Kabupaten Bekasi | Ketua DPD RI Sultan B. Najamudin mendorong penguatan pembinaan sepak bola sejak usia dini agar talenta dari berbagai daerah di Indonesia memperoleh kesempatan untuk berkembang. Pesan tersebut ia sampaikan saat membuka Blispi Youth Cup V Piala Ketua DPD RI di Stadion Wibawa Mukti, Kabupaten Bekasi, Jawa Barat, pada Minggu (25/10). Kompetisi ini mengangkat tema “Dari Daerah, Lahir Bintang Sepak Bola Indonesia” dan diikuti lebih dari 2.000 anak. Besarnya jumlah peserta menunjukkan tingginya minat anak-anak terhadap sepak bola sekaligus pentingnya menyediakan ruang kompetisi yang terarah bagi mereka.
Melalui ajang usia muda, para pemain dapat mengasah kemampuan dasar, mengenal suasana pertandingan, serta belajar bekerja sama dalam tim. Pengalaman tersebut menjadi bagian penting dari proses pembinaan, selain latihan rutin dan pendampingan yang sesuai dengan tahap perkembangan anak. Kompetisi juga memberi kesempatan bagi pelatih dan pembina untuk mengamati potensi pemain, memahami kebutuhan mereka, dan membantu meningkatkan keterampilan secara bertahap. Dengan demikian, pertandingan tidak hanya menjadi sarana mengejar kemenangan, tetapi juga wadah pembelajaran dan pengembangan karakter.
Tema yang diusung Blispi Youth Cup V menegaskan harapan agar potensi sepak bola Indonesia tumbuh dari berbagai wilayah, bukan hanya dari pusat-pusat pembinaan yang telah dikenal. Anak-anak dari daerah perlu memperoleh akses terhadap latihan berkualitas, kompetisi yang berkelanjutan, serta dukungan lingkungan yang memadai. Upaya tersebut membutuhkan keterlibatan banyak pihak, termasuk keluarga, sekolah, klub, pelatih, dan pemerintah. Jika pembinaan dilakukan secara konsisten dan merata, pemain muda akan memiliki jalur yang lebih jelas untuk mengembangkan bakatnya. Ajang seperti ini dapat menjadi salah satu langkah awal untuk mempertemukan talenta, memberikan pengalaman bertanding, dan menumbuhkan semangat berprestasi sejak dini. Dorongan Sultan agar pembinaan diperkuat sekaligus menempatkan anak-anak sebagai bagian penting dari masa depan sepak bola nasional. Dengan perhatian yang berkelanjutan, semakin banyak pemain muda berpeluang menunjukkan kemampuan dan membawa nama daerahnya ke tingkat yang lebih luas.
Sultan Najamudin menyampaikan apresiasi kepada Badan Liga Sepakbola Pelajar Indonesia (Blispi) atas konsistensinya menggelar kompetisi bagi pemain usia muda. Menurutnya, penyelenggaraan pertandingan yang berkelanjutan merupakan kontribusi penting dalam membangun sepak bola anak di berbagai daerah. Kompetisi memberi ruang bagi para pemain untuk menunjukkan kemampuan, belajar menghadapi tekanan, serta mengukur perkembangan mereka melalui pengalaman langsung di lapangan. Upaya seperti ini juga membantu sepak bola usia dini tumbuh lebih terarah, bukan hanya bergantung pada kegiatan latihan di lingkungan masing-masing.
Sultan menilai, bakat alami memang menjadi modal awal, tetapi tidak cukup untuk membawa seorang anak berkembang secara optimal. Kemampuan yang terlihat sejak kecil perlu dirawat melalui pembinaan yang terencana dan berkesinambungan. Anak-anak membutuhkan pelatih dan lingkungan yang mendukung, latihan yang sesuai dengan tahap perkembangan, serta pembiasaan terhadap kedisiplinan. Tanpa proses tersebut, potensi yang dimiliki dapat sulit berkembang. Karena itu, pembinaan sejak usia dini perlu menjadi perhatian bersama, termasuk bagi penyelenggara kompetisi, klub, sekolah, keluarga, dan pihak-pihak yang terlibat dalam pengembangan olahraga.
Dengan menyediakan kompetisi bagi pemain dari berbagai daerah, Blispi turut membuka peluang agar anak-anak memperoleh pengalaman bermain yang lebih luas. Pertemuan dengan lawan yang beragam dapat memperkaya proses belajar sekaligus mendorong pemain untuk terus meningkatkan kemampuan. Sultan memandang kesinambungan pembinaan dan tersedianya ruang bertanding sebagai dua unsur yang saling melengkapi. Kompetisi bukan sekadar ajang untuk menentukan pemenang, melainkan kesempatan bagi pemain muda untuk tumbuh, membangun kedisiplinan, dan mengembangkan potensi melalui proses yang terarah.
Sultan Najamudin menegaskan bahwa pembinaan sepak bola anak tidak dapat bergantung pada satu pihak atau berlangsung hanya ketika sebuah kompetisi digelar. Agar anak-anak dari berbagai daerah memiliki kesempatan berkembang, diperlukan ekosistem yang berkelanjutan dan saling mendukung. Proses pembinaan perlu hadir dalam keseharian mereka, menyediakan ruang untuk belajar, berlatih, serta memperbaiki kemampuan secara bertahap. Dengan demikian, kompetisi dapat menjadi salah satu bagian dari perjalanan pemain muda, bukan satu-satunya tujuan atau akhir dari pembinaan.
Dalam ekosistem tersebut, pemerintah memiliki peran untuk mendukung kebijakan dan lingkungan yang memungkinkan kegiatan sepak bola anak berlangsung secara konsisten. Sekolah dapat membantu memberi ruang bagi aktivitas olahraga sekaligus menjaga keseimbangan dengan pendidikan. Klub berperan menyediakan jalur latihan dan kesempatan bermain, sementara pelatih mendampingi perkembangan kemampuan serta sikap anak. Setiap unsur memiliki tanggung jawab berbeda, tetapi tujuan dasarnya sama: mendukung proses belajar yang aman, terarah, dan berkesinambungan.
Sultan juga menyoroti pentingnya keterlibatan dunia usaha dan keluarga. Dukungan dunia usaha dapat melengkapi upaya berbagai pihak, sedangkan keluarga berperan memberi dorongan dan mendukung anak menjalani latihan maupun pertandingan. Kerja sama ini perlu dibangun sebagai komitmen jangka panjang, bukan sebatas dukungan sesaat terhadap satu acara. Ketika pemerintah, sekolah, klub, pelatih, dunia usaha, dan keluarga bergerak bersama, anak-anak berpeluang memperoleh pengalaman yang lebih teratur dan berkelanjutan. Pendekatan lintas pihak tersebut membantu memastikan pembinaan tidak berhenti setelah kompetisi selesai. Anak tetap dapat berlatih, menerima pendampingan, dan berkembang sesuai tahapannya. Penegasan ini menempatkan keberlanjutan sebagai landasan penting dalam membangun sepak bola anak, sekaligus memperluas dukungan bagi talenta dari beragam daerah. Ekosistem yang kuat pada akhirnya memberi ruang bagi lebih banyak anak untuk berpartisipasi dan bertumbuh melalui sepak bola, tanpa menjadikan hasil satu kompetisi sebagai satu-satunya ukuran perkembangan mereka.
Sultan Najamudin menekankan bahwa pembinaan sepak bola anak perlu membuka ruang yang setara bagi mereka dari berbagai daerah. Kesempatan untuk belajar, berlatih, dan mengembangkan kemampuan tidak semestinya hanya tersedia bagi anak-anak yang tinggal di wilayah tertentu. Setiap anak memiliki potensi yang patut mendapat perhatian, termasuk mereka yang tumbuh jauh dari pusat kegiatan sepak bola. Dengan memberikan ruang yang sama, pembinaan dapat menjangkau lebih banyak talenta dan memberi anak-anak kesempatan untuk mengenali kemampuan mereka. Pandangan ini menempatkan pemerataan kesempatan sebagai bagian penting dalam upaya membangun sepak bola sejak usia dini.
Kesempatan setara juga berarti anak-anak di daerah dapat memperoleh dukungan untuk mengembangkan minat dan keterampilan mereka. Lapangan di lingkungan tempat tinggal mereka dapat menjadi ruang awal untuk belajar, berlatih, dan menunjukkan potensi. Karena itu, pembinaan tidak hanya perlu melihat anak-anak yang sudah terlihat menonjol, tetapi juga memberi perhatian kepada mereka yang membutuhkan akses dan ruang untuk bertumbuh. Gagasan tersebut menegaskan bahwa asal daerah tidak seharusnya menjadi penghalang bagi anak untuk mengejar cita-cita dalam sepak bola. Setiap talenta layak memiliki peluang untuk berkembang, selama tersedia kesempatan yang dapat mereka manfaatkan.
Harapan Sultan tertuju pada tumbuhnya talenta dari berbagai daerah yang suatu hari dapat membawa nama Indonesia. Ia menyampaikan, “Dari lapangan-lapangan di daerah, kita berharap tumbuh talenta yang kelak mengharumkan nama Indonesia,”. Pernyataan itu menautkan pembinaan di tingkat anak-anak dengan harapan terhadap potensi sepak bola nasional, tanpa membatasi peluang pada satu wilayah saja. Memberi anak kesempatan yang sama berarti membuka ruang bagi lebih banyak talenta untuk berkembang di lingkungan masing-masing. Lapangan-lapangan daerah menjadi bagian dari ruang pembinaan itu, tempat anak-anak dapat memulai perjalanan dan mengasah kemampuan mereka.
Baca juga: Shin Tae-yong Soroti Pembinaan Usia Dini sebagai Fondasi Sepak Bola Indonesia | ASN Terlambat Tak Bisa Ikut Rapat, Pramono Tekankan Disiplin Kerja di Pemprov DKI | Atmosfer El Clasico Hadir di Jakarta Lewat Sepak Bola Bersama Jurnalis dan Influencer



































