Jakarta | Spanduk bertuliskan “Tuntutan Rakyat” dibentangkan oleh massa demonstrasi di Patung Pahlawan, yang dikenal sebagai Tugu Tani, Jakarta Pusat, pada Selasa, 20 Oktober 2026. Aksi tersebut digelar dalam rangka memperingati dua tahun pemerintahan Presiden Prabowo Subianto dan Wakil Presiden Gibran Rakabuming Raka. Kehadiran spanduk di ruang publik itu menjadi penanda bahwa para peserta menyampaikan sejumlah desakan kepada pemerintah, dengan perhatian utama tertuju pada penanganan bencana lingkungan. Tulisan yang dipilih merangkum pesan aksi sebagai tuntutan warga, bukan sekadar penanda peringatan masa pemerintahan. Lokasi Tugu Tani menjadi titik penyampaian pesan demonstran di ibu kota.
Pokok tuntutan yang tercantum dalam aksi adalah agar pemerintah menetapkan kebakaran hutan dan lahan (karhutla) serta banjir sebagai bencana nasional. Dengan tuntutan tersebut, demonstran mendorong pemerintah memberikan status dan perhatian lebih besar terhadap dua persoalan yang berdampak pada masyarakat. Penetapan sebagai bencana nasional merupakan keputusan pemerintah, sehingga desakan yang disampaikan melalui spanduk ditujukan kepada pihak berwenang untuk mempertimbangkan langkah penanganan secara menyeluruh. Dalam pesan itu, karhutla dan banjir ditempatkan sebagai isu yang perlu ditanggapi secara serius, bukan hanya sebagai peristiwa lokal yang muncul sesaat. Aksi ini menyoroti peran pemerintah dalam menentukan respons terhadap bencana.
Pemasangan spanduk di Tugu Tani membuat tuntutan tersebut terlihat langsung oleh masyarakat yang melintas maupun pihak terkait. Frasa “Tuntutan Rakyat” memberi konteks pada pesan, sementara penyebutan karhutla dan banjir memperjelas pokok masalah yang hendak disorot. Dalam peringatan dua tahun pemerintahan Prabowo–Gibran, aksi ini sekaligus menjadi bentuk penyampaian aspirasi publik mengenai kebijakan dan penanganan bencana. Tuntutan agar kedua peristiwa ditetapkan sebagai bencana nasional menjadi inti pesan demonstrasi pada hari itu. Informasi mengenai spanduk dan isi tuntutan tersebut menggambarkan fokus aksi di Jakarta Pusat, tanpa mengubah substansi desakan yang disampaikan massa kepada pemerintah.
Setelah aliansi gabungan yang terdiri atas berbagai elemen masyarakat menyampaikan orasi di pinggir jalan, rangkaian aksi berlanjut ke area sekitar patung Tugu Tani. Massa berkumpul di lokasi tersebut untuk membentangkan spanduk yang memuat tuntutan kepada pemerintah. Perpindahan kegiatan itu menandai tahap berikutnya setelah penyampaian orasi, dengan perhatian beralih pada pesan tertulis yang dibawa para peserta aksi.
Spanduk tersebut berisi tuntutan yang berkaitan dengan persoalan kebakaran hutan dan lahan atau karhutla serta banjir, sebagaimana menjadi sorotan dalam aksi. Massa menempatkan spanduk di sekitar patung agar pesan yang disampaikan dapat terlihat. Tuntutan itu ditujukan kepada pemerintah, sementara kegiatan pemasangan berlangsung setelah orasi di tepi jalan selesai disampaikan oleh aliansi gabungan.
Dalam proses pemasangan, dua orang memanjat patung. Keduanya mengikat tali agar spanduk dapat terpasang dan terbaca dengan jelas. Tindakan tersebut menjadi bagian dari upaya membentangkan materi tuntutan di lokasi aksi. Tidak ada keterangan tambahan mengenai cara pemasangan selain bahwa dua orang naik ke patung dan mengikat tali untuk membantu menempatkan spanduk.
Urutan kejadian memperlihatkan bahwa orasi dan pemasangan spanduk berlangsung sebagai bagian dari aksi yang sama. Mula-mula, aliansi gabungan berbagai elemen masyarakat menyampaikan orasi di pinggir jalan. Sesudahnya, massa berkumpul di sekitar patung Tugu Tani dan membentangkan spanduk berisi tuntutan kepada pemerintah. Dua orang kemudian memanjat patung untuk mengikat tali, sehingga spanduk terpasang dan pesannya dapat terbaca jelas. Dengan demikian, spanduk menjadi sarana penyampaian tuntutan setelah orasi, dengan isu karhutla dan banjir sebagai perhatian yang disorot dalam aksi tersebut.
Suasana di sekitar Tugu Tani berlangsung ketika para demonstran berupaya memasang spanduk berisi tuntutan terkait karhutla dan banjir. Di tengah proses tersebut, massa menyanyikan lagu “Indonesia Pusaka”, karya Ismail Marzuki. Nyanyian itu terdengar saat pemasangan masih diupayakan, sementara perhatian tertuju pada spanduk yang sedang dinaikkan. Peristiwa ini menjadi bagian dari rangkaian kegiatan demonstrasi di lokasi, dengan massa berada di sekitar patung dan sejumlah warga menyaksikan dari area sekitarnya.
Beberapa warga yang berada di sekitar Tugu Tani tampak memperhatikan proses pemasangan. Ketika spanduk sedang diupayakan untuk terpasang, sejumlah warga bertepuk tangan. Tepuk tangan tersebut tercatat berlangsung pada saat pemasangan masih berjalan. Tidak ada keterangan tambahan mengenai alasan masing-masing warga menyaksikan atau bertepuk tangan, sehingga suasana di lokasi dapat digambarkan berdasarkan tindakan yang terlihat saja.
Di tengah kegiatan, aparat kepolisian sempat menyampaikan imbauan kepada masyarakat agar tidak memanjat patung. Imbauan itu disampaikan ketika aktivitas pemasangan spanduk berlangsung di sekitar Tugu Tani. Tidak ada informasi yang menunjukkan adanya tindakan lain dari aparat dalam peristiwa tersebut. Karena itu, catatan mengenai keterlibatan kepolisian terbatas pada imbauan untuk tidak memanjat patung, tanpa menambahkan tafsir mengenai sikap atau tujuan mereka.
Setelah diupayakan, spanduk akhirnya berhasil terpasang. Momen tersebut menandai selesainya proses pemasangan yang sebelumnya disaksikan warga dan diiringi nyanyian massa. Rangkaian suasana yang tercatat mencakup nyanyian “Indonesia Pusaka”, perhatian warga di sekitar lokasi, tepuk tangan saat spanduk sedang dipasang, serta imbauan kepolisian agar masyarakat tidak memanjat patung. Uraian ini menggambarkan hal-hal yang berlangsung selama pemasangan, tanpa menyimpulkan pandangan warga ataupun aparat terhadap tuntutan yang disampaikan demonstran.
Setelah spanduk tuntutan terpasang di kawasan Tugu Tani, massa kembali menyampaikan lima isu yang menjadi sorotan dalam aksi peringatan dua tahun pemerintahan Prabowo–Gibran. Isu-isu tersebut mencakup persoalan lingkungan, ekonomi, kebebasan berpendapat, pemberantasan korupsi, dan pemerataan layanan publik. Kelimanya disampaikan sebagai bagian dari perhatian demonstran terhadap berbagai keadaan yang mereka nilai perlu mendapat perhatian.
Di bidang lingkungan, demonstran menyoroti kebakaran hutan dan lahan atau karhutla serta banjir. Kedua persoalan itu disebut bersama sebagai isu yang ingin mereka angkat dalam aksi. Penyebutan karhutla dan banjir menempatkan masalah lingkungan sebagai salah satu pokok tuntutan, tanpa menguraikan langkah penanganan tertentu. Selain itu, perhatian terhadap persoalan ekonomi turut masuk dalam daftar isu. Dalam konteks aksi, isu ekonomi berdiri berdampingan dengan masalah lingkungan dan mencerminkan luasnya bidang yang disuarakan massa.
Tuntutan yang disampaikan juga menyinggung kebebasan berpendapat dan pemberantasan korupsi. Kedua isu tersebut berkaitan dengan ruang warga untuk menyampaikan pandangan serta perhatian terhadap upaya melawan korupsi. Massa tidak hanya mengangkat persoalan yang berhubungan dengan kondisi lingkungan dan ekonomi, tetapi juga hal-hal yang menyangkut kehidupan publik dan tata kelola. Isu terakhir adalah pemerataan layanan publik. Dengan memasukkannya ke dalam rangkaian tuntutan, demonstran menempatkan akses terhadap layanan sebagai salah satu pokok perhatian. Tidak ada rincian kebijakan, langkah khusus, atau tanggapan pemerintah yang disebutkan dalam rangkaian isu tersebut. Karena itu, kelima topik ini dapat dipahami sebagai gambaran umum dari hal-hal yang disuarakan dalam aksi, bukan penjabaran usulan teknis. Susunannya menunjukkan bahwa perhatian massa mencakup berbagai ranah, dari lingkungan hingga penyelenggaraan layanan publik. Dalam aksi peringatan dua tahun pemerintahan tersebut, penyampaian isu-isu ini menjadi inti pesan yang dibawa para demonstran setelah spanduk tuntutan dipasang. Setiap persoalan disebut sebagai bagian dari tuntutan tanpa penjelasan lebih lanjut mengenai sasaran atau bentuk penyelesaiannya.
Baca juga: Aksi di Tugu Tani Usai, Massa Tinggalkan Spanduk Lima Tuntutan | BEM UI Gelar Aksi di Tugu Tani, Soroti Karhutla dan Ketimpangan Sosial | Doa Solidaritas di Tugu Proklamasi Serukan Penghentian Karhutla



































