Tom Lembong, Ahok, dan Gustika Hatta Soroti Tantangan Pemuda dalam Peringatan Sumpah Pemuda

oleh -62 Dilihat
oleh
Tom Lembong, Ahok, dan Gustika Hatta Soroti Tantangan Pemuda dalam Peringatan Sumpah Pemuda

Jakarta | Ekonom senior Thomas Trikasih Lembong, yang dikenal sebagai Tom Lembong, menghadiri peringatan ke-98 Sumpah Pemuda yang digelar DPP PDIP pada Rabu (28/10). Kehadiran Tom menempatkan pengalaman dan pandangan seorang ekonom senior dalam pertemuan yang membahas tantangan pemuda. Ia hadir bersama Ketua DPP PDIP Basuki Tjahaja Purnama, yang dikenal sebagai Ahok, serta Gustika Jusuf Hatta, cucu proklamator Mohammad Hatta. Kehadiran ketiganya mempertemukan sejumlah tokoh dengan latar dan generasi berbeda dalam satu peringatan.

Pertemuan tersebut menjadi ruang pembahasan isu kepemudaan lintas generasi. Pembicaraan tidak hanya berkaitan dengan semangat yang lekat pada Sumpah Pemuda, tetapi juga menyentuh tantangan yang dihadapi anak muda. Kehadiran tokoh dari generasi dan pengalaman yang beragam membuka kesempatan untuk melihat persoalan pemuda dari sudut pandang yang berbeda. Ruang semacam ini memungkinkan gagasan dan pengalaman bertemu, sekaligus menempatkan suara anak muda dalam percakapan yang lebih luas.

Salah satu isu yang turut dibahas adalah kriminalisasi. Topik ini memberi perhatian pada kerentanan yang dapat dialami pemuda ketika berhadapan dengan persoalan hukum atau penilaian publik. Dengan mengangkatnya dalam peringatan Sumpah Pemuda, pembahasan bergerak dari seruan umum tentang persatuan menuju isu konkret yang berpengaruh pada kehidupan dan ruang gerak generasi muda. Isu tersebut juga menjadi bagian dari percakapan lintas generasi, sehingga pengalaman para tokoh dapat berhadapan dengan tantangan yang dirasakan kaum muda.

Momentum peringatan ke-98 itu, dengan demikian, tidak hanya mengingatkan kembali arti penting Sumpah Pemuda, tetapi juga menyediakan ruang untuk membicarakan keadaan generasi penerus. Kehadiran Tom Lembong, Ahok, dan Gustika Jusuf Hatta menandai pertemuan beragam pengalaman dalam agenda tersebut. Pembahasan tentang isu pemuda dan kriminalisasi menunjukkan bahwa peringatan bersejarah dapat menjadi kesempatan untuk menelaah tantangan masa kini. Percakapan lintas generasi relevan untuk menjaga agar perhatian terhadap pemuda tidak berhenti pada simbol, melainkan mencakup persoalan yang mereka hadapi.

Gustika Jusuf Hatta menyoroti persoalan mendasar dalam proses pengambilan kebijakan: data yang telah dihimpun dengan susah payah tidak selalu digunakan oleh para pembuat kebijakan. Pengumpulan data membutuhkan upaya, ketekunan, dan sumber daya, sehingga hasilnya semestinya menjadi bahan pertimbangan dalam merumuskan keputusan. Ketika informasi tersebut tersedia tetapi tidak dimanfaatkan, kerja pengumpulan data kehilangan sebagian besar kegunaannya. Kritik ini mengingatkan bahwa kebijakan perlu bertumpu pada informasi yang sudah diperoleh, bukan sekadar mengumpulkannya tanpa tindak lanjut.

Masalah tersebut juga berkaitan dengan cara suara dan pemikiran kritis anak muda diperlakukan. Menurut sorotan Gustika, orang muda yang menyampaikan sikap kritis bukan hanya menghadapi upaya pembungkaman. Mereka juga dapat dikriminalisasi. Pernyataan itu menekankan adanya perbedaan sekadar tidak didengar dan menghadapi konsekuensi hukum karena menyampaikan pandangan. Dengan demikian, kritiknya tidak berhenti pada kurangnya pemanfaatan data, tetapi turut mengangkat ruang yang tersedia bagi anak muda untuk mengajukan pertanyaan dan menyatakan pendapat.

Dalam keterangan resmi DPP PDIP pada Kamis (29/10), Gustika menyampaikan bahwa anak muda yang bersikap kritis bukan hanya dibungkam, melainkan juga dikriminalisasi. Makna pernyataan tersebut menempatkan kriminalisasi sebagai persoalan tersendiri, bukan sekadar bentuk lain dari perbedaan pendapat. Ketika kritik diperlakukan demikian, ruang bagi gagasan yang menantang kebijakan dapat menyempit. Sorotan atas data yang tak terpakai dan kriminalisasi pemikiran kritis sama-sama mengarah pada pentingnya tanggapan yang sungguh-sungguh terhadap masukan. Data yang dikumpulkan perlu diperhatikan, sementara pandangan kritis anak muda perlu dihadapi sebagai pendapat, bukan dibungkam atau dikriminalisasi. Kedua hal itu menjadi bagian dari perhatian Gustika mengenai bagaimana proses kebijakan dan respons terhadap suara anak muda berlangsung.

Dalam membicarakan kepemimpinan, Ahok menekankan bahwa pemimpin harus terus mendengarkan warga, bukan hanya hadir ketika membutuhkan dukungan. Permintaan, kritik, dan pengaduan masyarakat perlu ditanggapi dengan santun, sekalipun disampaikan dengan nada keras atau berangkat dari ketidakpuasan. Sikap terbuka membantu pemerintah memahami persoalan yang tidak selalu terlihat dari laporan resmi. Menurutnya, mendengar bukan berarti menyetujui semua tuntutan, melainkan memberi ruang bagi warga untuk menjelaskan kebutuhan dan alasan di balik keberatan mereka. Setelah itu, pemerintah dapat menerangkan pilihan yang tersedia secara jujur, termasuk batasan anggaran maupun aturan yang berlaku. Cara berkomunikasi yang menghargai warga merupakan bagian penting dari pelayanan publik, sekaligus dasar untuk membangun kepercayaan masyarakat dan pejabat.

Pengalamannya saat menjadi Gubernur Jakarta, kata Ahok, memperlihatkan risiko ketika kebijakan dirancang tanpa kajian memadai dan dialog dengan warga terdampak. Pemerintah mungkin melihat suatu kawasan sebagai lokasi yang perlu ditata, tetapi warga memiliki pengetahuan langsung tentang kehidupan sehari-hari di sana. Jika informasi itu tidak digali sejak awal, solusi yang tampak baik di atas kertas dapat menimbulkan persoalan baru setelah diterapkan. Karena itu, perencanaan perlu mempertimbangkan dampak sosial dan ekonomi, bukan semata-mata aspek fisik atau administratif. Dialog juga sebaiknya berlangsung sebelum keputusan final, sehingga masukan masyarakat masih dapat memengaruhi rancangan kebijakan. Dengan demikian, pemerintah dapat menemukan alternatif yang lebih sesuai, menjelaskan konsekuensi secara terbuka, dan mengurangi risiko kebijakan yang justru memperberat kehidupan warga.

Relokasi warga dari permukiman padat ke rumah susun menjadi contoh yang ia gunakan untuk menjelaskan hal tersebut. Pemindahan mungkin menyediakan hunian yang lebih tertata, tetapi juga dapat mematikan usaha kecil dan mengubah jejaring sosial antar-tetangga. Warga yang tinggal di gang sempit, misalnya, bisa menjalankan usaha dagang dari rumah atau mengandalkan pelanggan yang tinggal berdekatan. Ketika mereka dipindahkan jauh dari lingkungan semula, lokasi usaha, akses pembeli, dan kebiasaan yang menopang pendapatan dapat hilang. Hubungan saling membantu dengan tetangga pun tidak serta-merta terbentuk kembali di tempat baru. Ahok mengingatkan bahwa keadaan semacam ini perlu dipahami sebelum relokasi dilakukan. Pendataan mata pencaharian, konsultasi, serta penyiapan dukungan ekonomi dapat membantu memastikan penataan kota tidak mengorbankan penghidupan dan hubungan sosial masyarakat.

Tom Lembong mengingatkan bahwa generasi muda berpotensi menanggung tekanan paling berat apabila perekonomian mengalami guncangan. Dalam pandangannya, anak muda berada pada tahap membangun masa depan, mencari pekerjaan, dan merancang kehidupan jangka panjang. Ketika keadaan ekonomi memburuk, ruang untuk meraih kesempatan dapat menyempit, sementara ketidakpastian membuat perencanaan semakin sulit. Karena itu, ia menilai dampak krisis tidak hanya terasa pada angka ekonomi, tetapi juga pada pilihan dan harapan generasi berikutnya.

Tom memperkirakan potensi krisis dapat muncul dalam rentang enam hingga dua belas bulan ke depan. Ia menyampaikan bahwa berdasarkan hitungannya, peluang terjadinya krisis berada di atas 50 persen. Perkiraan ini merupakan penilaian mengenai risiko, bukan kepastian bahwa krisis pasti akan terjadi pada waktu tersebut. Dengan menyampaikan rentang dan angka peluang, Tom menekankan perlunya memahami kemungkinan yang dihadapi tanpa menganggapnya sebagai hasil yang sudah ditentukan.

Peringatan tersebut, menurut pesannya, tidak seharusnya membuat anak muda menyerah atau memandang masa depan dengan pesimistis. Risiko ekonomi perlu dihadapi dengan kesadaran dan sikap yang tetap terbuka terhadap perubahan. Bagi generasi muda, memahami bahwa keadaan bisa menjadi berat merupakan cara untuk mempersiapkan diri secara lebih realistis, bukan alasan untuk berhenti merencanakan masa depan. Tom mengajak mereka melihat tantangan sekaligus kemungkinan yang dapat muncul setelahnya.

Ia merujuk pada pengalaman sejarah untuk menjelaskan mengapa krisis tidak selalu berakhir tanpa perubahan.

Baca juga: Sumpah Pemuda, Bukti Keberpihakan Presiden Prabowo pada Masa Depan Anak Bangsa | Dari Aksi Damai ke Kericuhan: Rangkaian Demo Sumpah Pemuda di Yogyakarta | Sumpah Pemuda dan Rajutan Keberagaman Menuju Indonesia Emas