Depok | Dinas Pendidikan Kota Depok menyiapkan langkah penanganan untuk mencegah banjir kembali merendam SMPN 2 Depok. Rencana tersebut disusun setelah jajaran dinas meninjau kondisi sekolah dan berkoordinasi dengan Dinas Pekerjaan Umum dan Penataan Ruang (DPUPR) Kota Depok. Peninjauan dilakukan untuk memahami kondisi yang berkaitan dengan genangan dan menjadi dasar dalam menentukan penanganan yang diperlukan. Disdik menargetkan upaya penanganan banjir di sekolah itu dapat rampung pada akhir 2026. Koordinasi lintas dinas menjadi bagian dari proses pemetaan kondisi, sehingga rencana yang disiapkan dapat memperhatikan persoalan aliran air di sekitar lokasi sekolah.
Kepala Dinas Pendidikan Kota Depok, Wahid Suryono, menyampaikan bahwa hasil peninjauan menunjukkan luapan sungai sebagai salah satu faktor penyebab banjir di SMPN 2 Depok. Posisi sungai tersebut lebih tinggi dibandingkan area sekolah. Kondisi itu berkaitan dengan air yang dapat meluap dan menggenangi kawasan sekolah. Selain itu, penyempitan outlet saluran air yang terhubung dengan jalan raya juga teridentifikasi dalam peninjauan. Menurut Wahid, kedua kondisi tersebut menjadi faktor yang perlu diperhatikan dalam upaya penanganan. Penjelasan itu merujuk pada hasil pemeriksaan lapangan yang dilakukan Disdik, bukan pada dugaan penyebab lain.
Temuan mengenai posisi sungai dan penyempitan outlet menjadi bahan koordinasi Disdik dengan DPUPR Kota Depok. Kedua dinas memetakan kondisi yang ada sebelum penanganan dilakukan, sementara Disdik menargetkan pekerjaan terkait dapat diselesaikan pada akhir 2026. Langkah tersebut diarahkan untuk mengurangi risiko banjir kembali mengganggu kegiatan di SMPN 2 Depok. Peninjauan dan koordinasi juga membantu memastikan persoalan yang menjadi perhatian telah diketahui oleh pihak yang menangani urusan pendidikan serta pekerjaan umum dan penataan ruang. Dengan demikian, rencana pencegahan disusun berdasarkan kondisi yang ditemukan di lapangan, yakni luapan sungai dengan posisi lebih tinggi dan outlet saluran air yang menyempit pada sambungan dengan jalan raya.
Dinas Pendidikan (Disdik) bersama Dinas Pekerjaan Umum dan Penataan Ruang (DPUPR) membahas langkah penanganan banjir di SMPN 2 Depok, termasuk upaya yang dapat dilakukan dalam jangka pendek dan menengah. Pembahasan tersebut diperlukan untuk mengurangi risiko air meluap ke area sekolah sekaligus menyiapkan penanganan yang lebih terencana. Untuk langkah jangka pendek, Wahid menyebut metode backflow akan diterapkan di sekolah tersebut.
Metode backflow menggunakan katup yang berfungsi menahan luapan air dari saluran agar tidak mengalir kembali dan masuk ke lingkungan sekolah. Dengan adanya katup itu, aliran dari saluran diharapkan dapat dikendalikan ketika permukaan air meningkat. Penerapan metode ini menjadi salah satu langkah awal untuk melindungi area sekolah dari dampak luapan, sebelum upaya penanganan jangka menengah dilakukan sesuai pembahasan Disdik dan DPUPR.
Disdik menyampaikan bahwa pengerjaan metode backflow akan segera dilaksanakan. Langkah tersebut ditujukan untuk mempercepat penanganan pada titik yang berpotensi menyebabkan air masuk ke lingkungan SMPN 2 Depok. Pelaksanaannya akan dikoordinasikan dengan pihak terkait agar pemasangan katup dan pekerjaan pendukung dapat berjalan sesuai kebutuhan di lapangan. Penanganan jangka pendek ini diharapkan dapat membantu mengurangi gangguan terhadap kegiatan sekolah saat terjadi luapan air, meskipun menjadi bagian dari rangkaian upaya yang lebih luas.
Untuk target penyelesaian, Disdik memperkirakan pekerjaan dapat rampung pada November atau Desember 2026. Rentang waktu tersebut menjadi sasaran penyelesaian penanganan yang sedang disiapkan, dengan pelaksanaan dimulai dalam waktu dekat. Disdik dan DPUPR juga membahas langkah jangka menengah agar penanganan banjir tidak hanya bergantung pada pemasangan katup. Rincian tindakan lanjutan akan mengikuti hasil koordinasi dan kebutuhan teknis. Melalui pembahasan bersama tersebut, pemerintah daerah berupaya menyusun respons bertahap: metode backflow sebagai tindakan jangka pendek, serta penanganan lanjutan untuk mendukung pengendalian aliran air di sekitar sekolah. Dengan demikian, pemasangan katup menjadi bagian penting dari rencana penanganan, sementara target akhir tahun 2026 memberi batas waktu bagi penyelesaian pekerjaan yang telah direncanakan.
Dalam penanganan jangka menengah untuk mengurangi risiko banjir di SMPN 2 Depok, DPUPR Kota Depok menyiapkan normalisasi outlet saluran air yang berada di dekat Puskesmas Depok Jaya. Rencana ini menyasar bagian saluran yang berperan sebagai jalur keluarnya aliran air. Dengan menata atau memulihkan kondisi outlet, kapasitas saluran diharapkan dapat ditingkatkan sehingga mampu menampung debit air lebih baik, terutama ketika hujan deras berlangsung. Langkah tersebut menjadi bagian dari upaya penanganan drainase di sekitar sekolah, bukan tindakan yang sama dengan pemasangan perangkat pencegah aliran balik.
Normalisasi outlet ditujukan untuk membantu air mengalir melalui saluran dengan kapasitas yang lebih memadai. Saat curah hujan tinggi, debit air yang masuk ke jaringan drainase dapat meningkat. Jika kapasitas atau kondisi outlet tidak mencukupi, aliran berisiko tertahan dan berkontribusi terhadap genangan di lingkungan sekitar. Karena itu, peningkatan kapasitas saluran melalui normalisasi dipersiapkan sebagai solusi jangka menengah. Pelaksanaannya berada dalam rencana DPUPR, dengan lokasi pekerjaan yang disebut berada di dekat Puskesmas Depok Jaya. Tujuan utamanya adalah mendukung pengaliran dan penampungan debit air saat hujan deras, bukan secara langsung menutup jalur air yang berpotensi masuk ke area sekolah.
Rencana tersebut perlu dibedakan dari pemasangan backflow yang diprioritaskan untuk kebutuhan jangka pendek. Backflow berfungsi mencegah air mengalir kembali atau masuk ke lingkungan sekolah, sehingga perlindungan langsung terhadap SMPN 2 Depok menjadi perhatian awal. Sementara itu, normalisasi outlet berfokus pada kapasitas saluran di titik keluaran dan membutuhkan penanganan drainase tersendiri. Kedua langkah memiliki sasaran yang berkaitan dengan pengurangan risiko banjir, tetapi fungsi serta jangka waktunya berbeda. Pemasangan backflow menangani kemungkinan aliran balik agar air tidak memasuki sekolah, sedangkan normalisasi di dekat Puskesmas Depok Jaya diarahkan untuk membuat saluran lebih mampu menampung debit saat hujan deras. Dengan pemisahan tujuan ini, rencana jangka menengah dapat dipahami sebagai pelengkap, bukan pengganti, upaya perlindungan jangka pendek.
Hujan deras pada Selasa, 27 Oktober 2026, menyebabkan SMPN 2 Depok terendam banjir dengan ketinggian air sekitar 30 sentimeter. Air menggenangi sejumlah bagian sekolah, termasuk ruang kelas dan kantor, sehingga kejadian tersebut kembali menyoroti persoalan banjir yang telah beberapa kali dialami lingkungan sekolah. Meski genangan mengganggu kondisi area belajar, kegiatan belajar mengajar tetap berlangsung.
Kepala SMPN 2 Depok, Suharno, mengatakan banjir berulang dalam kurun sekitar satu setengah hingga dua tahun terakhir. Menurut penjelasannya, air dari kali yang berada dekat sekolah meluap ketika debitnya meningkat saat hujan deras. Tingginya curah hujan menjadi pemicu, sementara keadaan saluran di sekitar lokasi turut memengaruhi aliran air dan memperbesar risiko genangan di kawasan sekolah.
Suharno menyebut penyempitan badan kali sebagai salah satu persoalan yang perlu diperhatikan. Ia juga menduga adanya pendangkalan saluran di sekitar Puskesmas Depok Jaya. Selain itu, gorong-gorong disebut tersumbat oleh beragam sampah, sehingga aliran air tidak lancar ketika hujan mengguyur. Dalam kondisi tersebut, air kemudian masuk ke area sekolah dan merendam ruang kelas serta kantor. Rangkaian masalah itu, menurutnya, perlu ditangani agar kejadian serupa tidak terus berulang setiap kali debit air meningkat.
Ia berharap penyempitan kali dan kondisi saluran dapat diperbaiki. Upaya yang diharapkan mencakup pelebaran badan kali maupun pengontrolan gorong-gorong, disertai perhatian pada sumbatan sampah dan dugaan pendangkalan. Harapan tersebut disampaikan sebagai kebutuhan penanganan ke depan, bukan sebagai perbaikan yang telah terlaksana. Sementara itu, sekolah tetap menjalankan pembelajaran di tengah situasi tersebut.
Baca juga: Banjir Setinggi 30 Sentimeter Kembali Rendam SMPN 2 Depok | Gandung Pardiman Wafat di Yogyakarta, Pemakaman Disiapkan di Ponjong | Proyek LNG Abadi Masela Dibidik Beroperasi pada 2030, Perjanjian Gas Disiapkan



































