Dari Modal Rp2 Juta hingga Tiga Gerai Ayam Geprek

oleh -77 Dilihat
oleh
Dari Modal Rp2 Juta hingga Tiga Gerai Ayam Geprek

PALEMBANG, SUMATERA SELATAN — Berdasarkan laporan yang diterbitkan pada 7 Oktober 2026, Seorang ibu rumah tangga di Palembang, Sumatra Selatan, menunjukkan bahwa keterbatasan modal bukan penghalang untuk membangun usaha yang berkelanjutan. Berawal dari pinjaman sebesar Rp2 juta melalui program kredit Mekaar, ia secara bertahap mengembangkan bisnis kuliner hingga mampu memiliki tiga gerai ayam geprek. Perjalanan tersebut menjadi contoh bagaimana pembiayaan yang mudah diakses dapat membantu perempuan meningkatkan pendapatan keluarga sekaligus menciptakan kegiatan ekonomi di lingkungan sekitar.

Kisah keberhasilan itu disampaikan Wakil Menteri Koordinator Bidang Perekonomian, Dradjad Wibowo, dalam acara di Kantor Kemenko Perekonomian, Jakarta, pada Rabu, 7 Oktober 2026. Ia menyoroti perkembangan usaha penerima manfaat sebagai gambaran nyata bahwa dukungan permodalan, apabila disertai kemauan untuk bekerja dan mengelola bisnis secara disiplin, dapat memberikan dampak berarti bagi kehidupan masyarakat. Modal awal yang relatif kecil digunakan untuk membeli bahan baku, menyiapkan perlengkapan memasak, serta memulai penjualan ayam geprek kepada pelanggan di sekitar tempat tinggalnya.

Seiring meningkatnya permintaan, usaha tersebut tidak berhenti pada skala rumahan. Keuntungan diputar kembali untuk menambah kapasitas produksi, memperbaiki pelayanan, dan membuka lokasi penjualan baru. Dari satu usaha sederhana, bisnisnya kemudian berkembang menjadi tiga gerai ayam geprek yang melayani lebih banyak konsumen. Pertumbuhan ini sekaligus memperlihatkan pentingnya ketekunan, pencatatan keuangan, dan kemampuan membaca peluang pasar dalam mengembangkan usaha mikro.

Bagi keluarga, peningkatan skala bisnis memberikan sumber penghasilan yang lebih kuat dan stabil. Bagi masyarakat, usaha itu berpotensi membuka lapangan kerja serta menggerakkan aktivitas ekonomi lokal. Pengalaman ibu rumah tangga tersebut memperlihatkan bahwa kredit Mekaar tidak sekadar menyediakan dana, tetapi juga dapat menjadi pijakan awal bagi penerima manfaat untuk membangun kemandirian ekonomi. Keberhasilannya memperkuat pesan bahwa program pembiayaan yang tepat sasaran dapat membantu pelaku usaha kecil tumbuh secara bertahap, dari modal awal Rp2 juta hingga menjadi bisnis dengan beberapa gerai.

Setelah menerima modal sebesar Rp2 juta, ibu rumah tangga tersebut memanfaatkan dana itu untuk membeli peralatan penggorengan. Pembelian alat menjadi langkah awal yang penting karena perlengkapan tersebut dapat langsung digunakan untuk memulai kegiatan produksi. Dengan peralatan yang tersedia, ia kemudian membuka usaha berjualan gorengan. Pilihan ini memungkinkan modal yang terbatas dipakai secara bertahap, mulai dari menyiapkan bahan, mengolah adonan, menggoreng, hingga menjual hasilnya kepada pelanggan.

Usaha gorengan tersebut menjadi pengalaman awal dalam mengelola kegiatan usaha secara mandiri. Ia tidak hanya mengandalkan peralatan yang telah dibeli, tetapi juga berupaya menambah pengetahuan mengenai cara membuat dan menjual produk. Salah satu sumber pembelajarannya adalah video-video di YouTube. Melalui berbagai video itu, ia mempelajari teknik yang relevan dengan kegiatan usahanya, kemudian menerapkan pengetahuan yang diperoleh dalam proses sehari-hari. Pembelajaran tersebut mencakup cara mengolah makanan serta menyiapkan produk agar dapat dijual dengan lebih baik.

Pemanfaatan modal secara langsung dan kemauan untuk belajar membuat usaha gorengan dapat mulai berjalan dari skala sederhana. Setiap kegiatan, mulai dari penggunaan alat penggorengan hingga penjualan, menjadi bagian dari proses membangun keterampilan dan pengalaman. Dalam keterangan Dradjad, suaminya bekerja sebagai tukang batu. Sementara itu, ia menjalankan usaha gorengan dengan memanfaatkan modal yang diterima dan pengetahuan yang dipelajari secara mandiri. Tahap awal ini menunjukkan bahwa peralatan sederhana, praktik langsung, dan pembelajaran melalui media digital dapat menjadi dasar untuk mengembangkan kegiatan usaha secara bertahap.

Pendampingan dari Kementerian Koordinator Bidang Perekonomian menjadi salah satu unsur yang membantu penerima modal memahami cara mengembangkan usaha secara bertahap. Berdasarkan keterangan narasumber, dukungan tersebut tidak berhenti pada pemberian modal, tetapi juga mencakup proses pemberdayaan agar pelaku usaha mampu mengelola peluang, mengenali kebutuhan pasar, dan mengambil keputusan dengan lebih percaya diri. Pendekatan ini membantu penerima modal melihat usahanya sebagai kegiatan yang dapat terus dikembangkan, bukan sekadar sumber penghasilan harian.

Dalam proses pendampingan, penerima modal mendapatkan bantuan untuk memahami berbagai tahapan produksi. Pengetahuan mengenai pemilihan bahan, pengolahan, kebersihan, konsistensi rasa, serta pengaturan proses kerja menjadi bagian penting yang dipelajari. Narasumber juga menjelaskan bahwa YouTube dimanfaatkan sebagai sumber pengetahuan tambahan. Melalui video, ia mempelajari cara membuat produk, mengembangkan menu, dan menerapkan teknik yang sebelumnya belum dikuasai. Pendampingan membantu menghubungkan informasi tersebut dengan praktik usaha sehari-hari sehingga pengetahuan dari internet tidak hanya berhenti sebagai referensi.

Perkembangan usaha kemudian terlihat dari perubahan jenis produk yang dijual. Menurut keterangan narasumber, usaha tersebut pada awalnya berfokus pada penjualan gorengan. Dengan pengalaman produksi, pembelajaran mandiri, serta dukungan pemberdayaan, kegiatan usaha berkembang ke bidang kuliner yang lebih spesifik, yaitu ayam geprek. Perubahan ini menunjukkan adanya proses mencoba, mengevaluasi, dan menyesuaikan produk dengan kemampuan serta permintaan konsumen.

Dari usaha sederhana tersebut, narasumber menyebutkan bahwa bisnisnya dapat bertumbuh hingga membuka tiga gerai ayam geprek. Pencapaian itu tidak semata-mata dipandang sebagai hasil modal awal, melainkan juga sebagai buah dari kemauan belajar, penerapan pengetahuan, dan pendampingan yang diterima. Keterangan narasumber menggambarkan bahwa dukungan berkelanjutan dapat membantu penerima modal meningkatkan keterampilan sekaligus memperluas skala usaha secara lebih terarah.

Perkembangan usaha ibu rumah tangga tersebut menunjukkan perubahan yang berarti sejak memulai bisnis dengan modal Rp2 juta. Usaha ayam geprek yang dirintis secara sederhana kini telah berkembang menjadi tiga gerai. Pertumbuhan ini mencerminkan kemampuan pelaku usaha dalam mempertahankan kegiatan bisnis sekaligus memperluas jangkauan layanan kepada pelanggan. Tiga gerai tersebut menjadi hasil dari proses yang dijalankan secara bertahap, dengan pengalaman dan pengelolaan usaha yang terus berkembang.

Selain melayani konsumen secara langsung, usaha tersebut juga berhasil memperoleh kepercayaan dari instansi pemerintah. Ibu rumah tangga itu kini menjadi salah satu vendor bagi instansi pemerintah ketika ada rapat. Peran sebagai penyedia makanan untuk kebutuhan rapat memperlihatkan bahwa produk usahanya telah menjangkau kebutuhan pelanggan institusional. Posisi tersebut turut memperlihatkan adanya peluang bagi usaha kuliner berskala kecil untuk mendapatkan pesanan di luar penjualan harian di gerai.

Perkembangan usaha ini juga berjalan beriringan dengan pencapaian keluarga. Anaknya berhasil menyelesaikan pendidikan hingga lulus sebagai sarjana ekonomi. Pencapaian tersebut menjadi bagian penting dari perjalanan keluarga yang dibangun melalui usaha ayam geprek, sekaligus menunjukkan dampak usaha terhadap kehidupan rumah tangga. Kisah ini memperlihatkan bahwa usaha yang diawali dengan modal terbatas dapat berkembang apabila dijalankan secara konsisten dan mampu memanfaatkan kesempatan yang tersedia.

Dradjad menyatakan bahwa Kementerian Koordinator Bidang Perekonomian akan terus mendorong pelaku UMKM, terutama kelompok yang berada pada desil-desil bawah, agar dapat mengembangkan usaha menjadi lebih besar dan sukses. Pernyataan tersebut menegaskan pentingnya keberlanjutan dukungan bagi pelaku usaha kecil, sehingga mereka memiliki kesempatan untuk meningkatkan skala usaha dan mencapai perkembangan yang lebih baik.

Response (1)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *