Upaya BMKG Mengurangi Asap Karhutla dan Menjaga Perkiraan Musim Hujan

oleh -61 Dilihat
oleh
Upaya BMKG Mengurangi Asap Karhutla dan Menjaga Perkiraan Musim Hujan

Jakarta | Kepala BMKG Teuku Faisal Fathani menjelaskan bahwa operasi modifikasi cuaca (OMC) dilakukan untuk membantu mengurangi kepekatan asap kebakaran hutan dan lahan (karhutla). Langkah tersebut diarahkan pada persoalan asap yang menyelimuti wilayah terdampak, sekaligus berkaitan dengan perhatian BMKG terhadap perkembangan musim hujan. Faisal menyampaikan keterangan itu saat ditemui di kompleks Istana Kepresidenan, Jakarta, pada Rabu.

Menurut Faisal, upaya mengurangi asap tidak hanya penting untuk menekan dampak langsung dari karhutla. BMKG juga mengkhawatirkan kemungkinan asap yang tidak terurai dapat membuat masuknya musim hujan semakin mundur. Dengan demikian, OMC memiliki dua tujuan yang saling terkait: membantu mengurai kepekatan asap dan mencegah kondisi tersebut memperburuk keterlambatan musim hujan di wilayah terdampak.

Keterangan itu menempatkan OMC sebagai salah satu upaya yang berkaitan dengan kondisi atmosfer saat asap karhutla masih menjadi perhatian. Apabila asap bertahan dan tidak terurai, kekhawatiran yang disampaikan BMKG adalah bahwa pergantian menuju musim hujan dapat semakin tertunda. Pernyataan tersebut menggambarkan pentingnya mengatasi keadaan asap, bukan sekadar menunggu perubahan musim terjadi dengan sendirinya.

Faisal tidak merinci dalam keterangan tersebut wilayah tertentu maupun tanggal yang diperkirakan untuk dimulainya musim hujan. Karena itu, pokok informasi yang dapat dicatat adalah tujuan OMC dan kekhawatiran BMKG mengenai hubungan asap yang tidak terurai dengan mundurnya musim hujan. Penjelasan ini juga menunjukkan bahwa penanganan karhutla dan pemantauan musim dipandang sebagai dua hal yang perlu diperhatikan secara bersamaan.

Dalam konteks tersebut, pelaksanaan OMC diharapkan mendukung pengurangan kepekatan asap, sementara BMKG tetap memperhatikan kemungkinan musim hujan tertunda. Pernyataan Kepala BMKG itu menegaskan bahwa asap karhutla yang bertahan bukan hanya menjadi persoalan tersendiri, tetapi juga berpotensi berkaitan dengan waktu datangnya hujan. Upaya tersebut ditujukan untuk mengurangi risiko keterlambatan yang dikhawatirkan, tanpa mengubah keterangan mengenai cakupan wilayah maupun jadwal musim hujan yang belum disebutkan.

Pemerintah telah melaksanakan Operasi Modifikasi Cuaca (OMC) di sejumlah provinsi prioritas sebagai bagian dari upaya mengurangi dampak kebakaran hutan dan lahan (karhutla). Dalam konteks ini, OMC diarahkan untuk membantu menghadirkan hujan di wilayah yang membutuhkan, sekaligus mendukung penanganan asap. Pelaksanaannya memerlukan pemantauan kondisi atmosfer agar tindakan yang dipilih sesuai dengan keadaan cuaca dan peluang terbentuknya awan hujan.

Salah satu metode yang digunakan adalah penyemaian awan dengan natrium klorida (NaCl), atau garam. Bahan tersebut disebarkan ke awan yang dinilai memiliki potensi untuk menghasilkan hujan. Partikel NaCl berperan sebagai inti kondensasi, sehingga dapat membantu proses pembentukan butir air di dalam awan. Penyemaian bukan jaminan hujan akan turun; keberhasilannya tetap bergantung pada ketersediaan awan yang sesuai, kandungan uap air, serta dinamika atmosfer setempat.

Metode lain yang disebutkan ialah pemanfaatan dry ice atau es kering. Dalam upaya penanganan karhutla, bahan ini digunakan untuk membantu mendobrak lapisan atmosfer yang menahan asap agar pergerakannya tidak terus terhambat di wilayah terdampak. Penerapan metode tersebut membutuhkan pertimbangan meteorologis dan koordinasi teknis. BMKG juga menjalin kerja sama dengan Thailand dalam pemanfaatan dry ice untuk mendukung upaya pemadaman karhutla. Kerja sama ini menjadi bagian dari pertukaran pengalaman dan dukungan dalam menghadapi tantangan asap lintas wilayah.

Agar penyemaian awan dapat diarahkan dengan lebih tepat, uji radiosonde dilakukan untuk memperoleh informasi mengenai profil atmosfer secara vertikal. Radiosonde yang dibawa oleh balon mengukur sejumlah parameter, seperti suhu, tekanan, kelembapan, dan angin pada berbagai ketinggian. Data tersebut dapat membantu mengidentifikasi kondisi lapisan udara dan menjadi bahan pertimbangan dalam menentukan titik penyemaian. Dengan informasi atmosfer yang lebih rinci, perencanaan OMC dapat disesuaikan dengan perkembangan cuaca. Uji ini disebut sebagai upaya untuk menentukan titik penyemaian secara lebih tepat; tanpa keterangan lebih lanjut, hasil maupun lokasi pengujiannya tidak dapat dipastikan.

BMKG memperkirakan musim hujan mulai memasuki sejumlah wilayah Indonesia pada November 2026. Peralihan menuju periode yang lebih basah tidak berlangsung serentak di seluruh daerah, karena waktu awal musim dapat berbeda mengikuti kondisi iklim dan karakteristik masing-masing wilayah. Karena itu, masyarakat perlu memperhatikan pembaruan prakiraan cuaca dan musim yang diterbitkan BMKG, terutama ketika memasuki masa peralihan dari musim kemarau.

Secara umum, puncak musim hujan diperkirakan terjadi pada Desember 2026 hingga Februari 2027. Pada rentang tersebut, aktivitas hujan berpotensi meningkat di banyak wilayah. Meski demikian, prakiraan musim memberikan gambaran umum, bukan kepastian bahwa setiap daerah akan mengalami pola hujan yang sama. Perbedaan waktu mulai, intensitas, dan sebaran hujan tetap mungkin terjadi antardaerah maupun dari satu periode ke periode berikutnya.

BMKG memprediksi curah hujan secara umum berada pada kategori normal. Artinya, jumlah hujan yang turun diperkirakan mendekati nilai rata-rata klimatologis di masing-masing wilayah, bukan berarti hujan akan turun dengan intensitas seragam setiap hari. Pada saat yang sama, periode musim hujan diprakirakan lebih pendek. Kombinasi ini perlu dipahami secara cermat: musim yang lebih singkat tidak serta-merta menghilangkan risiko hujan deras, terutama apabila hujan terkonsentrasi pada waktu tertentu.

Sesuai keterangan narasumber, hujan lebat hingga ekstrem diprakirakan lebih sering terjadi pada akhir 2026 sampai awal 2027, seiring periode puncak musim hujan. Kejadian tersebut dapat berlangsung lokal dan berdurasi terbatas, tetapi tetap berpotensi menimbulkan dampak seperti genangan, banjir, longsor, atau gangguan aktivitas. Oleh sebab itu, warga dan pemerintah daerah perlu menyiapkan langkah antisipasi berdasarkan informasi cuaca terkini, termasuk memperhatikan peringatan dini dan kondisi lingkungan setempat.

Prakiraan ini juga menjadi konteks penting dalam upaya pengendalian karhutla. Pergeseran menuju musim hujan dapat membantu membasahi lahan, tetapi hujan yang datang belakangan atau tidak merata belum tentu segera mengakhiri risiko kebakaran di semua daerah. Pemantauan berkala tetap diperlukan agar kesiapsiagaan dapat disesuaikan dengan perubahan cuaca, baik untuk mengurangi asap karhutla maupun menghadapi potensi cuaca ekstrem.

BMKG sebelumnya memperkirakan bahwa El NiƱo dengan intensitas moderat hingga kuat berpotensi bertahan di Indonesia sampai awal 2027. Perkiraan tersebut menjadi perhatian karena perubahan pola atmosfer dan berkurangnya curah hujan dapat memperpanjang periode kering di sejumlah wilayah. Dampaknya tidak terbatas pada suhu yang terasa lebih panas. Ketersediaan air untuk rumah tangga, pertanian, dan kebutuhan lainnya juga dapat tertekan ketika hujan terlambat atau jauh di bawah normal. Dalam kondisi demikian, pemantauan berkala terhadap informasi iklim penting agar pemerintah daerah dan masyarakat dapat menyesuaikan langkah mitigasi dengan keadaan lokal serta perkembangan terbaru dari BMKG.

Periode kering yang berkepanjangan dapat meningkatkan potensi kekeringan dan memicu krisis air, terutama di daerah yang sumber airnya bergantung pada hujan. Kondisi lahan yang kering juga membuat vegetasi dan gambut lebih mudah terbakar. Karena itu, risiko kebakaran hutan dan lahan (karhutla) perlu diantisipasi melalui pencegahan, pengawasan titik rawan, serta kesiapan merespons api sejak awal. Upaya tersebut perlu melibatkan pemerintah, pelaku usaha, dan warga, termasuk dengan menghindari pembakaran untuk membuka lahan. Meski prakiraan iklim membantu menentukan kewaspadaan, tingkat risiko di suatu lokasi dapat berbeda dan perlu dinilai dengan mempertimbangkan kondisi setempat.

Di sisi lain, prakiraan hujan lebat hingga ekstrem di sejumlah wilayah menunjukkan bahwa ancaman bencana tidak hanya berkaitan dengan kekeringan. Hujan berintensitas tinggi dalam waktu singkat dapat meningkatkan potensi banjir, genangan, dan longsor, terutama di kawasan rawan atau dengan drainase terbatas.

Baca juga: BMKG Perkuat Modifikasi Cuaca untuk Bantu Atasi Karhutla | Dry Ice dari Udara, TNI Upayakan Mengurai Asap Karhutla di Palembang | BPBD Bali Pastikan Asap Karhutla Belum Mencapai Pulau Dewata