Permintaan Dapur MBG Mendorong Produksi Tempe Rumahan di Kulon Progo

oleh -196 Dilihat
oleh
Permintaan Dapur MBG Mendorong Produksi Tempe Rumahan di Kulon Progo

Kabupaten Kulon Progo | Usaha tempe rumahan milik Khoiri Rosyidin dan istrinya, Sisika, di Kabupaten Kulon Progo, Daerah Istimewa Yogyakarta, meningkatkan kapasitas produksi setelah menjadi pemasok bahan pangan bagi tiga dapur program Makan Bergizi Gratis (MBG). Kenaikan produksi tersebut dilakukan untuk memenuhi kebutuhan bahan pangan yang disalurkan melalui Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG) kepada penerima manfaat program.

Sebelum menerima permintaan dari dapur MBG, usaha keluarga itu mengolah sekitar 40 kilogram kedelai dalam satu kali pembuatan. Kini, jumlah kedelai yang digunakan mencapai 150 kilogram untuk setiap proses produksi. Perubahan tersebut menunjukkan bertambahnya volume pesanan sekaligus menuntut penyesuaian dalam pengadaan bahan baku, pengolahan, dan pengemasan tempe.

Khoiri menjelaskan bahwa produksi tempe sebelumnya hanya ditujukan untuk dijual ke pasar dan warung. Pola produksi tersebut berjalan sesuai kebutuhan pelanggan di lingkungan sekitar, dengan jumlah yang relatif terbatas. Setelah menjadi pemasok bagi tiga dapur MBG, usaha yang dikelolanya bersama Sisika harus meningkatkan jumlah produksi secara signifikan agar dapat memenuhi jadwal dan kebutuhan SPPG.

Permintaan dari dapur program tersebut memberikan peluang bagi produsen rumahan untuk memperluas pasar tanpa meninggalkan kegiatan penjualan yang telah berjalan. Bagi Khoiri dan Sisika, peningkatan kapasitas juga menjadi tantangan untuk menjaga kualitas tempe, memastikan ketersediaan kedelai, serta menyelesaikan proses produksi sesuai waktu yang ditentukan. Keterlibatan usaha mereka sebagai pemasok memperlihatkan bahwa program MBG turut membuka akses pasar baru bagi pelaku usaha pangan skala rumah tangga di daerah.

Usaha tempe yang dijalankan Khoiri dan Sisika bermula pada 2009. Dari skala rumahan, keduanya secara bertahap membangun kegiatan produksi dengan mengandalkan ketekunan, keterampilan, dan pemahaman terhadap selera konsumen di lingkungan sekitar. Proses tersebut tidak hanya mencakup pembuatan tempe, tetapi juga pengadaan bahan baku, pengolahan, pengemasan, hingga pemasaran. Selama bertahun-tahun, usaha ini menjadi salah satu sumber penghasilan keluarga sekaligus bentuk pemanfaatan potensi ekonomi rumah tangga di Kulon Progo.

Sebelum memperoleh peluang memasok dapur MBG, Khoiri dan Sisika memasarkan tempe secara langsung ke pasar tradisional serta warung-warung di sekitar tempat tinggal mereka. Produk dijual dengan harga sekitar Rp5.000 hingga Rp6.000 per potong, menyesuaikan ukuran dan kondisi pasar. Pola pemasaran tersebut membuat jangkauan penjualan masih terbatas pada konsumen lokal. Meskipun demikian, kegiatan itu membantu mereka mempertahankan produksi secara rutin dan menjaga hubungan dengan pelanggan yang telah mengenal kualitas tempe buatan mereka.

Peluang untuk memperluas pemasaran muncul ketika Sisika menerima informasi dari seorang teman mengenai kesempatan kerja sama bagi SPPG dan UMKM setempat. Informasi tersebut kemudian mendorongnya untuk mencari tahu persyaratan pemasok dan mempersiapkan produk yang sesuai. Khoiri dan Sisika mengajukan sampel tempe kepada pengelola dapur sebagai bagian dari proses penilaian. Mereka juga menerima sejumlah masukan mengenai kualitas produk, kemudian melakukan penyesuaian pada aspek yang diperlukan, termasuk mutu, ukuran, dan kesesuaian tempe dengan kebutuhan penyediaan makanan.

Setelah melalui proses tersebut, produk tempe buatan mereka mulai diterima sebagai salah satu pemasok MBG pada 14 April 2025. Penerimaan ini menjadi perkembangan penting setelah lebih dari satu dekade menjalankan usaha secara mandiri. Kerja sama dengan dapur MBG membuka akses pasar yang lebih luas bagi usaha rumahan Khoiri dan Sisika, sekaligus menunjukkan bahwa UMKM lokal dapat berkembang ketika mampu menjaga kualitas dan menyesuaikan produk dengan kebutuhan mitra.

Catatan Badan Gizi Nasional (BGN) menunjukkan adanya perubahan skala usaha tempe yang dijalankan Khoiri dan Sisika di Kulon Progo setelah keduanya mulai memasok dapur Makan Bergizi Gratis (MBG). Sebelum menerima permintaan dari dapur MBG, pasangan tersebut mengolah sekitar 240 kilogram kedelai setiap minggu. Jumlah itu digunakan untuk memenuhi kebutuhan pasar yang selama ini menjadi tujuan produksi mereka.

Setelah menjadi pemasok dapur MBG, pola produksi dan pengiriman mengalami peningkatan. Dalam satu kali pengiriman, tempe yang disalurkan kepada dapur MBG dapat mencapai 150 kilogram. Pengiriman tersebut dapat dilakukan hingga tiga kali dalam sepekan. Frekuensi itu membuat kebutuhan bahan baku, waktu pengolahan, serta kesiapan produksi menjadi lebih besar dibandingkan kondisi sebelum mereka memasok program tersebut.

Peningkatan permintaan juga berdampak pada pembagian pekerjaan di tempat produksi. Pada periode tertentu, seluruh tahapan pengolahan tempe tidak lagi mampu ditangani oleh Khoiri dan Sisika berdua. Karena itu, mereka melibatkan warga sekitar untuk membantu proses produksi. Keterlibatan tersebut menjadi bagian dari penyesuaian usaha terhadap volume pesanan yang meningkat, sekaligus memperlihatkan bahwa kegiatan produksi rumahan dapat memerlukan dukungan tenaga tambahan ketika permintaan bertambah.

Sisika menjelaskan bahwa bantuan warga sekitar dibutuhkan ketika pekerjaan yang harus diselesaikan sudah terlalu banyak untuk mereka tangani sendiri. Pernyataan tersebut menggambarkan perubahan kebutuhan tenaga kerja secara langsung, tanpa mengubah karakter usaha yang masih berakar pada lingkungan tempat tinggal mereka. Dengan adanya dukungan tersebut, proses pembuatan dan pemenuhan pengiriman untuk dapur MBG dapat disesuaikan dengan jadwal permintaan yang lebih sering. Perubahan ini menandai perluasan aktivitas usaha pasangan tersebut dari pemenuhan pasar mingguan menuju produksi dengan pengiriman rutin sesuai kebutuhan dapur MBG.

Untuk mempertahankan kualitas tempe, Khoiri tetap menggunakan kayu bakar saat merebus kedelai. Cara tersebut dipertahankan dalam proses produksi meskipun jumlah tempe yang dibuat untuk memenuhi permintaan dapur MBG terus bertambah. Perebusan menjadi salah satu tahapan yang diperhatikan karena berkaitan dengan kondisi kedelai sebelum diproses lebih lanjut. Setelah direbus, bahan baku dicuci dengan memanfaatkan sumber mata air yang tersedia di sekitar tempat produksi.

Pemanfaatan sumber mata air dilakukan dalam kegiatan pencucian kedelai. Khoiri dan Sisika menjaga tahapan tersebut tetap berjalan sesuai kebiasaan produksi yang selama ini mereka lakukan. Kedelai yang telah melalui proses perebusan dan pencucian kemudian disiapkan untuk tahap berikutnya, termasuk pemberian ragi dan pembungkusan. Setiap tahapan dikerjakan dengan memperhatikan bahan yang akan dikirimkan kepada dapur MBG.

Selain mempertahankan cara merebus dan mencuci bahan baku, Khoiri dan Sisika menyesuaikan takaran ragi dalam pembuatan tempe. Penyesuaian itu dilakukan berdasarkan masukan dari pengelola dapur MBG. Mereka juga mengatur kepadatan tempe sesuai dengan masukan yang diterima. Takaran ragi dan kepadatan menjadi bagian dari penyesuaian produksi agar tempe yang dibuat dapat mengikuti kebutuhan serta standar yang disampaikan oleh pengelola dapur.

Masukan dari pengelola dapur MBG menjadi acuan bagi Khoiri dan Sisika dalam memperbaiki pengaturan produksi dari waktu ke waktu. Penyesuaian dilakukan pada proses yang berkaitan langsung dengan hasil tempe, tanpa meninggalkan penggunaan kayu bakar dan sumber mata air sebagai bagian dari pengolahan bahan baku. Dengan cara tersebut, proses produksi tetap mengikuti kebutuhan yang berkembang.

Khoiri menyampaikan bahwa tantangan utama dalam kondisi ini adalah menjaga konsistensi kualitas tempe ketika kapasitas produksi dan permintaan terus meningkat. Bertambahnya jumlah pesanan membuat proses produksi perlu dijalankan secara tetap, sementara takaran ragi, kepadatan tempe, perebusan kedelai, dan pencucian bahan baku harus tetap diperhatikan. Tantangan tersebut muncul bersamaan dengan kebutuhan untuk memenuhi permintaan dalam jumlah yang lebih besar.

Baca juga: Industri Laptop Global Menghadapi Tekanan Harga Komponen dan Pelemahan Permintaan pada 2027 | Produksi Rokok Indonesia Tembus 27,2 Miliar Batang pada September 2026 | Layanan Samsat di Bantul dan Kulon Progo Beroperasi Senin, 12 Oktober 2026