An-Nur, Masjid Terapung Jakarta dengan Rupa Bahtera

oleh -135 Dilihat
oleh
An-Nur, Masjid Terapung Jakarta dengan Rupa Bahtera

Jakarta | Masjid An-Nur di kawasan Pantai Ancol, Jakarta Utara, memiliki keunikan yang langsung membedakannya dari banyak masjid lain di ibu kota: bangunannya terapung di permukaan laut, bukan berdiri di atas daratan. Posisi tersebut menjadi inti identitas masjid ini sekaligus alasan keberadaannya menarik perhatian pengunjung. Di tengah lingkungan pesisir Ancol, An-Nur memperlihatkan bagaimana sebuah rumah ibadah dapat hadir dengan rancangan yang tidak mengikuti bentuk masjid pada umumnya. Keunikannya bukan semata-mata terletak pada nama atau lokasinya, melainkan juga pada gagasan arsitektur yang mendasari bangunan tersebut.

Alih-alih menggunakan rupa masjid berkubah yang lazim ditemui, rancangan An-Nur mengambil inspirasi dari kapal. Pilihan ini memberi bangunan tersebut karakter yang berbeda, selaras dengan lokasinya di atas permukaan laut. Inspirasi bahtera menjadi gagasan utama desain, sehingga An-Nur mudah dikenali sebagai masjid dengan pendekatan arsitektur yang khas. Perbedaan tersebut dapat dipahami tanpa perlu membandingkannya secara berlebihan dengan masjid lain: An-Nur memang menawarkan bentuk perancangan yang tidak biasa, sementara fungsi utamanya tetap sebagai masjid. Perancangnya adalah Andra Matin, arsitek Indonesia yang bertanggung jawab atas rancangan bangunan ini.

Luas bangunan Masjid An-Nur tercatat mencapai 2.241 meter persegi. Angka tersebut memberi gambaran mengenai skala bangunan yang berada di permukaan laut Ancol, sekaligus melengkapi informasi dasar tentang masjid ini. Dengan lokasi terapung, inspirasi kapal, dan rancangan karya Andra Matin, An-Nur memiliki identitas yang bertumpu pada hubungan arsitektur dan konteks tempatnya. Bagi orang yang mencari informasi tentang masjid terapung Jakarta, fakta-fakta tersebut menjadi pengenalan penting sebelum menelusuri kisah atau aspek lain dari bangunan ini. An-Nur bukan masjid yang berdiri di daratan pesisir, melainkan bangunan di atas laut, dengan rancangan yang mengambil gagasan dari bahtera. Keunikan inilah yang menjadikan Masjid An-Nur salah satu bangunan ibadah yang menonjol di kawasan Ancol.

Rancangan Masjid An-Nur menampilkan siluet yang menyerupai bahtera, menjadikan bentuk kapal sebagai gagasan utama dalam penampilan arsitekturnya. Pilihan tersebut berkaitan dengan kekayaan maritim Indonesia, sebuah identitas yang tercermin melalui sejarah dan kehidupan masyarakat di wilayah kepulauan. Dalam rancangan ini, bentuk bahtera tidak hanya hadir sebagai gambaran visual, tetapi juga menjadi susunan elemen yang dapat dikenali pada bangunan. Hubungan masjid dan kapal disampaikan melalui tiga bagian utama, yaitu badan kapal, layar kapal, dan tiang-tiang kapal. Ketiganya dirangkai agar rupa bangunan memberi kesan bahtera tanpa menghilangkan karakter masjid.

Badan kapal menjadi bagian yang membentuk kesan utama dari siluet tersebut. Massa bangunan disusun dengan garis dan proporsi yang mengingatkan pada tubuh kapal, sehingga tampilan masjid dapat dibaca sebagai bentuk bahtera. Di atasnya, layar kapal menjadi elemen yang memperkuat gambaran itu. Kehadiran bagian menyerupai layar melengkapi hubungan visual bangunan dan kapal, sekaligus membuat bentuknya tampak khas dari lingkungan sekitarnya. Tiang-tiang kapal turut menjadi unsur pembentuk komposisi. Penempatannya menghadirkan bagian-bagian yang menyerupai tiang pada sebuah bahtera, melengkapi badan dan layar dalam satu gagasan arsitektur yang utuh.

Selain siluet kapal, bentuk dasar bangunan menyerupai bintang bersudut lima. Bentuk ini terinspirasi dari lima rukun Islam. Geometri tersebut menjadi landasan lain dalam rancangan masjid, berdampingan dengan gagasan bahtera yang merujuk pada kekayaan maritim Indonesia. Komposisi bangunan juga dibagi menjadi lima bagian. Pembagian itu melambangkan lima waktu salat dalam sehari. Dengan demikian, angka lima muncul dalam dua aspek yang berbeda: pada bentuk dasar bintang bersudut lima yang terinspirasi oleh lima rukun Islam, serta pada pembagian komposisi yang mengacu pada lima waktu salat. Kedua hubungan simbolis ini dinyatakan melalui bentuk dan susunan bangunan, tanpa mengubah elemen-elemen arsitektur yang membentuknya.

Keseluruhan rancangan mempertemukan siluet bahtera dengan geometri bintang dan komposisi lima bagian. Badan kapal, layar, serta tiang-tiangnya membangun citra maritim, sementara bentuk dasar dan pembagian bangunan menampilkan rujukan pada angka lima. Unsur-unsur tersebut dapat dikenali sebagai bagian dari bahasa arsitektur An-Nur. Melalui susunan ini, masjid memiliki rupa yang mengingatkan pada kapal sekaligus memperlihatkan bentuk dan komposisi yang terkait dengan unsur-unsur Islam yang disebutkan dalam rancangan.

Masjid An-Nur dirancang untuk menampung jemaah dalam jumlah yang cukup besar, baik di ruang utama maupun di area plaza. Berdasarkan angka yang tersedia, bagian dalam masjid dapat digunakan oleh sekitar 600 jemaah. Ruang ini menjadi tempat utama untuk melaksanakan salat berjemaah dan berbagai kegiatan keagamaan. Sementara itu, plaza di luar bangunan menyediakan ruang tambahan bagi sekitar 300 jemaah. Area terbuka tersebut dapat dimanfaatkan ketika jumlah pengunjung meningkat atau saat kegiatan masjid membutuhkan tempat yang lebih luas.

Dengan memperhitungkan kapasitas kedua area tersebut, daya tampung keseluruhan Masjid An-Nur mencapai sekitar 900 jemaah. Angka ini menggambarkan kemampuan masjid untuk melayani masyarakat dalam skala cukup besar, termasuk pada waktu ibadah atau acara yang dihadiri banyak orang. Pembagian kapasitas ruang dalam dan plaza juga memberi pilihan bagi jemaah untuk beribadah di area yang sesuai dengan kondisi dan kebutuhan. Kehadiran ruang luar sebagai bagian dari daya tampung membuat plaza bukan sekadar pelengkap tampilan, tetapi juga berperan dalam mendukung fungsi masjid.

Selain kapasitasnya, nama An-Nur memiliki makna yang mencerminkan harapan bagi masjid dan umat yang mengunjunginya. Menurut informasi pengurus masjid, An-Nur berasal dari bahasa Arab dan berarti “cahaya”. Makna ini dilekatkan pada cita-cita agar masjid menjadi tempat yang memancarkan cahaya keimanan, ilmu pengetahuan, kedamaian, dan keberkahan bagi seluruh umat. Harapan tersebut melampaui fungsi bangunan sebagai tempat salat, karena masjid juga dapat menjadi ruang untuk belajar, bertemu, dan memperkuat hubungan antarsesama.

Dengan demikian, nama An-Nur menghadirkan pesan yang selaras dengan peran masjid di tengah masyarakat. Cahaya keimanan diharapkan menuntun kehidupan rohani, sementara ilmu pengetahuan dapat tumbuh melalui kegiatan pembelajaran dan pertukaran pemahaman. Kedamaian dan keberkahan pun menjadi nilai yang ingin dirasakan oleh siapa saja, tanpa terbatas pada jemaah yang berada di ruang utama. Kapasitas sekitar 900 orang mendukung harapan tersebut dengan menyediakan tempat bagi lebih banyak orang untuk beribadah dan berkegiatan bersama. Perpaduan daya tampung dan makna namanya menjadikan An-Nur bukan hanya ruang yang dapat menampung jemaah, melainkan juga simbol harapan akan manfaat yang luas bagi umat.

Rencana pembangunan Masjid An-Nur di Jakarta mulai disusun pada 2019, ketika Anies Baswedan menjabat sebagai Gubernur DKI Jakarta. Tahun tersebut menjadi titik awal bagi gagasan menghadirkan masjid dengan rupa bahtera itu. Dalam urutan waktunya, rencana yang dimulai pada 2019 mendahului pelaksanaan pembangunan fisik beberapa tahun kemudian. Dengan demikian, tahap perencanaan dan tahap pembangunan merupakan dua penanda berbeda dalam perjalanan pendirian masjid ini.

Setelah rencana tersebut dimulai, pembangunan sempat terkendala pandemi COVID-19. Kendala itu menjadi bagian dari rentang waktu munculnya rencana pada 2019 dan dimulainya pekerjaan fisik. Karena itu, perjalanan menuju pembangunan tidak berlangsung langsung setelah rencana disusun. Keterangan mengenai masa tersebut menempatkan pandemi sebagai kendala yang memengaruhi jadwal, tanpa mengubah urutan peristiwa yang tercatat: rencana lebih dahulu, kemudian pembangunan fisik.

Pembangunan fisik Masjid An-Nur dimulai pada 1 Mei 2024.

Baca juga: Simulasi Gempa di Jakarta Selatan, ASN Berlatih Berlindung dan Evakuasi | Aturan Garasi Kendaraan di Jakarta dan Sanksi Parkir di Jalan | SMAN 35 Jakarta Menjadi Pemberhentian Terakhir Roadshow Kapanlagi Pensi Bareng 2026