Kota Paling Tidak Layak Huni | Global Liveability Index 2026 yang dirilis Economist Intelligence Unit (EIU) menempatkan Damaskus, Suriah, di posisi terbawah dalam daftar kota yang dinilai. Hasil tersebut menjadikan ibu kota Suriah sebagai kota dengan tingkat kelayakan huni paling rendah menurut pemeringkatan tahun ini. Laporan mengenai hasil indeks itu dirangkum oleh The Economic Times pada 8 Juli 2026.
Pemeringkatan EIU mencakup 173 kota di berbagai negara dan wilayah. Penilaian dilakukan melalui lima indikator utama: stabilitas, layanan kesehatan, budaya dan lingkungan, pendidikan, serta infrastruktur. Setiap indikator digunakan untuk menilai aspek berbeda yang memengaruhi kehidupan sehari-hari, mulai dari kondisi keamanan dan akses terhadap layanan dasar hingga tersedianya fasilitas pendidikan dan kualitas lingkungan perkotaan.
Kelima indikator tersebut memberikan kerangka untuk membandingkan kota-kota dengan kondisi dan konteks yang beragam. Stabilitas berkaitan dengan tingkat keamanan dan risiko gangguan, sementara layanan kesehatan mencakup ketersediaan serta mutu fasilitas medis. Aspek budaya dan lingkungan mempertimbangkan hal-hal seperti kegiatan budaya, kondisi alam, dan kenyamanan lingkungan. Pendidikan dan infrastruktur melengkapi penilaian dengan melihat dukungan bagi pembelajaran serta keandalan layanan dan fasilitas kota.
Posisi terbawah Damaskus perlu dibaca dalam batas metodologi tersebut. Indeks menggambarkan hasil penilaian berdasarkan indikator yang ditetapkan EIU, bukan gambaran menyeluruh tentang setiap aspek kehidupan atau pengalaman setiap penduduk. Pengalaman warga dapat berbeda menurut lingkungan tempat tinggal, kondisi keluarga, akses terhadap layanan, dan keadaan pribadi masing-masing. Karena itu, peringkat ini lebih tepat dipahami sebagai alat perbandingan antarkota berdasarkan seperangkat ukuran yang sama, bukan penilaian mutlak terhadap seluruh kehidupan di kota tersebut.
Dengan cakupan 173 kota dan lima bidang penilaian, indeks menyediakan cara terstruktur untuk melihat tantangan perkotaan secara lintas negara. Namun, skor dan posisi dalam daftar tetap perlu ditafsirkan bersama konteks lokal, termasuk keadaan sosial dan ekonomi yang tidak selalu tertangkap sepenuhnya oleh indikator agregat. Hasilnya menunjukkan bagaimana kota dinilai menurut kerangka EIU pada 2026, sekaligus memberi titik awal untuk memahami faktor-faktor yang memengaruhi kelayakan huni.
Damaskus menempati urutan pertama dalam daftar kota dengan tingkat kelayakan huni terendah pada 2026. Faktor utama yang memengaruhi posisinya adalah konflik berkepanjangan, yang berdampak luas terhadap keamanan dan kehidupan sehari-hari. Situasi tersebut juga memberi tekanan pada layanan kesehatan, infrastruktur, serta pelayanan publik. Ketika berbagai kebutuhan dasar perkotaan menghadapi gangguan, kemampuan warga untuk mengakses layanan yang diperlukan ikut terpengaruh. Karena itu, penilaian terhadap Damaskus tidak hanya berkaitan dengan keamanan, tetapi juga dengan bagaimana konflik membatasi fungsi penting kota. Dampak pada beragam aspek tersebut membantu menjelaskan mengapa kota ini berada di posisi terbawah dalam pemeringkatan kelayakan huni.
Tripoli, ibu kota Libya, berada di urutan kedua. Ketidakstabilan politik dan persoalan keamanan yang berlangsung selama bertahun-tahun menjadi tantangan utama bagi kehidupan di kota ini. Kondisi tersebut disertai tekanan terhadap infrastruktur dan layanan publik, sehingga kemampuan kota untuk menyediakan kebutuhan warga turut menjadi perhatian dalam penilaian. Seperti pada Damaskus, keamanan dan stabilitas berkaitan erat dengan mutu lingkungan perkotaan: gangguan pada kedua aspek itu dapat memperberat penyediaan layanan dan pemeliharaan fasilitas. Posisi Tripoli menunjukkan bahwa persoalan yang berlangsung lama dapat memengaruhi kelayakan huni secara luas, terutama ketika infrastruktur dan pelayanan publik juga berada di bawah tekanan.
Kyiv menempati posisi ketujuh, dengan perang yang masih berlangsung sebagai faktor utama dalam penilaian stabilitas. Meski demikian, beberapa aspek kehidupan perkotaan menunjukkan perbaikan. Gambaran ini memperlihatkan bahwa penilaian kota dapat mencakup kondisi yang beragam: risiko terhadap stabilitas tetap menjadi pertimbangan penting, sementara kemajuan pada sebagian aspek kehidupan sehari-hari juga dapat tercatat. Posisi Kyiv berbeda dari Damaskus dan Tripoli dalam urutan, tetapi ketiganya sama-sama menunjukkan hubungan keamanan, stabilitas, dan kelayakan huni. Dalam konteks pemeringkatan 2026, konflik serta ketidakstabilan menjadi faktor yang membayangi layanan dan kehidupan kota, meskipun kondisi dan posisi masing-masing kota tidak sepenuhnya sama.
Dhaka menempati urutan ketiga dalam daftar kota dengan tingkat kelayakan huni terendah pada 2026. Pertumbuhan penduduk dan urbanisasi yang cepat menambah tekanan pada layanan serta infrastruktur kota. Ketika semakin banyak orang tinggal dan beraktivitas di kawasan perkotaan, kebutuhan terhadap fasilitas dasar ikut meningkat, sementara kapasitas yang tersedia harus menanggung beban yang lebih besar. Kemacetan menjadi bagian dari tantangan tersebut dan dapat memengaruhi kelancaran perjalanan sehari-hari. Kombinasi pertumbuhan kota, tekanan terhadap infrastruktur, dan mobilitas yang sulit membentuk kondisi hidup yang lebih menantang bagi penduduk. Masalah-masalah ini menunjukkan bagaimana perkembangan perkotaan yang pesat dapat melampaui kemampuan layanan untuk memenuhi kebutuhan masyarakat secara memadai.
Karachi, yang berada di posisi keempat, merupakan pusat komersial Pakistan dengan kepadatan dan aktivitas ekonomi yang besar. Skala kegiatan tersebut berjalan beriringan dengan tantangan dalam menjaga stabilitas, menyediakan infrastruktur yang memadai, dan memenuhi kebutuhan layanan kesehatan. Kepadatan menambah besarnya kebutuhan yang harus ditangani, sementara aktivitas ekonomi yang tinggi membuat berbagai layanan kota perlu mendukung kehidupan dan kegiatan penduduk. Apabila infrastruktur dan layanan kesehatan menghadapi tekanan, pemenuhan kebutuhan sehari-hari dapat menjadi lebih sulit. Karena itu, kondisi Karachi memperlihatkan keterkaitan intensitas kehidupan perkotaan dan kualitas hidup: pusat ekonomi yang ramai tetap membutuhkan layanan serta sarana yang mampu mengimbangi tuntutan penduduknya.
Lagos menempati urutan keenam dan menjadi pusat keuangan Nigeria sekaligus salah satu kota terbesar di Afrika. Perkembangan kota yang pesat berjalan bersama persoalan kemacetan, keterbatasan infrastruktur, dan kebutuhan layanan kesehatan. Ketiganya berkaitan langsung dengan kemampuan kota menopang kehidupan penduduk saat kawasan perkotaan terus berkembang. Kemacetan dapat mempersulit mobilitas, sedangkan infrastruktur yang terbatas dan kebutuhan kesehatan yang terus perlu dipenuhi menambah tekanan pada layanan perkotaan. Tantangan tersebut tidak berdiri sendiri, melainkan menjadi bagian dari tuntutan yang muncul seiring pertumbuhan Lagos. Di Dhaka, Karachi, dan Lagos, besarnya skala perkotaan membuat kecukupan infrastruktur dan layanan penting bagi kualitas hidup; ketika keduanya berada di bawah tekanan, keseharian penduduk turut terdampak.
Aljir, ibu kota Aljazair, menempati urutan kelima dalam daftar tujuh kota dengan tingkat kelayakan huni terendah pada 2026. Posisi ini mencerminkan hasil penilaian yang relatif rendah pada sejumlah indikator dalam indeks kelayakan huni Economist Intelligence Unit (EIU). Penilaian tersebut membandingkan berbagai aspek kehidupan perkotaan, tetapi tidak dimaksudkan sebagai gambaran tunggal yang mencakup seluruh kondisi kota. Bagi Aljir, sejumlah tantangan pada layanan dan fasilitas perkotaan berkontribusi terhadap skor yang diperoleh.
Keterbatasan infrastruktur menjadi salah satu persoalan yang disebut dalam sumber mengenai penilaian kota ini. Ketersediaan dan mutu jaringan serta fasilitas dasar berpengaruh terhadap kemampuan kota memenuhi kebutuhan penduduknya, terutama ketika aktivitas perkotaan meningkat. Aspek budaya dan lingkungan juga disebut sebagai faktor yang ikut tercermin dalam evaluasi EIU. Gabungan indikator tersebut membantu menjelaskan mengapa Aljir berada di kelompok terbawah, meskipun skor indeks tidak dengan sendirinya menerangkan penyebab setiap persoalan ataupun perbedaannya antarwilayah kota.
Gambaran daftar secara keseluruhan menunjukkan tantangan yang tidak seragam. Konflik dan ketidakstabilan tampak menonjol dalam kondisi sejumlah kota, sehingga memengaruhi keamanan, layanan, dan kehidupan sehari-hari.



































