AI dan Robotik di Rumah Sakit: Tantangan Pemerataan di Luar Jawa

oleh -144 Dilihat
oleh
AI dan Robotik di Rumah Sakit: Tantangan Pemerataan di Luar Jawa

Jakarta | Pemanfaatan kecerdasan buatan (AI) dan perangkat robotik di rumah sakit terus meningkat seiring percepatan transformasi digital kesehatan nasional. Teknologi tersebut mulai mendukung berbagai kebutuhan layanan, mulai dari membantu tenaga medis menganalisis informasi pasien hingga menunjang tindakan klinis yang memerlukan ketelitian tinggi. Perkembangan ini membuka peluang untuk meningkatkan mutu dan efisiensi pelayanan. Namun, manfaatnya tidak otomatis dirasakan secara merata oleh seluruh masyarakat. Ketersediaan perangkat, jaringan komunikasi, sumber daya manusia terlatih, serta dukungan operasional masih berbeda antardaerah, sehingga kemajuan teknologi sekaligus menyoroti persoalan pemerataan dan kesiapan infrastruktur.

Tantangan tersebut menjadi semakin penting ketika fasilitas berteknologi tinggi lebih mudah dijumpai di kota-kota besar, sementara rumah sakit di wilayah lain menghadapi keterbatasan sarana dan tenaga ahli. Ketua Komite Nasional Teknologi Robotik Bidang Kesehatan, Ir Tjahajana Wirakusumah, menekankan bahwa teknologi tinggi tidak semestinya hanya terkonsentrasi di pusat-pusat perkotaan. Fasilitas kesehatan dan kesiapan di luar Pulau Jawa, menurutnya, memerlukan perhatian ekstra agar masyarakat tidak menghadapi kesenjangan dalam memperoleh layanan. Perhatian itu mencakup bukan hanya pengadaan alat, melainkan juga kesiapan infrastruktur, pemeliharaan, pembiayaan, serta pelatihan tenaga kesehatan yang akan mengoperasikannya.

Tjahajana menyampaikan pandangan tersebut dalam talk show Leaders Forum bertema “Reimagining Healthcare, Strengthening Indonesia” di Jakarta, Selasa (27/10/2026). Pesan itu menggarisbawahi bahwa transformasi digital perlu dirancang dengan mempertimbangkan kondisi daerah, bukan sekadar memperluas penggunaan teknologi di rumah sakit yang sudah memiliki sumber daya memadai. Perencanaan yang inklusif dapat membantu memastikan bahwa AI dan robotik menjadi bagian dari penguatan sistem kesehatan nasional, bukan faktor yang memperlebar perbedaan akses. Karena itu, pemerataan perlu berjalan seiring dengan inovasi: kebutuhan tiap wilayah harus dipetakan, kesiapan fasilitas ditingkatkan, dan dukungan berkelanjutan disediakan. Dengan pendekatan tersebut, kemajuan teknologi berpeluang menjangkau lebih banyak pasien, termasuk mereka yang tinggal jauh dari pusat layanan kesehatan utama.Dirjen Kesehatan Lanjutan Kementerian Kesehatan RI, dr Azhar Jaya, mengingatkan bahwa penerapan teknologi kesehatan jarak jauh perlu didahului evaluasi terhadap infrastruktur dasar. Kehadiran perangkat atau sistem baru saja tidak cukup untuk memastikan layanan dapat berjalan sebagaimana mestinya. Rumah sakit dan penyelenggara layanan perlu menilai apakah kondisi di lokasi benar-benar mendukung pengoperasian teknologi tersebut. Peringatan ini penting dalam upaya memperluas pemanfaatan telehealth dan teleoperation, terutama di wilayah yang menghadapi tantangan pemerataan layanan kesehatan. Sebelum teknologi digunakan, kesiapan lingkungan pendukung harus diperiksa secara cermat, bukan diasumsikan tersedia.

Menurut Azhar, dua faktor menjadi penentu dalam penilaian tersebut: kestabilan jaringan internet dan kesiapan sumber daya manusia. Keduanya harus dipertimbangkan bersama karena teknologi jarak jauh bergantung pada koneksi yang memadai sekaligus orang-orang yang siap mengoperasikannya. Karena itu, evaluasi tidak seharusnya hanya berpusat pada pengadaan teknologi. Pengelola juga perlu memastikan jaringan internet di tempat layanan cukup stabil untuk mendukung penggunaannya, serta menilai apakah tenaga kesehatan dan petugas terkait telah siap. Apabila salah satu faktor belum terpenuhi, penerapan teknologi perlu dipertimbangkan kembali sebelum layanan dijalankan.

Azhar mencontohkan risiko penggunaan telehealth atau teleoperation di Papua ketika koneksi internet belum stabil. Apabila jaringan terputus saat operasi sedang berlangsung, kondisi tersebut dapat membahayakan pasien. Contoh ini menegaskan bahwa kestabilan internet bukan sekadar persoalan kenyamanan atau kelancaran komunikasi, melainkan prasyarat yang perlu diperiksa sebelum teknologi digunakan dalam layanan kesehatan. Peringatan itu bukan berarti teknologi jarak jauh tidak dapat dimanfaatkan di Papua, tetapi penerapannya harus memperhatikan kesiapan jaringan dan sumber daya manusia setempat. Dengan mengevaluasi kedua faktor tersebut terlebih dahulu, penyelenggara dapat menilai apakah layanan layak dioperasikan dalam kondisi yang ada. Langkah ini menjaga agar upaya memperluas akses teknologi tetap disertai perhatian terhadap kesiapan dasar di setiap lokasi.Dari sisi penyedia layanan kesehatan, David Utama, Presiden Direktur Siloam International Hospitals, menempatkan pemanfaatan teknologi dalam kaitannya dengan mutu klinis dan pemerataan akses. Teknologi, termasuk kecerdasan buatan dan robotik, bukan tujuan tersendiri. Nilainya bergantung pada kemampuan rumah sakit menggunakannya secara tepat, aman, dan selaras dengan kebutuhan pasien. Karena itu, penerapannya perlu menjadi bagian dari perencanaan layanan, bukan sekadar pengadaan perangkat atau pengembangan fasilitas di lokasi tertentu.

David Utama juga menekankan pentingnya standardisasi di seluruh jaringan rumah sakit. Standar bersama dapat membantu menjaga konsistensi proses dan mutu layanan antarlokasi, sekaligus memberi landasan bagi pemanfaatan teknologi yang lebih terarah. Dalam jaringan yang beroperasi di wilayah dengan kebutuhan dan kapasitas berbeda, standardisasi tidak berarti mengabaikan konteks setempat. Sebaliknya, prinsip klinis dan tata kelola yang seragam perlu diterapkan dengan mempertimbangkan kondisi, sumber daya, serta karakteristik pasien di masing-masing daerah.

Perspektif ini relevan ketika membahas pemerataan di luar Jawa. Akses terhadap teknologi medis dan layanan berkualitas tidak seharusnya hanya terkonsentrasi di kota-kota besar. Namun, memperluas penerapan teknologi membutuhkan kesiapan yang lebih luas daripada ketersediaan alat. Rumah sakit perlu memiliki tenaga terlatih, prosedur yang jelas, dukungan operasional, dan sistem pemantauan mutu. Tanpa unsur-unsur tersebut, teknologi berisiko tidak dimanfaatkan secara optimal dan belum tentu menghasilkan perbaikan klinis yang diharapkan.

Transformasi yang dipaparkan David Utama memiliki sasaran agar masyarakat dapat memperoleh pilihan perawatan terbaik di dalam negeri, tanpa harus selalu pergi ke luar negeri untuk mencari layanan kesehatan. Sasaran ini menuntut peningkatan mutu yang berkesinambungan serta pengembangan kemampuan layanan di berbagai daerah. Standardisasi jaringan dan penggunaan teknologi dapat mendukung arah tersebut apabila dirancang secara merata, dengan perhatian pada kebutuhan pasien dan kesiapan tiap rumah sakit. Dengan demikian, pembahasan tentang inovasi tidak hanya berfokus pada kecanggihan, tetapi juga pada cara manfaatnya menjangkau masyarakat secara lebih luas. Tujuan tersebut merupakan arah transformasi yang hendak dicapai, bukan bukti bahwa pemerataan mutu dan akses telah terwujud sepenuhnya.

David Utama menjelaskan bahwa Siloam menjalani transformasi sejak tahun sebelumnya. Perubahan itu menggeser pendekatan pengelolaan dari regional operation menuju model yang disebut archetype. Pergeseran tersebut menggambarkan perubahan cara perusahaan menyusun dan membedakan pendekatan operasionalnya. Dalam penjelasan David, Siloam memiliki empat archetype. Namun, keterangan yang tersedia hanya menguraikan archetype pertama, sehingga tidak cukup menjadi dasar untuk menjelaskan bentuk, fungsi, atau penerapan tiga archetype lainnya. Batas informasi ini penting dijaga agar gambaran transformasi tidak melampaui apa yang disampaikan.

Archetype pertama adalah premium specialist. David menyebut pendekatan ini berfokus pada satu atau dua center of excellence. Dengan demikian, penekanannya berada pada pemusatan perhatian pada sejumlah bidang unggulan yang terbatas, bukan pada daftar layanan atau spesialisasi yang lebih luas. Keterangan tersebut menunjukkan salah satu cara Siloam mengelompokkan pendekatan operasional dalam kerangka archetype. Akan tetapi, informasi yang disampaikan tidak merinci bidang apa yang menjadi center of excellence, lokasi penerapannya, ataupun ukuran yang digunakan untuk menilai keberhasilannya. Karena itu, uraian ini sebaiknya dipahami sebatas deskripsi singkat mengenai archetype pertama, bukan penjelasan lengkap mengenai rancangan operasional perusahaan.

Perubahan dari regional operation ke archetype dapat dibaca sebagai bagian dari transformasi organisasi yang disampaikan David, tetapi rincian yang ada tidak menjelaskan bagaimana perubahan itu dijalankan di setiap rumah sakit. Demikian pula, belum tersedia keterangan yang cukup untuk menghubungkan model tersebut secara langsung dengan penggunaan AI dan robotik, atau untuk menilai dampaknya terhadap akses layanan di luar Jawa.