Bekasi | Satreskrim Polres Metro Bekasi Kota menggelar rekonstruksi untuk mendalami dugaan penggerakan pelajar sekolah menengah kejuruan (SMK) menuju aksi demonstrasi di Jakarta yang kemudian berujung rusuh. Kegiatan ini menjadi bagian dari pengembangan perkara yang berawal dari dugaan ajakan mengikuti demonstrasi melalui media sosial. Polisi menelusuri rangkaian peristiwa tersebut guna memahami bagaimana ajakan disampaikan dan bagaimana sejumlah pelajar akhirnya berada di lokasi aksi.
Dalam perkara ini, penyidik turut menyoroti seorang alumni berinisial F alias Batak, berusia 23 tahun. Ia sebelumnya ditangkap karena diduga menyebarkan ajakan kepada pelajar untuk mengikuti aksi yang mengarah pada kekerasan. Dugaan tersebut menjadi salah satu fokus pendalaman dalam proses penyidikan. Melalui rekonstruksi, polisi berupaya mencocokkan keterangan dan menelusuri kembali urutan kejadian yang berkaitan dengan mobilisasi para pelajar.
Rekonstruksi berlangsung pada Kamis, 15 Oktober 2026, dengan melibatkan sejumlah pelajar yang sebelumnya diamankan saat mengikuti demonstrasi di Jakarta. Keterlibatan mereka dalam kegiatan tersebut dihadirkan untuk membantu penyidik menggambarkan kembali rangkaian peristiwa sesuai keterangan yang telah dihimpun. Rekonstruksi bukan hanya menampilkan kembali kejadian, tetapi juga menjadi sarana untuk menguji kecocokan keterangan para pihak dan dugaan yang sedang diselidiki.
Fokus penyelidikan mencakup dugaan hubungan ajakan di media sosial, keberangkatan pelajar, dan situasi demonstrasi yang berakhir rusuh. Namun, dugaan keterlibatan setiap orang tetap perlu diuji berdasarkan bukti dan proses hukum yang berlaku. Pelaksanaan rekonstruksi tidak dengan sendirinya menetapkan kesalahan pihak tertentu; hasilnya menjadi bagian dari bahan penyidikan yang akan dinilai bersama alat bukti lainnya. Dengan menelusuri peristiwa secara berurutan, Satreskrim Polres Metro Bekasi Kota berupaya memperoleh gambaran lebih jelas mengenai dugaan mobilisasi pelajar dari Bekasi menuju aksi di Jakarta serta peran yang diduga dimainkan oleh pihak-pihak terkait.
Rekonstruksi dilakukan untuk menyandingkan keterangan para pihak dengan kondisi dan rangkaian kejadian yang ditemukan di lapangan. Kasat Reskrim Polres Metro Bekasi Kota Kompol Verdika Bagus Prasetya menyampaikan bahwa proses tersebut membantu penyidik memeriksa apakah penjelasan yang telah diberikan sesuai dengan situasi pada setiap lokasi. Dengan mencocokkan cerita dan keadaan di lapangan, penyidik dapat menilai urutan peristiwa secara lebih terarah serta mengidentifikasi bagian yang masih perlu diperjelas.
Dalam kegiatan ini, petugas menelusuri empat titik yang berkaitan dengan perjalanan para pelajar. Dua titik berada di kawasan Villa Indah Permai, satu titik berada di Pasar Modern Harapan Indah, dan satu titik lainnya terletak di kawasan Patung Garuda. Lokasi-lokasi tersebut diperiksa sebagai bagian dari rangkaian penelusuran, bukan secara terpisah dari konteks perjalanan. Pengamatan di setiap titik membantu menggambarkan perpindahan rombongan dan memberi dasar untuk membandingkan keterangan yang disampaikan dengan kondisi tempat yang disebut dalam pemeriksaan.
Penelusuran itu dimaksudkan untuk memperjelas perjalanan pelajar sejak mereka berkumpul hingga berangkat menuju Jakarta. Setiap tahap perjalanan diperiksa agar penyidik memperoleh gambaran yang utuh mengenai urutan kejadian, termasuk titik awal, jalur yang dilalui, dan lokasi yang disinggahi berdasarkan keterangan yang ada. Rekonstruksi juga menjadi sarana untuk menguji hubungan rangkaian kejadian dan alat bukti yang telah dikumpulkan. Hasil pencocokan tersebut dapat membantu memastikan bagian-bagian peristiwa yang saling berkaitan, sekaligus menunjukkan apabila terdapat perbedaan keterangan dan fakta lapangan. Dengan demikian, pemeriksaan di empat titik tersebut berfokus pada klarifikasi kronologi dan penguatan pemahaman penyidik terhadap perjalanan para pelajar sebelum menuju Jakarta.
Dalam rekonstruksi, urutan perjalanan para pelajar Bekasi diperagakan mulai dari sekolah masing-masing. Mereka berangkat menggunakan sepeda motor, lalu bergerak menuju Pasar Modern Harapan Indah. Rangkaian ini memperlihatkan tahap awal sebelum kelompok tersebut melanjutkan perjalanan ke Jakarta. Setiap bagian perjalanan ditunjukkan untuk menggambarkan bagaimana para pelajar berpindah dari lokasi asal menuju titik berkumpul. Dengan demikian, rekonstruksi menempatkan sekolah sebagai titik keberangkatan, sementara Pasar Modern Harapan Indah menjadi lokasi pertemuan dan tempat kendaraan diparkir sebelum perjalanan berikutnya. Peragaan tersebut berfokus pada urutan lokasi dan moda transportasi yang digunakan, tanpa menunjukkan jalur lain di luar rangkaian yang diperiksa.
Setibanya di Pasar Modern Harapan Indah, para pelajar berkumpul dan memarkir sepeda motor. Setelah itu, perjalanan menuju Jakarta terbagi menjadi dua cara. Sebagian pelajar berjalan kaki dari area pasar menuju kawasan Banjir Kanal Timur. Di kawasan tersebut, mereka menumpang truk tronton untuk melanjutkan perjalanan ke Jakarta. Sebagian lainnya tidak mengikuti langkah itu, melainkan meneruskan perjalanan dengan sepeda motor. Perbedaan cara berangkat ini menjadi bagian dari rangkaian yang diperagakan dalam rekonstruksi. Perhatian diarahkan pada titik berkumpul, lokasi kendaraan ditinggalkan sementara, serta pilihan transportasi yang digunakan kelompok pelajar setelah meninggalkan pasar. Tidak ada jalur tambahan yang menjadi bagian dari uraian tersebut.
Urutan dari sekolah, menuju Pasar Modern Harapan Indah, lalu berlanjut melalui dua cara menuju Jakarta menjadi fokus peragaan. Polisi menggunakan rangkaian itu sebagai bagian dari penyelidikan untuk memahami pola keberangkatan para pelajar dan menentukan titik pertemuan kelompok. Keterangan mengenai penggunaan sepeda motor dari sekolah, parkir di pasar, perjalanan berjalan kaki ke Banjir Kanal Timur, dan penumpangan truk tronton dipaparkan sesuai urutan yang diperagakan. Sementara itu, kelompok yang meneruskan perjalanan dengan sepeda motor juga tercakup dalam gambaran tersebut. Rekonstruksi ini membantu penyelidikan menelaah bagaimana para pelajar berkumpul sebelum menuju Jakarta, tanpa menambahkan rute atau kronologi lain di luar urutan yang telah diperagakan.
Dalam penyidikan sebelumnya, polisi menemukan dugaan ajakan untuk mengumpulkan pelajar melalui sebuah grup Instagram bernama “SMK se-Bekasi Bersatu”. Temuan tersebut menjadi salah satu petunjuk yang ditelusuri untuk memahami bagaimana sejumlah pelajar diduga terhubung sebelum berangkat menuju Jakarta. Melalui komunikasi di grup itu, para anggota disebut membicarakan lokasi untuk berkumpul serta rencana keberangkatan. Informasi tersebut masih didalami penyidik dan perlu ditempatkan sebagai bagian dari proses pengungkapan perkara, bukan sebagai kesimpulan mengenai keterlibatan seluruh anggota grup.
Penyidik menelusuri isi komunikasi, pola penyebaran ajakan, dan hubungan antaranggota untuk menyusun urutan peristiwa secara lebih jelas. Pendalaman itu juga diarahkan untuk mengungkap peran F alias Batak, termasuk apakah ia berperan dalam mengajak, menghubungkan, atau mengoordinasikan pergerakan pelajar. Polisi turut meneliti kemungkinan adanya pihak lain yang terlibat dalam koordinasi tersebut. Dengan memeriksa keterangan dan petunjuk yang tersedia, penyidik berupaya memastikan siapa yang mengambil inisiatif, bagaimana informasi diteruskan, serta sejauh mana rencana yang dibicarakan benar-benar dilaksanakan. Proses ini penting agar penanganan perkara didasarkan pada bukti dan keterangan yang dapat diuji.
Komunikasi di media sosial dapat mempercepat penyebaran informasi dan mempertemukan banyak orang, tetapi konteks serta tujuan ajakan tetap perlu diperiksa dengan cermat. Karena itu, pendalaman terhadap grup Instagram tersebut menjadi bagian dari upaya menjelaskan rute dan koordinasi, sekaligus mengidentifikasi pihak yang bertanggung jawab tanpa menggeneralisasi para pelajar. Kapolres Metro Bekasi Kota Kombes Pol Putu Kholis Aryana mengingatkan bahwa hak menyampaikan pendapat tidak boleh disertai kekerasan. Pelajar, menurut imbauannya, tidak semestinya dimanfaatkan atau diarahkan ke kegiatan yang membahayakan keselamatan maupun masa depan mereka. Ia juga mengajak orang tua, sekolah, dan masyarakat agar lebih peduli terhadap aktivitas anak, termasuk penggunaan media sosial, sehingga ajakan berisiko dapat dikenali dan dicegah sejak dini.
Baca juga: Polisi Ungkap Dugaan Peredaran 30 Catridge Mengandung Etomidate di Jakarta Barat | Road Show Politik di Jakarta Pusat, Aliansi Masyarakat Desak PDIP Respons Persoalan Wakil Presiden Gibran | Menata Permukiman Padat Jakarta Tanpa Penggusuran: Rencana dan Tantangannya



































