Yogyakarta | Kompleks Candi Prambanan menggelar sendratari kolosal Ramayana pada Sabtu, 17 Oktober 2026. Pementasan berlangsung pada malam hari dan menghadirkan kisah Rama dan Shinta sebagai sajian seni budaya Jawa di kawasan candi. Peristiwa ini mempertemukan cerita epik yang dikenal luas dengan ruang bersejarah Prambanan, menjadikan kawasan tersebut latar bagi pertunjukan yang mengangkat tradisi seni pertunjukan setempat.
Ramayana mengisahkan perjalanan Rama dan Shinta, tokoh-tokoh yang kisahnya telah hadir dalam beragam bentuk seni. Dalam sendratari, cerita disampaikan melalui gerak tari dan unsur dramatik, sehingga penonton dapat mengikuti alur tanpa bergantung sepenuhnya pada dialog. Bentuk penyajian ini memberi ruang bagi ekspresi tubuh, irama, dan penghayatan untuk membantu membangun hubungan kisah klasik dan penikmatnya.
Pementasan di kawasan Prambanan juga menempatkan seni pertunjukan dalam konteks warisan budaya Jawa. Candi dan sendratari berasal dari ranah ekspresi budaya yang berbeda, tetapi keduanya dapat hadir berdampingan sebagai bagian dari pengalaman kebudayaan. Malam pertunjukan menjadi kesempatan untuk menyaksikan bagaimana sebuah cerita lama tetap dapat disampaikan melalui bentuk artistik yang hidup, tanpa melepaskan kaitannya dengan tradisi.
Predikat kolosal menandai skala pementasan Ramayana yang dihadirkan di kompleks tersebut. Namun, inti peristiwa ini tetap terletak pada penyajian kisah Rama-Shinta sebagai pertunjukan seni budaya. Dengan berlangsungnya sendratari pada malam Sabtu, Prambanan kembali menjadi ruang bagi pertunjukan yang menonjolkan hubungan cerita, gerak, dan suasana kawasan candi, sekaligus memperkenalkan kekayaan seni Jawa kepada pengunjung.
Hadirnya kisah Ramayana di panggung terbuka Prambanan memberi perhatian pada keberlanjutan seni pertunjukan tradisional. Cerita yang diwariskan lintas generasi dapat terus dikenali ketika disampaikan kepada publik melalui pementasan. Peristiwa pada 17 Oktober 2026 ini menjadi sajian budaya malam hari di lingkungan candi, dengan Rama dan Shinta sebagai pusat cerita serta sendratari sebagai medium untuk merangkai kisah tersebut di hadapan penonton.
Pementasan Ramayana Ballet berlangsung di panggung terbuka dengan Candi Prambanan yang megah menjadi latar utama. Kehadiran kompleks candi di belakang area pertunjukan memberi hubungan langsung kisah Rama dan Shinta yang ditampilkan dengan salah satu peninggalan budaya yang dikenal luas di Indonesia. Penonton tidak hanya menyaksikan rangkaian gerak tari dan cerita di atas panggung, tetapi juga melihat bangunan candi sebagai bagian penting dari tampilan pertunjukan. Latar tersebut membuat lokasi pementasan memiliki peran yang lebih besar daripada sekadar tempat berlangsungnya acara.
Candi Prambanan tampak berdampingan dengan panggung terbuka, menghadirkan pemandangan yang memadukan pertunjukan tari dengan warisan arsitektur. Dalam susunan itu, kisah Ramayana disampaikan di hadapan candi yang megah, sehingga unsur cerita dan tempat berpadu dalam satu pengalaman visual. Pendar cahaya candi yang disebut dalam gambaran pementasan turut menjadi bagian dari hubungan panggung dan latarnya. Cahaya tersebut memperlihatkan keberadaan candi di sekitar pertunjukan, tanpa mengalihkan perhatian dari kisah yang dibawakan para penari.
Panggung terbuka memungkinkan Candi Prambanan hadir secara nyata dalam pandangan penonton selama pementasan. Karena itu, latar candi bukan hanya penanda lokasi, melainkan unsur yang menyertai penyajian cerita Rama-Shinta. Pendar cahaya pada candi menegaskan keberadaan bangunan bersejarah tersebut sebagai latar pertunjukan, selaras dengan gambaran panggung terbuka yang menghadap kompleks candi. Perpaduan ini menghubungkan seni pertunjukan dengan situs budaya di tempat acara berlangsung. Ramayana Ballet pun menyajikan kisah klasik dalam konteks yang erat dengan Prambanan, dengan candi dan panggung sama-sama menjadi bagian dari pengalaman menyaksikan pertunjukan.
Sejak pertama kali dipentaskan pada 1961, Ramayana Ballet menjadi salah satu cara untuk menyampaikan kisah Rama dan Shinta melalui perpaduan tari, musik, dan gerak panggung. Pertunjukan ini berbentuk drama tari tanpa dialog, sehingga alur cerita tidak disampaikan lewat percakapan lisan. Penonton mengikuti perjalanan para tokoh melalui gerakan, ekspresi, dan hubungan antarpemain yang hadir di atas panggung. Bentuk penyajian tersebut membuat bahasa tubuh berperan penting dalam membantu penonton memahami jalannya kisah.
Tanpa dialog bukan berarti cerita kehilangan kejelasan. Gerakan tari menjadi unsur utama untuk menggambarkan tindakan dan suasana dalam cerita, sementara ekspresi para penari membantu menunjukkan perubahan emosi maupun hubungan tokoh. Penonton dapat mengamati bagaimana adegan berkembang melalui rangkaian gerak dan susunan penampilan. Dengan demikian, perhatian tertuju pada bahasa tubuh serta unsur musikal yang menyertai pertunjukan. Format ini juga membuat Ramayana Ballet dapat dinikmati tanpa bergantung pada percakapan dalam bahasa tertentu.
Pementasan melibatkan kemampuan lebih dari 200 penari yang tampil sebagai bagian dari rangkaian drama tari. Jumlah tersebut mencerminkan skala kerja bersama yang diperlukan untuk menghadirkan kisah di panggung, dengan setiap penari berkontribusi melalui gerak dan kehadirannya. Pertunjukan juga diiringi pemusik gamelan yang memainkan musik secara langsung. Iringan tersebut berjalan bersama gerak para penari, memberi landasan musikal bagi rangkaian adegan tanpa menggantikan peran bahasa tubuh sebagai penyampai cerita. Perpaduan penari dan pemusik ini menjadi unsur penting dalam pengalaman menonton.
Sejarah pementasan sejak 1961, format tanpa dialog, keterlibatan lebih dari 200 penari, serta gamelan yang dimainkan langsung membentuk ciri utama Ramayana Ballet. Unsur-unsur itu menghadirkan cerita melalui kerja kolektif seni tari dan musik, bukan melalui tuturan. Bagi penonton, menyaksikan pertunjukan berarti memperhatikan bagaimana gerak dan iringan membangun pemahaman terhadap kisah Rama-Shinta. Karakter tersebut menjadikan Ramayana Ballet sebuah drama tari yang mengandalkan ekspresi panggung dan musik langsung untuk menyampaikan cerita kepada penonton.
Di panggung terbuka Prambanan, kisah Rama dan Shinta menjadi inti pertunjukan Ramayana Ballet. Lakon ini mengangkat hubungan cinta keduanya sekaligus ujian yang harus mereka hadapi ketika Rahwana hadir sebagai lawan. Cerita bergerak dari kehidupan Rama dan Shinta menuju konflik yang memisahkan mereka, lalu mengikuti perjuangan untuk mempertemukan kembali pasangan tersebut. Dengan gerak tari, musik, dan rangkaian adegan, perjalanan itu disampaikan sebagai kisah yang dapat diikuti penonton tanpa bergantung pada dialog panjang.
Rahwana menjadi pusat ancaman dalam cerita setelah membawa Shinta pergi. Peristiwa tersebut mendorong Rama untuk berjuang mencari dan menyelamatkannya. Dalam perjalanan itu, Rama menghadapi berbagai rintangan dan berupaya mengumpulkan kekuatan untuk melawan Rahwana. Pertentangan keduanya menjadi penggerak utama lakon, sementara cinta Rama dan Shinta memberi landasan emosional bagi perjuangan tersebut. Kisah ini menampilkan kesetiaan, keberanian, dan tekad sebagai bagian dari perjalanan tokoh-tokohnya, tanpa menghilangkan fokus pada upaya Rama menghadapi Rahwana demi Shinta.
Penggambaran cerita melalui sendratari memberi ruang bagi unsur gerak dan tata panggung untuk menyampaikan perubahan suasana serta hubungan antartokoh. Adegan-adegan mengikuti alur dari kisah percintaan hingga konflik dan perjuangan, sehingga cerita Rama-Shinta hadir sebagai tontonan budaya yang bertumpu pada perpaduan narasi dan pertunjukan. Latar panggung terbuka di kawasan Prambanan turut menjadi bagian dari pengalaman menyaksikan lakon tersebut. Candi Prambanan menjadi lingkungan tempat kisah Ramayana ditampilkan, menghubungkan seni pertunjukan dengan salah satu situs budaya yang dikenal di Yogyakarta.
Melalui cerita yang berpusat pada cinta Rama dan Shinta serta perjuangan melawan Rahwana, pertunjukan ini membawa kisah Ramayana ke hadapan pengunjung dalam bentuk seni panggung. Sendratari Ramayana menjadi magnet utama wisata budaya dunia di Yogyakarta.



































