Mengapa Haley Sacks Bangga Menjadi Miliuner yang Tetap Menyewa Rumah

oleh -103 Dilihat
oleh
Mengapa Haley Sacks Bangga Menjadi Miliuner yang Tetap Menyewa Rumah

Kota New York | Haley Sacks, kreator konten keuangan yang dikenal luas dengan nama Mrs. Dow Jones, telah membangun audiens lebih dari dua juta pengikut dengan membahas uang secara mudah dipahami. Meski kekayaannya telah mencapai tingkat miliuner, ia memilih tetap menyewa tempat tinggal dan tidak menganggap keputusan tersebut sebagai sesuatu yang perlu disesali. Sebaliknya, Sacks mengatakan bahwa ia bangga dengan pilihannya. Sikap ini menantang anggapan umum bahwa seseorang yang mampu membeli rumah seharusnya segera melakukannya. Bagi Sacks, keputusan mengenai tempat tinggal sebaiknya disesuaikan dengan kebutuhan, prioritas, dan tujuan hidup, bukan semata-mata mengikuti harapan orang lain atau tahapan hidup yang dianggap lazim.

Kepemilikan rumah sering dipandang sebagai tanda keberhasilan finansial sekaligus kedewasaan. Dalam banyak lingkungan, membeli properti dikaitkan dengan kemapanan dan kemampuan mengelola uang secara bertanggung jawab. Namun, Sacks menilai membeli rumah bukan satu-satunya ukuran untuk menilai kondisi keuangan seseorang. Orang dapat memiliki alasan yang masuk akal untuk menyewa, termasuk fleksibilitas atau preferensi terhadap gaya hidup tertentu. Menyewa tidak otomatis berarti seseorang gagal membangun kekayaan, sama seperti memiliki rumah tidak dengan sendirinya membuktikan bahwa seluruh keputusan keuangannya bijaksana. Penilaian tersebut perlu mempertimbangkan keadaan pribadi dan gambaran keuangan yang lebih luas, bukan hanya status kepemilikan tempat tinggal.

Pilihan Sacks saat ini juga tidak berarti ia menolak gagasan memiliki rumah untuk selamanya. Ia masih membayangkan membeli tempat tinggal di luar New York pada masa depan, terutama apabila ia berkeluarga. Keinginan itu mencakup kebebasan menentukan detail rumah sendiri, mulai dari warna cat hingga gagang pintu. Baginya, kesempatan memilih unsur-unsur tersebut merupakan bagian menyenangkan dari memiliki ruang pribadi. Namun, ia juga memahami bahwa mewujudkan impian itu membutuhkan biaya besar. Pembelian rumah melibatkan lebih dari sekadar harga awal: pemilik perlu menyiapkan dana untuk berbagai pengeluaran dan tanggung jawab berkelanjutan. Karena itu, Sacks dapat menghargai cita-cita memiliki rumah sekaligus merasa nyaman menyewa sekarang. Ceritanya menunjukkan bahwa keputusan finansial yang baik tidak harus mengikuti satu jalur yang sama bagi setiap orang.

Bagi Haley Sacks, keputusan generasi muda untuk menyewa rumah tidak dapat dipahami hanya sebagai pilihan pribadi atau tanda bahwa mereka belum berhasil. Keputusan itu muncul dalam kondisi ekonomi ketika sejumlah tonggak kehidupan yang dulu dianggap lazim semakin sulit dijangkau. Harga rumah, biaya hidup, dan ketidakpastian pekerjaan membuat membeli rumah, menikah, serta memiliki anak terasa lebih berat bagi banyak orang muda. Karena itu, jalur menuju kehidupan dewasa tidak lagi selalu mengikuti urutan yang sama seperti yang dialami generasi sebelumnya.

Perubahan tersebut tampak dalam beragam penyesuaian. Sebagian orang membeli rumah yang harganya lebih terjangkau, tetapi perlu banyak renovasi sebelum nyaman ditempati. Ada pula yang mengandalkan beberapa sumber penghasilan sekaligus untuk menghadapi biaya hidup dan membangun kestabilan finansial. Bagi sebagian pasangan, menikah atau memiliki anak ditunda sampai kondisi keuangan terasa lebih aman. Langkah-langkah ini bukan berarti mereka mengabaikan masa depan atau menolak komitmen, melainkan mencerminkan upaya untuk mengambil keputusan sesuai kemampuan dan risiko yang dihadapi. Pilihan menyewa pun dapat memberi fleksibilitas, sekaligus menghindarkan seseorang dari beban pembelian properti yang belum sanggup ditanggung.

Susan Wachter, profesor real estat dan keuangan di Wharton School, University of Pennsylvania, melihat bahwa perubahan ini bukan semata-mata penundaan pencapaian hidup. Menurutnya, generasi muda juga sedang menemukan cara yang berbeda untuk mencapai tujuan, dengan urutan dan pilihan yang mungkin tidak sama dengan masa lalu. Pandangan itu sejalan dengan ajakan Sacks agar anak muda meninjau kembali warisan anggapan bahwa kepemilikan rumah merupakan syarat untuk dianggap dewasa. Rumah milik sendiri dapat menjadi tujuan penting, tetapi bukan satu-satunya ukuran kematangan atau keberhasilan. Menyewa sambil mengelola keuangan, memilih waktu yang tepat untuk berkeluarga, atau membangun penghasilan dari beberapa sumber juga dapat menjadi keputusan yang bertanggung jawab. Dengan demikian, kebanggaan Sacks bukan sekadar tentang status sebagai miliuner yang menyewa, tetapi tentang kebebasan menentukan bentuk kehidupan yang sesuai dengan keadaan dan prioritas masing-masing.

Keputusan Haley Sacks untuk tetap menyewa rumah bukan berarti ia menolak kemungkinan menjadi pemilik properti. Ia masih ingin mencapai target tertentu dalam investasinya sebelum mempertimbangkan pembelian rumah. Dengan demikian, waktu membeli rumah baginya berkaitan dengan prioritas keuangan yang sedang dijalani, bukan semata-mata pencapaian status sebagai miliuner. Ia memilih menunggu sampai tujuan investasinya terpenuhi sebelum mengalihkan sebagian dana untuk membeli tempat tinggal.

Sacks juga memandang rumah yang kelak mungkin dibelinya terutama sebagai pilihan gaya hidup. Rumah dapat memberi kenyamanan dan memenuhi kebutuhan pribadi, tetapi ia tidak menganggapnya sebagai instrumen investasi utama dalam rencana keuangannya. Dalam cara pandangnya, uang yang diperlukan untuk uang muka rumah berpotensi digunakan sebagai modal untuk berinvestasi di pasar saham. Karena itu, membeli properti berarti memilih bagaimana dana tersebut dialokasikan, dengan mempertimbangkan tujuan yang ingin dicapai.

Pandangannya bukan klaim bahwa menyewa selalu lebih baik daripada membeli, atau bahwa semua orang seharusnya menunda kepemilikan rumah. Keputusan tersebut tidak berlaku seragam bagi setiap orang. Biaya perumahan dapat berbeda menurut lokasi, sehingga pertimbangan tentang menyewa atau membeli perlu melihat keadaan di tempat seseorang tinggal. Situasi keuangan dan kebutuhan masing-masing juga menjadi bagian dari konteks keputusan. Sacks menyampaikan preferensi pribadinya, bukan aturan universal yang mesti diikuti semua orang.

Ia turut memperhitungkan bahwa biaya kepemilikan tidak berhenti pada harga rumah atau uang muka. Setelah membeli, pemilik mungkin mengeluarkan dana untuk renovasi dan penyesuaian hunian agar sesuai dengan selera pribadi. Pengeluaran semacam itu dapat menjadi beban finansial tambahan yang perlu masuk dalam pertimbangan. Bagi Sacks, keinginan untuk mengubah rumah sesuai preferensi merupakan salah satu alasan untuk menilai kepemilikan secara menyeluruh, bukan hanya melihat harga pembelian. Dengan menempatkan biaya lanjutan, lokasi, dan tujuan investasi dalam satu pertimbangan, ia menjelaskan mengapa menyewa masih sesuai dengan prioritasnya saat ini. Kepemilikan tetap mungkin menjadi pilihan di kemudian hari, tetapi untuk sekarang ia lebih memilih menjaga fokus pada target investasinya. Rumah, dalam kerangka itu, dipertimbangkan berdasarkan manfaat gaya hidup dan keseluruhan biaya yang menyertainya, bukan diasumsikan otomatis sebagai investasi terbaik baginya.

Dalam menjelaskan keputusannya untuk tetap menyewa rumah meski telah menjadi miliuner, Haley Sacks tidak menyajikan kisah suksesnya sebagai hasil usaha pribadi semata. Ia mengakui bahwa perjalanan membangun bisnisnya turut dipengaruhi keadaan dan bantuan keluarga. Pengakuan ini memberi gambaran lebih utuh tentang bagaimana dukungan, kesempatan, serta kerja keras dapat hadir bersamaan dalam perjalanan karier seseorang.

Pada 2018, Sacks kehilangan pekerjaan. Untuk memperoleh penghasilan, ia kemudian bekerja sebagai penulis lepas, dengan peluang yang datang melalui koneksinya di industri media. Pada masa tersebut, orang tuanya turut membantu membayar biaya sewa tempat tinggal. Bantuan itu menjadi penting ketika ia sedang membangun kembali sumber pendapatan dan merintis bisnisnya, sekaligus menghadapi kebutuhan sehari-hari yang tetap harus dipenuhi.

Sacks menyatakan bahwa dukungan orang tuanya sangat berarti. Bantuan tersebut tidak menghapus kerja yang ia lakukan untuk mengembangkan usahanya, tetapi menunjukkan bahwa pencapaian finansial tidak selalu berdiri sendiri.

Baca juga: Armada Kendaraan Listrik DHL Express Indonesia Bertambah Menjadi 58 Unit | Prospek Global 2027 Membaik, Indonesia Diminta Mengubah Stabilitas Menjadi Pertumbuhan | ST017 Menjadi Penawaran SBN Ritel Terakhir Pemerintah pada 2026