Birdwatching di Lereng Arjuno Didorong untuk Cegah Penangkapan Burung

oleh -77 Dilihat
oleh
Birdwatching di Lereng Arjuno Didorong untuk Cegah Penangkapan Burung

KOTA MALANG, JAWA TIMUR — Berdasarkan laporan yang diterbitkan pada 7 Oktober 2026, ProFauna Indonesia Foundation mengoptimalkan kegiatan birdwatching sebagai sarana untuk meningkatkan kesadaran masyarakat sekaligus mendorong pencegahan penangkapan burung di kawasan hutan. Kegiatan tersebut memperkenalkan pengamatan burung sebagai aktivitas yang dapat menghubungkan masyarakat dengan lingkungan secara langsung. Peserta diajak menyaksikan berbagai jenis burung di habitat alaminya, termasuk mengamati perilaku yang muncul tanpa gangguan manusia. Pendekatan ini diharapkan dapat menumbuhkan pemahaman bahwa burung memiliki peran penting dalam menjaga keseimbangan ekosistem hutan.

Melalui kegiatan pengamatan di alam, masyarakat tidak hanya memperoleh pengalaman rekreasi, tetapi juga pengetahuan mengenai keanekaragaman hayati. Birdwatching memadukan unsur petualangan, edukasi, dan konservasi dalam satu kegiatan. Peserta dapat menikmati suasana hutan sambil belajar mengenali karakteristik, suara, jenis, serta perilaku alami burung. Pengalaman tersebut menjadi pintu masuk untuk memahami ancaman terhadap satwa liar, termasuk penangkapan untuk dipelihara atau diperdagangkan. Dengan mengenal burung secara lebih dekat di habitatnya, masyarakat diharapkan terdorong untuk menghargai keberadaan satwa tanpa harus memilikinya.

Ekolog ProFauna Indonesia Foundation Rosek Nursahid menyampaikan hal tersebut di Kota Malang, Jawa Timur, pada Rabu. Menurutnya, penguatan kegiatan pengamatan burung dapat menjadi bagian dari upaya membangun kepedulian publik terhadap perlindungan satwa liar. Kesadaran yang tumbuh dari pengalaman langsung di kawasan hutan diharapkan mendorong perubahan cara pandang masyarakat terhadap burung. Burung tidak semata-mata dipandang sebagai hewan yang menarik untuk ditangkap, melainkan sebagai bagian dari ekosistem yang perlu dilindungi. Karena itu, kegiatan birdwatching diarahkan untuk membuka ruang pembelajaran sekaligus memperkuat dukungan masyarakat terhadap pencegahan penangkapan burung di alam.

Kegiatan birdwatching berlangsung di kawasan hutan lereng Gunung Arjuno, Kabupaten Malang. Kawasan ini memiliki bentang alam yang mendukung kehidupan beragam jenis burung, sekaligus menjadi ruang penting bagi satwa liar lainnya. Melalui pengamatan langsung, peserta diajak mengenali keanekaragaman hayati tanpa menangkap atau mengganggu satwa. Aktivitas tersebut juga membuka pemahaman bahwa hutan mempunyai nilai ekologis dan ekonomi apabila dikelola secara berkelanjutan.

Rosek menjelaskan, program ProFauna untuk melestarikan hutan dan satwa liar di kawasan lereng Arjuno dimulai pada 2021. Program ini dikembangkan melalui pendekatan perhutanan sosial yang melibatkan masyarakat sekitar dalam menjaga kawasan hutan. Selain mendorong perlindungan habitat, ProFauna mengembangkan wisata khusus birdwatching sebagai pilihan kegiatan yang selaras dengan upaya konservasi. Model tersebut diharapkan dapat memberikan manfaat bagi warga tanpa mendorong pemanfaatan sumber daya hutan secara berlebihan.

Pengembangan wisata pengamatan burung juga menjadi sarana edukasi bagi masyarakat. Peserta mempelajari cara mengamati burung dengan tenang, mengenali ciri dan perilakunya, serta memahami pentingnya menjaga habitat. Pengetahuan ini dapat membantu mengubah pandangan terhadap burung, dari satwa yang kerap diburu atau dipelihara menjadi bagian penting dari keseimbangan ekosistem. Dengan demikian, kegiatan wisata sekaligus mendukung pencegahan penangkapan burung di alam.

Partisipasi dalam kegiatan tersebut berlangsung secara rutin, dengan rata-rata 15 orang mengikuti birdwatching setiap bulan. Pesertanya berasal dari berbagai daerah, lain Malang, Surabaya, Sidoarjo, Tangerang, dan Jakarta. Rentang usia peserta juga cukup luas, yakni mulai tujuh hingga 72 tahun. Keragaman asal dan usia menunjukkan bahwa pengamatan burung dapat diikuti oleh berbagai kalangan. Pertemuan lintas kelompok ini memperluas jejaring dukungan terhadap pelestarian hutan lereng Arjuno dan meningkatkan kepedulian publik terhadap perlindungan satwa liar.

Kegiatan pengamatan berlangsung dengan menelusuri kawasan hutan di lereng Gunung Arjuno. Wilayah ini memiliki beragam vegetasi yang membentuk habitat bagi berbagai jenis burung. Peserta mengikuti jalur tracking yang dalam bahan sumber disebut berjarak enam, sambil memperhatikan kondisi lingkungan di sepanjang perjalanan. Penelusuran dilakukan secara bertahap agar peserta dapat mengamati pergerakan burung, mengenali suara, serta mencatat jenis yang terlihat di pepohonan dan vegetasi hutan.

Untuk mendukung pengamatan, peserta menggunakan teropong binokuler dan kamera khusus. Peralatan tersebut membantu mereka melihat burung dari jarak tertentu tanpa harus mendekati atau mengganggu aktivitasnya. Teropong digunakan untuk mengamati ciri fisik dan perilaku burung, sedangkan kamera membantu mendokumentasikan temuan di lapangan. Proses ini membuat kegiatan tidak sekadar menjadi perjalanan menyusuri hutan, tetapi juga menjadi upaya pengumpulan data mengenai keanekaragaman burung di kawasan lereng Gunung Arjuno.

Berdasarkan pemetaan yang dilakukan tim ProFauna, sedikitnya 55 jenis burung telah diidentifikasi di lokasi tersebut. Beberapa jenis yang disebutkan lain elang Jawa (Nisaetus bartelsi), elang hitam (Ictinaetus malaiensis), kadalan birah (Phaenicophaeus), paok pancawarna (Hydrornis guajanus), uncal loreng (Macropygia unchall), caladi tilik (Picoides moluccensis), dan takur tohtor (Psilopogon armillaris). Temuan tersebut menunjukkan bahwa penelusuran hutan dapat memberikan gambaran mengenai kekayaan jenis burung yang ada di lereng Gunung Arjuno. Data hasil pengamatan juga menjadi dasar penting untuk mengenali kondisi habitat dan mendorong kegiatan pengamatan burung yang dilakukan secara bertanggung jawab.

Pengembangan kegiatan birdwatching di lereng Gunung Arjuno dirancang melalui kerja sama dengan masyarakat yang tinggal di sekitar kawasan hutan. Keterlibatan warga menjadi bagian penting agar kegiatan pengamatan burung tidak hanya menghadirkan pengalaman bagi peserta, tetapi juga memberikan manfaat langsung bagi lingkungan sosial di sekitarnya. Rosek menyebutkan, warga dapat membantu menyediakan kebutuhan makan bagi peserta selama kegiatan berlangsung. Dukungan tersebut dapat dilakukan melalui penyediaan makanan, minuman, atau konsumsi sederhana yang disiapkan sesuai kebutuhan rombongan.

Selain mendukung kebutuhan peserta, masyarakat juga akan dilibatkan dalam survei lokasi kegiatan. Warga yang mengenal kondisi kawasan diharapkan dapat membantu menentukan jalur, titik pengamatan, serta waktu yang tepat untuk melakukan birdwatching. Pengetahuan lokal mengenai akses menuju hutan, keberadaan sumber air, dan habitat burung dapat menjadi pertimbangan penting dalam menyusun kegiatan yang aman dan tidak mengganggu ekosistem. Survei bersama juga memungkinkan pengelola mengidentifikasi lokasi yang perlu mendapatkan perhatian lebih dalam pengawasan.

Warga sekitar berencana menyediakan homestay bagi tamu yang datang dari daerah jauh. Fasilitas tersebut memungkinkan peserta menginap lebih dekat dengan lokasi pengamatan, sehingga perjalanan menuju kawasan hutan menjadi lebih praktis, terutama ketika pengamatan dilakukan pada pagi hari. Kehadiran homestay juga dapat membuka peluang ekonomi baru bagi masyarakat melalui layanan penginapan, konsumsi, dan pendampingan kegiatan.

Pelibatan masyarakat lokal dinilai dapat membantu meningkatkan pengawasan kawasan hutan dan meminimalkan kegiatan berburu di lereng Gunung Arjuno. Warga yang terlibat dalam kegiatan pengamatan memiliki kesempatan lebih besar untuk mengenali kondisi lapangan serta melaporkan aktivitas yang berpotensi mengancam burung dan habitatnya. Di sisi lain, ProFauna juga menjalankan rehabilitasi hutan lindung di lereng Gunung Arjuno bersama kelompok tani hutan dan Perhutani.

Response (1)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *