program ini juga dapat menjadi bagian dari proses pendidikan yang berlangsung melalui kegiatan sehari-hari di lingkungan sekolah. Ketika siswa menerima dan menikmati makanan secara bersama-sama, terdapat kesempatan untuk menanamkan berbagai nilai yang mendukung perkembangan kepribadian mereka.

Prof. Abdul Mu’ti menyampaikan bahwa kegiatan makan bersama dapat dimanfaatkan sebagai sarana penanaman tanggung jawab, toleransi, kedisiplinan, dan sikap saling menghormati. Siswa dapat belajar bertanggung jawab terhadap makanan yang diterima, mengikuti aturan yang berlaku, serta menjaga kebersihan dan ketertiban selama kegiatan berlangsung. Interaksi antarsiswa dalam suasana tersebut juga membuka ruang untuk membiasakan sikap menghargai perbedaan dan memperhatikan kebutuhan orang lain.

Dengan demikian, MBG memiliki dimensi yang lebih luas daripada penyediaan makanan bergizi bagi peserta didik. Program ini dapat ditempatkan sebagai bagian dari pembiasaan positif yang membantu sekolah membangun perilaku siswa secara bertahap. Nilai-nilai seperti disiplin, kepedulian, toleransi, dan penghormatan kepada sesama tidak hanya disampaikan melalui penjelasan, tetapi juga dilatih dalam pengalaman konkret yang dilakukan secara rutin.

Pendidikan, sebagaimana ditekankan dalam pandangan tersebut, tidak hanya mengejar prestasi akademik atau pemindahan pengetahuan teknis. Pendidikan juga berperan dalam membentuk karakter, moral, dan etika siswa. Karena itu, pembentukan generasi Indonesia perlu mencakup kemampuan intelektual sekaligus kematangan emosional dan sosial. Melalui kegiatan yang terarah, termasuk penyelenggaraan MBG, lingkungan pendidikan dapat mendukung tumbuhnya siswa yang memahami tanggung jawab, mampu menghormati orang lain, serta memiliki kebiasaan hidup yang tertib dalam kehidupan bersama.

Ruang makan sekolah dalam pelaksanaan Makan Bergizi Gratis (MBG) di Kota Metro dipandang lebih dari sekadar tempat menerima dan mengonsumsi makanan. Area tersebut menjadi ruang interaksi yang memungkinkan siswa belajar membangun kebiasaan sosial melalui pengalaman sehari-hari. Ketika duduk bersama, berbagi tempat, dan menikmati hidangan pada waktu yang sama, siswa berhadapan langsung dengan situasi yang menuntut perhatian terhadap kebutuhan orang lain.

Pelaksanaan program ini disebut dirancang secara sistematis agar manfaatnya tidak berhenti pada terpenuhinya kebutuhan gizi. Momen makan bersama dihubungkan dengan ekosistem kebiasaan positif yang telah dibangun sekolah, termasuk keteraturan, kebersihan, dan kepatuhan terhadap tata tertib. Siswa diarahkan untuk mengambil makanan sesuai kebutuhan, menjaga area makan tetap rapi, serta mengembalikan peralatan pada tempatnya setelah selesai. Rangkaian sederhana tersebut menjadi latihan tanggung jawab yang dilakukan secara berulang.

Interaksi antarsiswa juga membuka ruang pembelajaran mengenai toleransi dan saling menghormati. Siswa belajar memberi kesempatan kepada teman, tidak mendahului antrean, serta memahami perbedaan kebiasaan dan kebutuhan setiap individu. Guru dapat mendampingi proses tersebut dengan memberikan contoh dan penguatan ketika muncul perilaku yang mencerminkan kepedulian. Dengan demikian, nilai karakter tidak hanya disampaikan melalui nasihat, tetapi dipraktikkan dalam kegiatan yang dekat dengan kehidupan siswa.

Penggunaan tiga kata ajaib, yakni “terima kasih”, “silakan”, dan “mohon maaf”, turut menjadi bagian dari pembiasaan. Ucapan terima kasih dikenalkan ketika menerima makanan atau bantuan, silakan digunakan saat mempersilakan orang lain, sedangkan mohon maaf ditanamkan ketika terjadi kesalahan. Kebiasaan berbahasa secara santun itu diharapkan terbawa ke ruang kelas, lingkungan keluarga, dan pergaulan sehari-hari. Melalui pengelolaan ruang makan yang terarah, MBG ditempatkan sebagai sarana internalisasi karakter sekaligus pendukung tumbuhnya budaya sekolah yang disiplin, ramah, dan bertanggung jawab.

Gagasan pembentukan karakter melalui Program Makan Bergizi Gratis (MBG) di Kota Metro memiliki landasan dalam pemikiran pendidikan dan psikologi perkembangan. Landasan tersebut menempatkan pendidikan bukan hanya sebagai proses penyampaian pengetahuan, melainkan juga sebagai upaya membentuk perilaku dan sikap siswa. Dengan kerangka demikian, pemenuhan kebutuhan gizi dapat dipandang berdampingan dengan perhatian terhadap perkembangan kepribadian peserta didik di lingkungan sekolah.

Salah satu kerangka teori yang disebut sebagai dasar pemikiran tersebut ialah teori pembelajaran sosial atau social learning theory dari Albert Bandura. Keberadaan teori ini memberikan pijakan bagi gagasan bahwa pembentukan karakter perlu dipertimbangkan dalam hubungan siswa dengan lingkungan pendidikan. Kerangka dari Bandura menjadi bagian dari pertimbangan teoritis ketika sekolah diarahkan untuk membangun pembiasaan yang mendukung perkembangan perilaku positif.

Dalam konteks itu, pembiasaan karakter melalui interaksi siswa di lingkungan sekolah tidak berdiri sebagai gagasan yang terpisah dari teori pendidikan dan psikologi perkembangan. Pemikiran tersebut menunjukkan bahwa perancangan program yang melibatkan siswa perlu memperhatikan dimensi perilaku, sikap, serta proses perkembangan mereka. Kerangka teoritis ini membantu menempatkan pembentukan karakter sebagai salah satu tujuan yang dapat berjalan bersama dengan pemenuhan kebutuhan dasar siswa.

MBG di Kota Metro pada akhirnya diarahkan untuk menggabungkan dua perhatian penting dalam pendidikan, yakni pemenuhan kebutuhan gizi dan pembentukan perilaku positif siswa. Penempatan teori pembelajaran sosial serta landasan pendidikan dan psikologi perkembangan memperkuat arah tersebut secara konseptual. Dengan demikian, program ini tidak hanya dipahami dari sisi penyediaan makanan bergizi, tetapi juga sebagai bagian dari upaya membangun karakter siswa melalui lingkungan sekolah yang mendukung perkembangan mereka.