Sri Sultan Dorong Warga Lebih Cermat Mengelola Keuangan Sehari-hari

oleh -784 Dilihat
oleh
Sri Sultan Dorong Warga Lebih Cermat Mengelola Keuangan Sehari-hari

Yogyakarta | Gubernur Daerah Istimewa Yogyakarta Sri Sultan Hamengku Buwono X mengajak keluarga dan masyarakat untuk lebih bijaksana, cermat, serta berhati-hati dalam mengambil keputusan keuangan sehari-hari. Pesan tersebut disampaikan dalam acara Financial Expo sekaligus puncak Bulan Inklusi Keuangan 2026 di Yogyakarta pada Minggu. Sultan menekankan bahwa pengelolaan uang bukan sekadar soal memenuhi kebutuhan saat ini, melainkan juga memerlukan pertimbangan yang matang agar keputusan yang diambil tidak menimbulkan beban di kemudian hari.

Dalam menyampaikan ajakan itu, Sultan mengenalkan falsafah Jawa gemi, nastiti, ngati-ati sebagai kerangka untuk mengelola keuangan. Gemi mengingatkan pentingnya hidup hemat dan menggunakan sumber daya secara bijak. Nastiti mengandung makna ketelitian dalam memperhitungkan kebutuhan, pilihan, dan konsekuensi. Sementara itu, ngati-ati menekankan sikap sebelum mengambil keputusan, termasuk ketika berhadapan dengan tawaran atau pilihan yang berkaitan dengan uang. Ketiga nilai tersebut dapat menjadi pegangan dalam kehidupan keluarga maupun masyarakat.

Penerapan prinsip-prinsip itu dapat dimulai dengan membedakan kebutuhan dan keinginan, mempertimbangkan kemampuan sebelum berbelanja, serta memeriksa informasi sebelum menyetujui suatu keputusan finansial. Sikap cermat juga berarti tidak terburu-buru memilih hanya karena dorongan sesaat. Dengan kebiasaan menimbang manfaat dan risikonya, masyarakat dapat membuat keputusan yang lebih sesuai dengan keadaan dan prioritas masing-masing. Pesan tersebut menempatkan kehati-hatian sebagai bagian penting dari keseharian, bukan hanya ketika menghadapi persoalan keuangan besar.

Ajakan Sultan dalam rangkaian kegiatan Bulan Inklusi Keuangan itu menyoroti peran keluarga sebagai ruang awal pembentukan kebiasaan mengelola uang. Pembicaraan terbuka mengenai prioritas dan penggunaan dana dapat membantu setiap anggota keluarga memahami tanggung jawabnya. Nilai gemi, nastiti, ngati-ati juga memberi landasan untuk membangun kebiasaan yang konsisten, tanpa mengabaikan kebutuhan yang memang penting. Dengan mengedepankan kebijaksanaan, ketelitian, dan kewaspadaan, warga diharapkan lebih siap menentukan pilihan keuangan sehari-hari secara bertanggung jawab.

Nilai gemi mengajarkan kebijaksanaan dalam menggunakan penghasilan. Dalam kehidupan sehari-hari, prinsip ini dapat diterapkan dengan membedakan kebutuhan pokok dari keinginan, lalu menyusun prioritas belanja sesuai kemampuan keluarga. Pengeluaran untuk pangan, tempat tinggal, pendidikan, kesehatan, dan kewajiban rutin perlu diperhitungkan sebelum membeli barang yang sifatnya tidak mendesak. Gemi juga berarti menyisihkan sebagian pendapatan untuk masa depan, misalnya sebagai dana darurat atau tabungan tujuan tertentu. Besarnya simpanan dapat disesuaikan dengan kondisi, tetapi kebiasaan menyisihkan uang secara teratur membantu keluarga lebih siap menghadapi kebutuhan mendadak. Dengan mengendalikan pengeluaran, seseorang memiliki ruang untuk menentukan arah hidup dan membuat pilihan keuangan secara lebih mandiri.

Nastiti berarti cermat dan teliti sebelum mengambil keputusan. Sikap ini penting ketika memilih produk tabungan, pembiayaan, asuransi, maupun investasi, sebab setiap layanan memiliki manfaat sekaligus kewajiban. Calon pengguna sebaiknya membaca ketentuan, memahami biaya administrasi atau bunga, mengetahui cara dan syarat pencairan, serta menilai risiko yang mungkin timbul. Jangan hanya terpikat oleh promosi atau janji hasil tinggi; bandingkan beberapa pilihan dan pastikan produk sesuai tujuan serta kemampuan keuangan. Bila ada istilah yang belum dipahami, mintalah penjelasan melalui saluran resmi sebelum menyetujui perjanjian. Ketelitian sejak awal dapat mengurangi kesalahpahaman dan membantu masyarakat memilih layanan yang benar-benar diperlukan, bukan sekadar mengikuti tren atau keputusan orang lain.

Ngati-ati menekankan kewaspadaan ketika menggunakan layanan keuangan yang semakin mudah diakses. Kemudahan transaksi digital tetap perlu disertai perlindungan, lain menjaga kerahasiaan kata sandi, PIN, kode verifikasi, dan data pribadi. Informasi tersebut tidak semestinya dibagikan kepada pihak yang menghubungi tanpa kejelasan, sekalipun mereka mengaku mewakili lembaga tertentu. Masyarakat juga perlu memeriksa legalitas penyedia melalui kanal resmi dan mencermati identitas, izin, serta ketentuan layanannya. Sebelum berutang, hitung cicilan dan biaya terkait, lalu pertimbangkan apakah pembayaran tetap sanggup dilakukan tanpa mengabaikan kebutuhan pokok. Ketiga nilai ini saling melengkapi: gemi membantu mengatur penghasilan, nastiti menuntun pilihan yang teliti, sedangkan ngati-ati menjaga masyarakat dari keputusan dan risiko yang tidak perlu.

Sri Sultan menekankan bahwa layanan keuangan yang baik perlu berangkat dari kebutuhan nyata masyarakat. Setiap warga berhak memperoleh penjelasan yang jujur, mudah dipahami, dan terbuka mengenai manfaat, biaya, risiko, serta ketentuan suatu produk. Dengan informasi yang memadai, masyarakat dapat mempertimbangkan pilihan secara cermat tanpa merasa didorong mengambil keputusan yang tidak sesuai kemampuan. Hak tersebut juga mencakup akses terhadap produk yang relevan dengan kondisi masing-masing, bukan sekadar penawaran yang seragam kepada semua orang.

Perbedaan pekerjaan dan pola penghasilan membuat kebutuhan keuangan warga tidak selalu sama. Pedagang kecil, misalnya, mungkin memerlukan pembiayaan dengan jumlah dan jadwal angsuran yang selaras dengan perputaran usaha. Skema yang mempertimbangkan naik-turunnya pemasukan dapat membantu mereka mengelola kewajiban tanpa mengganggu kebutuhan usaha sehari-hari. Sementara itu, pekerja dengan penghasilan terbatas dapat membutuhkan cara menabung yang terjangkau, sederhana, dan dapat dilakukan secara rutin. Lembaga jasa keuangan perlu memahami konteks tersebut sebelum menawarkan layanan, serta menyediakan pendampingan ketika nasabah menghadapi kendala atau persoalan dalam menggunakan produk.

Karena itu, Sultan mengajak lembaga jasa keuangan menjadikan pameran bukan hanya tempat mempromosikan produk, melainkan juga ruang untuk mendengarkan kebutuhan warga. Percakapan langsung dapat membantu penyedia layanan mengenali pertanyaan, kekhawatiran, dan hambatan yang dihadapi masyarakat. Edukasi dan pelayanan, menurut harapan tersebut, perlu berlangsung secara berkelanjutan, tidak berhenti ketika kegiatan pameran berakhir. Pemerintah daerah, regulator, dan industri jasa keuangan juga diharapkan bekerja bersama agar informasi serta pendampingan menjangkau lebih banyak lapisan masyarakat. Jangkauan itu penting diperluas hingga pasar, sekolah, dan kalurahan, sehingga warga dapat memperoleh pengetahuan serta bantuan dekat dengan kehidupan sehari-hari. Dengan pendekatan yang konsisten dan responsif, masyarakat memiliki kesempatan lebih baik untuk memilih layanan secara bijak, memahami hak dan kewajibannya, serta mencari bantuan ketika menghadapi persoalan. Upaya ini juga mendorong hubungan yang lebih terbuka penyedia layanan dan warga.Data Survei Nasional Literasi dan Inklusi Keuangan 2026 menunjukkan bahwa masyarakat Indonesia semakin terhubung dengan layanan keuangan, meskipun pemahaman terhadap produk dan pengelolaannya masih perlu terus diperkuat. Kepala OJK DIY, Eko Yunianto, menyampaikan bahwa tingkat literasi keuangan nasional mencapai 69,57 persen. Sementara itu, tingkat inklusi keuangan tercatat sebesar 93,61 persen. Perbedaan kedua angka tersebut menggambarkan bahwa akses terhadap layanan keuangan telah menjangkau sebagian besar masyarakat, tetapi akses saja belum tentu diikuti pengetahuan yang memadai untuk menggunakannya secara bijak.

Di Daerah Istimewa Yogyakarta, capaian kedua indikator itu berada di atas angka nasional. Tingkat literasi keuangan masyarakat DIY mencapai 76,44 persen, menempatkan daerah ini pada peringkat ketujuh secara nasional. Adapun tingkat inklusi keuangan DIY mencapai 98,74 persen, atau peringkat kedua nasional. Angka tersebut mencerminkan luasnya penggunaan layanan keuangan di wilayah ini sekaligus menjadi dasar untuk memperkuat pemahaman warga tentang manfaat, risiko, serta tanggung jawab yang menyertai keputusan keuangan.

Capaian literasi dan inklusi yang tinggi tetap perlu diterjemahkan menjadi kebiasaan sehari-hari yang sehat. Warga perlu memahami kondisi keuangannya, mempertimbangkan kemampuan sebelum mengambil pembiayaan, dan menggunakan dana sesuai tujuan. Dengan begitu, layanan keuangan tidak hanya menjadi sarana memperoleh akses, tetapi juga dapat membantu keluarga merencanakan kebutuhan dan pelaku usaha menjaga kegiatan bisnisnya. Pengelolaan yang cermat turut mengurangi risiko keputusan yang membebani keuangan dalam jangka panjang.

Sri Sultan.

Baca juga: Pesan Sri Sultan untuk Mengelola Keuangan dengan Bijak | OJK DIY Catat Penyaluran Kredit Rp1,5 Triliun Selama Bulan Inklusi Keuangan 2026 | BRI Peduli Dukung Ruang Edukasi Keuangan Digital di Unair