Rano Karno Ajak Raja dan Sultan Nusantara Hadiri HUT ke-500 Jakarta

oleh -71 Dilihat
oleh
Rano Karno Ajak Raja dan Sultan Nusantara Hadiri HUT ke-500 Jakarta

Jakarta | Wakil Gubernur DKI Jakarta Rano Karno mengundang para raja dan sultan dari seluruh Nusantara untuk menghadiri perayaan Hari Ulang Tahun ke-500 Jakarta pada 2027. Ajakan itu disampaikan ketika ia menghadiri Karnaval Sarendo-Rendo di kawasan Bundaran Hotel Indonesia, Jakarta Pusat, pada Minggu, 18 Oktober 2026. Dalam kesempatan tersebut, Rano menyampaikan bahwa Jakarta akan genap berusia lima abad pada tahun berikutnya.

Undangan tersebut ditujukan kepada para pemimpin kerajaan dan kesultanan dari berbagai daerah di Indonesia. Rano mengajak mereka datang kembali ke Jakarta untuk ikut merayakan tonggak usia kota tersebut. Pernyataannya menekankan bahwa perayaan lima abad Jakarta tidak hanya menjadi penanda perjalanan panjang ibu kota, tetapi juga kesempatan untuk menyambut para tamu dari berbagai wilayah Nusantara.

Ajakan itu disampaikan dalam suasana Karnaval Sarendo-Rendo, kegiatan yang berlangsung di ruang publik pusat Jakarta. Kehadiran Rano di acara tersebut menjadi kesempatan untuk menyampaikan rencana perayaan mendatang secara langsung. Ia menyebut tahun 2027 sebagai tahun ketika Jakarta mencapai usia 500 tahun, sekaligus mengundang para raja dan sultan agar hadir kembali di kota itu pada momen peringatan tersebut.

Dengan demikian, pesan utama Rano adalah mengundang para raja dan sultan Nusantara untuk bersama-sama hadir dalam HUT ke-500 Jakarta. Undangan itu mengarah pada perayaan yang akan berlangsung pada tahun berikutnya, setelah ajakan disampaikan pada Oktober 2026. Rano menyatakan bahwa Jakarta akan berusia lima abad pada 2027 dan para raja serta sultan diundang kembali. Pernyataan tersebut menegaskan keterbukaan Jakarta untuk menyambut mereka dalam peringatan bersejarah itu, tanpa mengubah inti ajakan yang disampaikannya di Bundaran Hotel Indonesia.

Rano Karno mengajak masyarakat untuk menjaga dan melestarikan keberagaman budaya Jakarta, terutama menjelang peringatan HUT ke-500 ibu kota. Menurutnya, kekayaan budaya yang hidup di kota ini perlu dirawat bersama agar tidak sekadar menjadi bagian dari masa lalu, tetapi tetap hadir dalam kehidupan sehari-hari. Upaya tersebut juga penting untuk memastikan tradisi Betawi dan budaya dari berbagai daerah di Nusantara dapat diwariskan kepada generasi muda.

Jakarta, ia mengingatkan, tidak hanya terdiri atas masyarakat Betawi. Sejak lama, kota ini menjadi tempat bertemunya beragam kelompok dengan latar belakang, bahasa, adat, dan tradisi yang berbeda. Rano menyebut masyarakat Jawa, Bugis, Tionghoa, Ambon, dan Bali sebagai beberapa contoh kelompok budaya yang turut membentuk kehidupan Jakarta. Kehadiran mereka memperkaya wajah kota melalui kesenian, kuliner, perayaan, praktik keagamaan, serta kebiasaan sosial yang tumbuh berdampingan.

Pesan itu menempatkan keberagaman sebagai unsur penting dalam identitas ibu kota. Budaya Betawi tetap memiliki kedudukan khas sebagai budaya asli Jakarta, tetapi identitas kota juga terbentuk dari kontribusi berbagai komunitas yang telah menetap dan berinteraksi di dalamnya. Karena itu, pelestarian tidak seharusnya dipahami sebagai upaya mempertahankan satu tradisi saja. Masyarakat, lembaga pendidikan, komunitas budaya, dan pemerintah dapat bekerja sama membuka ruang bagi tradisi yang berbeda untuk dikenal, dipraktikkan, dan dihargai.

Pelestarian tersebut dapat dilakukan melalui kegiatan budaya, pembelajaran di sekolah, dokumentasi, serta ruang publik yang memberi kesempatan bagi warga untuk mengenal warisan berbagai komunitas. Keterlibatan anak muda juga menjadi kunci agar tradisi tidak berhenti pada acara seremonial. Dengan memahami asal-usul dan makna kebudayaan, generasi penerus dapat mengembangkan cara baru untuk merawatnya tanpa menghilangkan nilai yang diwariskan.

Rano juga menilai bahwa menjaga kekayaan budaya dapat berjalan seiring dengan upaya menjadikan Jakarta sebagai kota global. Kemajuan dan keterbukaan internasional tidak harus menghapus ciri lokal. Sebaliknya, kota yang mampu merawat akar budaya sekaligus menyambut perubahan memiliki karakter yang kuat dan inklusif. Dengan demikian, keberagaman bukan hanya warisan yang perlu dijaga, melainkan juga modal sosial yang membantu Jakarta berkembang serta memperkenalkan jati dirinya kepada dunia.

Dalam bahasa Betawi, istilah Sarendo-Rendo berarti beramai-ramai atau berjalan bersama dalam satu rombongan. Makna ini menggambarkan kegiatan yang dilakukan secara kolektif, dengan orang-orang bergerak menuju tujuan yang sama. Dalam konteks Jakarta, ungkapan tersebut juga dapat dibaca sebagai cerminan kehidupan masyarakat yang dibangun melalui perjumpaan dan kebersamaan. Warga kota ini berasal dari beragam suku, menggunakan berbagai bahasa, serta membawa latar belakang dan tradisi budaya yang berbeda. Perbedaan itu hadir dalam keseharian, tetapi tidak menghalangi mereka untuk hidup berdampingan dan membentuk ruang bersama sebagai warga Jakarta.

Semangat berjalan bersama dalam Sarendo-Rendo terasa selaras dengan karakter ibu kota yang majemuk. Di tengah kesibukan dan perubahan kota, kegiatan budaya dapat menjadi kesempatan bagi masyarakat untuk saling mengenal, menghargai, dan merawat hubungan sosial. Keragaman tidak hanya tampak sebagai perbedaan, tetapi juga sebagai kekayaan yang dapat dibagikan. Ketika berbagai unsur budaya hadir dalam satu kegiatan, masyarakat dapat melihat bagaimana identitas yang beragam turut membentuk wajah Jakarta. Kebersamaan dalam acara semacam ini bukan berarti menghapus ciri khas masing-masing, melainkan membuka ruang agar perbedaan dapat hadir secara setara.

Festival Sarendo-Rendo sekaligus menyediakan ruang bagi para pelaku seni untuk menampilkan kekayaan budaya melalui karya dan pertunjukan. Kehadiran mereka memberi kesempatan kepada masyarakat untuk menyaksikan beragam ekspresi seni, mengenal tradisi, serta menghargai proses kreatif yang menjaga warisan budaya tetap hidup. Pertemuan seniman, warga, dan pengunjung juga dapat memperkuat rasa kebersamaan lintas latar belakang. Kegiatan ini diselenggarakan dalam rangka menyambut Hari Kebudayaan Nasional, sehingga perayaannya menjadi pengingat akan pentingnya merawat kebudayaan dalam kehidupan bersama. Dengan demikian, Sarendo-Rendo bukan sekadar gambaran berjalan beramai-ramai, tetapi juga ajakan untuk merayakan keberagaman dan membangun kebersamaan masyarakat Jakarta.

Festival Sarendo-Rendo menjadi salah satu rangkaian kegiatan yang memeriahkan peringatan HUT ke-500 Jakarta. Acara ini berlangsung selama dua hari, pada 17–18 Oktober 2026, dengan agenda yang menghubungkan pertunjukan seni, budaya, dan tradisi dari berbagai wilayah. Kehadiran kegiatan tersebut memberi ruang bagi masyarakat untuk menyaksikan kekayaan budaya Nusantara sekaligus mengenal beragam ekspresi seni yang tumbuh di Jakarta. Rangkaian festival disusun di dua lokasi, dengan kegiatan pada hari pertama di Lapangan Banteng dan puncak acara pada hari berikutnya di kawasan Bundaran HI.

Pada Sabtu, 17 Oktober 2026, kegiatan Festival Sarendo-Rendo digelar di Lapangan Banteng. Lokasi ini menjadi tempat berlangsungnya agenda pembuka sebelum rangkaian berlanjut ke pusat kota. Penyelenggaraan di ruang terbuka memungkinkan masyarakat menikmati kegiatan budaya secara langsung dan menjadi bagian dari suasana perayaan Jakarta. Festival ini turut melibatkan sanggar-sanggar seni di Jakarta, yang membawa beragam bentuk pertunjukan dan tradisi ke dalam agenda bersama. Keterlibatan kelompok seni lokal juga memperlihatkan peran komunitas dalam menjaga keberlanjutan kesenian serta memperkenalkannya kepada khalayak yang lebih luas.

Puncak festival dijadwalkan berlangsung pada Minggu, 18 Oktober, melalui pawai budaya di Bundaran HI. Pawai tersebut melibatkan berbagai sanggar seni di Jakarta dan menghadirkan sekitar 100 raja serta sultan dari sejumlah daerah di Nusantara. Mereka hadir melalui Forum Silaturahmi Keraton Nusantara, yang menjadi wadah pertemuan para pemangku tradisi kerajaan dan kesultanan. Kehadiran para raja dan sultan menambah dimensi sejarah dan kebudayaan pada perayaan lima abad Jakarta, sementara partisipasi sanggar menghadirkan warna pertunjukan yang beragam.

Baca juga: Rano Karno Ajak Raja dan Sultan Nusantara Hadiri 500 Tahun Jakarta | Rakorda LDII Jakarta Utara: Satukan Persepsi, Selaraskan Aksi, Perkuat Kontribusi Menuju 5 Abad Jakarta | Namu Balai Kota Buka Ruang bagi Warga Mengenal Pemerintahan dan Sejarah Jakarta