Serangan Golok di Pringsewu: Ayah Terluka, Anak Dibawa untuk Observasi

oleh -111 Dilihat
oleh
Serangan Golok di Pringsewu: Ayah Terluka, Anak Dibawa untuk Observasi

Kabupaten Pringsewu | Muhtadi (54) terluka setelah diserang oleh anak kandungnya, Sujeri (24), menggunakan golok di Pekon Sukorejo, Kecamatan Pardasuka, Kabupaten Pringsewu. Peristiwa itu terjadi sekitar pukul 06.00 WIB pada Sabtu, 31 Oktober 2026, di ruang dapur rumah mereka. Serangan tersebut berlangsung ketika Muhtadi sedang berjongkok untuk mengasah pisau. Suasana pagi di rumah itu berubah menjadi insiden kekerasan setelah ia merasakan benda tajam menempel pada bagian belakang lehernya.

Kapolsek Pardasuka Iptu Bastari Suprianto mengonfirmasi urutan kejadian tersebut. Menurut keterangan yang disampaikan, Muhtadi awalnya berada dalam posisi berjongkok sambil mengasah pisau di dapur. Ia kemudian merasakan sesuatu yang tajam menyentuh leher belakang. Saat berusaha menoleh untuk mengetahui apa yang terjadi, Muhtadi terkena ayunan golok pada pelipis kanan. Rangkaian itu membuatnya mengalami luka dan menjadi korban penyerangan di dalam rumahnya sendiri. Keterangan kepolisian menjelaskan momen serangan, tanpa menyebutkan secara rinci apa yang mendahuluinya.

Insiden yang melibatkan ayah dan anak kandung tersebut terjadi di lingkungan Pekon Sukorejo, wilayah Kecamatan Pardasuka. Informasi mengenai waktu dan lokasi kejadian membantu menggambarkan situasi saat serangan berlangsung: Muhtadi tengah melakukan kegiatan mengasah pisau di dapur pada pagi hari, sebelum serangan dengan golok terjadi. Pihak kepolisian mengonfirmasi bahwa luka mengenai pelipis kanan setelah korban menoleh. Peristiwa ini menjadi perhatian karena berlangsung di ruang domestik dan melibatkan anggota keluarga. Namun, keterangan awal yang tersedia hanya menjelaskan kronologi serangan dan kondisi korban yang terluka; penyebab atau latar belakang perselisihan tidak dipaparkan dalam informasi tersebut. Karena itu, rincian mengenai alasan tindakan maupun keadaan sebelum kejadian belum dapat dipastikan dari uraian kronologi ini.

Setelah melihat suaminya, Muhtadi, diserang oleh Sujeri, istri Muhtadi segera berusaha menghentikan kejadian tersebut. Ia berupaya menghalangi Sujeri sambil berteriak meminta pertolongan. Dalam situasi yang berlangsung cepat itu, teriakannya menjadi tanda bagi orang-orang di sekitar bahwa ada keadaan darurat yang membutuhkan perhatian. Ia tidak tinggal diam ketika suaminya berada dalam bahaya, melainkan segera mencari bantuan dari warga yang berada tidak jauh dari lokasi.

Seruan minta tolong tersebut kemudian mengundang perhatian warga sekitar. Mereka berdatangan setelah mendengar teriakan itu dan mengetahui bahwa Muhtadi sedang diserang. Kehadiran warga membuat Sujeri tidak lagi berhadapan hanya dengan keluarga korban. Warga kemudian mengepungnya dan berhasil melumpuhkannya. Rangkaian ini berlangsung setelah istri Muhtadi berusaha menghalangi serangan dan meminta pertolongan, sehingga peristiwa tersebut segera mendapat respons dari lingkungan sekitar.

Peran istri Muhtadi dan warga menjadi bagian penting dalam kronologi kejadian. Tindakan istri yang segera berseru meminta bantuan membuat orang-orang di sekitar mengetahui bahwa insiden sedang terjadi. Sementara itu, warga yang datang kemudian mengambil langkah untuk menghentikan Sujeri dan mencegah serangan berlanjut. Tidak perlu menambahkan rincian mengenai cara Sujeri dilumpuhkan, karena informasi yang tersedia hanya menyebut bahwa warga mengepung dan melumpuhkannya.

Peristiwa ini menunjukkan bagaimana respons cepat dari orang terdekat dan masyarakat sekitar dapat membantu menghentikan situasi berbahaya. Dalam kejadian tersebut, istri Muhtadi berusaha menghalangi pelaku sekaligus mencari pertolongan, sedangkan warga segera merespons teriakan yang terdengar. Setelah Sujeri dilumpuhkan, keadaan darurat itu tidak lagi berlangsung seperti sebelumnya. Kronologi ini menjelaskan urutan tindakan yang disebutkan: istri korban melihat serangan, meminta bantuan, lalu warga berdatangan dan menghentikan pelaku. Fokus pada urutan tersebut membantu menyampaikan peristiwa secara jelas tanpa menambahkan detail yang belum dipastikan mengenai tindakan warga.

Setelah insiden serangan golok di Pringsewu, Muhtadi segera dibawa ke RS Mitra Husada Pringsewu untuk memperoleh penanganan medis. Ia mengalami luka bacok pada bagian pelipis. Tim medis rumah sakit kemudian menangani luka tersebut, sehingga kondisi yang membutuhkan perawatan langsung dapat ditangani. Informasi mengenai penanganan itu disampaikan setelah korban mendapatkan pemeriksaan dan perawatan dari tenaga kesehatan.

Muhtadi tidak perlu menjalani rawat inap setelah luka di pelipisnya ditangani. Ia telah diperbolehkan menjalani rawat jalan di rumah. Dengan demikian, pemantauan selanjutnya dapat dilakukan tanpa harus tetap berada di rumah sakit, sesuai arahan medis yang diterimanya. Keterangan tersebut menjadi perkembangan mengenai kondisi korban setelah kejadian, meski informasi lebih lanjut tentang pemulihan maupun jadwal kontrol tidak dijelaskan.

Di sisi lain, polisi mengamankan sebilah golok yang diduga berkaitan dengan peristiwa tersebut. Senjata itu menjadi barang bukti dalam penanganan kasus. Pengamanan barang bukti merupakan bagian dari proses kepolisian untuk mendokumentasikan dan menindaklanjuti kejadian. Rincian mengenai pemeriksaan terhadap golok, termasuk hasil pengujian atau kaitannya dengan luka korban, belum diuraikan dalam keterangan yang tersedia. Karena itu, perkembangan perkara tetap menunggu penjelasan resmi dari pihak berwenang.

Sementara itu, Sujeri dievakuasi ke rumah sakit jiwa di Bandar Lampung untuk menjalani observasi medis. Langkah tersebut dilakukan agar kondisinya dapat diperiksa oleh tenaga profesional, bukan sebagai pengganti proses penanganan hukum. Observasi dapat membantu tenaga medis menilai keadaan dan kebutuhan penanganan yang bersangkutan. Informasi yang disampaikan tidak merinci hasil observasi maupun durasi perawatan, sehingga belum dapat dipastikan tindakan lanjutan yang akan diberikan. Pihak kepolisian dan rumah sakit dapat memberikan pembaruan apabila ada hasil pemeriksaan yang dapat disampaikan.

Penanganan setelah kejadian mencakup dua jalur yang berjalan sesuai kebutuhan masing-masing: perawatan bagi korban dan pemeriksaan medis terhadap Sujeri, disertai pengamanan barang bukti oleh polisi. Muhtadi telah kembali menjalani rawat jalan di rumah, sedangkan observasi Sujeri berlangsung di fasilitas kesehatan di Bandar Lampung. Perkembangan berikutnya akan bergantung pada kondisi medis serta tindak lanjut aparat dalam memeriksa peristiwa tersebut. Hingga ada keterangan resmi lebih lanjut, rincian mengenai proses hukum maupun evaluasi medis sebaiknya merujuk pada informasi yang telah dikonfirmasi oleh pihak terkait.

Menurut keterangan yang disampaikan kepolisian, perubahan perilaku Sujeri telah terlihat sejak Agustus 2026. Ia disebut lebih sering mengurung diri di rumah dan jarang berinteraksi dengan orang-orang di sekitarnya. Kondisi tersebut menimbulkan kekhawatiran keluarga maupun warga yang mengenalnya. Bastari menyampaikan bahwa Sujeri menunjukkan indikasi depresi berat, tetapi keterangan itu merupakan gambaran yang disampaikan pihak kepolisian, bukan diagnosis medis yang telah dipastikan. Informasi tersebut menjadi bagian dari latar belakang yang kini disampaikan aparat dalam menjelaskan keadaan sebelum penyerangan terhadap ayahnya terjadi. Tidak disebutkan adanya pemeriksaan atau penetapan diagnosis oleh tenaga kesehatan sebelum peristiwa itu.

Peristiwa lain yang disebut dalam keterangan aparat terjadi pada pertengahan Oktober 2026. Sujeri diduga terlibat dalam percobaan pencurian sepeda motor. Persoalan tersebut, menurut Bastari, kemudian diselesaikan secara kekeluargaan melalui rembuk desa. Penyelesaian itu berlangsung sebelum penyerangan yang menyebabkan ayahnya terluka. Kepolisian menyampaikan kejadian tersebut sebagai salah satu hal yang menjadi perhatian di lingkungan sekitar Sujeri. Namun, informasi yang tersedia tidak menyatakan bahwa dugaan percobaan pencurian itu menjadi penyebab langsung perubahan perilakunya ataupun insiden berikutnya. Rembuk desa disebut sebagai jalur penyelesaian saat itu, tanpa keterangan lebih lanjut mengenai keputusan atau langkah yang disepakati oleh para pihak.

Bastari juga mengatakan Bhabinkamtibmas setempat sebelumnya telah mendesak keluarga agar membawa Sujeri untuk memperoleh pemeriksaan dan penanganan di fasilitas kejiwaan. Anjuran tersebut disampaikan karena perubahan perilaku dan kekhawatiran yang berkembang di lingkungan keluarga. Meski demikian, intervensi medis belum terlaksana sebelum penyerangan terjadi.

Baca juga: Satgas TMMD Ke-130 Kodim 1808/Mansel Berbagi Kasih Buat Anak-Anak Kampung Yamboi Melalui Pemberian Bubur Bergizi | Makanan Terbagi Habis, Senyum Bahagia Anak-Anak Yamboi Jadi Kebahagiaan Satgas TMMD Ke-130 | Tak Sekadar Berbagi, Satgas TMMD Ke-130 Tanamkan Budaya Antre Kepada Anak-Anak Kampung Yamboi