Bali Jadi Percontohan Transisi Transportasi Bersih dengan 11 Bus Listrik Hibah Korea

oleh -114 Dilihat
oleh
Bali Jadi Percontohan Transisi Transportasi Bersih dengan 11 Bus Listrik Hibah Korea

Denpasar | Menteri Perencanaan Pembangunan Nasional/Kepala Bappenas Rachmat Pambudy menetapkan Provinsi Bali sebagai percontohan nasional untuk mengawali pembangunan berkelanjutan melalui pemanfaatan 11 bus listrik hibah Pemerintah Republik Korea. Pernyataan tersebut disampaikan di Denpasar pada Kamis, saat dukungan kendaraan listrik itu diperkenalkan sebagai bagian dari upaya mendorong sistem transportasi yang lebih bersih. Penunjukan ini menempatkan Bali sebagai lokasi awal untuk memperlihatkan bagaimana teknologi rendah emisi dapat diintegrasikan ke dalam kebijakan pembangunan daerah secara terarah.

Pemilihan Bali didasarkan pada penilaian Bappenas terhadap komitmen provinsi tersebut dalam menjaga lingkungan tetap bersih dan mengembangkan pola pembangunan yang selaras dengan tujuan global. Bali dinilai konsisten menempatkan kelestarian lingkungan sebagai perhatian penting, sekaligus memiliki landasan untuk menghubungkan agenda daerah dengan target Sustainable Development Goals (SDGs). Karena itu, pemanfaatan bus listrik tidak hanya dipandang sebagai penggantian kendaraan berbahan bakar konvensional, tetapi juga sebagai langkah untuk memperkuat arah pembangunan yang mempertimbangkan kualitas lingkungan dan keberlanjutan dalam jangka panjang.

Keberadaan 11 bus listrik hibah Korea diharapkan menjadi titik awal pembelajaran bagi pemerintah daerah dan para pemangku kepentingan. Pelaksanaannya dapat memberikan pengalaman mengenai penggunaan kendaraan listrik dalam layanan transportasi, termasuk bagaimana dukungan kebijakan dan koordinasi dibutuhkan agar manfaatnya dapat berkembang. Penetapan Bali sebagai percontohan nasional juga membuka ruang untuk menghimpun pelajaran yang relevan bagi daerah lain dengan kondisi dan kebutuhan berbeda. Dengan demikian, inisiatif ini tidak berhenti pada penerimaan armada, melainkan mendorong pembentukan praktik pembangunan yang dapat diterapkan secara bertahap.

Rachmat menekankan bahwa inisiatif tersebut perlu dipahami sebagai kerja sama bersama, bukan semata-mata kolaborasi antarnegara atau antarperusahaan. Pemerintah, masyarakat, dan berbagai pihak terkait memiliki peran dalam memastikan transportasi bersih dapat berfungsi dan memberi manfaat luas. Pendekatan kolektif ini penting agar dukungan dari Pemerintah Republik Korea terhubung dengan kebutuhan lokal serta tujuan pembangunan Indonesia. Melalui langkah awal di Bali, upaya transisi menuju transportasi rendah emisi diharapkan memperoleh pijakan yang kuat sekaligus mendukung pembangunan berkelanjutan.

Menurut Rachmat, pengoperasian bus listrik di Bali merupakan wujud konkret kolaborasi dengan Global Green Growth Institute (GGGI). Kerja sama ini tidak berhenti pada penyediaan armada, tetapi juga menunjukkan bagaimana kebijakan dapat diterjemahkan menjadi langkah nyata di lapangan. Dengan menghadirkan 11 bus listrik hibah dari Korea, proyek tersebut memberi contoh penerapan transportasi yang lebih bersih sekaligus membuka ruang bagi pemerintah dan pemangku kepentingan untuk menilai manfaatnya berdasarkan bukti. Pengalaman operasional menjadi bagian penting untuk memahami kebutuhan infrastruktur, layanan, dan dukungan kebijakan yang diperlukan agar transisi berjalan efektif. Karena itu, inisiatif ini dapat dipandang sebagai model yang menghubungkan perencanaan pembangunan dengan hasil yang dapat diamati masyarakat.

Rachmat berharap pendekatan yang berlandaskan kebijakan dan bukti itu dapat direplikasi secara bertahap di berbagai daerah di Indonesia. Perluasan tidak harus dilakukan serentak, melainkan dapat disesuaikan dengan kesiapan masing-masing wilayah, termasuk kebutuhan transportasi dan kapasitas pendukungnya. Pembelajaran dari Bali dapat membantu daerah lain merancang langkah yang realistis, mengidentifikasi tantangan, dan menentukan kebijakan yang sesuai. Dalam skala lebih luas, pengembangan bus listrik juga menjadi bagian dari peralihan penggunaan bahan bakar fosil menuju energi yang lebih bersih. Transformasi tersebut membutuhkan konsistensi, kerja sama, dan tahapan yang terukur, sehingga manfaatnya bagi kualitas udara dan sistem transportasi dapat berlangsung dalam jangka panjang.

Inisiatif itu sejalan dengan arahan Presiden Prabowo untuk mewujudkan lingkungan yang bersih, mulai dari persoalan sampah plastik hingga polusi udara. Rachmat memaknai pesan tersebut sebagai dorongan agar kebersihan dimulai dari lingkungan sekitar, bukan hanya menjadi agenda besar yang jauh dari keseharian warga. Perhatian terhadap ruang publik, pola konsumsi, dan pilihan moda transportasi dapat menjadi bagian dari upaya bersama menjaga lingkungan. Ia juga menyampaikan bahwa kebersihan yang dimaksud mencakup kebersihan lahir maupun batin. Makna ini memperluas pembahasan dari kondisi fisik lingkungan menuju sikap dan tanggung jawab setiap orang. Dengan demikian, bus listrik menjadi salah satu langkah praktis dalam agenda yang lebih luas: membangun kebiasaan, kebijakan, dan sistem yang mendukung kehidupan lebih bersih serta berkelanjutan.

Rachmat menempatkan nilai Tri Hita Karana sebagai salah satu pijakan penting dalam membangun masa depan Bali. Falsafah yang hidup dalam masyarakat setempat ini mengajarkan keseimbangan hubungan manusia dengan Tuhan, sesama manusia, dan alam. Karena itu, pembangunan tidak semestinya diukur hanya melalui pertumbuhan ekonomi atau kemajuan infrastruktur. Perencanaan juga perlu memperhatikan kualitas kehidupan, hubungan sosial, serta kelestarian lingkungan. Kearifan lokal tersebut, menurut Rachmat, dapat memberi arah bagi model pembangunan nasional yang memperhatikan dimensi lahir dan batin secara berimbang.

Dengan landasan itu, Bali diharapkan mampu menunjukkan bahwa kemajuan dapat berjalan selaras dengan alam dan nilai-nilai yang dijaga masyarakat. Harapan tersebut tidak berhenti pada kepentingan daerah. Bali dapat menjadi contoh bagi wilayah lain di Indonesia dalam merancang pembangunan yang berkelanjutan, sekaligus menyampaikan pelajaran kepada dunia mengenai pentingnya keseimbangan kebutuhan manusia dan daya dukung lingkungan. Pengalaman lokal menjadi relevan ketika diterapkan dalam kebijakan nyata, termasuk pada pilihan teknologi dan layanan publik yang digunakan sehari-hari.

Dalam konteks transportasi, Bappenas berharap pengoperasian 11 bus listrik hibah Korea menjadi langkah awal transformasi di Bali menuju penggunaan energi yang lebih ramah lingkungan. Armada ini dapat memperkenalkan layanan transportasi publik rendah emisi sekaligus mendorong pembelajaran mengenai pengoperasian, pengisian daya, dan pemeliharaan kendaraan listrik. Agar dampaknya berkembang, pengadaan bus perlu diikuti dukungan yang memadai, seperti infrastruktur pengisian daya, pengaturan layanan, dan upaya membangun kepercayaan masyarakat. Dengan demikian, hibah tersebut berpotensi menjadi pemicu bagi perubahan yang lebih luas, bukan sekadar penambahan kendaraan.

Rachmat juga menggambarkan perubahan kebiasaan yang mungkin terjadi apabila bus listrik digunakan semakin luas. Pada masa mendatang, masyarakat dapat lebih terbiasa mengisi daya listrik kendaraan, alih-alih mengantre untuk memperoleh bensin atau solar. Peralihan itu mencerminkan perubahan pada sumber energi sekaligus cara masyarakat beraktivitas dan mengakses transportasi. Meski membutuhkan kesiapan sistem serta waktu, arah perubahan ini memberi gambaran tentang mobilitas yang lebih bersih. Jika dijalankan sejalan dengan kearifan lokal dan perlindungan alam, langkah di Bali dapat mendukung pembangunan yang bermanfaat bagi masyarakat, lingkungan, dan generasi berikutnya.Dukungan terhadap penggunaan bus listrik di Bali diharapkan menjadi bagian dari perubahan yang lebih luas, bukan sekadar mengganti armada berbahan bakar minyak dengan kendaraan bertenaga listrik. Pemerintah pusat mendorong agar transisi transportasi bersih turut membuka ruang bagi inovasi dan pengembangan industri kendaraan listrik. Dengan demikian, program ini dapat menghubungkan kebutuhan transportasi daerah dengan penguatan kemampuan produksi serta kreativitas sumber daya manusia lokal. Bali memiliki kesempatan untuk mengambil peran dalam proses tersebut, mulai dari mengenali kebutuhan mobilitas di wilayahnya hingga ikut mengembangkan gagasan dan solusi yang sesuai dengan kondisi setempat. Dorongan itu juga menempatkan pengembangan talenta sebagai unsur penting dalam transisi, sehingga manfaatnya tidak terbatas pada penggunaan teknologi yang didatangkan dari luar.

Rachmat berharap sumber daya manusia Bali kelak dapat melahirkan merek kendaraan listrik sendiri. Harapan tersebut mencakup bus, mobil, dan sepeda motor yang dirancang atau dikembangkan oleh orang Bali, kemudian diproduksi di berbagai tempat untuk dikirim dan digunakan di Bali.

Baca juga: BMW Vision CE: Skuter Listrik dengan Sistem Penyeimbang dan Rangka Pelindung | DKI Siapkan Kartu Transportasi Gratis bagi Pencari Kerja Mulai 2027 | Pramono Anung Rencanakan Transportasi Umum Gratis bagi Pencari Kerja di Jakarta pada 2027