Jakarta | Inflasi kembali menjadi perhatian pemerintah menjelang Natal dan Tahun Baru (Nataru), ketika permintaan sejumlah kebutuhan masyarakat biasanya meningkat. Perkembangan harga perlu dipantau agar kenaikan yang terjadi tidak membebani rumah tangga maupun mengganggu daya beli. Data per September 2026 menunjukkan inflasi tahunan mencapai 3,28 persen, sementara inflasi bulanan tercatat naik 0,30 persen. Angka tersebut menjadi salah satu dasar bagi pemerintah untuk memperkuat koordinasi pengendalian harga menjelang periode libur akhir tahun.
Menteri Dalam Negeri Tito Karnavian menyampaikan bahwa sektor makanan dan minuman menjadi penyumbang utama tekanan inflasi. Di dalam kelompok tersebut, cabai rawit dan cabai merah mendapat perhatian karena harganya mengalami kenaikan. Tito menjelaskan hal itu setelah menghadiri rapat koordinasi Kementerian Koordinator Bidang Pangan di Jakarta Pusat, Senin, 26 Oktober. Menurutnya, kondisi pasokan di sejumlah wilayah produsen turut memengaruhi pergerakan harga komoditas tersebut.
Kekeringan yang melanda beberapa daerah penghasil cabai berdampak pada produksi dan ketersediaan barang di pasar. Ketika hasil panen menurun atau distribusi pasokan tidak berjalan lancar, harga dapat terdorong naik, terutama jika permintaan tetap tinggi. Situasi ini membuat cabai rawit dan cabai merah rentan menjadi pemicu inflasi pangan, mengingat keduanya lazim digunakan dalam konsumsi sehari-hari. Perubahan harga pada komoditas tersebut juga dapat terasa langsung oleh konsumen, khususnya kelompok rumah tangga dengan pengeluaran terbatas.
Menjelang Nataru, pemantauan harga dan pasokan menjadi penting untuk mengantisipasi tekanan lebih lanjut. Pemerintah pusat dan daerah perlu memperhatikan perkembangan panen, ketersediaan stok, serta kelancaran distribusi dari sentra produksi ke berbagai pasar. Langkah tersebut dapat membantu mengidentifikasi wilayah yang mengalami kekurangan pasokan lebih awal dan mendukung respons yang sesuai. Penjelasan Mendagri menegaskan bahwa pengendalian inflasi tidak hanya bergantung pada pencatatan angka, tetapi juga pada pemahaman atas penyebab kenaikan harga di lapangan. Dengan memantau cabai dan komoditas pangan lain secara berkala, pemerintah dapat menjaga kestabilan harga serta mengurangi risiko beban belanja masyarakat meningkat selama perayaan akhir tahun.
Untuk merespons tekanan harga pangan menjelang Natal dan Tahun Baru, Menteri Dalam Negeri Tito Karnavian mendorong pemerintah daerah menyiapkan langkah jangka pendek yang dapat membantu menjaga pasokan dan daya beli masyarakat. Perhatian khusus diberikan kepada harga cabai, yang mengalami tekanan terkait kondisi kekeringan. Dalam situasi tersebut, pemerintah daerah diminta menggerakkan upaya pengendalian sesuai kondisi di wilayah masing-masing, tanpa mengabaikan kebutuhan warga menghadapi kenaikan harga kebutuhan pokok.
Salah satu langkah yang didorong adalah menggalakkan penanaman cabai di tingkat rumah tangga. Upaya ini diarahkan untuk membantu memenuhi sebagian kebutuhan cabai secara mandiri dan mengurangi ketergantungan pada pasokan pasar, terutama ketika tekanan terhadap harga meningkat. Penanaman di lingkungan rumah tangga juga menjadi bagian dari respons yang dapat dilakukan masyarakat bersama pemerintah daerah. Langkah tersebut tidak serta-merta menghapus dampak kekeringan, tetapi menjadi salah satu cara untuk mendukung ketersediaan pangan dan meredam tekanan harga.
Selain mendorong penanaman cabai, pemerintah daerah diminta mengintensifkan operasi pasar. Kegiatan ini merupakan instrumen untuk membantu masyarakat memperoleh bahan pangan dengan harga yang lebih terjangkau ketika harga pasar mengalami kenaikan. Pemerintah daerah juga didorong menyalurkan bantuan sosial daerah kepada warga yang membutuhkan. Kombinasi operasi pasar dan bantuan sosial diharapkan dapat memberikan respons langsung terhadap beban masyarakat, sementara langkah penanaman membantu memperkuat upaya pemenuhan pasokan. Ketiga pendekatan tersebut menjadi bagian dari antisipasi jangka pendek terhadap tekanan harga cabai yang berkaitan dengan kekeringan. Pelaksanaannya perlu disesuaikan dengan situasi setempat, dengan fokus pada pengendalian harga pangan dan dukungan bagi masyarakat selama periode Nataru.
Selain harga cabai, tarif penerbangan menjadi perhatian dalam upaya mengantisipasi tekanan inflasi menjelang Natal dan Tahun Baru. Pada periode tersebut, mobilitas masyarakat biasanya meningkat karena banyak orang bepergian untuk berlibur, mengunjungi keluarga, atau pulang ke daerah asal. Kenaikan jumlah penumpang dapat mendorong permintaan tiket pesawat, terutama pada rute dan tanggal perjalanan yang ramai. Situasi ini berisiko membuat biaya perjalanan bertambah dan turut membebani pengeluaran rumah tangga. Karena itu, perkembangan tarif penerbangan perlu dicermati seiring persiapan menghadapi libur akhir tahun. Pengendalian harga transportasi menjadi bagian dari perhatian pemerintah untuk menjaga kestabilan harga dan daya beli masyarakat ketika kebutuhan perjalanan meningkat pada masa tersebut.
Menteri Dalam Negeri Tito Karnavian meminta Kementerian Perhubungan, khususnya Direktorat Jenderal Perhubungan Udara, mengambil langkah komunikasi dengan para pelaku industri. Ia meminta kementerian mengumpulkan pengelola maskapai dan menyampaikan agar mereka tidak menaikkan harga tiket hingga batas tertinggi ketika permintaan sedang tinggi. Permintaan tersebut diarahkan untuk mengantisipasi lonjakan tarif pada saat banyak masyarakat membutuhkan penerbangan. Dengan mengajak maskapai memperhatikan kondisi tersebut, pemerintah berupaya mencegah harga tiket menjadi beban tambahan bagi penumpang selama periode Nataru. Langkah yang disoroti Tito adalah koordinasi dengan pengelola maskapai, bukan pengumuman mengenai aturan baru atau penetapan tarif tertentu. Pesan utamanya ialah meminta pelaku usaha tidak memanfaatkan tingginya permintaan untuk mendorong tarif sampai batas maksimal.
Perhatian terhadap tiket pesawat melengkapi pemantauan komoditas pangan yang kerap mengalami perubahan harga menjelang hari besar. Bagi masyarakat yang telah merencanakan perjalanan, tarif yang meningkat tajam dapat memengaruhi anggaran liburan maupun kebutuhan pulang kampung. Oleh sebab itu, koordinasi Kementerian Perhubungan dan maskapai menjadi penting agar perkembangan harga dapat diperhatikan saat arus perjalanan mulai bertambah. Imbauan Tito menekankan perlunya kehati-hatian dalam menentukan tarif pada masa permintaan tinggi, sehingga kenaikan harga tidak berlangsung sampai batas tertinggi. Pemerintah menaruh perhatian pada faktor-faktor yang berpotensi menekan pengeluaran masyarakat selama libur akhir tahun. Dengan demikian, tarif penerbangan tetap menjadi salah satu aspek yang perlu dicermati dalam upaya mengantisipasi tekanan inflasi Nataru, bersama dengan harga kebutuhan pokok.Menjelang Natal dan Tahun Baru (Nataru), kenaikan permintaan perjalanan udara diperkirakan mendorong tingkat keterisian penumpang maskapai meningkat tajam. Menteri Dalam Negeri Tito Karnavian menilai kondisi tersebut perlu menjadi pertimbangan dalam membahas harga tiket pesawat. Ketika lebih banyak kursi terisi, pendapatan maskapai berpeluang naik tanpa harus menetapkan tarif pada batas maksimal. Karena itu, menurut Tito, maskapai masih dapat memperoleh keuntungan meskipun harga tiket tidak dinaikkan hingga tingkat tertinggi yang diizinkan. Pandangan ini disampaikan sebagai dasar untuk mencari keseimbangan kebutuhan menjaga keberlanjutan usaha penerbangan dan upaya melindungi masyarakat dari beban biaya perjalanan yang terlalu tinggi.
Tarif angkutan udara merupakan salah satu faktor yang dapat menambah tekanan terhadap pengeluaran rumah tangga selama periode libur panjang. Apabila harga tiket melonjak, dampaknya tidak hanya dirasakan oleh penumpang, tetapi juga dapat berkontribusi pada kenaikan biaya perjalanan dan pergerakan barang di sejumlah wilayah. Pemerintah, dengan demikian, perlu mencermati dinamika permintaan, keterisian pesawat, serta komponen biaya yang memengaruhi harga. Tito menyoroti pentingnya menghindari kebijakan yang secara otomatis mendorong tarif ke batas tertinggi, terutama ketika lonjakan penumpang diperkirakan sudah memberi peluang pendapatan lebih besar bagi maskapai. Namun, keputusan harga tetap perlu mempertimbangkan kondisi operasional dan keterjangkauan layanan.
Sebagai pilihan untuk mengurangi tekanan biaya, Tito mengusulkan agar pemerintah mempertimbangkan subsidi bahan bakar minyak maupun subsidi angkutan udara bagi wilayah tertentu. Usulan tersebut dimaksudkan sebagai bahan pembahasan, bukan kebijakan yang telah diputuskan atau diterapkan.
Baca juga: Pemerintah Soroti Lonjakan Harga Cabai dan Siapkan Langkah Jelang Nataru | Harga Pangan Nasional Naik: Cabai Rawit Merah Capai Rp152.950 per Kilogram | Tito Karnavian Uraikan Pemicu Kenaikan Cabai dan Perkembangan Harga Ayam-Telur



































