Inovasi UNS untuk Menghadapi Asap: APD dan Penyaring Udara dari Bahan Sederhana

oleh -466 Dilihat
oleh
Inovasi UNS untuk Menghadapi Asap: APD dan Penyaring Udara dari Bahan Sederhana

Banjarmasin | Ketika asap kebakaran hutan menyebar ke sejumlah daerah, Universitas Sebelas Maret (UNS) Surakarta merancang dua bentuk perlindungan yang ditujukan untuk membantu menghadapi kondisi berasap. Rancangan pertama berupa alat pelindung diri (APD) bagi petugas dan relawan yang bekerja di lapangan. Rancangan kedua adalah alat filtrasi udara portabel yang memanfaatkan botol plastik bekas. Keduanya dibuat oleh Dr. Darmawan Ismail bersama timnya sebagai respons terhadap kebutuhan perlindungan saat kualitas udara terganggu asap.

APD tersebut dirancang dengan mempertimbangkan orang-orang yang beraktivitas di tengah situasi darurat, termasuk petugas dan relawan. Kehadiran rancangan ini menempatkan keselamatan pengguna sebagai perhatian utama, terutama ketika mereka perlu menjalankan tugas di lingkungan yang terdampak asap. Sementara itu, alat filtrasi portabel menawarkan pendekatan berbeda: menggunakan bahan sederhana yang mudah dikenali, yaitu botol plastik bekas, sebagai bagian dari rancangan penyaring udara. Pemanfaatan bahan bekas juga menunjukkan bahwa solusi yang dikembangkan tidak selalu bergantung pada material khusus atau bentuk peralatan yang rumit.

Kedua rancangan tersebut perlu dipahami sebagai inovasi yang dikembangkan oleh tim UNS, bukan sebagai produk pabrikan. Informasi mengenai rancangan ini tidak dengan sendirinya menjadi dasar untuk menyimpulkan tingkat efektivitas, kapasitas penyaringan, ataupun jaminan perlindungan tertentu. Nilai pentingnya terletak pada upaya merumuskan pilihan perlindungan yang dapat dipertimbangkan dalam menghadapi paparan asap, sekaligus mendorong pemanfaatan bahan sederhana untuk kebutuhan praktis. Dengan menggabungkan APD bagi petugas dan relawan serta alat filtrasi udara portabel berbahan botol plastik bekas, tim menghadirkan dua rancangan dengan sasaran penggunaan yang berbeda. Inisiatif ini memperlihatkan respons UNS terhadap persoalan asap kebakaran hutan melalui pengembangan gagasan yang berorientasi pada kebutuhan lapangan, tanpa mengabaikan perlunya penilaian lebih lanjut sebelum rancangan digunakan secara luas.

APD yang dijelaskan Darmawan menggabungkan pelindung wajah dan sistem filtrasi untuk memberikan perlindungan pada bagian tubuh yang berbeda. Pelindung wajah atau face shield berfungsi menutupi area mata dari paparan langsung asap dan partikel yang terbawa udara. Sementara itu, bagian penyaring dirancang untuk membantu menangkap partikel sebelum udara dihirup, sehingga perlindungan juga diarahkan pada saluran pernapasan. Rancangan ini ditujukan untuk membantu petugas bekerja di lingkungan berasap, bukan menggantikan seluruh prosedur keselamatan atau perlengkapan standar yang dibutuhkan dalam penanganan kebakaran hutan dan lahan.

Komponen utama filtrasi menggunakan spons yang memiliki struktur anyam. Susunan tersebut menyediakan permukaan dan celah yang memungkinkan partikel asap tertahan ketika udara melewati bahan penyaring. Pada spons juga digunakan gel berbahan deterjen. Gel ini memanfaatkan prinsip adhesi, yaitu kecenderungan partikel atau bahan berbeda untuk saling melekat, serta kohesi, yakni gaya tarik di bagian-bagian bahan sejenis. Kedua prinsip itu membantu partikel halus menempel pada gel, sehingga diharapkan lebih banyak partikel tertangkap daripada hanya melewati penyaring. Susunan spons dan gel menjadi bagian penting dari pendekatan sederhana yang dikembangkan untuk mengurangi paparan asap.

Untuk mengalirkan udara, perangkat dilengkapi kipas komputer berukuran kecil yang menarik udara masuk melalui sistem filtrasi. Setelah melewati penyaring, udara diarahkan ke pengguna, sedangkan saluran pembuangan membantu mengatur sirkulasi udara di dalam perangkat. Pergerakan udara tersebut dirancang agar pengguna tetap dapat bernapas dengan lebih nyaman saat mengenakan APD. Teknologi ini pada awalnya dikembangkan untuk mendukung penanganan COVID-19, kemudian diadaptasi agar sesuai dengan kebutuhan petugas pemadam, polisi, dan relawan yang terlibat dalam penanganan kebakaran hutan dan lahan. Perubahan sasaran penggunaan tersebut menunjukkan bagaimana rancangan yang semula berfokus pada perlindungan dari paparan di masa pandemi dapat dimanfaatkan untuk menghadapi kondisi udara berasap, dengan penyesuaian terhadap tugas dan lingkungan kerja para pengguna.

Inovasi kedua yang dikembangkan untuk menghadapi paparan asap adalah alat filtrasi udara portabel dari botol plastik bekas dan sejumlah bahan yang relatif mudah diperoleh. Rancangannya menggabungkan kolektor udara, saluran penghubung, dan masker sebagai tiga bagian utama. Susunan ini membuat perangkat dapat dibawa dan digunakan sebagai alat bantu untuk mengalirkan udara melalui bahan penyaring sebelum udara menuju pemakainya. Komponen yang digunakan mencakup spons, kain kasa, filter AC, selang, serta masker. Pemanfaatan bahan sederhana dan barang bekas menjadi ciri penting rancangan tersebut, sekaligus menunjukkan cara merakit perangkat dengan memanfaatkan material yang tersedia.

Bagian kolektor udara memanfaatkan botol plastik bekas sebagai wadah bagi material penyaring. Di dalam rangkaian ini, spons, kain kasa, dan filter AC berperan sebagai unsur filtrasi. Udara yang masuk ke kolektor melewati bagian yang memuat bahan-bahan tersebut sebelum diteruskan melalui saluran. Dengan menempatkan bahan penyaring pada kolektor, rancangan menyediakan titik utama untuk proses penyaringan dalam bentuk yang portabel. Kolektor juga dapat diberi es agar udara yang dialirkan terasa lebih sejuk. Penambahan es ini berkaitan dengan kenyamanan suhu udara, bukan keterangan mengenai kemampuan penyaringan tambahan.

Saluran penghubung berupa selang mengalirkan udara dari kolektor menuju masker. Masker menjadi bagian yang dikenakan untuk menerima aliran udara dari perangkat. Dalam rangkaian ini terdapat katup satu arah yang berfungsi mencegah udara kotor kembali terhirup. Keberadaan katup tersebut mendukung aliran udara sesuai arah yang dituju, dari kolektor melalui selang menuju masker, tanpa menyatakan tingkat perlindungan tertentu. Ketiga bagian—kolektor, saluran, dan masker—bekerja sebagai satu rangkaian portabel dengan fungsi masing-masing.

Perakitan alat ini memerlukan waktu kurang dari 30 menit apabila seluruh bahan yang dibutuhkan tersedia. Waktu tersebut menunjukkan bahwa rancangan dapat disusun relatif cepat dengan material sederhana, tetapi tidak menggantikan kebutuhan untuk memahami fungsi tiap bagian. Alat ini merupakan inovasi praktis dalam merespons persoalan asap dengan memanfaatkan botol bekas, bahan penyaring, selang, dan masker yang mudah dikenali. Penjelasan mengenai komponennya menggambarkan rancangan dan aliran udara, tanpa menetapkan klaim perlindungan atau petunjuk teknis penggunaan di luar fungsi yang telah disebutkan.

Tim Universitas Sebelas Maret (UNS) merencanakan perakitan alat pelindung diri (APD) dan penyaring udara berbahan sederhana untuk membantu masyarakat di sejumlah wilayah yang menghadapi asap. Rencana tersebut mencakup tiga daerah, yakni Banjarmasin, Palangka Raya, dan Palembang. Untuk setiap daerah, tim menargetkan pembuatan 100 unit. Dengan demikian, jumlah yang direncanakan adalah 300 unit secara keseluruhan, masing-masing 100 unit untuk warga di tiap lokasi.

Perakitan alat menjadi bagian dari kegiatan yang lebih luas, bukan satu-satunya bentuk dukungan yang disiapkan. Tim juga merencanakan lokakarya bagi warga di daerah tujuan. Melalui kegiatan tersebut, masyarakat akan diperkenalkan pada bahan dan cara kerja alat, sekaligus mendapat kesempatan mempelajari proses pembuatannya. Pendekatan ini memberi ruang bagi warga untuk memahami langkah-langkah perakitan, bukan hanya menerima alat yang sudah jadi.

Lokakarya dirancang agar pengetahuan praktis mengenai pembuatan APD dan penyaring udara dapat dibagikan secara langsung. Warga dapat mengikuti penjelasan dan praktik, sehingga proses membuat alat dari bahan sederhana bisa dipelajari dengan lebih jelas. Penyampaian keterampilan ini melengkapi rencana penyaluran unit yang telah dirakit oleh tim. Namun, kegiatan tersebut tetap merupakan rencana perakitan dan pelatihan; jumlah unit yang ditargetkan tidak dengan sendirinya menunjukkan bahwa seluruh alat telah selesai dibuat atau dibagikan.

Dengan menggabungkan penyediaan alat dan lokakarya, tim UNS menyusun kegiatan yang menempatkan transfer pengetahuan sebagai bagian penting.

Baca juga: Intensifkan Modifikasi Cuaca di Palembang, Satgas Udara Tabur 10 Ton Bahan Semai | Perjalanan Wardah Syakinah Menghadapi Kanker Payudara dan Metastasis