Balikpapan | Menteri Koordinator Bidang Hilirisasi dan Transisi Energi Bahlil Lahadalia meminta PT Pertamina (Persero) segera menuntaskan aspek final proyek Refinery Development Master Plan (RDMP) di Balikpapan, Kalimantan Timur. Permintaan tersebut disampaikan setelah ia meninjau kilang yang menjadi bagian penting dari upaya peningkatan kapasitas dan kualitas pengolahan minyak dalam negeri. Menurut Bahlil, penyelesaian pekerjaan tersisa diperlukan agar fasilitas yang telah diresmikan itu dapat menjalankan seluruh fungsi operasionalnya secara optimal, bukan hanya memenuhi capaian pembangunan secara keseluruhan.
Progres proyek RDMP Balikpapan dilaporkan telah mencapai 99 persen. Meski demikian, capaian tersebut belum sepenuhnya mencerminkan kesiapan setiap unit untuk beroperasi maksimal. Sejumlah produk dan fasilitas masih belum berfungsi sebagaimana mestinya karena terdapat kendala teknis yang perlu ditangani. Bahlil meminta Pertamina mengidentifikasi persoalan tersebut secara cermat, kemudian memperbaikinya dengan segera. Ia menekankan bahwa sisa pekerjaan tidak boleh dibiarkan menghambat kinerja kilang, terutama setelah proyek diresmikan dan memasuki tahap pemanfaatan.
Bahlil menyampaikan hal itu di kantor Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM), Jakarta, Jumat (23/10/2026), setelah melakukan peninjauan langsung ke kilang. Ia meminta Pertamina memastikan seluruh aspek teknis yang masih bermasalah ditindaklanjuti sampai tuntas. Langkah tersebut mencakup penyelesaian pekerjaan akhir dan pemeriksaan kesiapan operasional, sehingga kinerja fasilitas dapat sesuai dengan sasaran proyek. Dengan demikian, status progres yang hampir rampung dapat diikuti oleh kemampuan produksi yang berjalan stabil dan optimal.
Perhatian terhadap tahap akhir ini penting karena RDMP Balikpapan ditujukan untuk memperkuat kapasitas pengolahan dan pasokan bahan bakar nasional. Namun, manfaat proyek baru dapat dirasakan sepenuhnya apabila unit-unit terkait beroperasi sesuai rencana. Karena itu, arahan Bahlil menempatkan penyelesaian kendala teknis sebagai prioritas Pertamina. Perusahaan diharapkan menuntaskan perbaikan tanpa mengabaikan aspek keselamatan dan mutu, serta memastikan setiap produk dapat dihasilkan dengan baik. Penyelesaian tersebut akan menjadi penentu dalam mengubah capaian pembangunan menjadi kinerja kilang yang nyata dan berkelanjutan.
Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral Bahlil Lahadalia meninjau langsung kilang Pertamina di Balikpapan untuk melihat perkembangan proyek RDMP. Dalam kunjungan tersebut, ia didampingi Kepala SKK Migas Djoko Siswanto dan Direktur Jenderal Minyak dan Gas Bumi Laode Sulaeman. Peninjauan itu menjadi kesempatan bagi para pejabat untuk memeriksa kondisi fasilitas serta mengetahui bagian pekerjaan yang masih harus diselesaikan. Kehadiran mereka juga menunjukkan perhatian pemerintah terhadap percepatan proyek kilang, yang ditargetkan mendukung pemenuhan kebutuhan bahan bakar minyak nasional. Fokus kunjungan bukan hanya pada capaian pembangunan, tetapi juga pada kendala yang masih memerlukan penanganan sebelum fasilitas baru dapat beroperasi sesuai harapan.
Bahlil menyampaikan bahwa aspek utama proyek telah rampung. Namun, masih terdapat sejumlah pekerjaan detail dan penyesuaian pada fasilitas baru yang perlu dibereskan. Ia menggambarkan kondisi tersebut sebagai kendala yang harus diselesaikan, bukan sebagai alasan untuk mengabaikan target proyek. Keterangan itu memberi gambaran bahwa tahap pembangunan utama sudah dilalui, sementara perhatian kini tertuju pada penyelesaian bagian-bagian tersisa. Bahlil tidak merinci jenis pekerjaan maupun penyesuaian yang dimaksud. Karena itu, keterangan mengenai tahapan akhir proyek perlu dipahami sesuai informasi yang disampaikan dalam peninjauan, tanpa menyimpulkan rincian teknis yang belum dipaparkan kepada publik.
Peninjauan bersama pejabat terkait juga menegaskan perlunya memastikan pekerjaan tersisa ditangani hingga tuntas. Bahlil menyebut kendala tersebut perlu dibereskan agar proyek dapat bergerak menuju sasaran yang telah ditetapkan. Meski demikian, ia tidak menyampaikan uraian tambahan mengenai bentuk kendala, langkah teknis, ataupun jadwal penyelesaiannya. Dengan demikian, perkembangan RDMP Balikpapan saat ini dapat dijelaskan secara terbatas: bagian utama proyek telah selesai, sedangkan sejumlah detail dan penyesuaian fasilitas baru masih menjadi pekerjaan yang harus diselesaikan. Informasi ini melengkapi gambaran tentang percepatan proyek kilang Pertamina Balikpapan, tanpa mengubah atau memperluas pernyataan yang disampaikan dalam kunjungan tersebut. Pemerintah dan pihak terkait perlu menuntaskan sisa pekerjaan itu sebelum capaian proyek dapat dinilai sepenuhnya berdasarkan sasaran pemenuhan kebutuhan BBM.
RDMP Balikpapan merupakan Proyek Strategis Nasional yang dikembangkan untuk memperkuat kapasitas pengolahan minyak dan pasokan bahan bakar di Indonesia. Proyek ini memiliki nilai investasi sekitar US$7,4 miliar, setara kurang lebih Rp126 triliun. Besarnya nilai tersebut menjadikannya salah satu investasi BUMN terbesar yang terkonsentrasi di satu lokasi. Skala pembangunan ini mencerminkan upaya meningkatkan kemampuan kilang dalam menghasilkan produk yang dibutuhkan masyarakat dan sektor ekonomi, sekaligus memperkuat infrastruktur energi nasional.
Setelah beroperasi penuh, kilang Balikpapan ditargetkan dapat memenuhi sekitar 22 hingga 25 persen kebutuhan BBM nasional. Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral Bahlil Lahadalia juga menyebut kontribusi kilang tersebut dapat mencapai 25 persen dari produksi BBM nasional. Proyeksi ini menempatkan RDMP sebagai salah satu fasilitas penting dalam struktur pasokan domestik. Besaran kontribusi aktual akan bergantung pada kinerja operasional, jenis dan volume produk yang dihasilkan, serta perkembangan kebutuhan energi dalam negeri. Karena itu, kapasitas yang ditingkatkan diharapkan memberikan tambahan pasokan yang terukur ketika fasilitas beroperasi secara optimal.
Penguatan produksi dalam negeri diharapkan membantu memenuhi kebutuhan BBM nasional dan mengurangi ketergantungan terhadap impor. Ketika sebagian kebutuhan dapat dipenuhi dari hasil pengolahan domestik, pasokan dapat ditopang oleh kapasitas kilang di dalam negeri, meskipun impor masih dapat diperlukan sesuai kondisi permintaan dan ketersediaan minyak mentah. Harapan tersebut juga dikaitkan dengan agenda Asta Cita Presiden Prabowo Subianto, sebagaimana disampaikan dalam konteks pengembangan proyek ini. Upaya memperkuat ketahanan energi sejalan dengan sasaran meningkatkan kemandirian nasional dan memastikan ketersediaan energi bagi kegiatan masyarakat serta industri. Dengan investasi besar dan sasaran kontribusi terhadap pasokan, RDMP Balikpapan menjadi bagian dari langkah jangka panjang untuk membangun sistem energi yang lebih kuat. Pencapaian manfaatnya akan ditentukan oleh penyelesaian proyek, keandalan operasional, dan kemampuan menjaga produksi secara berkelanjutan.
Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral Bahlil Lahadalia menyatakan ketahanan pasokan bahan bakar minyak (BBM) nasional berada dalam kondisi aman. Pemerintah, menurut dia, terus memantau ketersediaan dan penyaluran BBM agar kebutuhan masyarakat dapat dipenuhi. Stok Pertalite secara rata-rata tersedia untuk sekitar 16–18 hari. Angka tersebut menjadi salah satu gambaran bahwa pasokan nasional masih terjaga, meskipun distribusi di sejumlah wilayah dapat menghadapi kendala tersendiri.
Bahlil juga menyampaikan bahwa Indonesia tidak lagi mengimpor solar. Dengan demikian, pemenuhan kebutuhan solar tidak menjadi persoalan pasokan nasional, karena kebutuhan tersebut dapat ditopang dari produksi dalam negeri. Pernyataan ini membedakan kondisi ketersediaan BBM secara umum dari tantangan logistik di daerah tertentu. Pemerintah tetap perlu memastikan produk yang tersedia dapat menjangkau konsumen, terutama di wilayah yang bergantung pada jalur transportasi air maupun darat.
Salah satu gangguan distribusi yang disoroti terjadi di Kalimantan Barat. Pendangkalan Sungai Kapuas, yang dikaitkan dengan fenomena El Niño, membuat kapal pengangkut BBM tidak dapat melintas secara optimal. Kondisi sungai tersebut membatasi pergerakan kapal dan dapat menghambat kelancaran pengiriman menuju lokasi tujuan. Karena itu, persoalan yang dihadapi bukan semata-mata ketersediaan BBM, melainkan penyesuaian cara menyalurkannya agar pasokan tetap sampai kepada masyarakat.
Bahlil menjelaskan, kapal dapat dimanfaatkan terlebih dahulu sebagai tempat penampungan sementara ketika pengiriman melalui sungai terkendala. Selanjutnya, BBM diteruskan dengan truk tangki melalui jalur darat menuju titik distribusi.
Baca juga: Kilang Balikpapan Hampir Tuntas, Pasokan BBM Nasional Ditopang Produksi Domestik | Bursa Mineral Indonesia Ditargetkan Mulai Beroperasi pada 4 Januari 2027 | Permintaan Pertalite Meningkat, Pemerintah Evaluasi Kebutuhan Kuota



































