BI Melihat Ruang Penguatan Ekonomi Indonesia Masih Terbuka

oleh -132 Dilihat
oleh
BI Melihat Ruang Penguatan Ekonomi Indonesia Masih Terbuka

Jakarta | Bank Indonesia menilai pertumbuhan ekonomi Indonesia saat ini masih berada di bawah tingkat potensinya. Penilaian tersebut disampaikan Gubernur Bank Indonesia Destry Damayanti pada 12 Oktober 2026. Menurut Destry, kondisi ini menunjukkan bahwa kapasitas perekonomian nasional belum sepenuhnya dimanfaatkan untuk menghasilkan pertumbuhan yang lebih kuat.

Meski demikian, Bank Indonesia melihat ruang pengembangan ekonomi Indonesia masih sangat luas. Prospek tersebut menjadi dasar bahwa perekonomian nasional memiliki peluang untuk bergerak lebih tinggi apabila berbagai sumber pertumbuhan dapat dioptimalkan secara konsisten. Dengan demikian, kondisi pertumbuhan yang belum mencapai tingkat potensial tidak dipandang sebagai keterbatasan permanen, melainkan sebagai ruang yang masih dapat dikembangkan.

Destry menekankan bahwa pertumbuhan ekonomi yang masih berada di bawah level potensial memerlukan dorongan agar aktivitas ekonomi dapat meningkat. Penguatan perlu diarahkan untuk mendorong kegiatan produksi, konsumsi, investasi, dan berbagai aktivitas usaha secara lebih seimbang. Dorongan tersebut penting agar potensi yang tersedia dapat diterjemahkan menjadi ekspansi ekonomi yang lebih nyata.

Pernyataan Bank Indonesia itu menempatkan penguatan aktivitas ekonomi sebagai agenda penting dalam menjaga momentum pertumbuhan nasional. Ketika pertumbuhan belum mencapai kemampuan potensialnya, kebijakan dan dukungan terhadap kegiatan ekonomi perlu terus diperkuat secara terarah. Langkah tersebut diharapkan dapat membuka pemanfaatan ruang pengembangan yang masih tersedia, sekaligus mendorong perekonomian Indonesia tumbuh lebih kuat sesuai kapasitasnya.

Asesmen terhadap pertumbuhan ekonomi menjadi salah satu pertimbangan penting Bank Indonesia dalam menetapkan arah kebijakan moneter. Bank sentral tidak hanya memperhatikan perkembangan inflasi, nilai tukar, dan stabilitas sistem keuangan, tetapi juga menilai apakah kebijakan suku bunga dapat mendukung keberlanjutan pemulihan ekonomi. Dalam situasi ketika aktivitas ekonomi mulai meningkat, penyesuaian suku bunga perlu dilakukan secara terukur agar tidak mengurangi kepercayaan pelaku usaha maupun menahan konsumsi masyarakat.

Pertimbangan tersebut terlihat ketika bank sentral utama dunia menaikkan suku bunga pada September. Pada periode yang sama, Bank Indonesia memilih mempertahankan suku bunga pada level 5,75 persen. Keputusan ini mencerminkan upaya menjaga keseimbangan pengendalian stabilitas makroekonomi dan kebutuhan untuk mempertahankan momentum pertumbuhan. BI mempertimbangkan agar kebijakan suku bunga tidak justru menghambat proses pemulihan atau mengurangi peningkatan aktivitas ekonomi yang sedang berlangsung.

Deputi Gubernur Senior BI Destry Damayanti menyampaikan bahwa perekonomian Indonesia sedang menunjukkan kenaikan. Meski demikian, masih terdapat kesenjangan dalam pertumbuhan, baik antarsektor maupun antarwilayah. Karena itu, kenaikan suku bunga secara langsung dikhawatirkan dapat mengganggu laju perbaikan tersebut. Biaya pembiayaan yang lebih tinggi berpotensi membuat dunia usaha menunda ekspansi, sementara rumah tangga dapat menyesuaikan konsumsi dan investasinya. Kondisi ini perlu diperhitungkan agar respons kebijakan tetap sejalan dengan dinamika ekonomi domestik.

Menurut BI, ruang untuk meningkatkan pertumbuhan ekonomi Indonesia masih tersedia tanpa menyebabkan perekonomian mengalami overheating. Penilaian ini menunjukkan bahwa kapasitas ekonomi belum sepenuhnya digunakan dan permintaan masih dapat diperkuat secara sehat. Dengan mempertahankan kebijakan yang mendukung stabilitas sekaligus memberi ruang bagi aktivitas produktif, BI berupaya memastikan pertumbuhan berlangsung lebih merata dan berkelanjutan. Pendekatan tersebut juga menegaskan pentingnya membaca kondisi domestik secara menyeluruh, bukan semata-mata mengikuti arah kebijakan bank sentral global.

Di tengah situasi global yang penuh ketidakpastian, Destry menyampaikan keyakinan bahwa perekonomian Indonesia masih memiliki ruang untuk tumbuh. Gejolak ekonomi dunia memang dapat memengaruhi berbagai negara, termasuk Indonesia, tetapi kondisi tersebut tidak serta-merta menutup peluang bagi perekonomian nasional untuk terus berkembang. Pandangan ini menunjukkan pentingnya melihat potensi domestik secara menyeluruh, bukan hanya berfokus pada tekanan yang berasal dari lingkungan eksternal.

Salah satu keunggulan Indonesia terletak pada besarnya pasar domestik. Jumlah penduduk yang besar menciptakan basis kegiatan ekonomi yang luas dan menjadi kekuatan tersendiri ketika kondisi perdagangan serta perekonomian global mengalami perubahan. Aktivitas di dalam negeri dapat menjadi salah satu fondasi yang menjaga dinamika pertumbuhan, selama potensi tersebut dipahami dan diolah dengan baik.

Indonesia juga memiliki jumlah penduduk usia produktif yang banyak. Komposisi ini merupakan modal penting bagi perekonomian karena menyediakan sumber daya manusia dalam jumlah besar untuk mendukung berbagai kegiatan ekonomi. Selain itu, Indonesia dianugerahi kekayaan sumber daya alam yang menjadi keunggulan lain. Besarnya potensi tersebut memperkuat posisi Indonesia untuk tetap berkembang di tengah persaingan dan ketidakpastian global.

Namun, keunggulan tersebut tidak akan memberikan hasil secara otomatis. Pasar domestik yang besar, penduduk usia produktif, dan kekayaan alam perlu diolah dengan baik agar dapat menjadi kekuatan ekonomi yang nyata. Dalam prosesnya, optimisme juga diperlukan untuk menjaga keyakinan terhadap kemampuan Indonesia menghadapi gejolak global. Bagi Destry, kombinasi potensi yang dimiliki dan sikap optimistis menjadi alasan bahwa kesempatan bagi pertumbuhan ekonomi Indonesia masih terbuka.

Pengalaman Indonesia dalam menghadapi berbagai tekanan ekonomi menjadi salah satu dasar pandangan optimistis Destry Damayanti. Ia mengingatkan bahwa Indonesia pernah melewati krisis moneter pada 1998, ketika kondisi ekonomi dan keuangan nasional mengalami tekanan berat. Pengalaman tersebut memberikan pelajaran penting mengenai perlunya ketahanan, kewaspadaan, serta kemampuan seluruh pemangku kepentingan dalam merespons perubahan yang berlangsung cepat.

Selain krisis moneter 1998, Indonesia juga menghadapi krisis keuangan global pada 2008. Gejolak yang bermula dari perekonomian dunia tersebut turut memengaruhi berbagai negara, termasuk Indonesia. Menurut Destry, pengalaman melewati krisis global itu memperlihatkan bahwa Indonesia memiliki pengalaman dalam menghadapi tekanan yang berasal dari luar negeri. Pengalaman tersebut menjadi bagian dari modal untuk menyikapi gejolak yang kembali muncul dalam perekonomian global.

Tekanan lain terjadi ketika pandemi Covid-19 melanda. Pada masa itu, aktivitas ekonomi dan kehidupan masyarakat menghadapi gangguan yang luas. Indonesia kembali diuji oleh situasi yang tidak biasa dan penuh ketidakpastian. Rangkaian pengalaman tersebut, mulai dari krisis moneter, krisis keuangan global, hingga krisis pada masa pandemi, menjadi landasan bagi optimisme bahwa Indonesia mampu menghadapi gejolak global saat ini.

Meski demikian, Destry menekankan pentingnya kebersamaan dan sinergi nasional. Pemerintah, otoritas, dunia usaha, serta masyarakat perlu menjaga koordinasi dan bekerja bersama dalam menghadapi situasi yang penuh tantangan. Kebersamaan dipandang penting agar berbagai langkah yang ditempuh dapat berjalan secara selaras. Dengan berbekal pengalaman menghadapi sejumlah krisis dan dukungan sinergi nasional, Indonesia diharapkan dapat melewati tekanan tersebut sebagaimana pengalaman sebelumnya.

Baca juga: Bursa Asia Bergerak Beragam saat Investor Menanti Data Ekonomi dan Laporan Keuangan | Perluasan Mandat Bank Indonesia dan Dampaknya terhadap Ekonomi Riil | Polisi Selidiki Kematian KDA di Pinang Ranti dengan Dugaan Motif Ekonomi