Ekspor Produk Hilirisasi Aluminium Diperkirakan Naik, DEN Paparkan Proyeksi kepada Presiden

oleh -114 Dilihat
oleh
Ekspor Produk Hilirisasi Aluminium Diperkirakan Naik, DEN Paparkan Proyeksi kepada Presiden

Jakarta | Dewan Ekonomi Nasional (DEN) menyampaikan laporan mengenai perkembangan hilirisasi di Indonesia kepada Presiden RI Prabowo Subianto. Paparan tersebut mencakup sejumlah sektor yang dinilai penting bagi penguatan industri dalam negeri dan peningkatan nilai tambah sumber daya alam, lain hilirisasi nikel, aluminium, serta pengembangan komponen baterai lithium. Dengan cakupan tersebut, laporan memberi gambaran mengenai kemajuan dan prospek berbagai rantai industri, bukan hanya satu komoditas.

Salah satu hal yang menjadi perhatian dalam paparan adalah proyeksi kenaikan nilai ekspor produk hilirisasi aluminium pada 2026. Produk yang telah melalui proses pengolahan di dalam negeri berpotensi memberikan nilai ekonomi lebih besar dibandingkan bahan mentah, sekaligus membuka peluang bagi industri pengolahan untuk memperluas kapasitas dan pasarnya. Proyeksi tersebut menggambarkan peluang yang dapat mendukung kinerja ekspor, dengan tetap bergantung pada perkembangan produksi, permintaan global, investasi, dan kesiapan fasilitas industri.

Kenaikan ekspor produk aluminium itu perlu dipahami sebagai bagian dari perkembangan sektor hilirisasi secara lebih luas. Pergerakan nilai ekspor nasional dipengaruhi banyak komoditas dan faktor, sehingga tidak tepat jika seluruh kenaikan dipandang berasal dari aluminium saja. Hilirisasi nikel, produk aluminium, dan komponen baterai lithium memiliki karakteristik serta tahapan pengembangan yang berbeda. Masing-masing dapat berkontribusi terhadap penciptaan nilai tambah, tetapi capaian akhirnya ditentukan oleh kemampuan industri membangun rantai pasok, memenuhi standar pasar, dan menjaga daya saing.

Penyampaian laporan kepada Presiden menjadi kesempatan untuk meninjau kemajuan kebijakan sekaligus mengidentifikasi tantangan pelaksanaannya. Informasi mengenai proyeksi ekspor dapat membantu pemerintah menilai kebutuhan dukungan terhadap investasi, infrastruktur, teknologi, dan pengembangan sumber daya manusia. Dalam konteks itu, kenaikan yang diperkirakan pada ekspor hasil hilirisasi aluminium pada 2026 merupakan salah satu indikator prospek, bukan jaminan hasil. Perkembangan sektor lain dalam paparan DEN juga penting untuk membaca arah hilirisasi Indonesia secara utuh dan menilai bagaimana pengolahan di dalam negeri dapat memperkuat kontribusi industri terhadap perekonomian serta perdagangan luar negeri.

Nilai ekspor produk aluminium hasil hilirisasi Indonesia diperkirakan mencapai US$7 miliar hingga US$7,2 miliar pada 2026. Proyeksi tersebut menunjukkan peningkatan yang berarti dibandingkan nilai ekspor sekitar US$3,5 miliar pada 2024. Dengan demikian, nilai ekspor yang ditargetkan untuk 2026 berpotensi menjadi sekitar dua kali lipat capaian dua tahun sebelumnya. Perkembangan ini menggambarkan besarnya potensi peningkatan nilai tambah ketika bahan baku aluminium diproses lebih lanjut sebelum dipasarkan ke luar negeri.

Angka proyeksi itu disampaikan anggota sekaligus Sekretaris Eksekutif Dewan Ekonomi Nasional (DEN), Septian Hario Seto, di Istana Negara pada 21 Oktober 2026. Dengan asumsi nilai tukar Rp18.000 per dolar AS, kisaran US$7 miliar hingga US$7,2 miliar setara sekitar Rp126 triliun sampai Rp129,6 triliun. Nilai sekitar Rp129,6 triliun mencerminkan batas atas proyeksi tersebut. Penyebutan asumsi kurs penting karena nilai dalam rupiah dapat berubah mengikuti pergerakan nilai tukar, sementara angka ekspor yang disampaikan dinyatakan dalam dolar AS.

DEN juga memproyeksikan nilai ekspor hasil hilirisasi aluminium dapat mencapai US$10 miliar ke depan. Pencapaian angka tersebut diperkirakan sejalan dengan penambahan investasi pada pembangunan smelter aluminium baru di Indonesia. Kehadiran kapasitas pengolahan tambahan dapat mendukung perluasan kegiatan hilirisasi, sekaligus membuka ruang bagi peningkatan produksi dan ekspor produk bernilai tambah. Namun, proyeksi jangka panjang itu bergantung pada realisasi investasi serta pengembangan fasilitas smelter. Perbandingan capaian 2024, target 2026, dan potensi US$10 miliar memperlihatkan arah pertumbuhan yang diharapkan DEN. Angka-angka tersebut menjadi gambaran prospek ekspor, bukan jaminan bahwa target akan tercapai. Besarnya peluang akan bergantung pada kemampuan sektor aluminium mengembangkan kapasitas pengolahan domestik serta memanfaatkan tambahan investasi untuk menghasilkan produk yang dapat dipasarkan ke luar negeri.

Seto menjelaskan bahwa komponen baterai lithium kini menjadi bagian dari perkembangan industri hilirisasi Indonesia. Indonesia telah tampil sebagai salah satu sumber produsen komponen baterai lithium, termasuk anoda dan katoda. Keterangan ini menunjukkan bahwa kegiatan industri di dalam negeri tidak berhenti pada pengolahan komoditas yang tersedia, tetapi juga mencakup pembuatan komponen yang dibutuhkan dalam rantai produksi baterai. Dengan demikian, posisi Indonesia dalam ekosistem baterai mulai terbentuk melalui kemampuan mengolah dan menghasilkan produk industri bernilai tambah.

Ia juga menyampaikan bahwa Indonesia telah memiliki fasilitas pemurnian lithium. Informasi tersebut perlu dipahami bersama dengan kondisi sumber daya nasional: Indonesia tidak memiliki sumber lithium. Artinya, kemampuan untuk melakukan pemurnian atau mengembangkan kegiatan pengolahan lithium tidak berarti bahwa bahan baku tersebut berasal dari sumber domestik. Keterangan Seto justru menyoroti adanya kapasitas industrialisasi yang memungkinkan suatu negara mengembangkan proses dan produk berbasis bahan yang tidak dimilikinya secara alami.

Konteks ini memperlihatkan bagaimana hilirisasi dapat menjadi bagian dari pembangunan ekosistem industri yang lebih lengkap. Ketersediaan sumber daya merupakan salah satu unsur penting, tetapi bukan satu-satunya dasar bagi tumbuhnya kegiatan manufaktur dan pengolahan. Indonesia dapat membangun kemampuan produksi komponen baterai serta menjalankan pemurnian lithium meskipun tidak mempunyai sumber lithium sendiri. Pernyataan tersebut menegaskan perbedaan kepemilikan bahan tambang dan kemampuan mengindustrialisasi bahan maupun produk terkait.

Dalam kerangka hilirisasi, keberadaan industri komponen baterai memperluas jenis produk yang dapat dihasilkan di dalam negeri. Anoda dan katoda disebut sebagai bagian dari komponen yang telah masuk dalam perkembangan tersebut. Sementara itu, fasilitas pemurnian lithium menunjukkan adanya tahapan pengolahan yang turut mendukung ekosistem industri baterai. Seto menyampaikan gambaran ini sebagai contoh bahwa industrialisasi dapat mencakup bahan yang tidak tersedia dari sumber nasional, tanpa menyamakan kemampuan pengolahan dengan kepemilikan cadangan. Pendekatan tersebut menempatkan kemampuan industri sebagai unsur penting dalam memperkuat keterkaitan antartahap produksi dan mendorong nilai tambah di dalam negeri.

Dewan Energi Nasional (DEN) memperkirakan nilai ekspor dari tiga kelompok produk hilirisasi—nikel, aluminium, dan komponen baterai lithium—akan mencapai sekitar US$50 miliar hingga akhir 2026. Angka tersebut merupakan proyeksi untuk gabungan ketiga kelompok, bukan nilai ekspor masing-masing komoditas secara terpisah. Proyeksi ini menggambarkan besarnya nilai ekspor yang diperkirakan dapat dicapai melalui pengolahan lebih lanjut atas bahan dan produk terkait sebelum dipasarkan ke luar negeri.

Sebagai pembanding, nilai ekspor dari kelompok hilirisasi tersebut tercatat sekitar US$34,5 miliar pada 2024. Dengan demikian, perkiraan untuk akhir 2026 menunjukkan kenaikan hampir 45 persen dibandingkan capaian pada 2024. Perbandingan itu mencakup rentang dua tahun dan merujuk pada nilai gabungan ekspor produk hilirisasi nikel, aluminium, serta komponen baterai lithium. Angka US$50 miliar sendiri tetap merupakan perkiraan DEN, sehingga perlu dibedakan dari realisasi ekspor yang telah tercatat.

Seto menilai peningkatan ekspor tersebut berlangsung selama dua tahun periode pemerintahan Prabowo. Penilaian itu mengaitkan perubahan nilai ekspor dalam rentang waktu tersebut dengan perkembangan ekspor produk hilirisasi yang disebutkan. Dalam membaca proyeksi DEN, pembandingan dengan 2024 memberi konteks mengenai besarnya kenaikan yang diperkirakan, sementara penyebutan periode pemerintahan merujuk pada kurun dua tahun yang disampaikan Seto. Proyeksi hingga akhir 2026 mencakup tiga kelompok produk secara bersama-sama dan menyampaikan perkiraan nilai, bukan rincian volume atau kontribusi setiap kelompok.

Baca juga: Airlangga Paparkan Syarat Investasi untuk Mendorong Ekonomi Indonesia Tumbuh 7,5% | Prabowo Paparkan Tekanan Global dan Risiko Bencana yang Dihadapi Indonesia