Ekspor Produk Hilirisasi Indonesia Diperkirakan Tembus US$50 Miliar pada 2026

oleh -135 Dilihat
oleh
DEN Paparkan Opsi Menjaga Harga dan Ketepatan Subsidi BBM kepada Prabowo

Jakarta | Dewan Ekonomi Nasional (DEN) memperkirakan nilai ekspor produk hasil hilirisasi Indonesia dapat mencapai sekitar US miliar hingga akhir 2026. Perkiraan tersebut mencakup sejumlah komoditas dan produk industri yang terkait dengan pengolahan nikel dan aluminium, serta komponen baterai kendaraan listrik. Proyeksi ini menggambarkan potensi peningkatan nilai ekspor ketika bahan mentah diproses lebih lanjut di dalam negeri dan dipasarkan sebagai produk bernilai tambah lebih tinggi. Angka tersebut merupakan perkiraan untuk sektor-sektor hilirisasi yang disebutkan, bukan nilai ekspor seluruh komoditas Indonesia.

Jika menggunakan asumsi kurs Rp18.000 per dolar AS, nilai US$50 miliar setara dengan sekitar Rp900 triliun atau Rp900-an triliun. Perhitungan rupiah tersebut bersifat indikatif karena nilai konversi dapat berubah mengikuti pergerakan kurs. Meski demikian, gambaran nominal itu menunjukkan besarnya potensi kegiatan ekspor yang diperkirakan dapat ditopang oleh industri pengolahan dan rantai pasok terkait. Besaran aktual tetap bergantung pada realisasi produksi, kapasitas pengolahan, permintaan pasar, serta kondisi perdagangan internasional sampai penghujung 2026.

Proyeksi DEN tersebut lebih tinggi dibandingkan nilai ekspor produk hilirisasi yang tercatat sekitar US$34,5 miliar pada 2024. Selisih kedua angka mencapai kurang lebih US$15,5 miliar, atau menunjukkan kenaikan hampir 45% dari nilai pada 2024. Perbandingan ini memberi gambaran mengenai skala pertumbuhan yang diharapkan dalam kurun waktu menuju 2026, meskipun angka proyeksi belum berarti target itu pasti tercapai. Perkiraan tersebut disampaikan oleh Septian Hario Seto, anggota sekaligus sekretaris eksekutif DEN. Dengan demikian, angka US$50 miliar mencerminkan pandangan DEN mengenai peluang ekspor hilirisasi nikel, aluminium, dan komponen baterai kendaraan listrik, sementara perkembangan selanjutnya akan ditentukan oleh kemampuan sektor terkait memenuhi kebutuhan pasar dan menjaga kelangsungan produksi.

Hilirisasi Indonesia tidak hanya bertumpu pada pengolahan nikel. Aluminium juga berkembang sebagai salah satu komoditas yang dapat memperkuat nilai ekspor produk olahan dan mendukung target peningkatan ekspor hilirisasi nasional. Perkembangan ini mencerminkan upaya memperluas basis industri pengolahan mineral, sehingga kontribusi terhadap perekonomian tidak hanya bergantung pada satu jenis bahan baku. Dengan kapasitas produksi dan investasi yang terus bertambah, produk aluminium berpotensi memainkan peran semakin besar dalam perdagangan luar negeri Indonesia.

Seto memperkirakan nilai ekspor produk aluminium Indonesia pada 2026 berada di kisaran US$7 miliar hingga US$7,2 miliar. Angka tersebut lebih dari dua kali lipat nilai sekitar US$3,5 miliar pada 2025. Perkiraan itu menunjukkan potensi kenaikan yang signifikan dalam waktu relatif singkat, sekaligus menegaskan bahwa pengolahan aluminium dapat menjadi salah satu penopang pertumbuhan ekspor. Peningkatan nilai ekspor tersebut juga memperlihatkan peluang untuk meningkatkan manfaat ekonomi dari sumber daya mineral melalui kegiatan produksi di dalam negeri.

Prospek jangka menengahnya turut mendapat perhatian Dewan Energi Nasional (DEN). DEN menilai nilai ekspor hasil hilirisasi aluminium berpotensi mencapai US$10 miliar ke depan, terutama apabila investasi pada smelter-smelter aluminium baru di Indonesia terus bertambah. Pembangunan fasilitas pengolahan baru dapat memperluas kapasitas produksi dan membuka ruang bagi peningkatan pasokan produk olahan. Namun, besarnya peluang itu akan bergantung pada realisasi investasi, kesiapan fasilitas, serta kemampuan industri untuk mengoperasikan kapasitas baru secara produktif.

Investasi smelter juga penting karena dapat memperkuat rantai industri aluminium di dalam negeri. Kapasitas pengolahan yang meningkat berpeluang mendukung ketersediaan bahan bagi industri lanjutan dan memperbesar ragam produk yang dapat ditawarkan ke pasar ekspor. Dengan demikian, pencapaian nilai ekspor yang lebih tinggi bukan semata-mata ditentukan oleh pembangunan fasilitas, tetapi juga oleh kesinambungan produksi dan tersedianya pasar. Jika faktor-faktor tersebut berjalan seiring, aluminium dapat melengkapi komoditas lain dalam agenda hilirisasi dan membantu menjaga pertumbuhan ekspor produk olahan Indonesia hingga 2026 dan sesudahnya.

Komponen baterai lithium menjadi salah satu bidang hilirisasi yang kian berkembang dan mendapat perhatian dalam upaya memperluas basis industri Indonesia. Seto menyebut Indonesia telah menjadi salah satu sumber produksi komponen baterai lithium, termasuk anoda dan katoda. Perkembangan ini memperlihatkan bahwa hilirisasi tidak hanya berlangsung pada pengolahan mineral yang tersedia di dalam negeri, tetapi juga dapat mencakup tahapan produksi lanjutan yang terhubung dengan kebutuhan industri masa depan. Baterai menjadi bagian penting dalam berbagai aplikasi, termasuk kendaraan listrik dan penyimpanan energi, sehingga rantai pasok komponennya bernilai strategis.

Menurut Seto, Indonesia juga telah memiliki fasilitas pemurnian lithium. Keberadaan fasilitas tersebut perlu dipahami sebagai bagian dari pengembangan kapasitas pengolahan dan industri, bukan sebagai bukti bahwa Indonesia mempunyai cadangan lithium. Seto menegaskan bahwa negara ini dapat melakukan industrialisasi atas bahan yang tidak dimiliki secara langsung. Dengan kata lain, bahan baku dapat diperoleh melalui rantai pasok yang sesuai, lalu diproses lebih lanjut di dalam negeri untuk menghasilkan bahan atau komponen dengan nilai tambah lebih tinggi. Pembedaan ketersediaan cadangan dan kemampuan mengolah menjadi penting agar gambaran mengenai ekosistem baterai tetap akurat.

Produksi anoda dan katoda serta fasilitas pemurnian dapat mendukung terbentuknya ekosistem industri baterai yang lebih lengkap. Kegiatan itu berpotensi menghubungkan pengolahan bahan, manufaktur komponen, investasi, dan kebutuhan pasar, sekaligus memperluas peluang ekspor produk hilirisasi. Namun, pengembangan ekosistem tersebut juga bergantung pada kesinambungan pasokan bahan, teknologi, tenaga kerja terampil, infrastruktur, dan kepastian usaha. Karena itu, perhatian terhadap komponen baterai lithium menunjukkan arah diversifikasi hilirisasi: Indonesia tidak hanya mengandalkan pengolahan komoditas yang memiliki sumber daya domestik, tetapi juga membangun kapasitas untuk mengambil bagian dalam rantai nilai industri global. Pendekatan ini memperluas peluang industrialisasi tanpa menyamakan kemampuan produksi dengan kepemilikan sumber daya mineral tertentu.

Seto menyampaikan proyeksi ekspor produk hilirisasi Indonesia yang diperkirakan mencapai US$50 miliar pada 2026 dalam konferensi pers di Istana Negara, Selasa, 21 Oktober 2026. Paparan tersebut disampaikan sebagai bagian dari penyampaian capaian kepada Presiden Prabowo Subianto. Dengan demikian, angka yang disebut bukan sekadar target industri, melainkan proyeksi pemerintah mengenai nilai ekspor yang dapat dicapai hingga penghujung tahun berdasarkan perkembangan sektor hilirisasi.

Dalam pemaparan itu, cakupan proyeksi meliputi produk hasil pengolahan nikel, aluminium, serta komponen baterai lithium. Ketiganya menjadi bagian dari upaya meningkatkan nilai tambah komoditas di dalam negeri sebelum dipasarkan ke luar negeri. Pengolahan lanjutan memungkinkan Indonesia mengekspor produk yang telah melalui tahapan produksi lebih tinggi, alih-alih hanya mengandalkan bahan mentah. Namun, angka US$50 miliar merujuk pada keseluruhan kategori yang disebut dalam proyeksi, bukan nilai ekspor dari satu komoditas tertentu.

Seto juga mengaitkan proyeksi tersebut dengan kenaikan hampir 45 persen. Perbandingannya menggunakan perkiraan nilai ekspor hilirisasi pada 2026 sebesar US$50 miliar dan angka ekspor pada 2024 yang berada di sekitar US$34,5 miliar. Karena angka 2026 masih berupa perkiraan hingga akhir tahun, pencapaian akhirnya tetap bergantung pada realisasi ekspor selama periode tersisa. Perbandingan itu memberi gambaran tentang besarnya pertumbuhan yang diharapkan dalam rentang dua tahun, sekaligus menjelaskan dasar persentase kenaikan yang disampaikan dalam konferensi pers.

Penyampaian kepada Presiden menempatkan proyeksi ekspor tersebut dalam konteks evaluasi capaian hilirisasi nasional. Nilai ekspor menjadi salah satu indikator untuk melihat hasil pengembangan industri pengolahan, di samping kapasitas produksi dan keterhubungan dengan pasar internasional.

Baca juga: Prabowo Disiapkan Resmikan Hilirisasi Kratom dan Kemenyan pada Maret 2027 | Api di Arjuno–Ringgit Bergerak ke Singosari, Jarak ke Permukiman Diperkirakan 2–3 Kilometer | Dua UMKM Binaan Peruri Jajaki Peluang Ekspor di Trade Expo Indonesia 2026