27 Penumpang Kapal Kayu Dievakuasi Setelah Terombang-ambing di Laut Aru

oleh -67 Dilihat
oleh
27 Penumpang Kapal Kayu Dievakuasi Setelah Terombang-ambing di Laut Aru

Kabupaten Kepulauan Aru | Tim SAR gabungan mengevakuasi 27 dari total 41 penumpang kapal kayu yang mengalami mati mesin di sekitar perairan Pulau Fatudjuring, Kabupaten Kepulauan Aru, Maluku. Evakuasi dilakukan setelah kapal tersebut terombang-ambing dan tidak dapat melanjutkan perjalanan menuju tujuan. Upaya penyelamatan melibatkan unsur pencarian dan pertolongan yang bergerak menuju lokasi untuk memastikan keselamatan seluruh penumpang serta awak kapal.

Kapal kayu itu berangkat dari Pelabuhan Dobo sekitar pukul 09.30 Waktu Indonesia Timur (WIT). Dobo merupakan ibu kota Kabupaten Kepulauan Aru dan menjadi titik keberangkatan kapal menuju Desa Ngaiguli, Kecamatan Aru Selatan. Dalam perjalanan, kapal mengalami gangguan mesin ketika berada di sekitar perairan Pulau Fatudjuring. Kondisi tersebut membuat kapal tidak dapat beroperasi sebagaimana mestinya dan membutuhkan bantuan segera dari tim penyelamat.

Kepala Kantor Pencarian dan Pertolongan Basarnas Ambon, Muhamad Arafah, menjelaskan bahwa kapal tersebut membawa 41 penumpang. Menurut keterangan yang disampaikan, seluruh penumpang semula melakukan perjalanan dari Dobo menuju Desa Ngaiguli di wilayah Kecamatan Aru Selatan. Dari jumlah itu, sebanyak 27 orang telah berhasil dievakuasi oleh tim SAR gabungan. Proses penanganan dilakukan dengan mengutamakan keselamatan penumpang yang berada di kapal setelah mengalami kerusakan mesin di tengah perairan.

Gangguan pelayaran kapal kayu tersebut bermula sekitar pukul 11.00 WIT ketika mesin kapal mengalami kerusakan di perairan Laut Aru. Kerusakan itu membuat kapal kehilangan tenaga penggerak dan tidak dapat melanjutkan perjalanan sebagaimana mestinya. Awak kapal segera berupaya melakukan perbaikan untuk mengatasi masalah tersebut. Pemeriksaan dan penanganan dilakukan dengan memanfaatkan peralatan yang tersedia di kapal, namun usaha itu belum berhasil.

Mesin kapal tetap tidak kembali menyala setelah beberapa kali diupayakan. Akibatnya, kapal tidak mampu dikendalikan secara normal dan mulai terombang-ambing mengikuti arus serta kondisi angin di laut. Kapal kemudian hanyut dari posisi semula, sementara 27 penumpang dan awak kapal berada dalam situasi yang semakin tidak menentu. Ketiadaan tenaga mesin juga menyulitkan mereka untuk menentukan arah pelayaran ataupun bergerak menuju lokasi yang lebih aman.

Seiring berjalannya waktu, kondisi tersebut dinilai dapat membahayakan keselamatan jiwa para penumpang. Kapal yang terus hanyut berisiko semakin jauh dari jalur pelayaran dan menyulitkan proses pencarian apabila keadaan memburuk. Kekhawatiran keluarga di darat pun meningkat karena belum ada kepastian bahwa kapal dapat kembali beroperasi atau mencapai tujuan dengan selamat.

Pada pukul 19.15 WIT, pihak keluarga akhirnya melaporkan kejadian tersebut kepada USS Dobo. Laporan itu disampaikan untuk meminta bantuan pencarian dan pertolongan terhadap para penumpang yang berada di kapal. Informasi mengenai mesin yang rusak, kapal yang terus terombang-ambing, serta ancaman keselamatan menjadi dasar permintaan bantuan. Setelah laporan diterima, keadaan tersebut menjadi perhatian karena membutuhkan respons segera untuk mencegah risiko yang lebih besar di laut.

Menindaklanjuti laporan mengenai kapal kayu yang terombang-ambing di Laut Aru, tim SAR gabungan segera dikerahkan untuk melakukan pencarian dan evakuasi. Petugas menggunakan rigid inflatable boat atau RIB, yakni perahu karet berstruktur kaku yang dirancang untuk bergerak cepat dalam operasi penyelamatan di laut. Pengerahan tersebut dilakukan setelah adanya informasi bahwa kapal membawa puluhan penumpang dan membutuhkan pertolongan.

Berdasarkan keterangan Muhamad Arafah, tim bergerak menuju titik lokasi yang berada sekitar 15 mil laut ke arah barat daya. Perjalanan menuju area pencarian menghadapi tantangan karena operasi berlangsung pada malam hari. Jarak pandang yang terbatas membuat petugas harus meningkatkan kewaspadaan selama pelayaran, sekaligus mengandalkan koordinasi, peralatan navigasi, dan komunikasi untuk memastikan pergerakan RIB tetap menuju sasaran.

Dengan kondisi laut dan visibilitas yang tidak mudah, waktu tempuh tim diperkirakan sekitar dua jam. Petugas terus memantau informasi posisi kapal sambil menyisir area yang telah ditentukan. Upaya tersebut membuahkan hasil pada pukul 21.50 WIT. Tim SAR berhasil menemukan kapal kayu yang dilaporkan berada di tengah laut dalam keadaan masih terombang-ambing. Penemuan ini menjadi tahap penting dalam operasi karena memungkinkan petugas segera mendekati kapal, memeriksa kondisi para penumpang, serta menyiapkan proses evakuasi secara terkoordinasi. Setelah lokasi kapal dipastikan, personel di lapangan melanjutkan langkah penyelamatan dengan memperhatikan keselamatan penumpang dan awak kapal, mengingat proses pemindahan pada malam hari memerlukan kehati-hatian ekstra. Kehadiran RIB juga membantu tim mendekat dan memberikan bantuan awal di tengah kondisi perairan yang dinamis.

Keputusan evakuasi diambil setelah tim SAR gabungan berkoordinasi dengan awak kapal kayu yang sebelumnya terombang-ambing di perairan Laut Aru. Berdasarkan hasil pembicaraan tersebut, tim menilai sebagian penumpang perlu segera dibawa ke tempat yang lebih aman, terutama karena perjalanan kapal tidak dapat dilanjutkan secara normal. Proses evakuasi dilakukan dengan memperhatikan kondisi seluruh penumpang, termasuk sejumlah anak-anak yang berada di dalam kapal.

Sebanyak 27 penumpang kemudian dievakuasi menuju Kota Dobo menggunakan sarana yang dikerahkan oleh tim SAR gabungan. Pemindahan berlangsung secara bertahap dan terkendali agar setiap penumpang dapat naik dengan aman. Setibanya di Dobo, mereka diarahkan menuju Pelabuhan Dobo untuk menjalani proses penyerahan kepada pihak keluarga. Kehadiran keluarga menjadi bagian penting dalam memastikan para penumpang memperoleh dukungan setelah melalui situasi darurat di laut.

Sementara itu, 14 penumpang lainnya memilih tetap menunggu kapal lain yang diharapkan dapat menarik kapal kayu tersebut menuju Desa Fatujuring. Pilihan itu diambil berdasarkan hasil koordinasi tim penyelamat, awak kapal, dan para penumpang. Dengan demikian, tidak semua penumpang mengikuti evakuasi menuju Dobo, meskipun pemantauan terhadap keselamatan mereka tetap dilakukan dalam rangkaian operasi tersebut.

Tim SAR gabungan bersama 27 penumpang tiba di Pelabuhan Dobo pada pukul 00.08 WIT. Setelah tiba, seluruh penumpang yang dievakuasi diserahkan kepada pihak keluarga. Operasi ini memastikan 27 orang dapat meninggalkan kapal yang mengalami kendala di laut dan kembali ke daratan dengan selamat. Secara keseluruhan, seluruh 41 penumpang kapal kayu tersebut dinyatakan selamat, termasuk 14 orang yang masih menunggu proses penarikan kapal menuju Desa Fatujuring.