Proyek LNG Abadi Masela Dibidik Beroperasi pada 2030, Perjanjian Gas Disiapkan

oleh -62 Dilihat
oleh
Proyek LNG Abadi Masela Dibidik Beroperasi pada 2030, Perjanjian Gas Disiapkan

Jakarta | Kepala SKK Migas Djoko Siswanto menyampaikan bahwa proyek LNG Abadi di Blok Masela ditargetkan mulai beroperasi paling lambat pada akhir 2030. Sasaran tersebut menjadi penanda waktu penting bagi pengembangan proyek gas alam cair yang tengah disiapkan. Dengan batas akhir 2030, proyek diharapkan dapat bergerak menuju tahap operasi sesuai jadwal yang dipercepat, sekaligus memberi kejelasan mengenai arah pelaksanaan kepada para pihak yang terlibat. Djoko menyebut 2029 atau 2030 sebagai sasaran yang baik, sementara akhir 2030 menjadi batas waktu yang diharapkan.

Target percepatan itu mengikuti arahan Presiden Prabowo Subianto agar proyek Abadi Masela dapat diselesaikan lebih cepat. Dalam menyampaikan pandangannya, Djoko menekankan bahwa rentang 2029 hingga 2030 layak dijadikan sasaran. Pernyataan tersebut menegaskan dorongan pemerintah untuk menjaga kemajuan proyek dan mengupayakan agar tahapan pengembangannya tidak berjalan lebih lama dari yang diharapkan. Meski demikian, batas waktu operasi yang disampaikan adalah paling lambat akhir 2030, sehingga jadwal 2029 merupakan sasaran lebih awal, bukan tenggat akhir yang disebutkan.

Djoko menyampaikan target tersebut dalam sambutan pada acara Inpex FEED Completion Ceremony di The Ritz-Carlton Jakarta Pacific Place, Selasa (27/10). Konteks acara itu berkaitan dengan penyelesaian tahap FEED, sementara pesan yang disampaikan mencakup harapan mengenai waktu operasi proyek. Penyebutan target tersebut memperlihatkan bahwa percepatan menjadi perhatian dalam pembahasan pengembangan Masela. Untuk saat ini, keterangan yang disampaikan SKK Migas menetapkan akhir 2030 sebagai batas waktu yang diharapkan bagi dimulainya operasi LNG Abadi. Sasaran 2029 atau 2030 tetap disebut sebagai pilihan waktu yang baik, sejalan dengan arahan presiden untuk mendorong proyek berjalan lebih cepat. Keterangan tersebut memberi gambaran mengenai ekspektasi jadwal, tanpa mengubah batas akhir yang dinyatakan.

Pengelola Blok Masela menyiapkan penuntasan perjanjian jual beli gas (PJBG) dengan sejumlah pembeli di dalam negeri. Kesepakatan tersebut menjadi bagian penting dari rencana pengembangan proyek LNG Abadi Masela, sekaligus memberikan kepastian mengenai penyerapan produksi gas setelah fasilitas mulai beroperasi. Penandatanganan PJBG dijadwalkan berlangsung dalam Forum Ekonomi, Keuangan, dan Komersial Hulu Minyak dan Gas Bumi (Forek Hulu Migas) tahun ini.

Rencana itu menghubungkan pasokan dari Blok Masela dengan kebutuhan sektor industri dan energi domestik. Dengan adanya perjanjian jual beli, para pihak dapat menyepakati kerangka penyaluran gas, termasuk jenis produk yang dibutuhkan masing-masing pembeli. Gas pipa akan dialokasikan untuk PT Pupuk Indonesia, sementara pasokan gas alam cair atau LNG disiapkan bagi PT PLN dan PT PGN. Pembagian ini mencerminkan kebutuhan pengguna yang berbeda serta bentuk pasokan yang dapat dimanfaatkan masing-masing perusahaan.

Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral Bahlil Lahadalia telah menyetujui alokasi gas tersebut untuk mendukung kebutuhan industri dalam negeri. Persetujuan alokasi menjadi landasan bagi proses komersial berikutnya, termasuk penyelesaian dokumen dan kesepakatan pengelola proyek dengan calon pembeli. Perjanjian yang disiapkan diharapkan memperjelas jumlah, bentuk, dan tujuan pemanfaatan gas sesuai kesepakatan para pihak, tanpa mengabaikan tahapan yang masih harus dituntaskan.

Menurut keterangan Djoko, agenda penandatanganan dalam Forek Hulu Migas tahun ini menjadi momentum untuk menuntaskan pembahasan PJBG dengan para pembeli domestik. Forum tersebut mempertemukan pemangku kepentingan sektor hulu migas dan pihak komersial, sehingga pembahasan mengenai pemanfaatan produksi dapat dilakukan secara terkoordinasi. Informasi mengenai jadwal penandatanganan serta alokasi bagi PT Pupuk Indonesia, PT PLN, dan PT PGN bersumber dari keterangan Djoko.

Kepastian kontrak pembelian domestik relevan bagi proyek yang dibidik beroperasi pada 2030. Selain mendukung kebutuhan energi dan bahan baku industri nasional, komitmen pembeli dapat membantu membangun kepastian pasar bagi pengembangan Blok Masela. Namun, penyiapan PJBG tetap perlu diselesaikan melalui kesepakatan komersial pihak terkait sebelum penandatanganan dapat dilakukan.

Perjanjian Jual Beli Gas (PJBG) menjadi salah satu tahapan penting dalam persiapan pengembangan proyek LNG Abadi di Blok Masela. Menurut Djoko, perjanjian tersebut akan memastikan tersedianya pembeli bagi gas yang nantinya diproduksi dari blok itu. Kepastian mengenai pihak yang menyerap produksi memberi dasar bagi konsorsium untuk melanjutkan proses investasi, karena proyek membutuhkan kejelasan mengenai tujuan penjualan gas sebelum keputusan investasi final ditetapkan.

Hubungan kontrak penjualan dan keputusan investasi tidak hanya berkaitan dengan rencana pemasaran hasil produksi. PJBG juga menunjukkan adanya kepastian penyerapan gas, yang menjadi salah satu persyaratan bagi konsorsium pengelola untuk menyelesaikan tahapan menuju Final Investment Decision (FID). Dengan demikian, penyusunan perjanjian penjualan merupakan bagian dari rangkaian persiapan proyek, bukan sekadar langkah yang berdiri sendiri setelah fasilitas dibangun.

Konsorsium yang mengelola proyek ini terdiri atas Inpex, Pertamina, dan Searah. Ketiga anggota konsorsium tersebut perlu menyelesaikan berbagai persyaratan yang diperlukan sebelum mencapai keputusan investasi. Djoko menegaskan bahwa PJBG merupakan persyaratan utama bagi konsorsium untuk menyelesaikan proses menuju FID, termasuk untuk menyetujui atau menandatangani keputusan tersebut. Artinya, kepastian pembeli gas menjadi salah satu unsur yang harus diperoleh sebelum para pihak dapat menuntaskan komitmen investasi.

FID proyek LNG Abadi ditargetkan berlangsung pada Januari 2027. Target itu menempatkan penyelesaian PJBG sebagai bagian penting dari persiapan yang berlangsung sebelum keputusan investasi diambil. Setelah kepastian pembeli tersedia melalui perjanjian, konsorsium dapat menuntaskan proses menuju FID dengan mempertimbangkan persyaratan yang telah disiapkan. Namun, perjanjian tersebut perlu dipahami sebagai prasyarat penting dalam tahapan itu, bukan sebagai pengganti keputusan investasi itu sendiri. Keputusan akhir tetap menjadi tahapan tersendiri yang harus diselesaikan oleh konsorsium. Dengan urutan tersebut, PJBG menghubungkan kepastian penyerapan gas dengan proses pengambilan keputusan investasi, sementara target FID pada Januari 2027 menjadi penanda waktu bagi konsorsium untuk menyelesaikan persyaratan terkait proyek. Tahapan ini mendukung persiapan agar pengembangan dapat bergerak menuju sasaran operasi pada 2030.

Proyek LNG Abadi Masela dirancang sebagai pengembangan hulu dan pengolahan gas berskala besar, dengan kebutuhan investasi sekitar US$22 miliar. Nilai tersebut menggambarkan besarnya pembiayaan yang diperlukan untuk membangun rangkaian fasilitas proyek, mulai dari pengembangan lapangan hingga pengolahan dan penyaluran produk. Angka investasi ini merupakan perkiraan kebutuhan proyek, bukan biaya yang telah seluruhnya direalisasikan. Rancangan kapasitasnya juga perlu dibaca sebagai target produksi setelah fasilitas tersedia dan proyek memasuki tahap operasi, bukan sebagai gambaran produksi saat ini. Dengan demikian, besaran investasi dan kapasitas produksi menjadi parameter utama dalam perencanaan pengembangan Abadi Masela.

Dalam rancangan pengembangan, lapangan Abadi ditargetkan menghasilkan gas bumi sebesar 1.380 juta kaki kubik standar per hari, atau MMSCFD. Gas tersebut direncanakan diolah menjadi sekitar 9,5 juta ton LNG per tahun. Pengubahan gas menjadi LNG memungkinkan produk disalurkan melalui rantai pasok khusus, sementara kapasitas tahunan menunjukkan skala pengolahan yang direncanakan. Kedua angka itu saling terkait dalam skema proyek, tetapi menggambarkan ukuran yang berbeda: volume gas yang diproduksikan setiap hari dan jumlah LNG yang ditargetkan dihasilkan dalam satu tahun. Seluruhnya masih merupakan kapasitas rancangan, bukan produksi yang telah berjalan.

Selain pengolahan LNG, proyek ini juga direncanakan memasok gas melalui jaringan pipa dengan kapasitas 100 MMSCFD. Pasokan tersebut menjadi bagian tersendiri dari rancangan penyaluran gas, di samping gas yang dialokasikan untuk pengolahan menjadi LNG. Abadi Masela juga ditargetkan menghasilkan kondensat sebanyak 35.000 barel per hari sebagai produk lain dari pengembangan lapangan.

Baca juga: Pasokan Gula Rafinasi Disiapkan untuk Menopang Produksi Pangan Jelang Hari Besar