Industri Manufaktur Indonesia Tumbuh, Tantangan Bahan Baku Masih Membayangi

oleh -112 Dilihat
oleh
Industri Manufaktur Indonesia Tumbuh, Tantangan Bahan Baku Masih Membayangi

Jakarta | Menteri Perindustrian Sarmuji membantah anggapan bahwa Indonesia sedang mengalami deindustrialisasi. Dalam pemaparannya pada Rapimnas Kadin 2026, ia menyampaikan bahwa industri pengolahan nonmigas tumbuh sebesar 5,32 persen pada 2026. Angka tersebut lebih tinggi daripada pertumbuhan ekonomi nasional yang tercatat sebesar 5,29 persen. Data itu menjadi dasar bagi Sarmuji untuk menegaskan bahwa kondisi industri tidak sejalan dengan narasi bahwa kegiatan manufaktur nasional tengah mengalami kemunduran.

Ia juga membandingkan capaian tersebut dengan kinerja pada 2025. Pada tahun itu, industri pengolahan tumbuh 5,3 persen, sementara ekonomi nasional mencatat pertumbuhan 5,11 persen. Dengan demikian, dalam dua tahun yang dipaparkan, laju pertumbuhan sektor industri pengolahan berada di atas laju pertumbuhan ekonomi secara keseluruhan. Perbandingan ini penting karena membantu menunjukkan posisi industri dalam dinamika ekonomi nasional, bukan hanya melihat angka pertumbuhan industri secara terpisah.

Menurut Sarmuji, perbandingan tersebut menandai perubahan setelah bertahun-tahun pertumbuhan industri cenderung berada di bawah pertumbuhan ekonomi nasional. Perbedaan laju pertumbuhan pada 2025 dan 2026 menunjukkan bahwa kecenderungan sebelumnya tidak tercermin dalam data yang ia paparkan untuk periode tersebut. Karena itu, ia menyatakan bahwa angka-angka tersebut menggambarkan keadaan yang berbeda dari narasi mengenai ancaman deindustrialisasi. Pernyataan itu merujuk pada perbandingan pertumbuhan sektor industri dengan ekonomi nasional, sebagaimana disampaikan dalam forum Rapimnas Kadin 2026.

Data tersebut tidak dengan sendirinya mengubah seluruh pembahasan mengenai tantangan yang dihadapi industri, tetapi menjadi rujukan untuk menilai klaim tentang arah perkembangannya. Dalam konteks pemberitaan ini, pokok pernyataan Sarmuji adalah bahwa pertumbuhan industri pengolahan melampaui pertumbuhan ekonomi nasional pada dua tahun yang dibandingkan. Dengan menyajikan angka 2025 dan 2026, ia menekankan adanya perkembangan yang berbeda dari pola selama bertahun-tahun sebelumnya. Klaimnya secara khusus menepis anggapan deindustrialisasi berdasarkan data pertumbuhan tersebut, tanpa memperluasnya menjadi kesimpulan lain mengenai seluruh kondisi sektor manufaktur Indonesia.

Industri pengolahan memiliki peran penting dalam perekonomian Indonesia. Sarmuji menggambarkan kontribusi sektor ini melalui sejumlah indikator yang menunjukkan keterlibatannya dalam aktivitas ekonomi nasional. Angka-angka tersebut mencakup realisasi investasi, nilai ekspor, dan penyerapan tenaga kerja. Ketiga ukuran itu memberikan gambaran dari sisi modal, perdagangan, serta pekerjaan, tanpa mencampuradukkan perbedaan fungsi masing-masing indikator.

Dari sisi penanaman modal, industri pengolahan menyumbang 38,98 persen terhadap realisasi investasi nasional. Proporsi ini menunjukkan besarnya porsi investasi yang tercatat pada sektor tersebut dibandingkan dengan keseluruhan realisasi investasi di Indonesia. Angka tersebut secara khusus merujuk pada kontribusi terhadap realisasi investasi nasional, bukan ukuran nilai ekspor atau jumlah pekerja. Dengan pemisahan ini, posisi manufaktur dalam arus investasi dapat dibaca secara jelas.

Indikator perdagangan juga memperlihatkan skala industri pengolahan. Pada Agustus 2026, ekspor dari sektor ini mencapai US$159,55 miliar. Nilai tersebut setara dengan 82,40 persen dari total ekspor. Dengan demikian, data yang disampaikan menempatkan industri pengolahan sebagai bagian yang mencakup sebagian besar nilai ekspor nasional pada periode tersebut. Angka periode ini perlu dibaca sesuai cakupannya, yakni pencapaian ekspor hingga Agustus 2026, dan tidak disamakan dengan kontribusi investasi.

Dari aspek pekerjaan, industri pengolahan menyerap sekitar 19,98 juta tenaga kerja hingga Mei 2026. Data ini menambahkan dimensi ketenagakerjaan pada gambaran kontribusi sektor manufaktur. Besaran tenaga kerja tersebut disajikan terpisah dari persentase investasi dan nilai ekspor karena masing-masing mengukur hal yang berbeda. Dengan menyebutkan periode pencatatannya, pembaca dapat memahami bahwa angka pekerjaan itu merujuk pada kondisi hingga Mei, sementara data ekspor merujuk pada Agustus 2026.

Secara keseluruhan, tiga indikator tersebut menyajikan ukuran yang berbeda mengenai peran industri pengolahan: 38,98 persen dari realisasi investasi nasional, ekspor senilai US$159,55 miliar atau 82,40 persen dari total ekspor pada Agustus 2026, serta penyerapan sekitar 19,98 juta tenaga kerja hingga Mei 2026. Penyajian terpisah membantu pembaca mencermati kontribusi sektor ini berdasarkan kategori dan rentang waktu masing-masing.

Indeks Kepercayaan Industri (IKI) pada Oktober 2026 tercatat sebesar 53,77, meningkat dibandingkan posisi 51,9 pada bulan sebelumnya. Perubahan tersebut menunjukkan penguatan indikator kepercayaan industri dalam rentang bulanan yang dilaporkan. Angka Oktober berada di atas ambang 50, yang menjadi titik pembeda fase ekspansi dan kontraksi dalam penilaian IKI. Dengan demikian, perkembangan indeks ini memberi sinyal bahwa kegiatan industri, menurut indikator tersebut, bergerak ke arah ekspansi.

Sarmuji menjelaskan bahwa nilai IKI yang lebih tinggi dari 50 menandakan industri berada dalam fase ekspansi. Ia menggunakan ambang itu untuk membaca arah pergerakan industri, bukan menyatakan bahwa seluruh pelaku usaha mengalami kondisi yang seragam. Berdasarkan nilai 53,77 pada Oktober, ia menegaskan bahwa industri saat ini tidak sedang mengalami kontraksi, melainkan berada dalam fase ekspansi. Penilaian itu merujuk pada indikator yang dipaparkannya, termasuk perbandingan dengan angka bulan sebelumnya.

Kenaikan dari 51,9 menjadi 53,77 memperkuat posisi indeks di atas batas ekspansi. Namun, angka agregat tersebut perlu dipahami sesuai cakupannya: sebagai gambaran arah kepercayaan industri berdasarkan IKI, sebagaimana dijelaskan Sarmuji. Indikator ini tidak dengan sendirinya membuktikan bahwa setiap perusahaan, jenis kegiatan, atau subsektor mencatat pertumbuhan, maupun bahwa tidak ada pelaku usaha yang menghadapi tekanan. Karena itu, pernyataan bahwa industri berada dalam fase ekspansi sebaiknya dikaitkan secara khusus dengan pembacaan atas indeks, bukan diperluas menjadi klaim mengenai seluruh kondisi perusahaan atau subsektor.

Dalam konteks pemberitaan mengenai perkembangan manufaktur, IKI Oktober memberikan satu tolok ukur untuk melihat perubahan sentimen dari bulan ke bulan. Kenaikannya dapat dicatat sebagai perkembangan positif pada indikator kepercayaan, sementara batas interpretasinya tetap penting. Sarmuji menyimpulkan fase ekspansi karena skor berada di atas 50; angka tersebut menjadi dasar penegasan bahwa industri tidak mengalami kontraksi menurut indikator yang ia sampaikan. Pembacaan ini membantu memisahkan informasi tentang arah indeks dari gambaran yang lebih luas mengenai kinerja dan tantangan yang mungkin dihadapi masing-masing bagian industri.

Di balik sejumlah indikator yang menunjukkan pertumbuhan positif, industri manufaktur masih menghadapi pekerjaan penting untuk meningkatkan pemanfaatan kapasitas yang telah tersedia. Sarmuji menyoroti tingkat utilisasi industri pengolahan nonmigas yang tercatat sebesar 66,13 persen pada Februari 2026. Angka tersebut masih berada di bawah sasaran pemerintah, yang ingin mendorong utilisasi ke kisaran 80–85 persen. Kesenjangan ini menunjukkan bahwa sebagian kemampuan produksi belum dimanfaatkan secara optimal, meskipun fasilitas industri sudah tersedia.

Menurut Sarmuji, peningkatan utilisasi dapat memperbesar kontribusi industri terhadap perekonomian tanpa harus selalu membangun pabrik baru atau menambah investasi dalam skala besar. Perusahaan dapat menghasilkan lebih banyak dengan memaksimalkan kapasitas yang ada, selama kegiatan produksi dapat berjalan secara konsisten. Namun, langkah tersebut bergantung pada kepastian pasokan bahan baku dan harga yang kompetitif. Tanpa ketersediaan input yang cukup, kapasitas menganggur sulit diubah menjadi peningkatan produksi, sekalipun permintaan dan fasilitas produksi mendukung.

Risiko itu tampak pada kebutuhan bahan baku rafinasi. Sarmuji menyebut terdapat kekurangan pasokan sebesar 15.000 ton. Apabila kebutuhan tersebut tidak terpenuhi hingga Desember, perusahaan berpotensi menghentikan produksi. Situasi seperti ini tidak hanya menghambat pemanfaatan kapasitas, tetapi juga dapat mengganggu keberlanjutan kegiatan usaha dan pasokan produk ke pasar.

Baca juga: Menjaga Kesegaran Bahan Pangan: Tantangan Dapur dan Inovasi TCL | Dari Tambang ke Industri Modern: Peluang Pengembangan Ekosistem Emas Indonesia | Insentif Pajak 2027 Diproyeksikan Rp632 Triliun, Manufaktur Jadi Penerima Terbesar