Jakarta | Menteri Koordinator Bidang Perekonomian Airlangga Hartarto mengatakan usulan MSCI untuk menurunkan status pasar saham Indonesia dari emerging market menjadi standalone market berdampak langsung pada pelemahan nilai tukar rupiah dan gejolak di pasar saham. Ia menegaskan bahwa kabar mengenai usulan tersebut telah memengaruhi respons pelaku pasar, meskipun perubahan klasifikasi itu belum menjadi keputusan yang diterapkan. Karena itu, perkembangan ini perlu dipahami sebagai usulan yang sedang menjadi perhatian, bukan sebagai perubahan status pasar Indonesia yang telah berlaku.
Airlangga juga menyoroti waktu pengumuman MSCI yang datang lebih cepat daripada perkiraan pemerintah. Menurut dia, MSCI sebelumnya menjanjikan pengumuman terkait penilaian tersebut pada November 2026. Namun, informasi mengenai usulan penurunan status itu muncul pada Oktober, sehingga pelaku pasar dan pemerintah harus merespons perkembangan tersebut lebih awal dari jadwal yang diperkirakan. Perbedaan waktu itu menjadi salah satu hal yang disampaikan Airlangga ketika menjelaskan tekanan yang muncul di pasar keuangan.
Ia menyampaikan keterangan tersebut kepada awak media di kantornya di Jakarta pada Jumat, 16 Oktober 2026. Dalam penjelasannya, Airlangga mengaitkan reaksi pasar dengan usulan MSCI, seraya membedakan dampak sentimen saat ini dari keputusan akhir mengenai klasifikasi Indonesia. Pelemahan rupiah dan gejolak saham, menurut konteks pernyataannya, terjadi setelah kabar itu beredar. Pemerintah mencermati perkembangan tersebut, sementara status Indonesia sebagai emerging market belum dinyatakan berubah. Dengan demikian, perhatian utama saat itu tertuju pada respons pasar terhadap usulan dan pada langkah MSCI berikutnya, bukan pada penerapan penurunan status secara langsung.
Perdagangan saham pada Jumat, 16 Oktober 2026, berlangsung di tengah tekanan setelah usulan MSCI mengemuka. Pada penutupan sesi I, Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) tercatat di level 5.233,00. Posisi tersebut mencerminkan penurunan 630,78 poin atau 10,76%. Pergerakan ini menempatkan indeks dalam kondisi melemah tajam pada paruh pertama perdagangan, sementara pelaku pasar mencermati perkembangan terkait usulan tersebut.
IHSG dibuka pada level 5.393,92. Tekanan terlihat sejak awal sesi, dengan indeks melemah 8,01% pada pukul 09.00 WIB. Setelah pembukaan, pergerakan indeks berada dalam rentang yang cukup lebar. IHSG sempat menyentuh titik terendah 5.193,22, sebelum mencatat titik tertinggi 5.404,51. Angka-angka tersebut menggambarkan perubahan indeks sepanjang sesi, tetapi tidak mengubah posisi penutupan yang tetap berada di bawah level pembukaan.
Besarnya penurunan hingga penutupan sesi I menunjukkan bahwa tekanan pasar muncul sejak awal perdagangan dan bertahan selama sesi berlangsung. Perbedaan titik terendah dan tertinggi juga menandakan adanya perubahan arah di dalam sesi, meski indeks akhirnya ditutup pada level 5.233,00. Pergerakan tersebut menjadi gambaran respons pasar saham pada hari ketika usulan MSCI menjadi perhatian, tanpa mengabaikan bahwa angka penutupan merangkum kondisi hingga sesi pertama berakhir.
Di pasar valuta asing, rupiah berada pada posisi Rp18.037 per dolar AS pada pukul 12.48 WIB. Kurs tersebut menjadi catatan lain di tengah tekanan yang terlihat pada IHSG. Dengan demikian, perkembangan pasar pada Jumat itu tercermin melalui pelemahan indeks saham serta posisi rupiah pada waktu yang disebutkan. Data sesi pertama IHSG dan kurs rupiah ini memberikan gambaran kondisi pasar pada waktu masing-masing, sementara pembahasan mengenai kecepatan pengumuman usulan MSCI menjadi bagian dari sorotan pada hari tersebut.
Airlangga menilai usulan MSCI berkaitan dengan penilaian terhadap lamanya implementasi regulasi dan langkah-langkah yang sebelumnya telah dijanjikan di pasar modal. Dalam pandangannya, perhatian tersebut tidak hanya menyangkut substansi reformasi, tetapi juga waktu yang dibutuhkan untuk menjalankannya. Karena proses itu dinilai memerlukan waktu, pemerintah dan pihak terkait perlu menjelaskan perkembangan serta tahapan pelaksanaannya secara terbuka. Penjelasan tersebut penting agar isi usulan dan respons yang disiapkan dapat dipahami secara jelas oleh pelaku pasar. Airlangga menekankan bahwa pembahasan mengenai usulan itu perlu merujuk pada komitmen yang telah disampaikan sebelumnya, termasuk langkah yang sudah dijanjikan dalam penguatan pasar modal.
Menurut Airlangga, waktu pelaksanaan menjadi bagian yang perlu diterangkan kepada pasar. Jika implementasi kebijakan membutuhkan proses, tahapan dan kemajuannya perlu disampaikan sehingga investor mengetahui bagaimana komitmen tersebut dijalankan. Ia menyoroti perlunya penjelasan mengenai lamanya proses, sejalan dengan penilaian MSCI terhadap implementasi regulasi dan langkah-langkah yang telah diumumkan. Dengan demikian, komunikasi mengenai reformasi bukan hanya menyampaikan rencana, melainkan juga menunjukkan perkembangan pelaksanaan dari waktu ke waktu. Penekanan pada penjelasan ini mempertahankan fokus pada hal yang menjadi perhatian dalam usulan tersebut: hubungan komitmen, implementasi, dan waktu yang dibutuhkan. Airlangga menyatakan perlunya proses itu dikomunikasikan dengan baik, tanpa mengabaikan langkah reformasi yang telah dijanjikan.
Airlangga juga menyampaikan bahwa reformasi pasar modal perlu tetap dijalankan. Perkembangannya harus terlihat oleh investor, baik dari dalam negeri maupun luar negeri. Pesan tersebut menempatkan pelaksanaan reformasi dan keterlihatan kemajuannya sebagai perhatian penting dalam merespons usulan MSCI. Investor perlu dapat melihat bahwa langkah yang telah dijanjikan bergerak dalam proses implementasi, sementara penjelasan tentang waktu pelaksanaan membantu mereka memahami perkembangan tersebut. Karena itu, pembahasan tidak berhenti pada pengumuman rencana atau komitmen, tetapi mencakup kemajuan yang dapat ditunjukkan kepada pasar. Airlangga menggarisbawahi perlunya menjelaskan proses yang memerlukan waktu sekaligus memastikan reformasi berjalan dan perkembangannya tampak bagi investor domestik serta internasional. Pernyataan ini menekankan kesinambungan janji, pelaksanaan, dan komunikasi perkembangan.
Menanggapi perhatian pasar terhadap usulan penilaian MSCI, Menteri Koordinator Bidang Perekonomian Airlangga Hartarto menyampaikan rencana untuk segera berkoordinasi dengan Bursa Efek Indonesia (BEI). Pertemuan tersebut diharapkan menjadi ruang untuk membahas risiko yang mungkin timbul serta merumuskan solusi yang dapat dipertimbangkan. Langkah ini menjadi penting karena pengumuman yang dinilai berlangsung cepat dapat memunculkan pertanyaan mengenai dampaknya terhadap pasar dan kesiapan pihak terkait. Namun, rencana koordinasi itu masih merupakan agenda yang akan dilakukan; belum ada hasil pembahasan yang dapat disampaikan.
Dalam koordinasi tersebut, perhatian perlu diarahkan pada pemahaman yang jelas atas risiko terkait penilaian MSCI dan pilihan penanganannya. Pembahasan dengan BEI diharapkan membantu pemerintah dan otoritas bursa melihat persoalan secara terukur, termasuk aspek yang membutuhkan perhatian lebih lanjut. Airlangga berharap solusi yang disiapkan tidak berhenti pada pernyataan umum, melainkan memiliki bentuk yang konkret. Kejelasan mengenai langkah yang diusulkan dapat membantu pihak-pihak terkait memahami arah penanganan, meskipun bentuk solusi maupun keputusan yang akan diambil belum dijelaskan.
Selain substansi solusi, Airlangga juga mengharapkan adanya linimasa yang jelas dalam rencana yang disiapkan. Linimasa tersebut penting agar langkah konkret memiliki urutan dan kerangka waktu yang dapat dipahami, bukan sekadar menjadi wacana. Meski demikian, belum tersedia informasi mengenai tenggat pelaksanaan atau tindakan yang akan dilakukan BEI. Karena itu, rencana koordinasi ini perlu dipandang sebagai langkah untuk membahas risiko dan mencari solusi, bukan sebagai tanda bahwa keputusan telah ditetapkan. Pemerintah akan berkoordinasi dengan BEI dalam waktu dekat, sementara hasil pembicaraan dan tindak lanjutnya masih menunggu proses pembahasan. Harapan Airlangga adalah agar proses itu menghasilkan langkah yang nyata serta disertai jadwal yang terang, sehingga respons terhadap isu penilaian MSCI dapat dibahas secara terarah tanpa mendahului hasil koordinasi maupun mengasumsikan tanggapan dari pihak lain.
Baca juga: Tekanan Pasar Menghantam IHSG, Seluruh Indeks Unggulan Ikut Melemah | Usulan MSCI soal Status Pasar Saham Indonesia dan Reformasi yang Dinilai Belum Cukup



































