Yogyakarta | KAI Daop 6 Yogyakarta mencatat sebanyak 1.631.391 pelanggan menggunakan fasilitas face recognition pada boarding gate selama periode Januari hingga September 2026. Catatan tersebut memperlihatkan besarnya penggunaan teknologi pemindai wajah dalam proses boarding pelanggan kereta api di wilayah Daop 6. Angka ini menjadi informasi utama mengenai pilihan akses yang tersedia di boarding gate. Meski pemanfaatan face recognition semakin banyak digunakan, pilihan boarding secara manual tetap tersedia bagi penumpang. Kehadiran teknologi tersebut tidak berarti seluruh pelanggan harus menggunakan pemindaian wajah ketika akan melakukan boarding.
Data penggunaan itu mencakup sembilan bulan, dari Januari sampai September 2026. Dengan demikian, jumlah 1.631.391 merupakan akumulasi pelanggan yang tercatat memakai fasilitas tersebut sepanjang periode itu, bukan angka untuk satu bulan tertentu. Penyebutan jumlah ini memberi gambaran mengenai pemakaian face recognition di Daop 6, sekaligus menegaskan bahwa pilihan layanan tidak terbatas pada teknologi pemindai wajah. Penumpang tetap dapat memilih boarding manual. Informasi yang disampaikan tidak merinci jumlah pengguna masing-masing pilihan, sehingga angka tersebut tidak dapat dibaca sebagai perbandingan pelanggan face recognition dan pelanggan boarding manual.
Ketersediaan kedua pilihan menjadi bagian penting dari pemberitaan ini: fasilitas face recognition digunakan oleh lebih dari 1,6 juta pelanggan, sementara boarding manual tetap dibuka. Artinya, penggunaan teknologi tersebut berjalan berdampingan dengan pilihan manual, bukan menggantikannya sepenuhnya. Pelanggan yang hendak bepergian dapat mengetahui bahwa pemindaian wajah merupakan salah satu opsi di boarding gate Daop 6, sedangkan layanan manual juga masih tersedia. Informasi ini tidak menjelaskan ketentuan atau langkah khusus untuk menggunakan masing-masing pilihan, sehingga tidak perlu menarik kesimpulan mengenai persyaratan maupun prosedurnya. Fokus catatan tetap pada jumlah penggunaan face recognition dalam periode Januari–September 2026 dan keberlanjutan pilihan boarding manual bagi penumpang.
Sepanjang sembilan bulan pertama 2026, penggunaan layanan face recognition untuk proses boarding tercatat di sejumlah stasiun wilayah Daop 6 Yogyakarta. Di stasiun utama, Stasiun Yogyakarta, yang juga dikenal sebagai Stasiun Tugu, menjadi lokasi dengan jumlah pengguna tertinggi. Sebanyak 907.520 pelanggan memanfaatkan layanan tersebut di stasiun ini. Angka itu menunjukkan besarnya penggunaan teknologi pengenalan wajah pada salah satu simpul perjalanan kereta api utama di Yogyakarta. Data tersebut menggambarkan jumlah pelanggan yang menggunakan layanan selama periode Januari hingga September, bukan jumlah perjalanan atau keberangkatan kereta yang dilayani. Penyebutan dua nama stasiun merujuk pada lokasi yang sama.
Di Stasiun Solo Balapan, jumlah pelanggan pengguna face recognition mencapai 361.409 orang selama periode yang sama. Sementara itu, Stasiun Lempuyangan mencatat 271.462 pelanggan. Kedua angka tersebut berada di bawah catatan Stasiun Yogyakarta, tetapi tetap memperlihatkan pemanfaatan layanan di stasiun-stasiun penting Daop 6. Jika dijumlahkan, ketiga stasiun itu mencatat 1.540.391 pengguna. Perhitungan ini hanya mencakup angka Stasiun Yogyakarta atau Tugu, Solo Balapan, dan Lempuyangan; angka tersebut tidak boleh disamakan dengan keseluruhan pengguna di semua stasiun wilayah Daop 6 apabila cakupan datanya lebih luas.
Rincian per stasiun memberi gambaran yang lebih jelas mengenai persebaran pemakaian, sekaligus membedakan kontribusi masing-masing lokasi. Stasiun Yogyakarta menyumbang porsi terbesar dari total tiga stasiun, disusul Solo Balapan, kemudian Lempuyangan. Dalam membaca data, penting untuk mempertahankan periode penghitungan sembilan bulan pertama 2026 dan memastikan bahwa angka pengguna tidak dianggap sebagai jumlah pelanggan unik sepanjang tahun. Pelanggan dapat melakukan perjalanan pada waktu berbeda, sedangkan data yang tersedia di sini merujuk pada catatan penggunaan layanan. Dengan demikian, angka-angka tersebut memberikan dasar perbandingan yang konsisten tiga stasiun utama, tanpa mengubah jumlah masing-masing maupun menjumlahkannya lebih dari sekali.
Penumpang yang ingin menggunakan layanan face recognition perlu mendaftarkan data diri terlebih dahulu. Pendaftaran dapat dilakukan melalui aplikasi Access by KAI, sehingga proses persiapan bisa diselesaikan sebelum tiba di stasiun. Bagi penumpang yang membutuhkan bantuan, pendaftaran juga dapat dilakukan dengan pendampingan petugas di stasiun. Dengan demikian, fasilitas ini dapat diakses melalui dua cara sesuai kebutuhan dan kesiapan masing-masing penumpang.
Setelah data terdaftar, proses pemeriksaan tiket di pintu masuk dirancang sederhana. Penumpang cukup berdiri di depan perangkat yang tersedia dan memindai wajah sesuai arahan. Sistem kemudian mencocokkan wajah dengan identitas serta data tiket secara otomatis. Jika verifikasi berhasil, penumpang dapat melanjutkan perjalanan menuju kereta tanpa harus memperlihatkan kartu identitas fisik maupun boarding pass kepada petugas.
Manajer Humas KAI Daop 6 Yogyakarta, Feni Novida Saragih, menjelaskan bahwa pendaftaran data menjadi langkah penting agar sistem dapat mengenali penumpang dan memeriksa kesesuaian informasi perjalanan. Karena itu, calon pengguna sebaiknya memastikan proses pendaftaran telah dilakukan sebelum menggunakan gerbang pemeriksaan. Penumpang juga perlu mengikuti petunjuk pada perangkat agar pemindaian berlangsung lancar dan data dapat terbaca dengan baik.
Penggunaan teknologi pengenalan wajah ini membantu menyederhanakan tahapan boarding. Penumpang tidak perlu menyiapkan dokumen perjalanan untuk ditunjukkan satu per satu saat melewati pemeriksaan, sementara pencocokan identitas dan tiket dilakukan melalui sistem. Kemudahan tersebut dapat mendukung alur masuk yang lebih praktis, terutama ketika penumpang sudah mendaftarkan data dan siap mengikuti proses verifikasi di gerbang.
Meski demikian, layanan face recognition merupakan pilihan fasilitas, bukan satu-satunya cara untuk melakukan boarding. Penumpang yang belum mendaftarkan data atau memilih tidak menggunakan pemindaian wajah tetap dapat mengikuti prosedur pemeriksaan secara manual. Ketersediaan pilihan ini memberi keleluasaan bagi pelanggan untuk menyesuaikan cara boarding dengan kondisi masing-masing. Informasi mengenai alur yang berlaku dapat ditanyakan kepada petugas stasiun, termasuk apabila penumpang mengalami kendala saat mendaftar atau saat sistem memproses pemindaian. Dengan memahami tahapan tersebut, pelanggan dapat menyiapkan perjalanan dengan lebih nyaman dan memilih metode pemeriksaan yang sesuai.Feni menjelaskan bahwa penggunaan teknologi pengenalan wajah merupakan bagian dari transformasi digital KAI. Penerapan ini diarahkan untuk membuat pelayanan perjalanan kereta api lebih praktis, efisien, dan ramah lingkungan, sekaligus menghadirkan pengalaman yang lebih nyaman bagi pelanggan. Dengan memanfaatkan teknologi tersebut dalam proses layanan, KAI berupaya menyederhanakan tahapan yang perlu dilalui penumpang sebelum memasuki area keberangkatan. Perubahan ini menjadi salah satu cara untuk menyesuaikan pelayanan dengan kebutuhan pelanggan, tanpa menghilangkan pilihan proses yang tersedia bagi mereka.
Dalam alur masuk, pengenalan wajah dapat membantu mempercepat antrean sehingga pergerakan pelanggan menuju area keberangkatan berlangsung lebih lancar. Proses yang lebih ringkas juga mendukung efisiensi operasional, karena pelayanan dapat dijalankan dengan cara yang lebih praktis. Manfaat tersebut merupakan bagian dari tujuan transformasi digital, yakni memanfaatkan teknologi untuk menunjang layanan sekaligus mengelola proses operasional secara lebih efisien. Dengan demikian, pengenalan wajah tidak hanya berfungsi sebagai teknologi dalam proses perjalanan, tetapi juga mendukung peningkatan kualitas pelayanan yang dirasakan pelanggan.
Aspek lingkungan turut menjadi pertimbangan dalam penerapan layanan digital ini. Penggunaan pengenalan wajah membantu mengurangi kebutuhan terhadap tiket cetak berbahan kertas, sehingga sejalan dengan upaya KAI untuk menghadirkan layanan yang lebih ramah lingkungan. Pengurangan penggunaan kertas merupakan salah satu kontribusi dari proses digitalisasi terhadap keberlanjutan lingkungan. Feni menyampaikan keterangan tersebut di Yogyakarta pada Selasa, 20 Oktober. Ia menempatkan teknologi pengenalan wajah dalam rangkaian upaya untuk membuat perjalanan lebih nyaman, mendukung kelancaran antrean, meningkatkan efisiensi operasional, serta mengurangi penggunaan kertas cetak tiket.
Baca juga: Raymond Tambah 1 Juta Saham Chandra Asri, Kepemilikan Naik Jadi 10,62 Juta



































