Rekor Titik Panas Sumsel Beriringan dengan Udara Palembang pada Level Bahaya

oleh -71 Dilihat
oleh
Rekor Titik Panas Sumsel Beriringan dengan Udara Palembang pada Level Bahaya

KOTA PALEMBANG, SUMATERA SELATAN — Berdasarkan laporan yang diterbitkan pada 7 Oktober 2026, Jumlah titik panas di Sumatera Selatan mencapai 3.762 titik berdasarkan data Sistem Monitoring Hutan dan Lahan (Sipongi) Kementerian Kehutanan yang dihimpun pada 6 Oktober 2026. Capaian tersebut menjadi jumlah hotspot harian tertinggi yang tercatat di wilayah itu sepanjang 2026. Lonjakan ini menandai peningkatan signifikan dibandingkan rekor sebelumnya, yaitu 3.059 titik pada 1 Oktober 2026.

Kepala Bidang Penanganan Darurat Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Sumatera Selatan, Sudirman, menyampaikan keterangan mengenai capaian tersebut pada 7 Oktober 2026. Ia menjelaskan bahwa angka dalam data Sipongi menunjukkan banyaknya titik panas yang terpantau dalam satu hari melalui pemantauan satelit. Data itu menjadi indikator penting bagi pemerintah dalam mengenali potensi kebakaran hutan dan lahan (karhutla), terutama ketika jumlahnya meningkat tajam.

Hotspot bukan secara langsung berarti setiap titik telah berubah menjadi kebakaran besar. Namun, titik panas merupakan indikasi adanya sumber panas atau anomali suhu di permukaan yang perlu diverifikasi di lapangan. Dalam kondisi kemarau, vegetasi kering, lahan gambut, serta hembusan angin dapat memperbesar risiko titik panas berkembang menjadi kebakaran yang sulit dikendalikan.

Rekor baru tersebut memperlihatkan tekanan karhutla yang sedang dihadapi Sumsel. Pemantauan melalui satelit membantu memberikan gambaran awal mengenai sebaran wilayah berisiko, sedangkan pemeriksaan langsung diperlukan untuk memastikan apakah titik yang terdeteksi merupakan kebakaran, pembukaan lahan, atau sumber panas lainnya. Informasi ini menjadi dasar bagi BPBD dan instansi terkait untuk menentukan prioritas penanganan, mengerahkan personel, serta meningkatkan kewaspadaan masyarakat di daerah yang memiliki konsentrasi hotspot tinggi.

Persebaran titik panas di Sumatera Selatan menunjukkan konsentrasi yang kuat pada wilayah dengan karakteristik lahan gambut. Dari total 3.762 hotspot yang terdeteksi, sebanyak 2.805 titik berada di lahan gambut, sementara 957 titik lainnya ditemukan di lahan mineral. Komposisi tersebut memperlihatkan bahwa kebakaran lebih banyak teridentifikasi pada ekosistem gambut, yang umumnya menyimpan material organik mudah terbakar dan dapat mempertahankan bara di bawah permukaan ketika kondisi kering berlangsung.

Ogan Komering Ilir (OKI) menjadi daerah dengan jumlah titik panas paling tinggi, yakni 2.197 titik. Jumlah itu terdiri atas 1.786 titik di lahan gambut dan 411 titik di lahan mineral. Posisi berikutnya ditempati Musi Banyuasin dengan 860 titik, meliputi 654 titik di lahan gambut serta 206 titik di lahan mineral. Banyuasin mencatat 294 titik, dengan rincian 216 titik di lahan gambut dan 78 titik di lahan mineral. Sementara itu, Muara Enim memiliki 190 titik, terdiri atas 149 titik di lahan gambut dan 41 titik di lahan mineral.

Sudirman menjelaskan bahwa empat daerah tersebut mencatat angka tertinggi dibandingkan wilayah lain di Sumatera Selatan. Adapun daerah lainnya berada pada kisaran puluhan titik. Pola ini menempatkan OKI sebagai pusat perhatian utama dalam pemantauan dan penanganan kebakaran. Dominasi titik panas di lahan gambut juga perlu menjadi perhatian khusus karena api di kawasan tersebut berpotensi menyebar luas, sulit dipadamkan, dan menghasilkan asap dalam jumlah besar. Pengawasan lapangan, pembasahan area rawan, serta pencegahan pembukaan lahan dengan pembakaran perlu diperkuat, terutama ketika cuaca kering meningkatkan risiko kemunculan titik api.

Selain mencatat rekor harian, perkembangan titik panas di Sumatera Selatan pada awal Oktober 2026 juga menunjukkan akumulasi yang tinggi. Data Sistem Monitoring Hutan dan Lahan atau Sipongi mencatat sebanyak 15.775 hotspot di Sumatera Selatan selama periode 1–6 Oktober 2026. Angka tersebut memperlihatkan bahwa jumlah titik panas telah terkumpul dalam waktu kurang dari satu pekan pada awal bulan.

Jika dibandingkan dengan catatan sepanjang September 2026, akumulasi awal Oktober itu hampir mencapai separuhnya. Sepanjang September, Sipongi mencatat 32.789 titik panas di Sumatera Selatan. Dengan demikian, jumlah 15.775 hotspot yang terdata pada 1–6 Oktober menjadi bagian yang cukup besar dibandingkan total akumulasi selama satu bulan sebelumnya. Perbandingan tersebut menegaskan tingginya aktivitas titik panas pada periode awal Oktober.

Keterangan tersebut sejalan dengan penjelasan Sudirman mengenai kondisi titik panas di Sumatera Selatan. Menurut Sudirman, tingginya jumlah hotspot menunjukkan bahwa potensi kebakaran hutan dan lahan di provinsi tersebut masih kuat. Data akumulasi dari Sipongi memberikan gambaran tambahan selain rekor harian, karena memperlihatkan besarnya jumlah titik panas yang tercatat secara beruntun pada awal Oktober. Rekor harian dan akumulasi periode 1–6 Oktober sama-sama menjadi indikator penting dalam melihat masih kuatnya potensi kebakaran hutan dan lahan di Sumatera Selatan. Hingga periode pencatatan tersebut, jumlah hotspot awal Oktober telah mencapai hampir setengah dari total yang dihimpun selama September 2026.

Kualitas udara Palembang pada pagi 7 Oktober 2026 berada pada level bahaya akibat paparan asap kebakaran hutan dan lahan (karhutla). Pemantauan konsentrasi PM2.5 di Stasiun Musi 2 dan Talang Betutu menunjukkan angka yang sangat tinggi, jauh melampaui kondisi udara yang aman bagi kesehatan. Di Talang Betutu, status bahaya mulai tercatat sejak pukul 00.00 WIB dengan konsentrasi PM2.5 sebesar 723,8 mikrogram per meter kubik. Angka tersebut meningkat hingga mencapai 781 mikrogram per meter kubik pada pukul 02.00 WIB. Konsentrasinya kemudian masih berada pada 470,2 mikrogram per meter kubik pukul 06.00 WIB dan 388,4 mikrogram per meter kubik pada pukul 07.00 WIB.

Sementara itu, Stasiun Musi 2 mencatat konsentrasi tertinggi sebesar 564,2 mikrogram per meter kubik pada pukul 05.00 WIB. Angka tersebut turun menjadi 478,4 mikrogram per meter kubik pukul 06.00 WIB, sebelum kembali tercatat 402,2 mikrogram per meter kubik satu jam kemudian. Kepala Stasiun Klimatologi Kelas I Sumatera Selatan Wandayantolis menyebut asap tersebut berasal dari karhutla yang terjadi di beberapa titik di Kabupaten Ogan Komering Ilir (OKI) dan wilayah sekitarnya. Kondisi ini membuat sejumlah kawasan Palembang diselimuti asap dengan bau menyengat.

Penurunan kualitas udara turut mengganggu jarak pandang dan kenyamanan warga. Mata dapat terasa perih, terutama ketika seseorang berada di luar ruangan atau berkendara. Masyarakat disarankan mengurangi aktivitas di luar ruangan selama kualitas udara masih berada pada level berbahaya. Jika harus keluar, gunakan masker yang mampu menyaring partikulat halus, serta hindari aktivitas fisik berat di luar ruangan. Anak-anak, lansia, dan orang yang sensitif terhadap polusi udara perlu mendapat perhatian khusus karena lebih rentan mengalami gangguan kesehatan akibat tingginya paparan PM2.5.

Response (1)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *