Ratusan Jemaah Hadiri Tablig Akbar Habib Umar bin Hafidz di Monas

oleh -69 Dilihat
oleh
Ratusan Jemaah Hadiri Tablig Akbar Habib Umar bin Hafidz di Monas

Jakarta | Tablig akbar yang dipimpin Habib Umar bin Hafidz berlangsung di kawasan Silang Monas, Jakarta Pusat, pada Senin malam, 12 Oktober 2026. Kegiatan tersebut dihadiri ratusan warga yang datang untuk mengikuti tausiah dan rangkaian tablig bersama ulama asal Yaman itu.

Sejak kegiatan berlangsung, kawasan Silang Monas menjadi lokasi berkumpulnya jemaah dari berbagai kalangan. Mereka hadir dengan tujuan mengikuti secara langsung tablig akbar yang menghadirkan Habib Umar bin Hafidz sebagai pemimpin kegiatan. Kehadiran ratusan warga menunjukkan perhatian masyarakat terhadap agenda keagamaan yang digelar di ruang terbuka kawasan pusat Jakarta.

Habib Umar bin Hafidz dikenal sebagai ulama asal Yaman yang memiliki perhatian besar terhadap penyampaian pesan-pesan keislaman. Dalam kegiatan di Monas tersebut, kehadirannya menjadi bagian utama dari pelaksanaan tablig akbar. Jemaah yang hadir mengikuti kegiatan dengan tertib dan memusatkan perhatian pada penyampaian yang berlangsung.

Pelaksanaan tablig akbar pada Senin malam itu menambah suasana keagamaan di kawasan Silang Monas. Ratusan warga memanfaatkan kesempatan tersebut untuk hadir bersama dan mengikuti kegiatan yang dipimpin oleh Habib Umar bin Hafidz. Acara berlangsung di Jakarta Pusat dengan Monas sebagai lokasi penyelenggaraan.

Kegiatan ini menjadi perhatian karena diikuti banyak warga yang datang ke kawasan tersebut pada malam hari. Tanpa menyebutkan jumlah pasti peserta, kehadiran ratusan jemaah memperlihatkan bahwa tablig akbar tersebut mendapat sambutan dari masyarakat. Mereka berkumpul untuk mengikuti kegiatan keagamaan yang dipimpin ulama asal Yaman tersebut.

Suasana di kawasan Monas mulai dipenuhi jemaah pada Senin, 12 Oktober 2026. Berdasarkan pantauan di lokasi, warga mulai berdatangan sekitar pukul 18.00 WIB untuk mengikuti tablig akbar Habib Umar bin Hafidz. Kedatangan berlangsung menjelang waktu salat Magrib, ketika area kegiatan perlahan diisi oleh jemaah dari berbagai kalangan.

Para jemaah tampak mengenakan pakaian bernuansa muslim. Sebagian hadir dengan baju koko, sarung, peci, serta busana muslim lainnya, sementara jemaah perempuan mengenakan pakaian panjang dan kerudung. Nuansa pakaian tersebut memperlihatkan suasana keagamaan yang kental di lokasi acara.

Setelah berada di lokasi, jemaah menunaikan salat Magrib secara berjemaah. Rangkaian kegiatan kemudian berlanjut dengan pelaksanaan salat Isya bersama. Jemaah mengikuti ibadah dengan tertib dan tetap berada di area kegiatan untuk menantikan rangkaian tablig akbar.

Di sela-sela waktu tersebut, lantunan selawat terdengar dan diikuti oleh para jemaah. Suara selawat membangun suasana religius di kawasan Monas, dengan jemaah yang turut melantunkannya secara bersama-sama. Sebagian jemaah tampak menyimak, sementara lainnya mengikuti irama selawat yang berkumandang di lokasi.

Kehadiran warga sejak sore menunjukkan antusiasme jemaah untuk mengikuti kegiatan keagamaan tersebut. Setelah menunaikan salat Magrib dan Isya, mereka tetap berkumpul di lokasi sambil mengikuti lantunan selawat. Suasana Monas pada malam itu pun diwarnai kebersamaan para jemaah yang hadir dengan pakaian muslim dan mengikuti setiap rangkaian kegiatan secara berjemaah.

Tablig akbar dan doa untuk Indonesia yang digelar di Monumen Nasional (Monas) merupakan bagian dari rangkaian rihlah dakwah Habib Umar bin Hafidz. Kegiatan tersebut tidak berdiri sebagai agenda tunggal, melainkan menjadi salah satu titik penting dalam perjalanan dakwah yang menghadirkan pesan keagamaan, kebersamaan, dan kepedulian terhadap masa depan bangsa. Melalui majelis ini, jemaah diajak memperkuat doa, menjaga persaudaraan, serta menumbuhkan komitmen untuk menghadirkan kedamaian di tengah masyarakat.

Habib Nabiel Almusawa, selaku Dewan Syuro Majelis, menilai kehadiran Habib Umar membawa pesan perdamaian dan kemaslahatan bagi Indonesia. Menurutnya, pertemuan yang mempertemukan ulama dan umara dalam satu majelis memiliki makna yang lebih luas daripada seremoni. Sinergi tersebut merupakan ikhtiar spiritual untuk membangun kemaslahatan bangsa, dengan menjadikan nilai agama sebagai landasan dalam merawat persatuan dan mengupayakan kebaikan bersama. Pesan itu menempatkan dakwah sebagai kekuatan yang mendorong kesejukan, bukan mempertajam perbedaan.

Monas juga diproyeksikan menjadi episentrum kegiatan yang dapat mendatangkan ratusan ribu jemaah dari berbagai daerah di Nusantara, bahkan dari sejumlah negara. Proyeksi tersebut menggambarkan besarnya daya tarik rihlah dakwah dan luasnya jejaring umat yang mengikuti kegiatan Habib Umar. Namun, gambaran mengenai potensi kehadiran dalam jumlah besar itu tidak serta-merta menjadi keterangan tentang jumlah peserta yang telah hadir pada malam pelaksanaan. Yang lebih utama, majelis tersebut menjadi ruang perjumpaan untuk menyatukan doa dan harapan bagi Indonesia, sekaligus memperkuat hubungan ulama, pemerintah, dan masyarakat dalam ikhtiar mewujudkan kehidupan yang damai serta maslahat.

Baharudin, warga Jakarta Timur berusia 29 tahun, menghadiri tablig akbar di Monas bersama rombongan pengajiannya. Ia datang secara berkelompok untuk mengikuti rangkaian kegiatan tersebut secara langsung. Bagi Baharudin, kehadiran di tengah jemaah menjadi bagian dari ikhtiarnya untuk menyimak tablig akbar hingga selesai dan merasakan suasana kebersamaan dalam majelis.

Baharudin sengaja tiba sejak sore. Ia memilih datang lebih awal agar dapat mengikuti tablig akbar dengan tenang serta berada di lokasi ketika acara berlangsung. Kedatangannya sejak sore juga memberinya kesempatan untuk menanti kehadiran Habib Umar bin Hafidz secara langsung. Bersama rombongan pengajian, ia mengikuti kegiatan dengan perhatian dan menjaga kebersamaan selama berada di kawasan Monas.

Salah satu pengalaman yang berkesan bagi Baharudin adalah dapat bertemu langsung dengan Habib Umar bin Hafidz. Ia juga mengikuti selawat bersama jemaah yang hadir. Suasana tersebut menjadi bagian penting dari pengalamannya mengikuti tablig akbar di Monas. Melalui kehadirannya dalam majelis itu, Baharudin berharap dapat memperoleh keberkahan. Harapan tersebut menjadi makna utama dari kedatangannya sejak sore bersama rombongan pengajian, mengikuti tablig akbar, bertemu langsung dengan Habib Umar, dan berselawat bersama para jemaah.