Kabupaten Barito Kuala | Helikopter Super Puma H225 dengan nomor registrasi VH-HGM mengalami kecelakaan di perairan Sungai Barito, Kabupaten Barito Kuala, Kalimantan Selatan, pada Minggu, 8 November 2026. Saat kejadian, helikopter tersebut sedang menjalankan operasi pemadaman kebakaran hutan dan lahan. Peristiwa ini menempatkan kegiatan penanganan karhutla di wilayah tersebut dalam perhatian, sementara proses pencarian terhadap awak yang belum ditemukan masih menjadi fokus setelah kecelakaan.
Lokasi kejadian berada di kawasan sungai, sehingga penanganan insiden melibatkan perhatian khusus terhadap kondisi perairan dan keselamatan personel yang bertugas. Informasi awal yang tersedia menyebutkan jenis helikopter, nomor registrasi, lokasi, tanggal, serta tujuan operasinya. Rincian tersebut menjadi dasar untuk memahami peristiwa tanpa menarik kesimpulan yang belum didukung keterangan resmi. Hingga informasi mengenai kejadian berkembang, penyebab kecelakaan belum dapat dipastikan berdasarkan keterangan yang disampaikan.
Operasi pemadaman karhutla biasanya dijalankan untuk mendukung penanganan kebakaran di wilayah yang terdampak. Dalam insiden ini, helikopter tengah bertugas untuk keperluan tersebut ketika kecelakaan terjadi di Sungai Barito. Namun, belum ada keterangan yang dapat menjelaskan lebih jauh rangkaian kejadian sebelum helikopter jatuh, termasuk kondisi penerbangan maupun faktor lain yang mungkin relevan. Karena itu, laporan mengenai peristiwa ini perlu membedakan informasi yang telah diketahui dari hal-hal yang masih menunggu penjelasan.
Perhatian berikutnya tertuju pada upaya pencarian awak yang masih dicari serta perkembangan penanganan di lokasi. Identitas dan kondisi seluruh awak, maupun rincian operasi pencarian, perlu merujuk pada pembaruan dari pihak berwenang. Informasi mengenai kecelakaan helikopter Super Puma H225 VH-HGM ini juga penting disampaikan secara cermat agar publik memperoleh gambaran faktual tentang insiden saat misi pemadaman berlangsung. Penjelasan lebih lanjut diharapkan dapat memperjelas perkembangan pencarian dan penanganan, tanpa mendahului hasil pemeriksaan atau mengaitkan kecelakaan dengan penyebab tertentu sebelum ada keterangan resmi yang mendukungnya.
Helikopter Super Puma yang jatuh di Sungai Barito membawa tiga awak. Dalam pembaruan mengenai pencarian, dua orang telah ditemukan dalam keadaan selamat, sementara satu awak lainnya masih belum ditemukan. Informasi ini menunjukkan bahwa proses pencarian belum selesai dan petugas masih berupaya memastikan keberadaan seluruh orang yang berada di dalam helikopter. Jumlah awak yang disebutkan dalam laporan menjadi dasar untuk memahami perkembangan operasi, tanpa menganggap bahwa penemuan dua orang berarti seluruh awak telah berhasil dievakuasi.
Dua awak yang ditemukan selamat adalah pilot berkewarganegaraan Australia dan seorang awak lainnya. Pilot tersebut telah memperoleh penanganan medis setelah ditemukan. Keterangan tentang kondisi selamat dan pemberian perawatan merupakan bagian penting dari pembaruan, tetapi tidak dengan sendirinya menjelaskan rincian kondisi kesehatan maupun tempat penanganan. Karena itu, informasi yang dapat ditegaskan adalah bahwa pilot telah mendapatkan bantuan medis, sedangkan pembaruan yang tersedia menyebut dua awak telah ditemukan selamat.
Satu orang yang masih dicari adalah warga negara Indonesia yang bertugas sebagai helicopter landing officer (HLO). Namanya ditulis dalam laporan dengan dua variasi ejaan, yaitu Yayan Subyansuri dan Yayan Supyansuri. Perbedaan penulisan tersebut merujuk kepada satu orang yang sama, bukan dua awak yang berbeda. Dengan demikian, pembaruan pencarian menyebut satu HLO Indonesia masih hilang, sementara dua awak lainnya telah ditemukan dalam keadaan selamat. Pencarian terhadap HLO tersebut tetap menjadi bagian utama dari upaya menemukan seluruh awak Super Puma. Informasi yang disampaikan sejauh ini perlu dibaca secara cermat: dua orang telah ditemukan dan satu orang masih dicari. Setiap pembaruan lanjutan mengenai hasil pencarian, identitas, atau kondisi para awak sebaiknya mengikuti keterangan resmi yang tersedia, agar tidak menimbulkan kekeliruan mengenai jumlah orang maupun status mereka. Hingga ada informasi baru, ejaan nama yang berbeda tidak mengubah fakta bahwa hanya satu awak Indonesia berstatus belum ditemukan dalam kejadian ini.
Informasi mengenai kondisi awak Super Puma yang jatuh di Sungai Barito mengalami pembaruan. Pada keterangan awal, seluruh kru disebut selamat. Namun, data terbaru yang disampaikan Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) mengoreksi informasi tersebut: dua dari tiga awak telah ditemukan selamat, sedangkan satu awak lainnya masih dalam pencarian. Perbedaan ini penting dicatat agar kabar yang beredar mencerminkan perkembangan penanganan terbaru.
Pelaksana Tugas Kepala Pusat Data, Informasi, dan Komunikasi Kebencanaan BNPB, Berton SP Panjaitan, menyampaikan bahwa satu awak masih dicari. Keterangan itu sekaligus memperbarui informasi sebelumnya yang menyebut semua kru selamat. Dengan demikian, jumlah awak yang telah ditemukan selamat berdasarkan pembaruan BNPB adalah dua orang, bukan seluruh tiga awak yang berada di dalam helikopter.
Perubahan informasi dapat terjadi ketika proses pendataan dan pencarian masih berlangsung. Dalam situasi darurat, keterangan awal sering kali disampaikan berdasarkan laporan yang tersedia pada saat itu, sementara kondisi di lapangan terus diverifikasi. Karena itu, perkembangan terbaru dari lembaga berwenang perlu menjadi acuan, terutama ketika ada koreksi terhadap kabar yang telah lebih dahulu tersebar.
Publik sebaiknya membedakan laporan awal dan konfirmasi terkini. Pernyataan bahwa seluruh kru selamat tidak lagi menggambarkan situasi terbaru setelah BNPB mengonfirmasi bahwa satu awak belum ditemukan. Meski dua awak telah ditemukan selamat, pencarian terhadap satu orang lainnya masih menjadi bagian penting dari penanganan insiden tersebut. Informasi mengenai hasil pencarian berikutnya perlu menunggu pembaruan resmi, bukan disimpulkan dari kabar yang belum terverifikasi.
BNPB juga menjadi rujukan bagi media dan masyarakat dalam mengikuti perkembangan kebencanaan ini. Keterangan Berton memberikan penegasan mengenai jumlah awak yang telah ditemukan serta status satu awak yang masih dicari, sekaligus meluruskan kabar terdahulu. Hingga ada pengumuman resmi selanjutnya, status pencarian tersebut perlu disampaikan secara hati-hati dan akurat. Penyebutan angka serta status yang tepat membantu mencegah kesalahpahaman, menjaga kejelasan informasi bagi masyarakat, dan menghormati proses pencarian yang masih berlangsung di Sungai Barito.
Upaya pencarian dan pertolongan setelah helikopter Super Puma jatuh di Sungai Barito dikoordinasikan oleh unsur terkait, dengan Kantor SAR Banjarmasin mengerahkan personel dan sarana menuju lokasi kejadian. Operasi ini difokuskan pada pencarian satu awak yang masih belum ditemukan serta penanganan dua awak yang berhasil selamat. Koordinasi diperlukan agar pengerahan tim dan penggunaan peralatan dapat disesuaikan dengan kondisi lokasi kecelakaan.
Kantor SAR Banjarmasin memberangkatkan 18 personel untuk mendukung operasi. Mereka menuju lokasi menggunakan kendaraan rescue dan kapal rigid inflatable boat (RIB). Penggunaan sarana darat dan air tersebut memungkinkan tim membawa personel serta perlengkapan mendekati area kejadian melalui jalur yang tersedia. Setibanya di lokasi, personel dapat bekerja bersama pihak-pihak terkait dalam pelaksanaan pencarian dan pertolongan.
Menurut Berton, lokasi kecelakaan berjarak sekitar 141 kilometer dari Kantor SAR Banjarmasin. Jika dihitung dari Dermaga SAR Basirih, jaraknya sekitar 71 nautical miles. Jarak tersebut menjadi salah satu pertimbangan dalam mobilisasi tim dan peralatan, sekaligus menggambarkan waktu serta upaya yang diperlukan untuk menjangkau area pencarian di Sungai Barito.
Selain mencari awak yang belum ditemukan, petugas juga memastikan kondisi korban selamat mendapat perhatian. Dua awak yang berhasil diselamatkan dipastikan menjalani pemeriksaan kesehatan. Mereka memperoleh penanganan medis sesuai kebutuhan berdasarkan hasil pemeriksaan dan kondisi masing-masing. Langkah ini penting untuk mengidentifikasi kemungkinan cedera atau dampak kesehatan lain setelah insiden, sekalipun korban telah berhasil dievakuasi.
Operasi pencarian dilaksanakan dengan memperhatikan keselamatan personel dan perkembangan situasi di lapangan.
30 kunjungan


































