Jakarta | Febby Rastanty kembali mengikuti lomba lari di Indonesia melalui Jakarta Running Festival (JRF) 2026, setelah menuntaskan tujuh seri World Marathon Majors. Kehadirannya di JRF menjadi penanda kembalinya Febby ke perlombaan lari di tanah air usai menyelesaikan rangkaian maraton dunia tersebut. Kali ini, ia akan berlari di ajang yang berlangsung di kawasan Gelora Bung Karno (GBK), Senayan, Jakarta, pada 24–25 Oktober 2026.
JRF 2026 menjadi kesempatan bagi Febby untuk kembali berpartisipasi dalam kompetisi lari di Indonesia setelah menjalani tujuh seri maraton bergengsi di berbagai kota dunia. Dua hal itu menempatkan perlombaan di Jakarta sebagai bagian terbaru dari perjalanan larinya: setelah menyelesaikan rangkaian World Marathon Majors, ia kembali mengikuti lomba di tanah air. Kehadiran Febby juga menjadi sorotan karena JRF mempertemukannya kembali dengan kompetisi lari yang digelar di Indonesia.
Febby menyambut perlombaan tersebut dengan antusias. JRF 2026 dijadwalkan berlangsung selama dua hari, 24 dan 25 Oktober, di kawasan GBK, Senayan. Bagi Febby, ajang ini menjadi kesempatan untuk kembali berlari dalam sebuah lomba di Indonesia setelah menuntaskan tujuh seri maraton dunia. Antusiasme itu menyertai langkahnya menuju perlombaan berikutnya, kali ini di Jakarta. Dengan demikian, partisipasi Febby di JRF menandai kembalinya ia ke ajang lari dalam negeri, sekaligus melanjutkan kiprahnya setelah menyelesaikan rangkaian World Marathon Majors.
Perjalanan maraton Febby Rastanty dimulai di Tokyo, Jepang, pada 2023. Ajang itu menjadi maraton pertamanya sekaligus langkah awal dalam rangkaian tantangan lari jarak jauh yang kemudian membawanya melintasi berbagai kota dunia. Menuntaskan lomba pertamanya tentu membutuhkan persiapan fisik dan mental, tetapi pengalaman tersebut juga membuka tujuan yang lebih besar: mengikuti enam maraton utama dunia. Dari titik awal di Tokyo, Febby mulai mengumpulkan pengalaman dan menapaki satu per satu ajang yang menjadi bagian dari World Marathon Majors.
Rangkaian tersebut mencakup maraton di Tokyo, Boston, London, Berlin, Chicago, dan New York. Setiap kota menghadirkan lintasan, suasana, serta tantangan yang berbeda, sehingga perjalanan Febby bukan sekadar upaya mengejar jumlah lomba. Ia perlu menjaga konsistensi latihan dan kesiapan tubuh untuk menghadapi jarak maraton di berbagai kondisi. Menyelesaikan keenam ajang utama itu membutuhkan komitmen dalam jangka panjang. Capaian tersebut kemudian membawanya pada status six-star finisher, sebutan bagi pelari yang telah menuntaskan enam World Marathon Majors.
Gelar itu diraih Febby di New York ketika ia berusia 29 tahun. Maraton New York menjadi penutup rangkaian enam ajang utama yang telah ia jalani, sekaligus momen penting dalam perjalanan larinya. Status six-star finisher menandai keberhasilan menyelesaikan seluruh seri yang menjadi sasaran banyak pelari maraton. Namun, pencapaian tersebut bukan akhir dari perjalanannya. Setelah menuntaskan enam lomba, Febby melanjutkan tantangan dengan mengikuti seri ketujuh yang bergabung dalam rangkaian World Marathon Majors.
Pada 2026, Febby berlari di Sydney dan meraih bintang ketujuh. Keberhasilan menyelesaikan maraton Sydney itu melengkapi rangkaian tujuh seri World Marathon Majors, sehingga ia menuntaskan seluruh tujuh ajang utama tersebut. Urutan perjalanannya—bermula di Tokyo pada 2023, mencapai gelar six-star finisher di New York pada usia 29 tahun, lalu meraih bintang ketujuh di Sydney—menunjukkan pencapaian yang dibangun bertahap. Setelah menyelesaikan rangkaian internasional tersebut, Febby kembali berlari dalam lomba di Indonesia, membawa pengalaman maraton dunia ke lintasan di tanah air.
Menuntaskan tujuh maraton dunia membutuhkan lebih dari sekadar ketahanan saat berada di lintasan. Bagi Febby Rastanty, tantangan lain muncul dalam mengatur waktu di tengah kesibukannya sebagai aktris. Pekerjaan dan tanggung jawab profesional tetap menjadi bagian penting dari kesehariannya, sementara persiapan untuk berlari juga memerlukan perhatian. Karena itu, membagi fokus karier dan olahraga menjadi proses yang menuntut pengelolaan waktu serta prioritas secara cermat. Latihan tidak dapat dipandang terpisah dari komitmen pekerjaan, begitu pula pekerjaan tidak selalu dapat disisihkan demi persiapan lomba. Keseimbangan keduanya menjadi salah satu aspek yang perlu dijaga dalam perjalanan seorang pelari dengan jadwal profesional yang beragam.
Di samping pekerjaan dan latihan, pemulihan tubuh juga menjadi bagian dari tuntutan yang perlu diperhatikan. Ketiga kebutuhan tersebut saling berkaitan: latihan membutuhkan ruang, pekerjaan menyita perhatian, sedangkan pemulihan penting agar tubuh mendapat kesempatan untuk beristirahat setelah berlari. Mengatur satu hal tanpa mempertimbangkan yang lain berpotensi membuat keseimbangan semakin sulit. Oleh sebab itu, proses ini bukan semata-mata soal mencari waktu untuk berlatih, melainkan juga menjaga agar aktivitas lain dan kebutuhan pemulihan tidak terabaikan. Pengalaman Febby menunjukkan gambaran tantangan yang dihadapi ketika seseorang menjalani profesi yang sibuk sekaligus menekuni olahraga ketahanan. Tidak ada satu aspek yang berdiri sendiri; keputusan tentang waktu perlu mempertimbangkan keseluruhan tuntutan yang menyertai persiapan.
Tuntutan tersebut turut berkaitan dengan cara menyesuaikan pace atau kecepatan ketika mengikuti perlombaan. Kecepatan perlu dipahami dalam konteks kesiapan dan kondisi yang tersedia, bukan hanya sebagai ukuran ambisi. Ekspektasi terhadap diri sendiri juga perlu diselaraskan dengan proses persiapan serta kemampuan untuk membagi perhatian pekerjaan, latihan, dan pemulihan. Dalam sebuah maraton, menjaga ritme merupakan bagian dari pengalaman berlari, sementara harapan atas hasil perlu ditempatkan secara realistis. Kembali berlari di tanah air setelah menuntaskan tujuh maraton dunia tentu menghadirkan pengalaman tersendiri, tetapi tidak menghapus kebutuhan untuk menata fokus. Bagi Febby, pengelolaan waktu dan ekspektasi menjadi bagian dari perjalanan yang melibatkan karier, latihan, serta pemulihan tubuh.
Bagi Febby Rastanty, berlari tidak selalu harus diukur melalui angka pada jam maupun target yang berhasil dicapai. Setelah menuntaskan tujuh maraton dunia, ia memandang aktivitas ini sebagai pengalaman yang maknanya tidak berhenti pada garis finis. Catatan waktu dan pencapaian tetap dapat menjadi bagian dari perjalanan seorang pelari, tetapi keduanya bukan satu-satunya alasan untuk mengenakan sepatu dan mulai bergerak. Ada nilai lain yang hadir selama proses berlangsung: kesempatan untuk memberi ruang bagi diri sendiri di tengah jadwal dan tuntutan keseharian. Dengan cara pandang tersebut, lari dapat menjadi kegiatan yang dinikmati, bukan sekadar rangkaian sasaran yang harus dipenuhi.
Di tengah rutinitas, waktu untuk berlari bisa menjadi jeda yang membantu seseorang mengalihkan perhatian sejenak dari berbagai urusan. Bagi Febby, pengalaman itu memberi kesempatan untuk menjernihkan pikiran dan kembali hadir pada apa yang sedang dilakukan. Langkah demi langkah membuat fokus tertuju pada perjalanan, bukan hanya pada hal-hal yang menunggu setelahnya. Jeda semacam ini tidak harus berarti berhenti dari tanggung jawab, melainkan menyediakan ruang untuk menarik napas dan merasakan proses. Karena itu, kegiatan berlari juga dapat memiliki arti personal, bahkan ketika pelari tidak sedang mengejar rekor atau menetapkan sasaran tertentu. Pengalaman tersebut menempatkan perjalanan itu sendiri sebagai bagian penting dari aktivitas.
Perspektif yang menekankan proses dan kenikmatan berlari turut memberi konteks pada partisipasi Febby dalam JRF 2026. Kehadirannya di ajang tersebut dapat dipahami sebagai bagian dari keterlibatannya dalam kegiatan lari, tanpa harus menyederhanakannya menjadi soal waktu tempuh atau capaian akhir. Setelah pengalaman menuntaskan tujuh maraton dunia, ia kembali berlari di tanah air dengan ruang untuk menikmati perjalanan yang berlangsung di hadapannya. JRF 2026 menjadi kesempatan untuk menjalani aktivitas tersebut dalam suasana acara lari di Indonesia, sekaligus membawa perhatian kembali pada berlari sebagai jeda dari rutinitas.
Baca juga: Persija Kembali Memimpin Super League Usai Menang Besar atas Arema | Adang Rochjana Kembali Pimpin PMI Jawa Barat di Tengah Perbedaan Pendapat



































