Gas Air Mata dari Latihan Pengendalian Massa Polres Cilegon Masuk Ruang Kelas, Siswa Dirawat

oleh -77 Dilihat
oleh
Gas Air Mata dari Latihan Pengendalian Massa Polres Cilegon Masuk Ruang Kelas, Siswa Dirawat

Cilegon | Belasan siswa SMP-SMK Al Hadid di Cilegon terdampak gas air mata yang digunakan dalam latihan pengendalian massa oleh Polres Cilegon pada Kamis, 8 Oktober 2026, sekitar pukul 10.00 WIB. Peristiwa itu terjadi ketika kegiatan belajar mengajar sedang berlangsung di lingkungan sekolah. Latihan tersebut bukan demonstrasi nyata atau kerusuhan, melainkan simulasi pembubaran massa yang disiapkan kepolisian sebagai bagian dari latihan pengendalian situasi keamanan.

Latihan berlangsung di area yang berada dekat dengan sekolah. Saat gas air mata dilepaskan dalam simulasi, asap kemudian terbawa angin dan masuk ke sejumlah ruang kelas. Kondisi tersebut membuat proses pembelajaran terganggu serta menimbulkan kepanikan di siswa dan tenaga pendidik. Asap yang menyebar ke ruang belajar juga menyebabkan sejumlah siswa harus keluar dari kelas untuk mencari udara yang lebih aman.

Belasan siswa yang terdampak selanjutnya mendapat penanganan dan perawatan. Peristiwa ini menjadi perhatian karena penggunaan gas air mata dalam kegiatan latihan dilakukan berdekatan dengan fasilitas pendidikan yang sedang menjalankan aktivitas belajar. Jarak lokasi latihan, arah angin, serta pengamanan area di sekitar sekolah menjadi faktor penting yang perlu dipertimbangkan dalam pelaksanaan simulasi serupa.

Latihan pengendalian massa pada dasarnya bertujuan meningkatkan kesiapan personel kepolisian menghadapi gangguan keamanan. Namun, pelaksanaannya tetap perlu memperhatikan dampak terhadap masyarakat, terutama ketika lokasi kegiatan berdekatan dengan sekolah. Koordinasi dengan pihak sekolah dan pemberitahuan kepada warga sekitar dapat membantu mencegah asap latihan masuk ke ruang kelas serta mengurangi risiko terhadap siswa.

Asap yang masuk ke lingkungan SMP Al-Hadid menimbulkan keluhan kesehatan pada sejumlah siswa. Beberapa siswa dilaporkan mengalami pusing setelah menghirup asap yang terbawa angin ke area sekolah. Keluhan tersebut muncul ketika kegiatan belajar mengajar masih berlangsung, sehingga suasana di sejumlah ruang kelas menjadi terganggu. Siswa yang merasakan gejala kemudian diarahkan untuk keluar dari ruangan dan mendapatkan perhatian dari pihak sekolah.

Selain pusing, sejumlah siswa mengalami sesak napas dan mata pedih. Rasa perih pada mata membuat beberapa siswa kesulitan membuka mata, sementara gangguan pernapasan menyebabkan mereka memerlukan penanganan lebih lanjut. Sebagian siswa kemudian mendapat pertolongan medis untuk memastikan kondisi mereka tetap terpantau. Penanganan dilakukan setelah pihak sekolah mengetahui adanya siswa yang mengalami keluhan akibat asap yang masuk ke area sekolah.

Wakil Kepala Sekolah Bidang Kesiswaan SMP Al-Hadid, Farid Jami’in, mengatakan asap tersebut mulai dirasakan sekitar pukul 10.00 atau 10.30 WIB. Menurut dia, asap terbawa angin dari arah kantor kepolisian menuju lingkungan sekolah. “Sekitar pukul 10.00 atau 10.30 WIB, asap terbawa angin dari arah kantor kepolisian dan membuat siswa pusing,” ujar Farid.

Farid menjelaskan bahwa keluhan tidak hanya dirasakan oleh satu siswa. Pihak sekolah berupaya mengidentifikasi siswa yang terdampak, memberikan ruang untuk beristirahat, dan memastikan mereka memperoleh bantuan sesuai kebutuhan. Siswa yang mengalami mata pedih, sesak napas, atau pusing dipantau oleh guru dan petugas sekolah sebelum mendapatkan perawatan medis. Kondisi tersebut juga mendorong sekolah untuk memperhatikan sirkulasi udara serta membatasi aktivitas di area yang terdampak.

Masuknya asap ke ruang kelas turut memengaruhi proses pembelajaran pada hari itu. Para siswa dan guru harus menyesuaikan kegiatan karena sebagian ruang tidak nyaman digunakan. Pihak sekolah kemudian berkoordinasi untuk menangani dampak yang dirasakan siswa serta mengumpulkan informasi mengenai sumber asap dan peristiwa yang berlangsung di sekitar kantor kepolisian.

Setidaknya 10 siswa mendapat penanganan medis setelah gas air mata dari kegiatan latihan pengendalian massa Polres Cilegon masuk ke ruang kelas. Penanganan tersebut dilakukan di sejumlah fasilitas kesehatan, sesuai kebutuhan masing-masing siswa setelah kejadian. Informasi mengenai jumlah siswa dan lokasi perawatan disampaikan sebagai bagian dari pendataan penanganan korban yang terdampak.

Dua siswa dibawa ke Rumah Sakit Hermina untuk memperoleh perawatan. Pemindahan ke rumah sakit tersebut menjadi bagian dari langkah penanganan medis terhadap siswa yang memerlukan pemeriksaan lebih lanjut. Sementara itu, delapan siswa lainnya ditangani di beberapa lokasi berbeda. Mereka mendapat penanganan di RSKM, Rumah Sakit Kurnia, Eka Hospital, puskesmas, serta melalui layanan rawat jalan.

Dengan demikian, total siswa yang tercatat memperoleh penanganan medis sedikitnya mencapai 10 orang. Pembagian lokasi penanganan menunjukkan bahwa layanan diberikan melalui beberapa fasilitas kesehatan, baik rumah sakit, puskesmas, maupun rawat jalan. Dua siswa menjalani penanganan di RS Hermina, sedangkan delapan lainnya memperoleh layanan di fasilitas kesehatan lain yang telah disebutkan. Data tersebut merangkum lokasi penanganan berdasarkan informasi yang tersedia, tanpa memuat keterangan tambahan mengenai kondisi, diagnosis, atau durasi perawatan para siswa.

Polres Cilegon mengakui bahwa gas air mata digunakan dalam latihan pengendalian massa yang berlangsung di sekitar lokasi sekolah. Penggunaan gas tersebut merupakan bagian dari simulasi untuk membubarkan massa aksi. Namun, dalam pelaksanaannya, arah angin membawa gas menuju area tempat para siswa berada. Sejumlah siswa yang kemungkinan sedang menyaksikan latihan kemudian mengalami mata perih setelah terpapar gas.

Kasi Humas Polres Cilegon AKP Imam Maryono menjelaskan bahwa kondisi tersebut terjadi karena gas yang dilepaskan saat latihan terbawa angin ke arah siswa. Polisi menyampaikan permintaan maaf kepada masyarakat, khususnya para siswa yang terdampak paparan gas air mata. Permintaan maaf itu disampaikan atas kejadian yang membuat sejumlah siswa mengalami keluhan pada mata.

Setelah kejadian tersebut, pihak kepolisian mengaku telah mendatangi para korban untuk melihat kondisi mereka secara langsung. Polisi juga mendatangi rumah siswa yang terdampak dan menyampaikan permintaan maaf kepada keluarga. Langkah itu dilakukan sebagai bentuk perhatian terhadap siswa dan masyarakat yang berada di sekitar lokasi latihan ketika gas terbawa angin.

Selain menyampaikan permintaan maaf, Polres Cilegon memberikan bantuan kepada pihak-pihak yang terdampak. Kepolisian juga menjamin biaya pengobatan seluruh korban yang mengalami dampak akibat paparan gas air mata tersebut. Jaminan biaya pengobatan itu disampaikan untuk memastikan para korban memperoleh penanganan atas keluhan yang mereka alami setelah latihan pengendalian massa berlangsung.