Jakarta | Penyelenggara MilkLife Soccer Challenge (MLSC) membagi kompetisi di Jakarta ke dalam dua wilayah, yakni Regional Jakarta Raya dan Regional Jakarta Jaya. Pengaturan ini dirancang agar kesempatan mengikuti kompetisi dan pembinaan sepak bola putri usia dini dapat menjangkau lebih banyak siswi. Dengan wilayah penyelenggaraan yang lebih terarah, peserta tidak hanya berasal dari satu kawasan, sementara sekolah dan keluarga di berbagai bagian Jakarta memiliki akses yang lebih dekat terhadap kegiatan sepak bola putri.
Regional Jakarta Raya diperuntukkan bagi peserta dari Jakarta Timur dan daerah sekitarnya. Sementara itu, Regional Jakarta Jaya menjangkau Jakarta Utara beserta daerah penyangganya. Pembagian cakupan tersebut membantu penyelenggara menyesuaikan jangkauan kompetisi dengan sebaran peserta, sekaligus membuka ruang bagi siswi dari wilayah yang berbeda untuk berlatih dan bertanding. Kehadiran dua regional juga memungkinkan kegiatan MLSC berkembang di lebih banyak lingkungan sekolah dan komunitas.
Perluasan wilayah ini memiliki arti penting bagi pembinaan sejak usia dini. Kompetisi yang lebih mudah dijangkau dapat memberi kesempatan kepada siswi untuk mengenal sepak bola, mengasah keterampilan, serta memperoleh pengalaman bertanding secara teratur. Selain itu, pembagian regional dapat mendorong sekolah dan lingkungan setempat untuk lebih aktif mendukung partisipasi anak perempuan dalam olahraga. Dengan demikian, MLSC tidak hanya menjadi ajang pertandingan, tetapi juga salah satu jalur untuk memperluas akses terhadap aktivitas dan pembinaan sepak bola putri.
Kebijakan pembagian wilayah tersebut menjadi sorotan dalam penyelenggaraan perdana MLSC Jakarta Jaya Seri 1 2026–2027. Kompetisi ini digelar di Jakarta International Stadium pada Minggu, 25 Oktober 2026. Penyelenggaraan perdana di kawasan Jakarta Utara menandai hadirnya cakupan regional yang secara khusus merangkul wilayah tersebut dan daerah penyangganya. Melalui Jakarta Raya dan Jakarta Jaya, penyelenggara berupaya membawa kompetisi lebih dekat kepada siswi di berbagai wilayah, sehingga peluang untuk berpartisipasi dalam sepak bola putri usia dini dapat terbuka lebih luas di Jakarta.
Program Director MLSC, Teddy Tjahjono, menjelaskan bahwa keputusan membagi Jakarta ke dalam dua wilayah berangkat dari kebutuhan untuk mengakomodasi luasnya cakupan ibu kota. Wilayah Jakarta yang terbentang luas membuat penyelenggaraan kompetisi perlu dirancang dengan pembagian yang sesuai kondisi tersebut. Menurut Teddy, pembagian regional juga berkaitan dengan besarnya populasi siswi sekolah dasar serta madrasah ibtidaiyah yang memiliki minat terhadap sepak bola. Jumlah anak perempuan yang ingin bermain dan berkompetisi menjadi pertimbangan dalam menyusun cakupan wilayah pelaksanaan MLSC di Jakarta. Dengan demikian, format dua wilayah dipilih agar kompetisi dapat menyesuaikan keluasan kota dan banyaknya calon peserta dari jenjang SD maupun MI.
Teddy juga menyampaikan bahwa masukan mengenai kondisi Jakarta tersebut datang dari tim gubernur DKI Jakarta. Masukan itu mencakup luasnya wilayah ibu kota dan besarnya populasi siswi SD serta MI yang berminat pada sepak bola. Informasi tersebut menjadi perhatian dalam pembahasan mengenai pelaksanaan MLSC di Jakarta dan pembagian wilayah kompetisinya. Teddy menjelaskan bahwa pembagian regional dibuat untuk mengakomodasi kondisi tersebut. Dengan wilayah yang luas dan banyaknya siswi yang tertarik mengikuti sepak bola, kompetisi dibagi ke dalam dua cakupan wilayah. Penjelasan ini menegaskan bahwa keputusan tersebut berkaitan dengan karakteristik Jakarta serta kebutuhan untuk memberi ruang bagi para siswi yang ingin berpartisipasi dalam kompetisi.
Penyelenggara berharap pembagian wilayah dapat membuka kesempatan yang lebih merata bagi anak-anak untuk mengikuti kompetisi. Dengan adanya dua wilayah, siswi SD dan MI yang berminat diharapkan memiliki peluang untuk terlibat dalam MLSC, tanpa terkendala oleh luasnya cakupan Jakarta. Harapan tersebut sejalan dengan tujuan untuk mendukung pertumbuhan sepak bola putri usia dini di ibu kota. Kompetisi diharapkan menjadi ruang bagi anak-anak untuk ikut serta dan mengembangkan minat mereka pada sepak bola. Teddy menyampaikan bahwa pembagian regional merespons kondisi luas wilayah dan besarnya populasi siswi yang berminat. Melalui pengaturan itu, MLSC di Jakarta diharapkan dapat menjangkau peserta secara lebih merata sekaligus mendukung perkembangan sepak bola putri sejak usia dini.
Gelaran perdana MilkLife Soccer Challenge (MLSC) Jakarta Jaya Seri 1 2026–2027 mencatat partisipasi yang luas sejak peluit awal kompetisi. Sebanyak 1.600 siswi dari 112 sekolah dasar (SD) dan madrasah ibtidaiyah (MI) ambil bagian dalam turnamen yang diinisiasi Bakti Olahraga Djarum Foundation bersama MilkLife. Skala tersebut menunjukkan bahwa kesempatan bermain sepak bola bagi anak perempuan dapat menarik minat dari banyak sekolah di Jakarta dan sekitarnya.
Para peserta berkompetisi dalam dua kelompok umur. Tercatat 32 tim mengikuti kelompok umur 10, sementara 111 tim berlaga pada kelompok umur 12. Kehadiran ratusan tim ini membuat seri pembuka menjadi ajang pertemuan bagi siswi dengan pengalaman dan latar belakang sepak bola yang beragam. Bagi sebagian peserta, kompetisi ini menjadi kesempatan untuk menguji kemampuan dalam pertandingan terorganisasi; bagi yang lain, menjadi pengalaman awal memasuki lingkungan turnamen.
Sekitar 60 persen peserta merupakan pendatang baru di MLSC. Jumlah itu setara dengan 67 tim yang sebelumnya belum pernah mengikuti kompetisi tersebut. Proporsi peserta baru ini menjadi salah satu penanda penting dari jangkauan Seri 1 Jakarta Jaya. Kompetisi tidak hanya diikuti sekolah yang telah mengenal MLSC, tetapi juga membuka ruang bagi tim dan siswi yang baru bergabung. Dengan demikian, partisipasi pada edisi perdana ini menggambarkan perluasan akses sekaligus minat yang terus tumbuh terhadap sepak bola putri di tingkat sekolah dasar.
Teddy menilai regional Jakarta Jaya mampu menjangkau kelompok peserta yang lebih luas. Banyaknya sekolah yang terlibat, disertai masuknya puluhan tim baru, memperlihatkan bahwa semakin banyak siswi memperoleh peluang untuk mencoba dan mengikuti sepak bola kompetitif. Ia berharap jumlah peserta dapat bertambah pada edisi berikutnya. Harapan tersebut sejalan dengan tujuan penyelenggaraan MLSC untuk menghadirkan ruang bermain yang terbuka bagi lebih banyak anak perempuan. Jika semakin banyak sekolah mengirimkan tim, semakin banyak pula siswi yang dapat merasakan pengalaman berlatih, bertanding, dan berkembang melalui kompetisi.
Teddy melihat adanya perbedaan perkembangan permainan di sekolah-sekolah yang mengikuti MLSC. Tim dari sekolah yang sudah beberapa kali berpartisipasi dalam turnamen umumnya tampil lebih matang. Para pemain terlihat lebih terbiasa membaca situasi, menjaga posisi, dan bekerja sama saat menghadapi lawan. Pengalaman bertanding membantu mereka memahami tempo permainan serta mengambil keputusan dengan lebih tenang. Hal tersebut menunjukkan bahwa kesempatan bermain secara teratur dapat memberi pengaruh penting terhadap perkembangan kemampuan pemain muda, terutama ketika mereka memperoleh ruang untuk belajar dari berbagai situasi pertandingan.
Di sisi lain, sekolah yang baru bergabung juga menunjukkan hal yang patut diperhatikan. Meski pengalaman kompetisinya masih terbatas, para pemain pendatang baru memperlihatkan semangat juang dan potensi yang menjanjikan. Keberanian untuk mencoba, kemauan mengejar bola, dan antusiasme mereka menjadi bekal yang dapat terus dikembangkan. Perbedaan pengalaman tim bukan semata-mata menggambarkan jarak kemampuan, melainkan juga menegaskan bahwa setiap peserta berada pada tahap pembinaan yang berbeda. Dengan lingkungan pertandingan yang mendukung, pemain yang baru mengenal turnamen dapat memperoleh pengalaman, membangun kepercayaan diri, dan belajar menghadapi tekanan secara bertahap.
Menurut Teddy, konsistensi pembinaan menjadi unsur penting agar potensi tersebut dapat berkembang. Latihan yang berkelanjutan dapat membantu pemain muda mengasah teknik dasar, memahami kerja sama tim, dan memperkuat kebugaran.
Baca juga: Atmosfer El Clasico Hadir di Jakarta Lewat Sepak Bola Bersama Jurnalis dan Influencer | Pelanggaran Batas Lomba di Jakarta Running Festival Berujung Permintaan Maaf | Gugatan Rp3,51 Miliar terhadap Asuransi Tugu Terdaftar di PN Jakarta Selatan



































