Dradjad Wibowo Tegaskan Daya Beli Masyarakat Tidak Melemah

oleh -135 Dilihat
oleh
Dradjad Wibowo Tegaskan Daya Beli Masyarakat Tidak Melemah

Jakarta | Wakil Menteri Koordinator Bidang Perekonomian Dradjad Wibowo membantah anggapan bahwa daya beli masyarakat Indonesia sedang melemah. Ia menegaskan bahwa anggapan tersebut tidak benar.

Pernyataan itu disampaikan Dradjad seusai bertemu dengan Kepala Badan Pusat Statistik Amalia Adhininggar Widyasanti di kantor pusat BPS, Jakarta, pada Senin, 12 Oktober 2026. Pertemuan tersebut menjadi kesempatan bagi Dradjad untuk menyampaikan penegasan mengenai kondisi daya beli masyarakat.

Menurut Dradjad, pandangan yang menyebut daya beli masyarakat mengalami pelemahan tidak sesuai dengan kondisi yang ia sampaikan setelah pertemuan tersebut. Ia secara langsung menyatakan bahwa anggapan mengenai pelemahan daya beli merupakan hal yang tidak benar.

Penegasan itu disampaikan setelah pertemuannya dengan Amalia. Dradjad kembali menolak anggapan bahwa masyarakat Indonesia sedang mengalami penurunan kemampuan membeli. Ia menyebut anggapan tersebut tidak benar, sehingga tidak tepat untuk menggambarkan kondisi daya beli masyarakat saat ini.

Dengan demikian, inti pernyataan Dradjad seusai bertemu Kepala BPS adalah penolakan terhadap anggapan mengenai melemahnya daya beli masyarakat Indonesia. Ia menyampaikan bantahan tersebut di kantor pusat BPS, Jakarta, pada Senin, 12 Oktober 2026, setelah bertemu dengan Amalia Adhininggar Widyasanti.

Dradjad menegaskan kembali bahwa daya beli masyarakat tidak sedang melemah sebagaimana anggapan yang beredar. Ia menyampaikan pernyataan itu secara langsung setelah pertemuan dengan Kepala BPS, dan menyebut anggapan tersebut sebagai hal yang tidak benar.

Dradjad Wibowo menyatakan bahwa penilaiannya mengenai daya beli masyarakat didasarkan pada sejumlah data yang dibahas dalam pertemuan tersebut. Data itu berasal dari Badan Pusat Statistik (BPS), sehingga kesimpulannya tidak semata-mata bersumber dari pengamatan umum atau kesan terhadap kondisi ekonomi sehari-hari. Menurut Dradjad, berbagai informasi statistik yang tersedia memberikan dasar untuk melihat bahwa daya beli masyarakat tidak sedang melemah seperti yang mungkin dipersepsikan oleh sebagian pihak.

Dalam penjelasannya, Dradjad menyebut bahwa bukti mengenai kondisi daya beli memang tersedia. Namun, ia juga menerangkan bahwa tidak seluruh data yang menjadi bahan pembahasan dapat dipublikasikan. Ada informasi yang disampaikan dalam konteks pertemuan dan digunakan untuk mendukung penilaian, tetapi belum dapat dibuka secara lengkap kepada publik. Karena itu, pemahaman mengenai pernyataannya perlu ditempatkan dalam batas informasi yang benar-benar disampaikan.

Dradjad tidak memaparkan angka spesifik terkait data BPS yang dimaksud. Ia tidak menyebut persentase, nilai transaksi, maupun indikator kuantitatif tertentu sebagai ukuran langsung dari kondisi daya beli masyarakat. Ketiadaan angka tersebut bukan berarti klaimnya tidak memiliki dasar, melainkan menunjukkan bahwa sebagian bahan yang menjadi rujukan tidak tersedia untuk dikutip secara terbuka dalam penjelasan itu.

Dengan demikian, terdapat perbedaan kesimpulan Dradjad berdasarkan data BPS dan rincian angka yang dapat diverifikasi dari informasi yang dipublikasikan. Pernyataan bahwa daya beli masyarakat tidak melemah merupakan penilaian yang ia sampaikan setelah melihat data dalam pertemuan tersebut. Sementara itu, detail numerik mengenai data tersebut belum dapat dicantumkan karena tidak disebutkan secara spesifik. Pemisahan ini penting agar pembahasan tetap akurat dan tidak menambahkan indikator yang tidak terdapat dalam sumber.

Dradjad Wibowo menggunakan aktivitas masyarakat saat bepergian sebagai salah satu alasan untuk menilai bahwa daya beli belum mengalami pelemahan. Menurutnya, banyak orang masih melakukan kegiatan jalan-jalan, baik untuk berlibur bersama keluarga maupun menikmati waktu luang di berbagai daerah. Aktivitas tersebut dipandang mencerminkan adanya kemampuan untuk mengalokasikan pendapatan di luar kebutuhan pokok. Bagi Dradjad, keputusan masyarakat untuk tetap bepergian menunjukkan bahwa konsumsi masih berjalan dan belum sepenuhnya tertahan oleh kekhawatiran ekonomi.

Ia menghubungkan kegiatan jalan-jalan itu dengan tingginya konsumsi pada sektor restoran dan hotel. Ketika masyarakat bepergian, pengeluaran tidak hanya digunakan untuk transportasi, tetapi juga untuk makan, menginap, serta menikmati layanan pendukung lainnya. Ramainya restoran dan tingkat penggunaan hotel, dalam pandangan Dradjad, menjadi gambaran mengenai perputaran konsumsi yang masih kuat. Pengeluaran pada sektor-sektor tersebut dianggap memperlihatkan bahwa sebagian masyarakat masih memiliki ruang dalam anggaran untuk memenuhi kebutuhan rekreasi dan pengalaman, bukan hanya kebutuhan sehari-hari.

Selain konsumsi restoran dan hotel, Dradjad juga menyebut peningkatan turisme dan pariwisata sebagai indikator yang mendukung pandangannya. Pergerakan wisatawan mendorong aktivitas ekonomi di berbagai tujuan, termasuk usaha akomodasi, kuliner, transportasi, serta layanan rekreasi. Menurut argumen tersebut, meningkatnya kegiatan pariwisata berkaitan dengan adanya permintaan yang tetap tumbuh dari masyarakat. Karena itu, aktivitas rekreasi dan konsumsi yang menyertainya ia gunakan sebagai salah satu bukti bahwa daya beli masyarakat tidak sedang turun. Pernyataan tersebut merujuk pada perilaku konsumsi yang terlihat dalam kegiatan wisata, bukan semata-mata pada ukuran pengeluaran untuk kebutuhan dasar.

Dradjad Wibowo juga menyoroti perkembangan transaksi melalui Quick Response Code Indonesian Standard (QRIS). Menurut dia, transaksi QRIS terus mengalami peningkatan yang sangat drastis. Pertumbuhan tersebut bahkan disebut telah berada di atas 100 persen. Keterangan itu disampaikan untuk menunjukkan bahwa aktivitas transaksi masyarakat masih berlangsung dan terus bergerak, khususnya melalui sarana pembayaran digital.

Ia menyebut semakin banyak transaksi yang beralih ke ruang digital. Perpindahan tersebut terlihat dari meningkatnya penggunaan QRIS dalam berbagai aktivitas pembayaran. Bagi Dradjad, perkembangan ini tidak hanya berkaitan dengan perubahan sarana pembayaran, tetapi juga menggambarkan adanya kegiatan transaksi yang tetap berjalan di tengah masyarakat.

Dradjad menghubungkan pertumbuhan transaksi QRIS dengan banyaknya aktivitas transaksi dan konsumsi masyarakat. Ketika transaksi digital meningkat, hal itu menunjukkan bahwa masyarakat masih melakukan pembelian dan pembayaran. Dengan demikian, kenaikan penggunaan QRIS dipandang sebagai salah satu cerminan bahwa kegiatan konsumsi masih berlangsung, bukan berhenti atau menurun secara menyeluruh.

Ia menegaskan bahwa kondisi tersebut tidak menunjukkan pelemahan daya beli masyarakat. Sebaliknya, peningkatan transaksi QRIS yang disebut mencapai lebih dari 100 persen memperlihatkan bahwa aktivitas ekonomi masyarakat tetap berjalan melalui kanal digital. Banyaknya transaksi yang berpindah ke ruang digital menjadi dasar pandangan Dradjad bahwa konsumsi masyarakat masih ada dan terus tercermin dalam aktivitas pembayaran. Karena itu, ia tetap menyatakan bahwa daya beli masyarakat tidak melemah.

Baca juga: Pertemuan Dradjad Wibowo dan Kepala BPS Dijadwalkan Berlangsung di Jakarta | Pergerakan Mata Uang Asia Terbelah, Rupiah Melemah di Tengah Tekanan Dolar AS | Semarakkan HUT TNI Ke-81, Koramil 0808/03 Kanigoro Gelar Fun Run 5K Bersama Masyarakat