Jakarta | Dorongan BP BUMN dan BPI Danantara menempatkan Rumah Sakit Pusat Pertamina (RSPP) sebagai proyek percontohan peningkatan layanan kesehatan di bawah pengelolaan Indonesia Healthcare Corporation (IHC). Penetapan ini memberi RSPP peran strategis: bukan hanya memperbaiki mutu pelayanan di satu rumah sakit, tetapi juga menunjukkan bagaimana fasilitas kesehatan milik negara dapat berkembang melalui transformasi yang terencana dan menyeluruh. Dengan dukungan pemegang saham dan pengelola, perubahan diharapkan mencakup berbagai aspek operasional dan pelayanan, serta menghasilkan standar yang dapat menjadi acuan.
Kepala BP BUMN sekaligus COO Danantara, Dony Oskaria, menyampaikan arahan tersebut saat bertemu jajaran direksi IHC di Wisma Danantara, sebagaimana dikutip pada Kamis (15/10/2026). Ia mendorong agar pembenahan RSPP tidak dilakukan secara parsial. Transformasi perlu menyentuh keseluruhan pengalaman dan mutu layanan, sehingga rumah sakit mampu memenuhi harapan pasien sekaligus memperkuat kepercayaan publik. Arahan ini menegaskan bahwa status sebagai proyek percontohan harus diikuti langkah nyata, konsistensi pelaksanaan, dan perhatian pada kualitas di setiap bagian layanan.
RSPP juga diarahkan untuk menjadi Indonesia hospital, flagship IHC, serta kebanggaan nasional. Istilah Indonesia hospital menggambarkan aspirasi untuk menghadirkan rumah sakit yang mampu merepresentasikan kemampuan dan standar pelayanan kesehatan Indonesia. Sebagai flagship, RSPP diharapkan menjadi wajah utama transformasi IHC, sementara perannya sebagai kebanggaan nasional menuntut kualitas yang dapat dirasakan masyarakat. Untuk mencapainya, IHC perlu menerjemahkan arahan tersebut ke dalam agenda perubahan yang terpadu dan berorientasi pada pasien. Keberhasilan RSPP akan dinilai bukan semata dari rencana atau investasi, melainkan dari peningkatan mutu layanan yang berlangsung secara nyata dan berkelanjutan. Dengan demikian, pengembangan rumah sakit ini berpotensi menjadi tolok ukur bagi upaya peningkatan layanan kesehatan di lingkungan BUMN dan memperkuat posisi IHC dalam menyediakan pelayanan bagi masyarakat Indonesia.
Transformasi RSPP dirancang sebagai upaya menyeluruh untuk mengangkat mutu layanan, bukan sekadar pembaruan pada satu aspek rumah sakit. Cakupannya meliputi peningkatan kualitas pelayanan medis dan fasilitas, pembenahan proses pelayanan, penguatan keselamatan pasien, serta perbaikan pengalaman pasien dalam setiap tahap interaksi. Dengan pendekatan tersebut, pengembangan diarahkan agar kebutuhan pasien menjadi perhatian utama, mulai dari memperoleh layanan hingga merasakan kenyamanan selama berada di lingkungan rumah sakit. Investasi yang disiapkan mendukung perubahan yang saling berkaitan, sehingga peningkatan fasilitas berjalan seiring dengan upaya memperbaiki pelayanan. Tujuannya adalah menghadirkan layanan yang lebih baik, konsisten, dan responsif terhadap kebutuhan pasien.
Peningkatan kualitas pelayanan medis menjadi salah satu fokus penting dalam perubahan ini. Mutu layanan tidak hanya bergantung pada kompetensi dan tindakan medis, tetapi juga pada kejelasan alur serta koordinasi dalam proses pelayanan. Karena itu, pembenahan proses diharapkan membuat pengalaman pasien lebih tertata dan memudahkan mereka menjalani tahapan layanan. Di sisi fasilitas, pengembangan diarahkan untuk menunjang pelayanan dan kenyamanan pasien. Rencana tersebut juga mencakup peningkatan kapasitas tempat tidur, sebagai bagian dari pengembangan rumah sakit. Perubahan fasilitas dan kapasitas ini perlu dipahami dalam lingkup rencana transformasi secara keseluruhan, tanpa memisahkannya dari perhatian terhadap mutu dan keselamatan.
Penguatan keselamatan pasien menjadi landasan bagi layanan yang dapat dipercaya. Sejalan dengan itu, pengalaman pasien hendak diperbaiki melalui layanan fisik maupun digital. Perhatian pada kedua bentuk layanan tersebut menunjukkan bahwa interaksi pasien dengan rumah sakit berlangsung tidak hanya di ruang pelayanan, tetapi juga melalui kanal digital yang mendukung prosesnya. Perbaikan pengalaman mencakup cara layanan diberikan dan kemudahan pasien dalam mengaksesnya, dengan tetap menempatkan mutu sebagai tujuan. Secara keseluruhan, transformasi RSPP menghubungkan kualitas medis, fasilitas, proses, keselamatan, kapasitas, dan pengalaman pasien dalam satu agenda pengembangan. Cakupan yang terpadu ini menjadi arah investasi Rp581 miliar untuk mendukung layanan yang lebih bermutu dan berorientasi pada pasien.
Rencana transformasi RSPP tidak hanya bertumpu pada investasi fasilitas dan teknologi, tetapi juga pada penguatan tenaga medis. IHC merencanakan penambahan 40 dokter spesialis dalam dua tahun ke depan. Langkah ini ditujukan untuk memperkuat kapasitas layanan dan memastikan kebutuhan pasien dapat ditangani oleh tenaga dengan kompetensi yang sesuai. Selain target jangka dekat tersebut, perusahaan juga menargetkan kehadiran 70 dokter spesialis baru pada 2030. Penambahan bertahap ini menjadi bagian dari upaya memperluas kemampuan rumah sakit sekaligus menjaga mutu pelayanan di tengah perubahan kebutuhan kesehatan masyarakat.
Pembaruan sumber daya manusia mencakup lebih dari perekrutan dokter spesialis. RSPP juga perlu merekrut dokter, perawat, dan pekerja baru untuk mendukung perubahan operasional serta budaya kerja. Kehadiran tenaga tambahan di berbagai fungsi diharapkan membantu layanan berjalan lebih responsif, terkoordinasi, dan berorientasi pada pasien. Rekrutmen tersebut berjalan seiring dengan kebutuhan memperkuat tim yang sudah ada, sehingga peningkatan kapasitas tidak hanya terlihat pada jumlah tenaga, tetapi juga pada kesiapan organisasi untuk menerapkan cara kerja yang lebih baik. Dengan cakupan perekrutan yang luas, perubahan dapat menyentuh proses pelayanan dan dukungan sehari-hari.
Pernyataan Dony mengenai perlunya tenaga baru dan muda dapat dipahami sebagai bagian dari agenda transformasi, bukan sekadar penambahan jumlah pegawai. Tenaga baru diharapkan membawa kompetensi dan perspektif yang mendukung pembaruan, sementara proses kerja dan kebiasaan organisasi juga perlu berkembang. Makna tersebut tetap menempatkan pembaruan budaya sebagai upaya bersama, bukan hanya tanggung jawab pegawai yang direkrut. Kolaborasi dokter, perawat, pekerja baru, dan tim yang telah bekerja di RSPP penting agar perubahan dapat berlangsung konsisten. Melalui penguatan tim dan pembaruan budaya kerja, investasi transformasi diharapkan berujung pada layanan yang semakin andal, bermutu, dan mampu menjawab kebutuhan pasien.
Rencana pengembangan Rumah Sakit Pusat Pertamina (RSPP) didukung investasi sebesar Rp581 miliar. Nilai tersebut mencerminkan skala pembenahan yang disiapkan untuk meningkatkan mutu layanan, memperbarui fasilitas, dan memperkuat kemampuan rumah sakit dalam memenuhi kebutuhan pasien. Transformasi ini dirancang berlangsung selama 24 bulan, dengan pelaksanaan yang perlu dikelola secara cermat agar setiap tahap berjalan selaras dengan sasaran mutu dan jadwal. Karena proyek mencakup pembangunan serta renovasi di lingkungan rumah sakit, perencanaan teknis dan koordinasi operasional menjadi bagian penting dari proses. Pekerjaan juga perlu mempertimbangkan kesinambungan layanan, sehingga aktivitas pengembangan dapat berlangsung tanpa mengabaikan kebutuhan pasien dan tenaga kesehatan.
Dony meminta agar pelaksanaan pengembangan dipercepat. Ia menargetkan seluruh proses dapat diselesaikan pada pertengahan 2028, sehingga manfaat investasi dapat segera dirasakan dan kapasitas layanan RSPP dapat ditingkatkan sesuai rencana. Untuk mendukung target tersebut, direksi IHC diminta memastikan kesiapan pelaksanaan sejak awal, termasuk penyusunan tahapan kerja, pengawasan, dan koordinasi antar pihak. Kecepatan tetap perlu berjalan seiring dengan ketelitian, sebab perubahan jadwal atau kendala konstruksi dapat memengaruhi mutu hasil maupun waktu penyelesaian. Dengan pengendalian proyek yang konsisten, target percepatan dapat dikejar tanpa mengurangi standar keselamatan dan kualitas yang dibutuhkan oleh fasilitas kesehatan.
Dony juga meminta direksi IHC melibatkan kontraktor profesional yang berpengalaman dalam pembangunan dan renovasi rumah sakit. Pengalaman khusus tersebut dinilai penting karena proyek fasilitas kesehatan memiliki kebutuhan teknis dan operasional yang berbeda dari bangunan umum. Kontraktor yang kompeten diharapkan mampu menjaga kualitas pekerjaan, mengantisipasi risiko, serta memenuhi ketepatan waktu sesuai jadwal yang ditetapkan. Pelaksanaan yang terukur akan membantu memastikan investasi Rp581 miliar menghasilkan perbaikan yang nyata dan berkelanjutan.
Baca juga: Gelombang Penolakan Data Center di AS Menjadi Risiko bagi Investasi | Laba Pegadaian Melonjak pada Semester I 2026, Ditopang Pembiayaan dan Investasi Emas | BSI Siapkan Operasional Cabang Jeddah, Target Mulai Layanan Januari 2027



































