Peluang Berhenti Merokok Masih Terlewat di Layanan Kesehatan

oleh -728 Dilihat
oleh
Peluang Berhenti Merokok Masih Terlewat di Layanan Kesehatan

Jakarta | Merokok masih menjadi persoalan kesehatan masyarakat yang besar di Indonesia. Dampaknya tidak hanya dirasakan oleh perokok, tetapi juga oleh orang di sekitarnya yang terpapar asap rokok. Meski banyak orang memahami risiko kesehatan tersebut, berhenti merokok tidak selalu mudah. Nikotin dapat menimbulkan ketergantungan, sehingga keinginan untuk berhenti kerap berhadapan dengan dorongan kuat untuk kembali merokok. Proses ini dapat membutuhkan dukungan yang berkelanjutan, bukan sekadar niat atau imbauan singkat.

Tantangan lainnya adalah terbatasnya akses terhadap edukasi dan pendampingan yang dapat membantu seseorang menjalani upaya berhenti. Data tahun 2021 yang disampaikan praktisi kesehatan dr. Jeffrey Ariesta Putra, Sp.B., menunjukkan bahwa Indonesia memiliki sedikitnya 70 juta perokok. Dari jumlah tersebut, sekitar 63 persen menyatakan ingin berhenti merokok. Namun, hanya 38 persen yang memperoleh edukasi atau bantuan ketika datang ke rumah sakit. Angka ini menunjukkan bahwa motivasi untuk berhenti cukup luas, tetapi dukungan yang tersedia belum menjangkau semua orang yang membutuhkannya.

Kesenjangan tersebut penting diperhatikan karena fasilitas kesehatan dapat menjadi salah satu titik awal untuk mengenali ketergantungan nikotin dan memperoleh informasi yang tepat. Kunjungan ke rumah sakit mungkin membuka kesempatan bagi tenaga kesehatan untuk menanyakan kebiasaan merokok, membahas manfaat berhenti, dan mengarahkan pasien pada bantuan yang sesuai. Jika kesempatan itu tidak dimanfaatkan, pasien yang ingin berhenti dapat pulang tanpa mengetahui langkah praktis atau sumber pendampingan yang tersedia. Karena itu, besarnya jumlah perokok yang ingin berhenti perlu dibaca bersama rendahnya angka penerima edukasi dan bantuan. Perbedaan kedua angka tersebut menggambarkan bahwa kebutuhan perokok belum sepenuhnya sejalan dengan layanan yang mereka terima. Penguatan edukasi dan pendampingan di layanan kesehatan dapat membantu menjembatani kesenjangan ini, sekaligus membuat dukungan berhenti merokok lebih mudah dikenali dan diakses.Jeffrey menyoroti bahwa pasien yang merokok dapat datang ke rumah sakit tanpa kebiasaan tersebut teridentifikasi atau ditangani. Dalam praktik layanan, perhatian tenaga kesehatan sering terarah pada keluhan utama, diagnosis, dan kebutuhan medis yang mendesak. Akibatnya, informasi mengenai penggunaan rokok mungkin tidak ditanyakan, tidak tercatat, atau belum ditindaklanjuti dengan dukungan untuk berhenti. Padahal, kunjungan rumah sakit menghadirkan kesempatan untuk mengenali kebiasaan yang berpengaruh terhadap kesehatan pasien dan membuka percakapan tentang perubahan perilaku.

Menurut gagasan yang disampaikan Jeffrey, pemeriksaan pasien dapat menjadi waktu yang tepat bagi tenaga kesehatan untuk menanyakan apakah seseorang merokok. Pertanyaan itu dapat disampaikan sebagai bagian dari pengumpulan riwayat kesehatan, dengan cara yang wajar dan tidak menghakimi. Ketika kebiasaan merokok diketahui, pasien dapat memperoleh informasi dan ditawari pendampingan yang sesuai. Pendekatan ini juga membantu memastikan bahwa kebutuhan terkait penghentian merokok tidak terlewat hanya karena pasien datang dengan masalah kesehatan lain. Identifikasi awal merupakan langkah penting agar pembicaraan dan dukungan lanjutan dapat ditawarkan.

Kesempatan serupa dapat muncul saat pasien menjalani persiapan tindakan operasi. Dalam tahap tersebut, tenaga kesehatan berinteraksi dengan pasien untuk memahami kondisi serta kebutuhannya sebelum tindakan. Pertanyaan mengenai rokok dapat disertakan dalam proses itu, lalu diikuti tawaran pendampingan untuk berhenti merokok. Dengan demikian, layanan rumah sakit tidak hanya berfokus pada tindakan yang akan dilakukan, tetapi juga dapat memperhatikan kebiasaan yang relevan bagi kesehatan pasien. Tawaran dukungan memberi ruang bagi pasien untuk mempertimbangkan langkah berhenti, tanpa mengasumsikan bahwa semua orang siap mengambil keputusan pada saat yang sama.

Sorotan Jeffrey tersebut disampaikan dalam The 3rd Symposium of Indonesian Health Resilience Association (Siera III) 2026 di Jakarta. Gagasannya menempatkan kontak rutin pasien dan tenaga kesehatan sebagai peluang praktis untuk mengidentifikasi perokok serta menawarkan bantuan. Jika pertanyaan mengenai kebiasaan merokok menjadi bagian dari pemeriksaan dan persiapan operasi, pasien yang sebelumnya tidak terdeteksi dapat memperoleh perhatian yang diperlukan. Hal ini menegaskan pentingnya menjadikan identifikasi dan tawaran pendampingan sebagai bagian dari percakapan layanan, bukan menunggu pasien mengangkat persoalan itu sendiri.

Metode 5A menawarkan alur praktis bagi tenaga kesehatan untuk membahas penggunaan tembakau secara terstruktur dalam berbagai layanan. Tahap pertama, Ask, berarti menanyakan kebiasaan merokok setiap pasien, termasuk jenis produk yang digunakan, frekuensi, dan lamanya kebiasaan tersebut. Pertanyaan sebaiknya diajukan secara rutin, tidak menghakimi, dan dicatat dalam rekam medis. Informasi ini menjadi titik awal untuk mengenali pola konsumsi serta kemungkinan tingkat ketergantungan nikotin. Dengan menjadikan pertanyaan sebagai bagian dari pemeriksaan, peluang untuk mengidentifikasi kebutuhan pasien tidak bergantung pada apakah pasien lebih dulu mengangkat topik tersebut.

Tahap Advise dilakukan dengan menyampaikan anjuran yang jelas, personal, dan empatik agar pasien berhenti merokok. Selanjutnya, Assess membantu tenaga kesehatan menilai kesiapan pasien untuk membuat perubahan, misalnya apakah ia ingin berhenti dalam waktu dekat atau masih mempertimbangkannya. Penilaian ini penting agar percakapan tidak berubah menjadi tekanan. Pada tahap Assist, pasien dibantu menyusun langkah yang sesuai, seperti menetapkan tanggal berhenti, mengenali pemicu, merencanakan cara menghadapi keinginan merokok, atau mempertimbangkan dukungan konseling dan pengobatan. Terakhir, Arrange berarti mengatur tindak lanjut melalui kunjungan, telepon, atau rujukan, sehingga kemajuan dan kendala dapat dibahas kembali.

Kelima tahapan tersebut saling melengkapi: tenaga kesehatan dapat memahami tingkat ketergantungan, kesiapan pasien, dan jenis dukungan yang dibutuhkan, kemudian menyesuaikan pendekatan tanpa mengabaikan pengalaman individual. Menurut Jeffrey, penerapan metode ini akan lebih efektif bila didukung kolaborasi lintas profesi dan kerja sama tim. Dokter, perawat, bidan, apoteker, konselor, serta petugas kesehatan lainnya dapat berbagi peran, mulai dari skrining hingga pendampingan lanjutan. Prosedur operasional standar yang disepakati membantu memastikan setiap profesi mengetahui kapan dan bagaimana memberikan edukasi, mencatat informasi, serta merujuk pasien. Dengan demikian, pesan yang diterima pasien lebih konsisten di berbagai titik layanan, bukan hanya bergantung pada satu petugas atau satu kunjungan. Konsistensi edukasi diharapkan memperkuat dukungan untuk berhenti dan mendorong pasien mengurangi bahaya merokok, termasuk dengan terus terhubung pada layanan saat menghadapi kesulitan.Selain membicarakan peluang konseling berhenti merokok di layanan kesehatan, forum tersebut turut menyinggung upaya untuk mengurangi risiko kesehatan yang berkaitan dengan kebiasaan merokok. Pembahasan ini memperluas perhatian dari dukungan untuk menghentikan konsumsi tembakau menuju langkah-langkah yang dapat membantu membatasi dampak kesehatannya. Isu pengurangan risiko menjadi bagian dari percakapan forum, tetapi informasi yang tersedia tidak merinci pendekatan tertentu, rekomendasi klinis, ataupun bentuk intervensi yang dibahas. Karena itu, topik ini dapat dipahami sebagai salah satu tema yang diangkat, bukan sebagai dasar untuk menyimpulkan bahwa suatu cara tertentu telah terbukti efektif atau sesuai bagi semua orang.

Dalam rangkaian pembahasan itu, forum juga menyebut penelitian selama 90 hari yang mengamati perubahan kondisi gusi. Penyebutan tersebut menunjukkan bahwa kesehatan mulut termasuk dalam cakupan perhatian ketika risiko terkait merokok dibahas. Namun, keterangan yang tersedia hanya menyebut topik dan durasi pengamatan. Tidak ada rincian mengenai rancangan penelitian, peserta, prosedur, ataupun ukuran yang digunakan untuk menilai kondisi gusi. Informasi mengenai kadar karbon monoksida juga tidak disertai hasil terperinci. Dengan batasan itu, uraian tentang penelitian perlu tetap pada fakta bahwa kajian berdurasi 90 hari dan pengamatan atas gusi disebut dalam forum.

Belum tersedia keterangan yang memungkinkan pembaca mengetahui apakah kondisi gusi berubah, seperti apa arah perubahan tersebut, atau apakah perubahan berkaitan dengan faktor tertentu.

Baca juga: Kodim 1808/Mansel Melalui Satgas TMMD Ke-130 Gandeng Dinas Kesehatan Berikan Pelayanan Kesehatan Gratis Kepada Masyarakat | Tingkatkan Kualitas Kesehatan Pelajar, Serma Supriyadi Dampingi Screening Kesehatan Di SDI Bina Insan Mulia | Satgas TMMD Ke-130 Kodim 1808/Mansel Bersama Dinas Kesehatan dan Ibu Persit Gelar Pengobatan Gratis