Langkah Mengurangi Risiko Kanker Payudara dan Pentingnya Deteksi Dini

oleh -102 Dilihat
oleh
Langkah Mengurangi Risiko Kanker Payudara dan Pentingnya Deteksi Dini

Tangerang | Dokter spesialis bedah onkologi Sonar Soni Panigoro menyampaikan bahwa risiko kanker payudara dapat ditekan melalui upaya pencegahan, dengan perkiraan penurunan sekitar 40 hingga 60 persen. Angka tersebut menunjukkan bahwa langkah menjaga kesehatan dapat memberi dampak bermakna, tetapi bukan jaminan bahwa seseorang tidak akan terkena kanker. Tidak semua kasus dapat dicegah, sebab penyakit ini dipengaruhi beragam faktor yang tidak seluruhnya bisa dikendalikan. Karena itu, memahami risiko dan melakukan deteksi dini tetap penting, termasuk bagi orang yang telah menerapkan pola hidup sehat.

Faktor genetik dapat berperan dalam kemungkinan seseorang mengalami kanker payudara. Riwayat keluarga, khususnya kerabat dekat yang pernah didiagnosis, dapat menjadi alasan untuk berkonsultasi dengan tenaga kesehatan mengenai tingkat risiko dan jadwal pemeriksaan yang sesuai. Namun, faktor keturunan bukan satu-satunya penentu. Gaya hidup juga merupakan bagian penting yang dapat diperhatikan dalam mengurangi risiko. Kebiasaan sehari-hari seperti menjaga berat badan tetap sehat, rutin bergerak, membatasi konsumsi alkohol, serta menghindari rokok mendukung kesehatan secara umum dan dapat membantu menekan sejumlah faktor risiko.

Perubahan gaya hidup sebaiknya dilakukan secara realistis dan berkelanjutan, bukan sebagai pengganti pemeriksaan medis. Pilihan makan yang seimbang, aktivitas fisik teratur, tidur cukup, dan pengelolaan kesehatan secara menyeluruh dapat menjadi langkah awal yang praktis. Pada saat yang sama, kenali perubahan pada payudara, seperti benjolan, perubahan bentuk atau kulit, maupun keluarnya cairan yang tidak biasa, lalu segera konsultasikan kepada tenaga kesehatan. Kanker payudara dapat dialami perempuan maupun laki-laki, meskipun risikonya tidak sama. Oleh sebab itu, informasi dan kewaspadaan tidak seharusnya terbatas pada perempuan. Dengan memahami faktor yang dapat diubah dan yang tidak dapat diubah, setiap orang dapat mengambil keputusan pencegahan serta pemeriksaan yang lebih tepat, tanpa menganggap perubahan gaya hidup sebagai perlindungan mutlak.

Mengurangi risiko kanker payudara dapat dimulai dengan kebiasaan sehari-hari yang mendukung kesehatan. Salah satu langkah yang dianjurkan adalah menghindari paparan rokok, baik dengan tidak merokok maupun menjauhi asap rokok dari orang lain. Paparan tersebut perlu diperhatikan karena upaya menghindarinya disebut dapat berkontribusi hingga 20 persen dalam pencegahan kanker payudara. Karena itu, rumah dan lingkungan kerja sebaiknya dijaga tetap bebas asap rokok, sementara perokok dapat mencari bantuan untuk berhenti.

Aktivitas fisik rutin juga menjadi bagian penting dari gaya hidup sehat. Anjuran yang disampaikan adalah berolahraga setidaknya 1,5 jam per minggu. Tidak ada jenis olahraga khusus yang diwajibkan; memperbanyak gerak secara konsisten dapat menjadi fokus. Jalan cepat, bersepeda, atau aktivitas lain yang sesuai kemampuan dapat membantu memenuhi kebutuhan gerak tersebut. Pilihan sederhana dalam rutinitas harian pun berguna, seperti lebih sering berjalan kaki dan mengurangi waktu duduk terus-menerus.

Narasumber menggambarkan perbedaan kebiasaan pasif—banyak duduk, bekerja lama di depan komputer, lalu tidur larut—dan pola hidup yang lebih aktif. Bangun pagi, berolahraga, menggunakan transportasi umum, serta berjalan kaki ke kantor merupakan contoh kegiatan yang dapat menambah gerak. Perubahan tidak harus dilakukan sekaligus; kebiasaan kecil yang dijalankan teratur lebih mudah dipertahankan dan dapat disesuaikan dengan kondisi masing-masing.

Pengaturan makan juga disarankan tanpa menetapkan pantangan mutlak. Hindari konsumsi berlebihan terhadap jenis makanan tertentu dan batasi makanan manis. Terapkan pola makan seimbang dengan mengurangi porsi karbohidrat berlebih, memilih makanan rendah lemak, serta memperbanyak sumber serat seperti sayur dan buah. Selain itu, hindari alkohol. Suplemen tidak perlu dikonsumsi dengan tujuan mencegah kanker tanpa dasar dan arahan tenaga kesehatan; suplemen bukan pengganti pola hidup sehat. Bagi ibu, menyusui setidaknya empat bulan turut dianjurkan sebagai bagian dari langkah menjaga kesehatan. Berbagai kebiasaan ini tidak menjamin seseorang bebas dari kanker, tetapi dapat mendukung kesehatan dan melengkapi pemeriksaan serta deteksi dini sesuai anjuran medis.

SADARI, atau pemeriksaan payudara sendiri, membantu seseorang mengenali kondisi payudaranya dan menyadari perubahan yang mungkin terjadi. Pemeriksaan ini dianjurkan dilakukan secara rutin setiap bulan. Bagi perempuan yang menstruasi, waktu yang disarankan adalah sekitar 7–10 hari setelah hari pertama menstruasi, ketika payudara umumnya tidak terlalu terasa nyeri atau bengkak. Lakukan pemeriksaan dengan tenang, amati bentuk dan kulit payudara di depan cermin, lalu raba seluruh area payudara serta ketiak secara sistematis. Kenali kondisi yang biasa dirasakan agar perubahan baru lebih mudah diketahui. SADARI bukan pengganti pemeriksaan oleh tenaga medis dan tidak dapat memastikan diagnosis, tetapi dapat menjadi langkah awal untuk mengenali perubahan.

Pemeriksaan medis tetap penting, bahkan ketika belum ada keluhan. Menurut Sonar, kanker payudara pada stadium awal hampir tidak menunjukkan gejala atau benjolan. Ia juga menyampaikan bahwa 80 persen benjolan payudara tidak disertai keluhan maupun rasa sakit. Karena itu, tidak adanya nyeri bukan alasan untuk mengabaikan perubahan atau menunda konsultasi. Sebaliknya, munculnya benjolan tidak selalu berarti kanker, tetapi perlu dinilai oleh tenaga kesehatan agar penyebabnya dapat diketahui. Pemeriksaan profesional dapat membantu menentukan apakah pemeriksaan lanjutan diperlukan, berdasarkan riwayat kesehatan, temuan klinis, dan faktor risiko masing-masing. Jika menemukan perubahan pada payudara, jadwalkan konsultasi tanpa menunggu sampai gejala bertambah atau kondisi terasa mengganggu.

Usia muda juga bukan alasan untuk menunda perhatian terhadap kesehatan payudara. Sonar menyebut pernah menemui kasus pada pasien berusia 18 tahun, sehingga pemeriksaan dan konsultasi tidak perlu menunggu seseorang berusia di atas 30 tahun. Temuan tersebut tidak berarti setiap orang muda memiliki risiko yang sama, tetapi menegaskan pentingnya respons yang tepat terhadap perubahan dan kekhawatiran. Perempuan maupun laki-laki dapat menjalani medical check-up untuk membantu mendeteksi kanker payudara. Saat berkonsultasi, sampaikan perubahan yang dirasakan, kapan mulai terjadi, serta riwayat kesehatan pribadi atau keluarga yang relevan. Tenaga medis dapat menyarankan langkah pemeriksaan sesuai kebutuhan. Dengan menggabungkan kebiasaan mengenali kondisi payudara dan pemeriksaan kesehatan, deteksi dapat dilakukan lebih dini tanpa harus menunggu munculnya tanda yang jelas.

Menurut Sonar, perhatian terhadap kesehatan payudara dapat dimulai setelah anak mengalami menstruasi. Orang tua dapat mengajak anak berkonsultasi dengan tenaga kesehatan atau menjalani pemeriksaan kesehatan menyeluruh untuk memperoleh informasi yang sesuai dengan kondisi dan tahap perkembangannya. Konsultasi bukan berarti setiap anak harus langsung menjalani serangkaian pemeriksaan khusus, melainkan kesempatan untuk membahas perubahan tubuh, riwayat kesehatan keluarga, serta langkah pemantauan yang tepat. Dengan komunikasi yang terbuka dan pendampingan yang baik, anak juga dapat memahami pentingnya mengenali kondisi tubuhnya tanpa merasa takut atau menganggap pemeriksaan sebagai sesuatu yang memalukan.

Sonar menyarankan agar skrining menggunakan ultrasonografi (USG) dipertimbangkan setelah seseorang memasuki masa akil balik. Waktu dan jenis pemeriksaan sebaiknya dibicarakan bersama dokter, karena kebutuhan dapat berbeda menurut usia, kondisi kesehatan, riwayat keluarga, dan temuan pemeriksaan sebelumnya. Sekitar usia 18 atau 20 tahun, apabila tidak ditemukan masalah, pemeriksaan dapat dilakukan setiap dua hingga tiga tahun. Jadwal tersebut merupakan panduan yang disampaikan narasumber, bukan pengganti penilaian tenaga kesehatan. Bila seseorang merasakan benjolan, perubahan bentuk atau kulit payudara, keluarnya cairan yang tidak biasa, maupun keluhan lain, jangan menunggu jadwal skrining berikutnya; konsultasikan segera agar penyebabnya dapat dinilai.

Seiring bertambahnya usia, frekuensi pemeriksaan dapat ditingkatkan. Setelah usia 30 tahun, pemeriksaan dianjurkan menjadi lebih sering, dengan jadwal yang disesuaikan berdasarkan konsultasi. Setelah usia 40 tahun, Sonar menyarankan pemeriksaan tahunan.

Baca juga: BEI: Pengecualian 81 Saham HSC Tak Mengurangi Kapitalisasi Pasar | BEI Arahkan Pengawasan Saham ke Deteksi dan Investigasi yang Lebih Terukur | Penguatan Harmonisasi Raperda: Lima Langkah Menjaga Mutu Regulasi Daerah