Kabupaten Lebak | Kekeringan berkepanjangan yang dipicu fenomena El Niño membuat permukaan air Bendungan Karian di Kabupaten Lebak, Banten, menyusut drastis. Saat air mundur dari tepian waduk, bagian dasar yang selama ini tertutup mulai terlihat. Di bidang tanah yang mengering, tampak kembali sisa-sisa permukiman lama: deretan rumah tanpa atap, fondasi, serta dinding-dinding yang masih berdiri meski sebagian telah rusak dan ditumbuhi vegetasi. Pemandangan itu mengungkap jejak kehidupan yang pernah ada sebelum kawasan tersebut menjadi bagian dari bendungan.
Salah satu lokasi yang kembali terlihat adalah Kampung Somang, yang dahulu merupakan permukiman padat penduduk. Rumah dan lingkungan di kampung itu pernah menjadi tempat tinggal warga sebelum pembangunan waduk mengubah kawasan tersebut. Ketika air surut, struktur bangunan yang tersisa tampak tersebar di area yang sebelumnya berada di bawah permukaan air. Bentuknya tidak lagi utuh, tetapi dinding dan susunan ruang yang masih dapat dikenali memberikan gambaran tentang bekas kampung yang pernah dihuni. Kemunculan kembali bangunan-bangunan itu juga mengingatkan bahwa waduk menenggelamkan wilayah yang memiliki sejarah dan kehidupan sosial tersendiri.
Warga mulai meninggalkan Somang pada 2023 sebagai bagian dari proses penggenangan untuk pembangunan Bendungan Karian. Sebelum kawasan ditutup air, sebagian bangunan tidak dibongkar sepenuhnya. Sejumlah struktur kemudian terendam ketika waduk terisi, sehingga baru tampak lagi saat tingkat air turun akibat kondisi kering. Perubahan muka air tersebut membuat bekas permukiman terlihat, tetapi bukan berarti kampung itu kembali layak dihuni. Tanah yang terbuka merupakan kawasan waduk, dan bangunan yang tersisa dapat rapuh setelah lama terendam serta terpapar cuaca. Karena itu, pemandangan tersebut sebaiknya dipahami sebagai penyingkapan sementara jejak permukiman, bukan kemunculan kembali kampung dalam kehidupan sehari-hari. Peristiwa ini sekaligus memperlihatkan dampak perubahan cuaca terhadap waduk dan membuka kembali ingatan mengenai perpindahan warga serta perubahan bentang alam di Lebak.
Penyusutan air Bendungan Karian tidak hanya membuka kembali jejak Kampung Somang. Di tengah kekeringan panjang, sisa permukiman di Kampung Karian, Kampung Susukan, dan Kampung Cibolang juga kembali tampak. Pada Juli 2026, deretan rumah yang sebelumnya terendam mulai terlihat seiring turunnya permukaan air. Sebagian besar bangunan yang muncul hanya menyisakan dinding, sementara bagian lain telah hilang atau rusak setelah lama berada di bawah air. Pemandangan tersebut memperlihatkan bahwa kawasan yang kini menjadi bagian dari bendungan pernah dihuni dan menjadi ruang hidup bagi masyarakat setempat.
Khusus di Kampung Karian, warga telah mengosongkan kawasan itu sejak 2021, sebelum genangan bendungan menutupi permukiman. Ketika meninggalkan rumah, sebagian warga berupaya menyelamatkan material yang masih dapat digunakan. Genteng, kaca, serta kayu dari fondasi atau bagian bangunan diambil kembali untuk dimanfaatkan di tempat tinggal yang baru. Langkah tersebut membantu warga membawa sebagian bahan bangunan mereka, sekaligus mengurangi material yang tertinggal di kawasan yang akan terendam. Namun, tidak semua rumah dapat dibongkar atau dipindahkan sepenuhnya sebelum air naik.
Sisa bangunan yang tidak sempat dibongkar kini terlihat kembali ketika permukaan air surut. Dinding-dinding yang tersingkap menjadi penanda fisik dari permukiman lama, meskipun bentuknya telah berubah akibat terendam dalam waktu lama dan terpapar cuaca. Di beberapa titik, susunan bangunan yang muncul memungkinkan warga mengenali kembali bekas lokasi rumah atau lingkungan yang dahulu mereka tinggali. Pemandangan serupa di Kampung Susukan dan Kampung Cibolang memperluas gambaran tentang wilayah yang terdampak pembangunan bendungan. Meski kemunculan kembali sisa kampung dipicu kondisi kekeringan, jejak tersebut juga mengingatkan pada proses perpindahan warga dan perubahan lanskap yang terjadi sejak kawasan itu dikosongkan serta kemudian digenangi.
Di tengah kampung Somang yang kembali terlihat ketika permukaan Waduk Karian surut, Masjid Al Mujahidin tampak tetap berdiri utuh. Bangunan ini mencolok di sisa-sisa rumah yang sebagian telah kehilangan atap dan memperlihatkan kerusakan akibat terendam. Kubah birunya masih terlihat jelas, sementara menara masjid juga disebut masih lengkap. Kehadiran masjid tersebut menjadi penanda yang mudah dikenali di jejak permukiman lama. Pemandangan itu memperlihatkan perbedaan kondisi bangunan ibadah yang masih berdiri dan rumah-rumah di sekitarnya, sekaligus mengingatkan bahwa kawasan tersebut pernah menjadi tempat tinggal warga sebelum tergenang oleh waduk.
Maman, warga yang dahulu tinggal di samping masjid, menuturkan bahwa bangunan itu didirikan oleh Abuya. Menurut cerita yang ia sampaikan, masjid tersebut konon sudah ada sejak era kolonial Belanda. Keterangan itu merupakan kisah yang diwariskan di lingkungan setempat, bukan kepastian sejarah yang dapat ditetapkan hanya dari kondisi bangunan saat ini. Maman juga menyebut masjid pernah direnovasi sekitar 15 tahun lalu. Renovasi tersebut membantu menjelaskan mengapa bangunan itu masih tampak utuh ketika kampung kembali muncul, meskipun bagian-bagian permukiman lain di sekitarnya menunjukkan bekas genangan dan kerusakan. Masjid Al Mujahidin pun tetap memiliki arti penting bagi warga yang mengenal Somang sebelum waduk menenggelamkannya.
Somang juga menjadi lokasi pengambilan gambar film horor Jembatan Shiratal Mustaqim pada akhir 2024 hingga awal 2025. Saat produksi berlangsung, sebagian rumah di kampung itu sudah terendam. Maman mengatakan ketinggian air waduk sempat diturunkan sedikit untuk mendukung kebutuhan pengambilan gambar. Warga sekitar danau di Kecamatan Sajira, Kabupaten Lebak, turut dilibatkan dalam produksi, baik sebagai figuran maupun anggota tim teknis. Proses tersebut berlangsung di lanskap yang memperlihatkan sisa-sisa kampung dan bangunan yang masih bertahan. Masjid berkubah biru dan menara lengkap menjadi bagian dari latar yang nyata, sementara kisah tentang sejarah serta renovasinya tetap bersandar pada penuturan Maman dan cerita warga setempat.
Kampung dan bangunan yang kembali tampak ketika permukaan air surut merupakan bagian dari wilayah yang berubah seiring pembangunan Bendungan Karian. Proyek ini mulai dibangun pada 2015 dan diresmikan Presiden ke-7 RI, Joko Widodo, pada Januari 2024. Bendungan tersebut termasuk dalam daftar Proyek Strategis Nasional, mencerminkan perannya dalam mendukung kebutuhan air di kawasan yang luas. Pembangunannya menelan anggaran sekitar Rp2,2 triliun. Dengan kapasitas tampung hingga 315 juta meter kubik dan luas genangan 1.773 hektare, Karian menjadi salah satu infrastruktur sumber daya air penting di wilayah barat Pulau Jawa.
Tujuan utama bendungan ini adalah menopang kebutuhan air masyarakat di Provinsi Banten, DKI Jakarta, serta sebagian wilayah Jawa Barat. Air yang ditampung diharapkan dapat mendukung penyediaan air baku bagi permukiman dan kegiatan lain, seiring meningkatnya kebutuhan penduduk serta pembangunan. Karena waduk menggenangi kawasan yang sebelumnya dihuni atau digunakan untuk berbagai keperluan, realisasi proyek membutuhkan penyiapan lahan dalam skala besar. Proses tersebut juga mencakup pemindahan sejumlah fasilitas dan unsur penting dari lingkungan setempat. Dengan demikian, manfaat infrastruktur perlu dipahami bersama perubahan yang dialami masyarakat dan wilayah terdampak.
Pembebasan lahan untuk proyek ini tercatat seluas 2.266,44 hektare. Selain itu, sebanyak 13.017 makam dipindahkan dari 54 lokasi pemakaman umum dan makam keramat. Penataan ulang juga meliputi 29 tapak menara PLN serta lahan milik pemerintah. Sebanyak 37 bangunan fasilitas umum turut direlokasi, termasuk sekolah, masjid, madrasah, majelis, musala, kantor desa, polindes, dan posyandu. Data tersebut memperlihatkan bahwa penyiapan bendungan tidak hanya berhubungan dengan pembangunan tubuh bendungan dan genangan, tetapi juga menyangkut pemindahan tempat yang memiliki fungsi sosial, layanan publik, dan nilai budaya bagi warga.
Baca juga: Serka Yusuf Sosialisasikan Perekrutan TNI AD Kepada Warga Kampung Yamboi Gunung Dalam Program TMMD Ke-130 Kodim 1808/Mansel | KRL Kampung Bandan–Manggarai Lewati Sudirman, KAI Periksa Masinis | Kepala Kampung Yamboi Sampaikan Beribu Terima Kasih Kepada Satgas TMMD Ke-130



































